#12 Legenda - Telaga Bidadari episode artwork

EPISODE · Jul 10, 2020 · 12 MIN

#12 Legenda - Telaga Bidadari

from Taman Pintar Yogyakarta · host Taman Pintar Yogyakarta

Dahulu kala, di bumi Kalimantan yang hijau, hiduplah seorang pemuda yang tampan dan sangat pandai meniup suling. Awang Sukma namanya. Selain berwajah tampan, Awang Sukma belumlah menemukan pujaan hatinya, maka dia meniup sulingnya setiap hari. Nyanyian yang dihasilkan dari tiupan sulingnya sangatlah indah, dan mampu menyentuh hati setiap orang yang mendengarkannya. Pada suatu hari, Awang Sukma hendak memanen burung yang terperangkap pada getah pohon Limau yang sedang berbunga. Sebelumnya dia telah memasak getah pohon lalu menempelkannya pada suluh-suluh bambu yang disebut pulut. Pulut itu lalu dipasang di sela-sela tangkai bunga. Ketika ada burung yang hinggap, mereka akan terjebak didalam pulut tersebut. Semakin burung itu berontak, maka semakin kuat getah yang menempel padanya, hingga burung-burung akan jatuh ke tanah bersama dengan pulutnya. Karena kebiasaannya ini Awang Sukma dijuluki Datu Pulut dan Datu Suling. Setelah kelelahan memanen burung-burung, Awang Sukma berisitirahat dan meniup sulingnya untuk melepas lelah. Terpana akan keindahan lagu yang dia hasilkan, dan semilir angin lembut yang bagaikan buaian, Awang Sukma pun tertidur. Entah berapa lama dia tertidur, sayup-sayup dia dibangunkan oleh kepakan sayap yang diikuti oleh suara cekikikan dan canda tawa. Sambil mengusap-usap matanya Awang Sukma berkata “Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat.” Ternyata suara yang dia dengar adalah suara tujuh putri cantik yang terbang menuju telaga.

Dahulu kala, di bumi Kalimantan yang hijau, hiduplah seorang pemuda yang tampan dan sangat pandai meniup suling. Awang Sukma namanya. Selain berwajah tampan, Awang Sukma belumlah menemukan pujaan hatinya, maka dia meniup sulingnya setiap hari. Nyanyian yang dihasilkan dari tiupan sulingnya sangatlah indah, dan mampu menyentuh hati setiap orang yang mendengarkannya. Pada suatu hari, Awang Sukma hendak memanen burung yang terperangkap pada getah pohon Limau yang sedang berbunga. Sebelumnya dia telah memasak getah pohon lalu menempelkannya pada suluh-suluh bambu yang disebut pulut. Pulut itu lalu dipasang di sela-sela tangkai bunga. Ketika ada burung yang hinggap, mereka akan terjebak didalam pulut tersebut. Semakin burung itu berontak, maka semakin kuat getah yang menempel padanya, hingga burung-burung akan jatuh ke tanah bersama dengan pulutnya. Karena kebiasaannya ini Awang Sukma dijuluki Datu Pulut dan Datu Suling. Setelah kelelahan memanen burung-burung, Awang Sukma berisitirahat dan meniup sulingnya untuk melepas lelah. Terpana akan keindahan lagu yang dia hasilkan, dan semilir angin lembut yang bagaikan buaian, Awang Sukma pun tertidur. Entah berapa lama dia tertidur, sayup-sayup dia dibangunkan oleh kepakan sayap yang diikuti oleh suara cekikikan dan canda tawa. Sambil mengusap-usap matanya Awang Sukma berkata “Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat.” Ternyata suara yang dia dengar adalah suara tujuh putri cantik yang terbang menuju telaga.

NOW PLAYING

#12 Legenda - Telaga Bidadari

0:00 12:26

No transcript for this episode yet

We transcribe on demand. Request one and we'll notify you when it's ready — usually under 10 minutes.

Frequently Asked Questions

How long is this episode of Taman Pintar Yogyakarta?

This episode is 12 minutes long.

When was this Taman Pintar Yogyakarta episode published?

This episode was published on July 10, 2020.

What is this episode about?

Dahulu kala, di bumi Kalimantan yang hijau, hiduplah seorang pemuda yang tampan dan sangat pandai meniup suling. Awang Sukma namanya. Selain berwajah tampan, Awang Sukma belumlah menemukan pujaan hatinya, maka dia meniup sulingnya setiap hari....

Can I download this Taman Pintar Yogyakarta episode?

Yes, you can download this episode by clicking the download button on the episode player, or subscribe to the podcast in your preferred podcast app for automatic downloads.
URL copied to clipboard!