PodParley PodParley

Injil Lukas - Bab 19

Episode 19 of the Sabda yang Hidup podcast, hosted by wee twig, titled "Injil Lukas - Bab 19" was published on December 24, 2021 and runs 10 minutes.

December 24, 2021 ·10m · Sabda yang Hidup

0:00 / 0:00

Kekuatan Yesus Bab 19 menggambarkan bagaimana semua orang di Yerikho menudingkan jari kepada Zakheus, sang kepala pemungut cukai. Bagaimana sorang pendosa yang terlibat dalam berbagai deal kotor dan ketidakjujuran, seperti dirinya bisa bertobat? Hukuman apa yang kiranya disiapkan Tuhan bagi pendosa sepertinya? Namun, kisah di kota ini begitu istimewa karena bukannya menghukum Zakheus, Tuhan malahan sudi  hadir di dalam rumahnya. Yesus menunjukkan bagaimana tuntutan Roh Kudus begitu berkuasa dalam diriNya saat Ia langsung mengetahui secara pasti keberadaan Zakheus di antara kerumunan orang banyak. Selain itu, Yesus memahami misinya, bahwa hari itu Ia datang ke Yerikho untuk menyelamatkan orang kaya ini. Zakheus sadar bahwa ia adalah objek dari kebencian dan kecemburuan banyak orang. Kedudukannya sebagai pemungut cukai dan kelimpahan harta yang Zakheus miliki adalah salah satu alasan orang membecinya. Di lain sisi, Ia tak seutuhnya "buruk", walaupun tangannya kotor, ia tak kehilangan hati nurani tentang apa yang baik. Dengan sembunyi-sembunyi, Zakheus sangat mengagumi Yesus. Yesus menyelamatkannya karena kerinduan Zakheus pada kebaikan. Belas kasih yang ditunjukkan Yesus padanya mendorongnya untuk memanifestasikan kualitas kemanusiaan dan kebaikan Zakheus yang selama ini tersembunyi. Pada ayat keenam, disebutkan bagaimana Zakheus menerima Yesus dengan sukacita, kesukaan yang menunjukan perubahan atau transformasi yang terjadi dalam dirinya. Setelah itu, ia tak memiliki masalah untuk mengakui dan memperbaiki dosa-dosa yang pernah diperbuatnya. Kemudian, setelah perjumpaannya dengan Yesus, Zakheus membagikan dan membangun kembali keadilan yang selama ini ia rengut dari masyarakat di sekelilingnya. Di lain pihak, orang banyak menjadi marah dan bersungut-sungut akan  perbuatan Yesus yang mengampuni pendosa. Disini masyarakat mirip dengan kumpulan orang Farisi, yang percaya bahwa nabi Yesus seharusnya sehati dengan mereka dalam menghakimi orang berdosa, atau minimal menjauh dari padanya. Yesus bukanlah seorang pemimpin politik yang mencari dukungan masa dengan mengikuti kemauan mayoritas. Kepopuleran ditengah masyarakat atau menuruti kehendak orang banyak bukanlah tujuanNya hadir di dunia. Kerumunan orang banyak yang bersungut-sungut, seperti kelompok orang Farisi yang marah kepadaNya, tak menyurutkan niat Yesus. Sekali lagi, Yesus menunjukkan kuasanya, Ia menghancurkan kebencian dengan cara menyelamatkan seorang pendosa di Yerikho hari itu. Sebagai kesimpulan, Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang berdosa, orang-orang yang selama ini "hilang" dan tak memiliki tempat di tengah masyarakat.

Kekuatan Yesus

Bab 19 menggambarkan bagaimana semua orang di Yerikho menudingkan jari kepada Zakheus, sang kepala pemungut cukai. Bagaimana sorang pendosa yang terlibat dalam berbagai deal kotor dan ketidakjujuran, seperti dirinya bisa bertobat? Hukuman apa yang kiranya disiapkan Tuhan bagi pendosa sepertinya? Namun, kisah di kota ini begitu istimewa karena bukannya menghukum Zakheus, Tuhan malahan sudi  hadir di dalam rumahnya. Yesus menunjukkan bagaimana tuntutan Roh Kudus begitu berkuasa dalam diriNya saat Ia langsung mengetahui secara pasti keberadaan Zakheus di antara kerumunan orang banyak. Selain itu, Yesus memahami misinya, bahwa hari itu Ia datang ke Yerikho untuk menyelamatkan orang kaya ini.

Zakheus sadar bahwa ia adalah objek dari kebencian dan kecemburuan banyak orang. Kedudukannya sebagai pemungut cukai dan kelimpahan harta yang Zakheus miliki adalah salah satu alasan orang membecinya. Di lain sisi, Ia tak seutuhnya "buruk", walaupun tangannya kotor, ia tak kehilangan hati nurani tentang apa yang baik. Dengan sembunyi-sembunyi, Zakheus sangat mengagumi Yesus. Yesus menyelamatkannya karena kerinduan Zakheus pada kebaikan. Belas kasih yang ditunjukkan Yesus padanya mendorongnya untuk memanifestasikan kualitas kemanusiaan dan kebaikan Zakheus yang selama ini tersembunyi.

Pada ayat keenam, disebutkan bagaimana Zakheus menerima Yesus dengan sukacita, kesukaan yang menunjukan perubahan atau transformasi yang terjadi dalam dirinya. Setelah itu, ia tak memiliki masalah untuk mengakui dan memperbaiki dosa-dosa yang pernah diperbuatnya. Kemudian, setelah perjumpaannya dengan Yesus, Zakheus membagikan dan membangun kembali keadilan yang selama ini ia rengut dari masyarakat di sekelilingnya.

Di lain pihak, orang banyak menjadi marah dan bersungut-sungut akan  perbuatan Yesus yang mengampuni pendosa. Disini masyarakat mirip dengan kumpulan orang Farisi, yang percaya bahwa nabi Yesus seharusnya sehati dengan mereka dalam menghakimi orang berdosa, atau minimal menjauh dari padanya. Yesus bukanlah seorang pemimpin politik yang mencari dukungan masa dengan mengikuti kemauan mayoritas. Kepopuleran ditengah masyarakat atau menuruti kehendak orang banyak bukanlah tujuanNya hadir di dunia. Kerumunan orang banyak yang bersungut-sungut, seperti kelompok orang Farisi yang marah kepadaNya, tak menyurutkan niat Yesus. Sekali lagi, Yesus menunjukkan kuasanya, Ia menghancurkan kebencian dengan cara menyelamatkan seorang pendosa di Yerikho hari itu. Sebagai kesimpulan, Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang berdosa, orang-orang yang selama ini "hilang" dan tak memiliki tempat di tengah masyarakat.

URL copied to clipboard!