EPISODE · Sep 13, 2020 · 7 MIN
I’TIZĀL DAN PESAN KE ENAM BELAS AL-KAHFI
from Aqwalunubala · host hasib amrullah
Konsekuensi dari ketauhidan adalah menghindari dari hal-hal yang membatalkanya. menghindar adalah i'tizal sebagaimana yang tertera pada ayat enam belas al-Kahfi. Iʻtizāl itu adalah tajanub al-shayʼ sawāʼun akāna hādhā al-tazanub min al-badan am al-qalb. Ada yang tidak berubah pada sejarah dunia, yakni hati yang ada di dada manusia. Meskipun jarak antara pemilik hati satu dan yang lainya telah terpisah oleh zaman ribuan tahun lamanya, namun cara kerja dan pengelolaan kesannya tidak jauh berbeda, sehingga peristiwa yang disebabkan relasi manusia dengan objek luarnya, akan berputar-putar di tempat yang sama. Hati adalah tempat istirahnya pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan dan kesadaran adalah basis lahirnya peradaban. Pengetahuan dan kesadaran terkumpul sebab kerja dua pasukan-nya. Junud al-khārijiyah dan junud al-Dākhiliyah. Yang luar selain perasa dan peraba ada mata dan telinga. Yang dalam tersusun dalam daya-daya yang beragam, mulai ḥāfiẓah, dhākirah, khayāliyah, mutakhiyalah dan seterusnya. Pasukan luar menginformasikan gambaran sesuai object tangkapanya. Pasukan dalam mengelola lalu mengekspresikan dalam bentuk sebuah karya. Karya baru ditangkap generasi selanjutnya lalu muncul kembali sesuatu yang baru. Begitu terus bersambung-sambung dari generasi ke generasi sepanjang usia dunia. Yang di luar berubah namun yang di dalam polanya tetap sama. Jadi… Apa yang dibicarakan hati dari dulu hingga kini, adalah melulu soal apa yang dipegang dan diyakininya, sebagai basis cara memandang wujud dan kenyataan, realitas dan kebenaran terkait dengan object kesadaranya. Seorang muslim memiliki basis pengetahuanya sendiri, keyakinan dan hal-hal apa yang harus dipegang dalam hidupnya, yang karenanya ia dibedakan dari jenis keyakinan manusia yang lainya. Diantara nilai yang penting bagi seorang muslim adalah keyakinannya kepada Tuhan. Yang harus ia bela sekuat kuatnya bahkan seandainya harus melawan masyarakatnya sekalipun. Sebab ia menjadi jati dirinya, dan kehilangan keyakinan atasnya adalah kehilangan dirinya. Intinya, Diskusi diatas adalah semesta yang melingkari ayat enam belas al-kahfi, saat ia memasuki hati dan pikiran saya, dan semua yang saya tulis diatas adalah apa yang saya tangkap dari makna yang dibawa oleh kata I’tizāl yang ada di dalam ayat tersebut. Untuk menghindari kerumitan, saya sederhanakan bahasa diatas dalam pesan yang saya tuangkan dalam pembacaan berikut… semoga bisa sampai pesanya.
What this episode covers
Konsekuensi dari ketauhidan adalah menghindari dari hal-hal yang membatalkanya. menghindar adalah i'tizal sebagaimana yang tertera pada ayat enam belas al-Kahfi. Iʻtizāl itu adalah tajanub al-shayʼ sawāʼun akāna hādhā al-tazanub min al-badan am al-qalb. Ada yang tidak berubah pada sejarah dunia, yakni hati yang ada di dada manusia. Meskipun jarak antara pemilik hati satu dan yang lainya telah terpisah oleh zaman ribuan tahun lamanya, namun cara kerja dan pengelolaan kesannya tidak jauh berbeda, sehingga peristiwa yang disebabkan relasi manusia dengan objek luarnya, akan berputar-putar di tempat yang sama. Hati adalah tempat istirahnya pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan dan kesadaran adalah basis lahirnya peradaban. Pengetahuan dan kesadaran terkumpul sebab kerja dua pasukan-nya. Junud al-khārijiyah dan junud al-Dākhiliyah. Yang luar selain perasa dan peraba ada mata dan telinga. Yang dalam tersusun dalam daya-daya yang beragam, mulai ḥāfiẓah, dhākirah, khayāliyah, mutakhiyalah dan seterusnya. Pasukan luar menginformasikan gambaran sesuai object tangkapanya. Pasukan dalam mengelola lalu mengekspresikan dalam bentuk sebuah karya. Karya baru ditangkap generasi selanjutnya lalu muncul kembali sesuatu yang baru. Begitu terus bersambung-sambung dari generasi ke generasi sepanjang usia dunia. Yang di luar berubah namun yang di dalam polanya tetap sama. Jadi… Apa yang dibicarakan hati dari dulu hingga kini, adalah melulu soal apa yang dipegang dan diyakininya, sebagai basis cara memandang wujud dan kenyataan, realitas dan kebenaran terkait dengan object kesadaranya. Seorang muslim memiliki basis pengetahuanya sendiri, keyakinan dan hal-hal apa yang harus dipegang dalam hidupnya, yang karenanya ia dibedakan dari jenis keyakinan manusia yang lainya. Diantara nilai yang penting bagi seorang muslim adalah keyakinannya kepada Tuhan. Yang harus ia bela sekuat kuatnya bahkan seandainya harus melawan masyarakatnya sekalipun. Sebab ia menjadi jati dirinya, dan kehilangan keyakinan atasnya adalah kehilangan dirinya. Intinya, Diskusi diatas adalah semesta yang melingkari ayat enam belas al-kahfi, saat ia memasuki hati dan pikiran saya, dan semua yang saya tulis diatas adalah apa yang saya tangkap dari makna yang dibawa oleh kata I’tizāl yang ada di dalam ayat tersebut. Untuk menghindari kerumitan, saya sederhanakan bahasa diatas dalam pesan yang saya tuangkan dalam pembacaan berikut… semoga bisa sampai pesanya.
NOW PLAYING
I’TIZĀL DAN PESAN KE ENAM BELAS AL-KAHFI
No transcript for this episode yet
Similar Episodes
No similar episodes found.
Similar Podcasts
No similar podcasts found.