From Today Until Tomorrow podcast artwork

PODCAST · society

From Today Until Tomorrow

Ruang curahan pengalaman sehari-hari. Mendudukkan senandika jadi senandung harmoni penentram jiwa dalam ragam rupa: puisi, refleksi, esai.

  1. 15

    My Autobiography (99 b)

    Bagian pertama dari pengadeganan catatan Diari Hipersensi. Menggambarkan aktivitas keseharian saya dilambari tiga emosi, yaitu sedih, kuat dan menggelegar, serta takut. Kesembilan adegan mencakup sembilan emosi berbeda, sedang di bagian pertama ini 3 adegan dengan 3 emosi. Penggambaran diperkuat dengan suara latar dari Calvin Jeremy. Perekam gambar Sigat Rambito, dan penyunting suara-gambar Bima Afrido. Ide, pelakon, dan perancang adegan dibawakan oleh saya. Selamat mendengarkan.

  2. 14

    Karya Instalasi "99 a I Love You but You Give Me a Hate Speech"

    Dari kumpulan barang bekas menjelma seni instalasi yang membicarakan tentang daya kritis yang cenderung menurun akibat era digitalisasi teknologi. Literasi menurun yang beralih budaya instan dan melahirkan sampah baru: hoaks, perkubuan warganet nan politis, dan ujaran kebencian. Karya seni instalasi ini tersaji dalam pameran karya seni rupa RE-IDENTIFY Laboratorium NFT, Bentara Budaya Jakarta dan Galeri Astra, Juli 2023.

  3. 13

    Puisi Anagram II: Rubicon, Curi Bon - a Kid, Kid a - The Act of Cat

    Ketiga puisi anagram karangan saya ini merupakan karya kaitan penyerta instalasi berjudul "99 a I Love You but You Give Me a Hate Speech". Ditulis pada Maret 2023 di Jakarta, puisi-puisi ini dikembang-sajikan menjadi lukisan kolase. Bersama enam puisi kolase lain, mereka menempel pada balok-balok yang mengisi ruang di bawah karya instalasi tersebut. Kau bisa mendengarkan puisi ini sembari membayangkan ia bersuara menyapamu di sekitar bawah instalasi itu. Rasakan bunyi, alami, dan... lepaskan. Terima kasih, Sang Pemberi Kehidupan.

  4. 12

    Jembatan Belas Kasih Menuju Tahun Mukjizat

    “Masa annus horribilis (tahun yang mengerikan) justru menandai terang kasih Allah yang hadir dalam sosok-sosok pembawa harapan hidup. Para nakes sebagai orang sederhana yang bekerja secara teratur dan disiplin menawarkan kepada kita terang kehangatan dalam tindakan nyata.” Persinggahan akan membutuhkan sebuah tempat istirahat. Bagi seorang yang merasakan lelah atau lemah dan sakit, ketenangan mesti disediakan pula dengan lekas. Tak terkecuali di masa pandemi Covid-19 ini. Memasuki tahun 2021, kita seakan ditampar kondisi: Bung dan Nona sekalian, sudahkah Anda 3M hari ini? Atau kita malahan cuek dan melanggar protokol kesehatan sehingga sangat riskan menimbulkan jatuhnya korban dan memperberat beban pelayanan rumah sakit? Selamat menyambut 2021 dalam semangat berbelas-kasih, terutama kepada sesama kita yang terpinggirkan dan terdampak akibat virus SARS-Cov-2 atau Corona! Lagu latar: Departmental Deities and Other Verses (general summary) - oleh Melancholic Bitch. Requiem - oleh Melancholic Bitch. Mind Game - oleh Risky Summerbee and The Honeythief.

  5. 11

    Harapan | Esai Goenawan Mohamad

    ”Sekali kita belajar tentang kematian, kita akan belajar tentang kehidupan.” Dr Morrie Schwartz tidak lagi disebut sebagai mahaguru, melainkan sebagai seorang yang akrab: Albom memanggilnya “coach” dan juga dengan nama depan, Morrie. Yang diutarakannya kian lama kian ringkas, karena tubuhnya kian lama kian lumpuh. Akhirnya bukan pengetahuan, melainkan kearifan... ia memberi tahu kita: tetap saja ada orang yang berbuat baik, juga dalam kekalahannya…. (“Harapan”, Esai Goenawan Mohamad) Ditulis oleh Goenawan Mohamad dalam catatan pinggir Majalah Tempo, 6 Agustus 2000, esai ini memberi satu cermin perenungan: adakah kita mau pasrah jika bukan bersukacita menerima kondisi berat bahkan menjelang kita benar-benar menutup mata? Bebunyian latar: Musik "Surya Namaskar" dan "Joged Kahyangan" karya Dewa Budjana.

  6. 10

    Siapakah Saya? (Esai Soe Hok-Gie)

    Esai ringkas dan lugas Soe Hok-Gie ini, seingat saya, termuat dalam buku berjudul Soe Hok-gie …Sekali Lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya (Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, 2009). Berpusat dari ulasannya atas film Cekoslovakia ...a pátý jezdec je Strach ( ...And The Fifth Horseman Is Fear ) (1965), Gie menyinggung sejumlah tabiat politisi, anggota partai, juga dirinya sendiri selaku mahasiswa. Dia menawarkan kepada setiap diri kita sebuah refleksi diri: siapakah saya, dan apa pilihan hidup saya selanjutnya.

  7. 9

    Panggung 'Sindirwara'

    Esai kebahasaan yang mengupas perihal sandiwara, drama, dan peran kesenian di tengah masyarakat: sekadar tontonan ataukah juga tuntunan?

  8. 8

    Kebutuhan Ketubuhan dan Puisi Lainnya

    Tiga puisi serangkai yang menghimpun berkas-berkas (r)asa: masa lalu, kini, dan depan. Digubah akhir September hingga awal Oktober 2020.

  9. 7

    Elegi Maut Tersenyum

    Dua puisi Joko Pinurbo, "Elegi" dan "Maut Tersenyum" memberi semacam peringatan tentang perpandemian. Puisi tersebut digubah pada September 2020.

  10. 6

    Kenapa dan Kena Apa Saya Menulis Bunga yang Tak Dikehendaki

    Kutipan pengantar buku karya saya, Bunga yang Tak Dikehendaki (Rehal, Agustus 2020). Sila kunjungi: https://bit.ly/bukubytd.

  11. 5

    Ballad of Uncertainty

    Narasi dua puisi, "Sebuah Kabar Sukacita" dan "Takpasti". Setiap kondisi ketidakpastian umumnya melahirkan kecemasan. Seringkali ia menggundahkan perasaan, sedih. Tapi sebagaimana sebuah balada, ketidakpastian juga menawarkan kesempatan atau peluang untuk bergerak lebih luas dan leluasa.

  12. 4

    Rinai Hujan di Balik Senyuman (Cerpen)

    Cerpen Rinai Hujan di Balik Senyuman ialah karangan Paula Angelina. :) "Walaupun hubungan kita tidak melulu semanis madu, bahkan lebih banyak menyedihkannya bagimu, kamu selalu mencoba kuat untuk bertahan."

  13. 3

    Empat Puisi Semasa Karantina

    Empat puisi tentang apa itu tahu dan tidak tahu dan ukuran lain di antara keduanya. Dibuat awal April dan awal Mei, dilingkupi suasana masa pandemi Covid-19.

  14. 2

    Setali Empat Puisi

    Mengenang senarai perayaan suci: Kamis Putih-Jumat Agung-Paskah-dan Kenaikan. Puisi dari penyair-penyair lintas-generasi yang sesekali aktual dan membumi.

  15. 1

    Seikat Empat Puisi

    Berisi dua puisi yang saling berkait, juga dibuka dan ditutup oleh dua puisi lainnya yang menyunggi tokoh-tokoh Kitab Suci Kristiani.

  16. 0

    Ke-putus-an

    Seuntai pikiran di masa pandemi: pilihan keputusan-keputusan seorang pemimpin tak bisa tidak berdampak bagi banyak orang. Catatan pinggir Goenawan Mohammad, Majalah Tempo, 21 Maret 2020.

  17. -1
  18. -2

    You Are Who You Are for a Reason

    Puisi karya Russell Kelfer ini mengisahkan penghargaan diri manusia sebagai ciptaan Tuhan. Ada rencana dan alasan besar dari kehadiran Anda berkat penciptaan oleh-Nya.

Type above to search every episode's transcript for a word or phrase. Matches are scoped to this podcast.

Searching…

We're indexing this podcast's transcripts for the first time — this can take a minute or two. We'll show results as soon as they're ready.

No matches for "" in this podcast's transcripts.

Showing of matches

No topics indexed yet for this podcast.

Loading reviews...

ABOUT THIS SHOW

Ruang curahan pengalaman sehari-hari. Mendudukkan senandika jadi senandung harmoni penentram jiwa dalam ragam rupa: puisi, refleksi, esai.

HOSTED BY

Robertus Rony Setiawan

Frequently Asked Questions

How many episodes does From Today Until Tomorrow have?

From Today Until Tomorrow currently has 18 episodes available on PodParley. New episodes are automatically indexed when they're published to the podcast feed.

What is From Today Until Tomorrow about?

Ruang curahan pengalaman sehari-hari. Mendudukkan senandika jadi senandung harmoni penentram jiwa dalam ragam rupa: puisi, refleksi, esai.

How often does From Today Until Tomorrow release new episodes?

From Today Until Tomorrow has 18 episodes. Check the episode list to see recent publication dates and frequency.

Where can I listen to From Today Until Tomorrow?

You can listen to From Today Until Tomorrow on PodParley by clicking any episode. We provide an embedded audio player for direct listening, and you can also subscribe via your preferred podcast app using the RSS feed.

Who hosts From Today Until Tomorrow?

From Today Until Tomorrow is created and hosted by Robertus Rony Setiawan.
URL copied to clipboard!