Proxemics Podcast

PODCAST · business

Proxemics Podcast

Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu Terkini.Mengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the art of influencing di balik berita viral, krisis korporasi, hingga dinamika politik dan bisnis di Indonesia. Bukan sekadar teori, setiap episode adalah studi kasus nyata tentang bagaimana pesan dirancang, reputasi dibangun, dan persepsi publik dikendalikan.🔍 Topik Utama:✅ Analisis Kasus Viral & Manajemen Krisis✅ Strategi PR & Corporate Comm✅ Psikologi Audiens & Media Trend✅ Marketing, Branding & Reputation🚀 Wajib dengar buat: Praktisi PR, Marketers, Entrepreneur, Mahasiswa, & siapa saja yang ingin paham "permainan" di balik layar media. Kami juga membahas leadership skills, personal branding, dan tips karier untuk profesional yang ingin upgrade kemampuan komunikasi. Produced by White Wood.👇 Connect with us:YouTube: @proxemicspodcastInstagra

  1. 28

    Blunder PR Taksi EV, Fenomena 'Viral Justice', & Pesan Tersembunyi Film Joko Anwar | 031

    Di episode kali ini, kita membedah berbagai isu panas dari kacamata Public Relations (PR) dan tata kelola krisis. Mulai dari tabrakan taksi EV yang memicu perdebatan komunikasi brand, hingga skandal proyek fiktif kementerian yang merugikan industri Event Organizer (EO) ratusan miliar rupiah! Jangan lewatkan juga diskusi mendalam tentang inkonsistensi kebijakan insentif kendaraan listrik dan fenomena meresahkan di mana publik harus viral dulu di podcast untuk mendapat keadilan.Dengarkan terus untuk mendapatkan wawasan tajam seputar strategi komunikasi dan public affairs! Jangan lupa Subscribe dan Like untuk mendukung diskusi kami. 🎧 Dengarkan juga di Spotify:https://open.spotify.com/show/5hj7EcLAUfoS5hvuBVhaaf?si=6b4a45bde6ea45b3🎙️ Executive Summary (TL;DR)Episode Proxemics Podcast ini menyoroti analisis krisis komunikasi pada kasus kecelakaan taksi listrik (EV) di mana pernyataan resmi brand dinilai kurang empatis. Diskusi berlanjut pada polemik insentif EV, mempertanyakan apakah kebijakan ini stimulus industri atau sekadar subsidi bagi masyarakat menengah ke atas. Kami juga membedah kelemahan tata kelola pengawasan dalam kasus SPK fiktif oknum Kemenperin yang merugikan vendor EO hingga Rp124,8 miliar, ancaman krisis kepercayaan perbankan, serta pesan kritik sosial dalam film terbaru Joko Anwar.💡 Key TakeawaysKrisis Komunikasi Taksi EV: Standby statement perusahaan dinilai terburu-buru dan murni digerakkan oleh motif legal, mengabaikan unsur empati yang krusial dalam dunia PR.Inkonsistensi Kebijakan Mobil Listrik: Perdebatan mengenai pencabutan insentif pajak EV yang digeser ke daerah (Opsen) menunjukkan volatilitas iklim investasi di Indonesia yang bisa membuat investor asing ragu.Tragedi Vendor & Proyek Fiktif: Penyalahgunaan jabatan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) menyoroti lemahnya sistem pengawasan proyek pemerintah, berujung pada kerugian masif bagi agensi.Fenomena 'No Viral, No Justice': Kasus penipuan nasabah bank Rp28 miliar membuktikan rapuhnya sistem check and balance, di mana keadilan seringkali baru ditegakkan setelah dibahas di podcast besar.❓ Q&A StrategisApa yang salah dari komunikasi krisis brand taksi EV pasca kecelakaan? Pernyataan awal mereka dinilai hanya fokus pada perlindungan hukum dan factual update untuk meredam spekulasi, namun gagal menunjukkan empati dan simpati mendalam terhadap situasi korban.Mengapa kasus SPK fiktif di Kemenperin bisa terjadi dan sangat merugikan EO? Oknum pejabat memanfaatkan wewenangnya untuk membuat proyek tanpa dasar anggaran. EO yang percaya pada relasi atau proses formalitas terjebak mengeluarkan modal sendiri (menalangi) untuk acara yang secara resmi tidak terdaftar.Bagaimana tanggapan terkait kebijakan pajak EV saat ini? Terdapat dua pandangan: insentif EV krusial untuk menarik investasi asing (FDI), namun di sisi lain bisa dianggap tidak adil atau menjadi subsidi kelas menengah atas jika diterapkan tanpa batasan/kuota yang jelas.⏱️ Timestamps00:00 - Highlight & Pengantar Episode 01:42 - Kecelakaan Taksi EV: Analisis Statement Krisis & Empati 16:25 - Polemik Insentif EV: Stimulus Industri vs Subsidi Orang Kaya? 32:37 - Kasus SPK Fiktif Kemenperin 124 Miliar & Nasib Agensi 49:32 - Kasus Penipuan Bank & Bahaya Era "Viral Justice" 55:34 - Pesan Terselubung & Kritik Sosial di Film Joko Anwar 01:01:52 - Lelang Spektrum 700 MHz: Infrastruktur Penting untuk Era AIℹ️ Tentang Proxemics PodcastProxemics Podcast adalah wadah diskusi mendalam yang membedah isu-isu hangat di Indonesia—mulai dari kebijakan publik, geopolitik, hingga tren Proxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  2. 27

    Dari SEO ke GEO: Evolusi Digital Marketing Beauty Brand Bersama Boss Paragon | 030

    Industri kecantikan Indonesia memiliki 7.500 brand yang bersaing ketat. Bagaimana Paragon Corp dengan 16 brand-nya seperti Wardah dan Emina memenangkan persaingan menggunakan AI dan Generative Engine Optimization (GEO)? Tonton episode ini sampai habis untuk mengetahui rahasia dapurnya, dan jangan lupa untuk Subscribe serta tinggalkan Like Anda!🎙️ Executive Summary (TL;DR)Episode podcast Proxemics kali ini menghadirkan Tessi Fathia Adam, Senior Group Head Global Technology Business Accelerator di Paragon Corp. Diskusi strategis ini membedah transformasi digital dalam ekosistem beauty brand, mencakup peluncuran Wardah GPT, transisi dari SEO konvensional ke GEO, serta penerapan prinsip Ethical AI.💡 Key TakeawaysHyper-Segmentation Strategy: Paragon menyusun strategi komunikasi untuk 16 brand berbeda dengan memetakan minat (passion point) spesifik dari konsumen.Sinergi Manusia & AI: Penerapan pedoman Ethical AI menempatkan talenta manusia sebagai mastermindpengambil keputusan, sementara AI difungsikan sebagai eksekutor berskala besar.Evolusi ke Generative Engine Optimization (GEO): Paragon mengadaptasi tren pencarian dengan merilis Wardah GPT dan memastikan informasi produk mereka ramah terhadap mesin AI (GEO).Manajemen Influencer Skala Besar: Membangun Paragon Creator Hub yang mengelola lebih dari 150.000 afiliator untuk menciptakan relevansi nano/micro, sambil tetap memanfaatkan Mega KOL untuk awareness.❓ Q&A StrategisApa itu prinsip Ethical AI di Paragon Corp? Penggabungan strategis antara kecerdasan buatan dan kontrol manusia. Manusia bertindak sebagai konseptor, sedangkan AI difungsikan sebagai eksekutor agar pekerjaan operasional menjadi lebih terskala dan efisien tanpa kehilangan akurasi.Mengapa brand harus mulai beralih dari SEO ke GEO? Pergeseran perilaku konsumen adalah kunci utamanya. Audiens mulai beralih ke layanan konsultasi berbasis AI (seperti ChatGPT) untuk mencari produk. Marketer harus mengoptimalkan informasi produk (GEO) agar muncul dalam algoritma rekomendasi mesin generatif tersebut.⏱️ Timestamps00:00 - Persaingan Ketat 7.500 Brand Kecantikan di Indonesia 02:08 - Siapa Tessi Fathia Adam & Perannya di Paragon04:24 - Transformasi Digital Era COVID & Customer Care via WhatsApp 08:55 - Strategi Hyper-Segmentation untuk 16 Brand 16:16 - Mencegah Kanibalisasi Produk Antar Brand Paragon 24:47 - Prinsip Ethical AI: Kombinasi Ekspertis Manusia & Skalabilitas AI 33:04 - Peran Mega KOL vs Kebutuhan Nano/Micro Influencer 36:42 - Ekosistem Afiliator Paragon Creator Hub 40:19 - Komunikasi & Orkestrasi Antar Brand Manager 51:44 - Evolusi Tren Pencarian: Beralih dari SEO ke GEO 55:48 - Budaya Kerja Organisasi: Iterasi, Agility, & Standar Hiring👥 Credits & LinksGuest: Tessi Fathia AdamHosts: Mercy Tahitoe, Stephanie SiciliaRegulars: Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo, Reza Amirul, Jonathan TenggaraProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.Our Agencies:White Wood DigitalPraxisPrajnaExplicarPrognosaTags: #PublicRelationsIndonesia #DigitalMarketingID #GenerativeEngineOptimization #StrategiBisnis #PodcastKomunikasi #BeautyIndustryID #MarketingStrategy #podcastpublicrelations #publicrelationspodcastProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  3. 26

    Kenapa Agensi Kreatif Harus Waspada Ambil Proyek Pemerintah? | 029

    Di episode kali ini, kita membongkar berbagai isu hangat dari kacamata Public Relations dan Public Affairs, mulai dari kacaunya komunikasi pemerintah soal BBM hingga ancaman AI yang menurunkan trafik media massa hingga 50%. Jangan lewatkan diskusi mendalam tentang bagaimana krisis ini mempengaruhi masa depan industri kreatif dan kebebasan pers di Indonesia! Subscribe dan like untuk mendapatkan insights strategi komunikasi.Poin-Poin Penting Episode Ini:Krisis Komunikasi Pemerintah: Kurangnya transparansi, konsistensi, dan kejelasan arahan dari pembuat kebijakan terkait spekulasi kenaikan harga BBM menciptakan informasi yang berseliweran dan kebingungan masif di masyarakat.Disrupsi AI & Ancaman Pers: Penggunaan AI yang melakukan crawling pada portal berita menyebabkan penurunan trafik kunjungan media secara drastis. Di sisi lain, intervensi pemilik modal yang mem-bypass ruang redaksi menjadi ancaman serius bagi independensi dan demokrasi pers.Kriminalisasi Pelaku Kreatif: Kasus pekerja video Amsal Sitepu menyoroti minimnya pemahaman aparat terhadap proses bisnis production dan post-production. Tagihan biaya editing yang dianggap kerugian negara berpotensi membuat agensi swasta takut bermitra dengan instansi pemerintah.Hegemoni Wacana Geopolitik: Perang modern adalah perang opini di mana aktor negara rela membayar influencer jutaan dolar untuk menjaga citra dan memutarbalikkan etika komunikasi publik.Tanya Jawab Seputar Episode Ini:Q: Apa penyebab utama penurunan trafik media siber saat ini?A: Penyebab utamanya adalah pergeseran konsumsi audiens menuju AI. Mesin pencari berbasis AI secara otomatis merangkum berita dari berbagai media langsung ke layar pengguna, membuat audiens tidak perlu mengeklik atau mengunjungi situs asli media tersebut.Q: Mengapa kasus Amsal Sitepu sangat mengkhawatirkan bagi pekerja agensi dan industri kreatif?A: Kasus ini membuktikan bahwa aparat hukum tidak memahami wajar-tidaknya struktur biaya industri kreatif. Penagihan tahapan post-production seperti editing dan dubbing justru dikategorikan sebagai praktik yang merugikan negara, yang pada akhirnya dapat menghancurkan ekosistem bisnis dan menakuti vendor yang ingin membantu pemerintah.Q: Bagaimana pakar PR memandang informasi yang beredar terkait konflik Timur Tengah?A: Pakar PR melihatnya sebagai bentuk dominasi dan hegemoni wacana. Negara-negara yang berkonflik menggunakan taktik PR, media massa, hingga budaya pop (film) secara sistematis untuk menutupi realitas kejahatan dan merekayasa opini publik dunia.Timestamps:00:00 - Highlight & Pengantar Episode01:17 - Isu Spekulasi BBM & Bias Kelas Menengah06:10 - Subsidi Salah Sasaran: Solar & Transisi LPG11:27 - Evaluasi Kritis Terhadap Komunikasi Publik Pemerintah19:15 - Bahaya AI: Trafik Media Anjlok 50%25:39 - Jurnalisme Kepiting & Ancaman Intervensi Pemilik Media29:26 - Kasus Amsal Sitepu: Aparat Gagal Pahami Industri Video34:11 - Alasan Utama Swasta Menghindari Proyek Pemerintah42:47 - Kacamata PR: Perang Media & Hegemoni Geopolitik55:36 - Manajemen Isu Industri Otomotif: Kasus Mobil Hybrid TerbakarEntitas & Tokoh yang Disebut:AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia), Amsal Sitepu, ChatGPT, Antonio Gramsci, Chery Tiggo, Wuling, BYD, Toyota, PBB.Hosts: Mercy Tahitoe & Stephanie Siciliahttps://www.whitewood.digitalhttps://www.praxis.co.idhttps://www.prajna.co.idhttps://www.explicar.co.id#PublicRelationsIndonesia #KomunikasiStrategis #PublicAffairs #IndustriKreatif #HegemoniMedia #PodcastIndonesiaProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  4. 25

    Misteri Impor 105.000 Mobil India: Ancaman Nyata Bagi Industri Otomotif RI? | 028

    Gejolak geopolitik Timur Tengah, kontroversi beasiswa LPDP, hingga heboh impor ratusan ribu mobil dari India—ada apa dengan pembuat kebijakan dan ruang publik kita belakangan ini? 🤔 Tonton obrolan tajam dan seru ini sampai habis! 👇Topik Utama yang Dibahas:Geopolitik & Krisis Ekonomi: Dampak konflik Timur Tengah terhadap melonjaknya harga minyak dunia dan nasib subsidi BBM di Indonesia, serta crisis management secara real-time saat tim media terjebak penutupan airspace.Kontroversi LPDP: Mengupas fenomena expectation gap antara penerima dana pajak publik dan ekspektasi masyarakat, serta bagaimana Algorithmic Gatekeeping Theory membentuk opini massal.Kebijakan Impor & Iklim FDI: Analisis polemik impor 105.000 unit kendaraan niaga (Tata & Mahindra) dari India, dan ancamannya terhadap produsen lokal serta ekosistem investasi (FDI).Social License to Operate: Bedah kasus menjamurnya lapangan Padel di area perumahan, benturan zonasi tata ruang, dan pentingnya externality cost bagi pelaku usaha.Peluncuran Prognosa: Perkenalan layanan riset terbaru dari Praxis yang berfokus pada business forecasting, policy impact studies, dan market behavior.Key PR Insights & Analysis:Q: Apa dampak langsung konflik Timur Tengah terhadap ekonomi Indonesia?A: Dampak terbesarnya ada pada fluktuasi harga minyak mentah dunia yang secara instan membebani anggaran subsidi BBM dan gas negara. Selain itu, ini juga menyangkut kewajiban evakuasi dan keamanan pekerja migran Indonesia (PMI) di kawasan tersebut.Q: Mengapa isu penerima beasiswa LPDP sangat memicu kemarahan publik?A: Terjadi expectation gap (kesenjangan ekspektasi). Publik merasa kucuran dana pajak seharusnya diiringi dengan tanggung jawab moral (return of service) yang kuat kepada negara, bukan glorifikasi terhadap perolehan kewarganegaraan asing.Q: Apa itu Algorithmic Gatekeeping Theory dalam ranah media sosial?A: Ini adalah teori di mana algoritma platform menentukan konten apa yang visible, menjadi tren, dan suaranya diamplifikasi. Algoritma ini seringkali mengarahkan opini publik secara masif dan mempercepat polarisasi komentar.Q: Mengapa izin resmi saja tidak cukup untuk bisnis seperti lapangan Padel di perumahan?A: Selain izin teknis (Technical License to Operate) seperti IMB dan zonasi, bisnis modern wajib memiliki Social License to Operate. Ini berarti harus ada penerimaan dari warga sekitar dan kompensasi atas externality cost (dampak kerugian seperti kebisingan dan kemacetan parkir).⏳ Timestamps:00:00 Intro: Ketegangan Geopolitik & Efek Domino Harga Minyak11:00 Crisis Management: Tim Terjebak Penutupan Airspace MWC16:05 Fenomena Penerima LPDP, Expectation Gap & Agenda Setting34:10 Polemik Impor 105.000 Mobil dari India (Tata & Mahindra)41:50 Isu Lapangan Padel & Pentingnya Social License to Operate48:00 Etika Pejabat Publik & Pembelian Mobil Dinas Miliaran54:10 Peluncuran "Prognosa": Unit Riset Prediktif dari PraxisBrands & Entities Mentioned:Praxis, Proxemics Podcast, Explicar, Prognosa, LPDP, Tata Motors, Mahindra, MWC (Mobile World Congress), KPK, US-Indonesia Reciprocal Tariff.Connect with Us:Hosts: Mercy Tahitoe, Stephanie SiciliaOur Agencies:https://www.praxis.co.idhttps://www.prajna.co.idhttps://www.explicar.co.idhttps://www.whitewood.digital#PublicRelations #ProxemicsPodcast #Geopolitik #LPDP #KebijakanPublik #InvestasiIndonesia #Prognosa #PodcastIndonesiaProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  5. 24

    Mengapa Otomotif Bukan Cuma Soal Penjualan? | Peran Customer Life Cycle & PR | 027

    Industri Otomotif Kini Persis Industri Smartphone 15 Tahun LaluIndustri otomotif saat ini sedang mengalami disrupsi besar-besaran, persis seperti industri smartphone 15 tahun lalu dengan masuknya berbagai brand China yang menawarkan harga agresif dan siklus pembaruan model yang sangat cepat. Kondisi ini memicu perang harga dan mengubah ekspektasi konsumen terhadap standar fitur, membuat loyalitas pelanggan dan strategi retensi menjadi arena pertarungan yang sesungguhnya bagi para pelaku industri.In this episode of Proxemics Podcast...Kita akan membedah strategi bertahan dan taktik pemasaran di tengah pasar otomotif yang sangat dinamis bersama Fahri Basalamah. Kamu akan mempelajari pentingnya konsistensi pesan dalam media mix yang solid, perbedaan fundamental antara pola pikir Public Relations (PR) dan Marketing, serta bagaimana merawat perjalanan konsumen (Customer Life Cycle) dari fase sebelum pembelian hingga tahapan kepemilikan jangka panjang.Key PR Insights & AnalysisQ: Mengapa strategi marketing otomotif tidak bisa hanya mengandalkan digital ads secara tunggal?A: Karena proses pembelian konsumen sangat panjang dan berlapis; mereka bisa berpindah-pindah antar dealer sebelum memutuskan, sehingga menuntut bauran media (media mix) yang terintegrasi antara aset digital, luar ruang (OOH), dan TV untuk menangkap audiens di setiap titik sentuh.Q: Bagaimana perbedaan perspektif antara tim PR dan Marketing dalam sebuah organisasi brand?A: Tim PR berfokus sebagai penjaga citra merek (brand guardian) yang mengatur alur pesan dan mitigasi krisis, sedangkan tim marketing memiliki kecenderungan untuk mendorong batasan guna mengejar viralitas dan instanitas volume penjualan.Q: Mengapa peran PR dalam ranah thought leadership sangat esensial di era gempuran Electric Vehicle (EV)?A: Tingginya minat adopsi EV belum sepenuhnya dibarengi dengan pemahaman produk; PR dibutuhkan untuk memberikan edukasi publik tentang fakta-fakta vital seperti karakteristik akselerasi, prosedur darurat kecelakaan, hingga cara memadamkan api pada baterai, demi membentuk konsumen yang cerdas.Timestamps:0:00 - Intro & Analogi Otomotif vs Smartphone5:18 - Fenomena Perang Harga & Ketahanan Raksasa Otomotif15:32 - Strategi Konsistensi Pesan & Pentingnya Media Mix33:49 - Dinamika Internal: PR sebagai Brand Guardian vs Marketing42:27 - Pameran Otomotif: Ajang Jualan atau Entertainment?51:18 - Urgensi Thought Leadership & Edukasi Keamanan EV1:01:05 - Membedah Praktik Customer Life Cycle & CRMBrands/People Mentioned:Fahri Basalamah, Reza Amirul, Hyundai (Santa Fe, Creta, Ioniq 5 N, Palisade), BYD, Chery, Toyota (Alphard), Ford (Raptor F150), Xiaomi, IIMS & GIIAS.Host: Mercy Tahitoe & Stephanie SiciliaOur Agencies:www.praxis.co.idwww.prajna.co.idwww.explicar.co.idwww.whitewood.digital#PublicRelations #ProxemicsPodcast #MarketingIndonesia #IndustriOtomotif #CustomerLifeCycle #otomotifindonesia #marketingindonesia #publicrelationspodcastProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  6. 23

    Apakah AI Akan Menggantikan Pekerja Kreatif? Fakta Tentang Taste & Judgement di Dunia Kreatif | 026

    Apakah industri kreatif akan hancur dengan kemunculan generative AI? Di episode Proxemics Podcast kali ini, kita membedah evolusi peran pekerja kreatif di era kecerdasan buatan bersama Boss Kreatif Bank Jago, Alpine Pribadhy. Kami membahas cara kerja agency modern, benturan strategis antara manajemen risiko PR vs kebebasan kreatif, dan bagaimana "taste is the new currency".💡 FAQ & Key Insights Q: Apakah Generative AI akan menggantikan pekerjaan di industri kreatif? A: Tidak sepenuhnya. Meskipun toolsAI bisa mengeksekusi urusan teknis seperti pembuatan copy, gambar, dan ide dalam hitungan detik, ada celah yang tidak bisa diisi oleh AI: judgement (kemampuan menilai), kurasi, dan empati. AI tidak akan mengambil alih pekerjaan, tetapi pekerja yang bisa menggunakan AI sebagai partner brainstorming akan menggeser mereka yang menolak adaptasi.Q: Mengapa tim PR dan Kreatif sering bentrok saat membuat marketing campaign? A: Bentrokan terjadi karena perbedaan prioritas dasar. Tim PR berfokus pada mitigasi risiko, kepatuhan bisnis, dan menghindari backlash publik. Di sisi lain, tim kreatif mengutamakan eksplorasi dan mencari ide paling berani untuk memaksimalkan impact. Solusinya terletak pada komunikasi strategis dan pemahaman batasan brand.Q: Apa skill paling penting untuk pekerja kreatif di era AI? A: Taste (selera) dan judgement. AI bisa memproduksi aset secara instan, namun AI tidak memiliki hati atau empati untuk memvalidasi apakah karya tersebut bisa menyentuh audiens dan benar-benar mewakili persona brand.Q: Apa bahayanya jika brand asal mengikuti tren viral di media sosial? A: Banyak tren viral (seperti di TikTok) yang konteks aslinya negatif, nonsense, atau bahkan berasal dari tragedi. Jika sebuah brand melakukan riding the wavetanpa critical thinking atau penyesuaian dengan brand archetype, mereka sangat berisiko merusak reputasi jangka panjang demi engagement sesaat.⏱️ Episode Timestamps00:00 - Intro: Apakah AI Akan Menggantikan Tim Kreatif?03:00 - AI sebagai Tool Produksi vs Partner Brainstorming07:00 - "Taste" sebagai Mata Uang Baru di Dunia Kreatif16:00 - Konflik Abadi: Eksplorasi Kreatif vs Batasan Manajemen Risiko PR27:00 - Analisis Campaign: Strategi Mudik Honda & Persaingan Burger King vs McD34:00 - Bahaya Marketing "Asal Viral" dan Numpang Tren49:00 - Tips Rekrutmen Tim Kreatif: Karakter, Taste, dan Review Portfolio55:00 - Cara Memakai AI untuk Critical Thinking dan Validasi Ide🔗 Mentions & ConnectionsBrands/People Mentioned: Alvin Pribadi, Bank Jago, ChatGPT, Gemini, Nano Banana, Higfield, Taylor Swift, Donald Trump, Bruce Willis, Apple, Samsung, Burger King, McDonald's, BMW, Mercedes-Benz, Honda, Joko Anwar, Nirvana, Queen, The Beatles, Blink-182, Sensodyne, Adweek, Kaskus, One Piece, TikTok, Instagram.Our Agencies:PraxisPrajnaExplicarWhite WoodConnect with Us:Agency: Praxis & White WoodHosts: Mercy Tahitoe & Stephanie SiciliaTags: #PublicRelations #ProxemicsPodcast #MarketingIndonesia #IndustriKreatif #StrategiMarketing #ArtificialIntelligenceProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  7. 22

    Benarkah AI Akan Menggantikan Marketer? Analisis Masa Depan Digital Marketing | 025

    Industri otomotif saat ini sedang mengalami disrupsi besar-besaran, persis seperti industri smartphone 15 tahun lalu dengan masuknya berbagai brand China yang menawarkan harga agresif dan siklus pembaruan model yang sangat cepat. Kondisi ini memicu perang harga dan mengubah ekspektasi konsumen terhadap standar fitur, membuat loyalitas pelanggan dan strategi retensi menjadi arena pertarungan yang sesungguhnya bagi para pelaku industri.In this episode of Proxemics Podcast...Kita akan membedah strategi bertahan dan taktik pemasaran di tengah pasar otomotif yang sangat dinamis bersama Fahri Basalamah. Kamu akan mempelajari pentingnya konsistensi pesan dalam media mix yang solid, perbedaan fundamental antara pola pikir Public Relations (PR) dan Marketing, serta bagaimana merawat perjalanan konsumen (Customer Life Cycle) dari fase sebelum pembelian hingga tahapan kepemilikan jangka panjang.Key PR Insights & AnalysisQ: Mengapa strategi marketing otomotif tidak bisa hanya mengandalkan digital ads secara tunggal?A: Karena proses pembelian konsumen sangat panjang dan berlapis; mereka bisa berpindah-pindah antar dealer sebelum memutuskan, sehingga menuntut bauran media (media mix) yang terintegrasi antara aset digital, luar ruang (OOH), dan TV untuk menangkap audiens di setiap titik sentuh.Q: Bagaimana perbedaan perspektif antara tim PR dan Marketing dalam sebuah organisasi brand?A: Tim PR berfokus sebagai penjaga citra merek (brand guardian) yang mengatur alur pesan dan mitigasi krisis, sedangkan tim marketing memiliki kecenderungan untuk mendorong batasan guna mengejar viralitas dan instanitas volume penjualan.Q: Mengapa peran PR dalam ranah thought leadership sangat esensial di era gempuran Electric Vehicle (EV)?A: Tingginya minat adopsi EV belum sepenuhnya dibarengi dengan pemahaman produk; PR dibutuhkan untuk memberikan edukasi publik tentang fakta-fakta vital seperti karakteristik akselerasi, prosedur darurat kecelakaan, hingga cara memadamkan api pada baterai, demi membentuk konsumen yang cerdas.Timestamps:0:00 Intro & Analogi Otomotif vs Smartphone 5:18 Fenomena Perang Harga & Ketahanan Raksasa Otomotif 15:32 Strategi Konsistensi Pesan & Pentingnya Media Mix 33:49 Dinamika Internal: PR sebagai Brand Guardian vs Marketing 42:27 Pameran Otomotif: Ajang Jualan atau Entertainment? 51:18 Urgensi Thought Leadership & Edukasi Keamanan EV 1:01:05 Membedah Praktik Customer Life Cycle & CRMBrands/People Mentioned:Fahri Basalamah Reza AmirulHyundai (Santa Fe, Creta, Ioniq 5 N, Palisade) BYD Chery Toyota (Alphard) Ford (Raptor F150) Xiaomi IIMS & GIIAS Connect with Us:Host: Mercy Tahitoe & Stephanie SiciliaOur Agencies:www.praxis.co.idwww.prajna.co.idwww.explicar.co.idwww.whitewood.digital#PublicRelations #ProxemicsPodcast #MarketingIndonesia #IndustriOtomotif #CustomerLifeCycle #otomotifindonesia #marketingindonesia #publicrelationspodcastProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  8. 21

    Apakah Brand Harus Menjauhi Pandji Pragiwaksono? Analisis Manajemen Krisis | 024

    Stand-up special Mens Rea Pandji Pragiwaksono bikin heboh soal batasan komedi dan brand safety. Di sisi lain, kasus Nadiem Makarim nunjukin brutalnya framing media pas mentalitas "startup" nabrak birokrasi negara. Ditambah KUHP baru & wacana larangan medsos buat anak, medan perang reputasi makin kompleks!Di episode Proxemics kali ini, Mercy, Adwi, Sofyan dan Steph membedah irisan tajam antara hukum, budaya pop, dan strategi korporasi. Kita bahas gimana agensi harus bersikap hadapi influencer berisiko tinggi, kenapa narasi hukum sering kalah cepat dari opini publik, sampai strategi marketing kalau akses digital Gen Alpha beneran diputus negara!🧠 Yang Kita Bedah (Q&A Highlight):🎤 Brand Safety vs Pandji: Haruskah brand jauhin figur kontroversial? Nggak selalu! Kalau audiens brand lo menghargai keberanian & value-nya, kolaborasi tetap relevan.📱 Kasus Nadiem & Isu "Grup WA": Kenapa isu ini merusak reputasi? Karena framing konspirasi nyebar duluan, padahal faktanya itu cuma persiapan kerja ala startup mindset. Di dunia PR, tuduhan awal sering lebih dipercaya dari fakta persidangan!⚖️ Dampak KUHP Baru: Modernisasi hukum menuntut akuntabilitas tinggi. Brand & agensi nggak bisa lagi lepas tangan soal konten influencer, butuh manajemen risiko yang super ketat.Lo berani hire figur kontroversial buat brand lo atau milih cari aman aja? Drop komentar kalian! 👇⏱️ TIMESTAMPS: 00:00 - Intro: Jakarta, The Paddle Capital of the World? 01:35 - Bedah "Mens Rea" Pandji: Seni Komedi vs Ketersinggungan 16:44 - Strategi Brand: Masihkah Kami Meng-hire Pandji? 20:48 - KUHP Baru: Modernisasi Hukum atau Ancaman Agensi? 30:49 - Kasus Nadiem: Benturan "Startup Mindset" dengan Birokrasi 43:00 - Hoaks "Oplosan" Pertamina & Krisis Kepercayaan 46:00 - Wacana Larangan Medsos untuk Anak: Berkaca dari Australia 51:49 - Kasus Timothy Ronald & Bahaya Konten "Instant Success"📌 Mentioned in this Episode: Pandji Pragiwaksono, Nadiem Makarim, Dave Chappelle, Agnez Mo, Hotman Paris, Timothy Ronald. (Brand/Institusi: Google, Netflix, Pertamina, GoTo).🏢 Our Agencies: www.whitewood.digital | www.praxis.co.id | www.prajna.co.id | www.explicar.co.id🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru!#ProxemicsPodcast #PublicRelations #CrisisCommunication #ReputationManagement #PandjiPragiwaksono #NadiemMakarimSudah ready untuk di-copy-paste! Mau lanjut ke deskripsi episode berikutnya atau mau dibikinin caption medsosnya sekalian?Proxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  9. 20

    Kenapa 90% Rilis Ditolak Media? Boss Tirto.id Bongkar Rahasia Media & PR Strategy | 023

    Di episode kali ini, Mercy dan Steph ngobrol "daging" bareng Rachmadin Ismail (Madin), Editor-in-Chief Tirto.id. Madin bongkar dapur redaksi dan strategi media bertahan di era gempuran content creator. Alih-alih musuhan, kita bahas kenapa Tirto sekarang justru ngerangkul Homeless Media (akun info daerah)! Buat lo praktisi PR, Brand, dan Marketing, ini sesi real talk yang nggak boleh di-skip.🧠 Yang Kita Bedah (Q&A Highlight):📝 Misteri Press Release Ditolak: Madin buka kartu! Rilis yang cuma jualan tanpa business/traffic value pasti lewat. Kita kasih bocoran angle unik biar dilirik editor.🛒 Evolusi "Fact Shopping": Bukan cuma cek hoaks politik, Tirto kini audit klaim produk (misal: overclaimkandungan gula/anti-air) biar konsumen belanja sesuai fakta.🔥 Crisis Communication 101: Jangan asal jawab pas krisis! Pentingnya PR yang paham konteks biar nggak blunder, dan kenapa media butuh alasan scientific, bukan cuma opini.🤝 Media vs Influencer Musuhan?: Eranya udah kolaborasi. Tirto justru gandeng Homeless Media untuk distribusi konten terverifikasi.Lo sering kewalahan ngadepin krisis brand atau nembus media? Drop keluh kesah kalian di komentar! 👇⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Teaser: Cara efektif mendeteksi hoaks 01:46 - Tantangan media hari ini: Layoff & Konsolidasi 03:39 - USP Baru Tirto.id: Shifting dari Reporter ke Kurator 14:40 - Pola serangan Black Campaign & Disinformasi pada Brand 21:47 - Prinsip "Cover Both Sides" vs Influencer 24:38 - Strategi Survival: Kolaborasi dengan "Homeless Media" 27:21 - Ketegangan Media vs Influencer 31:29 - Insight Wamen: Belajar bikin hoaks untuk mendeteksi hoaks 35:16 - Masa Depan Bisnis Media: Subscription atau Donasi? 56:09 - Real Talk: Kenapa Press Release sering ditolak media? 01:02:08 - The Next Big Thing: Evolusi ke "Fact Shopping"📌 Mentioned in this Episode: Rachmadin Ismail. (Brand/Institusi: Tirto.id).🏢 Our Agencies: www.whitewood.digital | www.praxis.co.id | www.prajna.co.id | www.explicar.co.id🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru!#ProxemicsPodcast #PublicRelations #MediaRelations #TirtoID #FactShopping #CrisisCommunication #HomelessMediaProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  10. 19

    YouTube & IG Sudah Basi? Kenapa Boss Kompas TV Malah Mau Masuk Roblox & Discord? | 022

    Episode kali ini agak beda! Steph lagi liburan, jadi Mercy ditemenin Reza sebagai co-host dadakan buat ngobrol bareng tamu spesial: Alexander Wibisono (Wapemred Kompas TV).Kita bedah dapur redaksi media besar yang lagi survive di era digital. Alex blak-blakan soal strategi Kompas TV ubah mindset kaku produser jadi "Content Creator", fenomena Citizen Journalism, sampai strategi "Digital First" (tayang YouTube duluan sebelum masuk TV). Penasaran nasib media massa ke depan, atau lo Gen Z yang mau jadi jurnalis tapi takut jam kerja gila? Obrolan ini daging semua!🧠 Yang Kita Bedah:📰 Media Consolidation & Survival Mode: Kenapa jurnalisme nggak akan mati meski platform pindah dari koran ke TikTok.📱 TV vs Digital ("Digital First"): Strategi Kompas TV menangin algoritma dengan transisi jabatan "Produser" jadi "Content Creator".📹 Citizen Journalist & "Wartawan Tuyul": Netizen itu ancaman atau kawan? Gimana media memverifikasi footage amatir.🌍 Mobile Journalism (MoJo): Cerita Alex liputan diplomasi ke New York & Roma cuma modal iPhone!🔥 Gen Z & Mentalitas Jurnalis: 3 skill wajib jurnalis masa depan (Bergaul, Curiosity, Endurance). Lo siap jadi pelari maraton atau cuma sprinter?Lo tertarik jadi jurnalis atau mending jadi content creator aja? Drop komentar kalian! 👇⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro: Steph Liburan, Reza Menggantikan 1:40 - Jurnalisme Gak Akan Mati, Cuma Ganti Kulit 7:12 - Bedanya "Informasi" vs "Berita" (Verifikasi) 19:35 - Model Bisnis Media: Ads, Subscription & Programmatic 26:45 - Strategi "Digital First" Kompas TV 29:22 - Mengubah Mindset "Produser" jadi "Content Creator" 36:15 - Citizen Journalism & Fenomena "Wartawan Tuyul" 41:04 - Mobile Journalism: Keliling Dunia Modal iPhone 51:00 - Gen Z di Media: Sprinter vs Marathon Runner 56:30 - Bahaya Medsos & Regulasi untuk Anak 1:08:32 - 3 Skill Wajib Jurnalis (Networking, Curiosity, Endurance) 1:12:06 - Siap Putus Pacar Demi Liputan?📌 Mentioned in this Episode: Alexander Wibisono, Jakob Oetama, Rosiana Silalahi, Prita Laura, Frisca Clarissa, Deddy Corbuzier, Timothy Ronald, Joko Widodo, Retno Marsudi. (Brand/Institusi: Kompas TV, Harian Kompas, YouTube, TikTok, Google, Apple/iPhone).🏢 Our Agencies: www.whitewood.digital | www.praxis.co.id | www.prajna.co.id | www.explicar.co.id🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru! (Note: Mercy ditemani Guest Host Reza di episode ini)#ProxemicsPodcast #KompasTV #Jurnalisme #DigitalTransformation #MediaIndustry #ContentCreator #CitizenJournalism #GenZProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  11. 18

    Bencana Sumatera, Deforestasi & Fenomena #BatalKontrak: Negara Sedang "Sakit"? | 021

    Menutup tahun dengan diskusi berat tapi necessary, Mercy, Adwi, Sofyan, dan Steph kumpul di edisi Year End Wrap Up!Kita mulai dari apresiasi buat jurnalisme data Harian Kompas yang "menampar" kita—1,4 juta hektar hutan hilang di 2023. Episode ini juga membedah gaya komunikasi pemerintah soal bencana di Sumatera yang tone deaf dan penuh "Selected Reality", fenomena jurnalis menangis yang videonya di-take down, hingga debat filosofis: Apakah Social Contract antara rakyat dan negara udah batal?Ditambah bedah pidato Dedi Mulyadi, obrolan viral Roti O tolak uang tunai, kritik Dino Patti Djalal buat Menlu Sugiono, sampai insight daging buat agency owners hadapi tahun 2026!🧠 Yang Kita Bedah:🌲 Jurnalisme Data vs. Deforestasi: Fakta 1,4 juta hektar hutan hilang vs. narasi pemerintah (BNPB & Seskab) yang terkesan nutupin fakta.⚖️ Social Contract & "Dirty Vote": Proteksi negara yang nggak dirasakan rakyat, plus obrolan "Otot, Otak, dan Ongkos" dalam politik transaksional.💸 Viral Roti O & Hak Konstitusional: Efisiensi cashless society vs kewajiban negara nerima Rupiah fisik. Tolak uang tunai melanggar hukum nggak sih?🌏 Kritik Diplomasi Luar Negeri: Respons tajam Dino Patti Djalal untuk Menlu Sugiono soal rangkap jabatan & kehadiran di forum internasional.🚀 Agency Outlook 2026: Tips survive & growth buat agensi, pentingnya data crunching, dan rencana Praxis bikin lembaga riset.Lo tim cashless garis keras atau tim bawa uang tunai buat jaga-jaga? Drop komentar kalian! 👇⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro: Apresiasi Jurnalisme Data Kompas 0:44 - Data Deforestasi: 1,4 Juta Hektar Hilang di 2023 2:48 - Komunikasi Bencana: "Selected Reality" Pejabat 19:05 - Jurnalis Menangis & Sensor Media 23:00 - Birokrasi Bantuan: Izin Kayu & Donasi 37:30 - Teori "Social Contract": #BatalKontrak? 41:46 - Bedah Pidato Dedi Mulyadi (KDM) 45:30 - Refleksi Dirty Vote: Otot, Otak, Ongkos 50:50 - SEA Games 2025: Skateboarder Emas Tanpa Sambutan 53:40 - Debat Viral: Roti O & Cashless Society 1:00:14 - Kritik Dino Patti Djalal ke Menlu Sugiono 1:05:40 - Agency Life: Tips & Outlook 2026📌 Mentioned in this Episode: Dedi Mulyadi (KDM), Prabowo Subianto, Dino Patti Djalal, Sugiono, Mayor Teddy, Maruli Simanjuntak, Prof. Arif Satria. (Brand/Institusi: Harian Kompas, BNPB, Dirty Vote, Roti O, IPB University, Praxis).🏢 Our Agencies: www.whitewood.digital | www.praxis.co.id | www.prajna.co.id | www.explicar.co.id🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru!#ProxemicsPodcast #Deforestasi #KompasData #SocialContract #CashlessSociety #AgencyLife #MenluSugiono #PolitikIndonesiaProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  12. 17

    Hukum "Paket Hemat" di Negara Fiktif? Bahas Tuntas Bea Cukai & Krisis Empati Pejabat | 020

    Dari tragedi bencana alam di Sumatera yang minim empati pejabat, drama viral tumbler Tuku, hingga teori konspirasi "Negara Fiktif" di mana hukum bisa dibeli paketan, Mercy, Adwi, Sofyan, dan Steph kumpul bareng di edisi penghujung tahun ini!Episode ini membahas kontras yang tajam: kenapa publik lebih sibuk ngurusin tumbler ketinggalan di kereta dibanding chaos penanganan bencana? Kita juga bedah strategi PR buat brand yang terseret arus viral—apakah harus ride the waveatau silent is golden? Ditambah obrolan "ngeri-ngeri sedap" soal Bea Cukai dan peluncuran kembali media cetak. Buat lo praktisi komunikasi atau sekadar pengamat fenomena sosial, episode ini packed banget!🧠 Yang Kita Bedah:🚨 Bencana & Krisis Empati: Kritik keras untuk komunikasi pejabat publik yang tone deaf dan kebingungan informasi antar institusi saat krisis.☕ Drama Tumbler Tuku vs. KAI: Cancel culture kebablasan? Gimana seharusnya brand bersikap di tengah kegaduhan yang nggak perlu ini.📰 Kebangkitan Media Cetak: Insight peluncuran Bloomberg Businessweek & kenapa cetak masih relevan buat target niche di era digital.⚖️ Teori "Negara Fiktif": Diskusi satir soal penegakan hukum jalur "paket hemat" dan isu Bea Cukai.🎉 14 Tahun Bertahan: Refleksi agency life, dari kantor kecil sampai dapet retainer besar di ekonomi yang menantang.Kalian tim emosi soal tumbler atau pusing mikirin "Negara Fiktif"? Drop komentar kalian! 👇⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro: Bencana Sumatera & Refleksi Akhir Tahun 2:48 - Kritik Komunikasi Krisis: Pejabat yang "Tone Deaf" 9:05 - Di Mana Brand Saat Bencana Terjadi? 14:33 - Drama Viral: Tumbler Tuku vs Petugas KAI 24:58 - PR Strategy: Haruskah Brand "Ride the Wave"? 28:30 - Event Bloomberg Businessweek & Masa Depan Media Cetak 33:33 - Isu Bea Cukai & Mafia Hukum 42:54 - Satir "Negara Fiktif": Hukum Paket Hemat 51:43 - Thanksgiving: 14 Tahun Perjalanan Agency 57:15 - Teaser PR & Public Affairs Outlook📌 Mentioned in this Episode: Purbaya Yudhi Sadewa, Tom Lembong, Mario Dandy, Agung Laksamana. (Brand & Institusi: Tuku, KAI, BNPB, Bloomberg Businessweek, Bea Cukai, PAFI).🏢 Our Agencies: www.whitewood.digital | www.praxis.co.id | www.prajna.co.id | www.explicar.co.id🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru!#ProxemicsPodcast #CrisisCommunication #PublicRelations #Tuku #BeaCukai #HukumIndonesia #BloombergBusinessweek #AgencyLifeProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  13. 16

    Realita Pahit Mobil Listrik: "Charge Anxiety" & Drama SPKLU Indonesia | 019

    Dari debat panas EV vs. hybrid, gempuran brand China, hingga realita "Charge Anxiety" di Indonesia, Danang Aradian (Cak Dan) balik lagi ke Proxemics!Kita bedah tuntas industri otomotif: kenapa EV Rp250 juta bikin geger pasar dan gimana raksasa Jepang (Honda) merespons dengan strategi beda. Kita juga bahas kenapa iPhone tetap laku keras meski minim inovasi, plus ngobrolin AI kayak Gemini Live yang makin mirip film Her. Tech enthusiast atau yang lagi galau beli EV wajib dengerin!🧠 Yang Kita Bedah:🚗 GJAW & Perang Harga EV: Fenomena SUV listrik seharga LCGC (Rp250 juta) yang ngerusak harga pasar.🇯🇵 Jepang vs. China: Mentalitas fitur melimpah vs. fokus hybrid & bikin EV lebih "bernyawa" biar nggak membosankan.📱 Apple & Psychology of Prestige: Jualan experience & gengsi di tengah inovasi smartphone yang stagnan.🤖 AI is the New "Her": Pengalaman ngobrol sama Gemini Live yang udah kayak teman curhat di jalan.⚡ Realita Pahit EV: Bukan cuma range anxiety, tapi "Charge Anxiety" (drama SPKLU penuh, rusak, & antrean panjang).Lo tim EV China yang sat-set atau hybrid Jepang yang fun to drive? Drop komentar kalian! 👇⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro: SUV Seharga 250 Juta 1:12 - Kembalinya Danang Aradian (Cak Dan) 2:54 - Sorotan GJAW: Serbuan Brand Baru 5:40 - Fenomena "J5": SUV Listrik Seharga LCGC 11:39 - Debat Insentif Pajak EV: Apakah Adil? 16:05 - Japan Mobility Show: Strategi Hybrid Honda 18:28 - Bikin EV Jadi Seru: Gigi Manual & Suara Palsu 21:55 - Jepang vs China: Kesempurnaan vs Dominasi 29:43 - Stagnasi Industri Smartphone & Dominasi Apple 42:20 - Revolusi AI: Ngobrol Bareng Gemini Live 47:25 - Masa Depan Media: Bertahan di Tengah Ekuilibrium 54:00 - Realita Punya EV: "Charge Anxiety" 1:07:40 - Kenapa PHEV Sebenarnya Ideal untuk Indonesia📌 Mentioned in this Episode: Danang Aradian, Elon Musk, Honda, BYD, Wuling, Toyota, Apple, Google, PLN, Voltron, Sindo News, Instagram. (Film/Konsep: Her, Data is Beautiful, Charge Anxiety).🏢 Our Agencies: www.whitewood.digital | www.praxis.co.id | www.prajna.co.id | www.explicar.co.id🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru!#ProxemicsPodcast #DanangAradian #Otomotif #EVIndonesia #AppleVsAndroid #ArtificialIntelligenceSemuanya sudah rapi dan siap di-copy-paste ke Buzzsprout. Apakah lo mau gue buatin juga caption singkat untuk promosiin episode ini di Instagram atau LinkedIn?Proxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  14. 15

    ‘Si Paling Tahu’, Politik & Media: Kenapa Semua Merasa Paling Benar? | Prita Laura | 018

    Dari layar kaca sebagai news anchor hingga masuk ke jantung komunikasi istana, Prita Laura hadir di Proxemics membedah dunia Crisis Communication.Episode ini mengupas tuntas kenapa "memadamkan api" saja tidak cukup saat krisis brand melanda. Prita membagikan pengalamannya memakai "kacamata jurnalis" untuk melihat realita lapangan, bukan sekadar laporan di atas meja. Kita juga bahas The Psychology of Stupidity, bahaya Dunning-Kruger Effect, hingga analisis gaya komunikasi Presiden Jokowi vs. Prabowo. Ini adalah "kuliah" gratis soal strategi, mitigasi, dan critical thinking!🧠 Yang Kita Bedah:🕵️‍♀️ Jurnalisme ke PR Pemerintah: Insting investigasi untuk memetakan keresahan publik.🔥 Krisis Komunikasi: Kenapa padamkan api bukan berarti beres & pentingnya reputasi pasca-krisis.📉 Mitigasi: Analogi bangun gedung tanpa tangga darurat. Persiapan wajib sebelum krisis!🤯 Psychology of Stupidity & Dunning-Kruger Effect: Kenapa orang berpendidikan bisa sebar hoax & fenomena "Si Paling Tahu".📱 Negara Instagram & Toxic Positivity: Realita semu medsos vs. kerasnya dunia kerja Gen Z.🗣️ Jokowi vs. Prabowo: Analisis gaya komunikasi "merakyat" vs. "komando".Kalian tim gaya komunikasi yang mana? Kalem atau tegas to the point? Drop komentar kalian! 👇⏱️ TIMESTAMPS: 0:00 - Intro & Highlight 0:51 - Prita Laura: From Anchor to Crisis Expert 2:34 - Switching Sides: Journalist to Gov PR 4:45 - Ground Reality vs. Reports 7:40 - The "X-Ray" Vision 13:12 - Biggest Mistake in Crisis Comms 17:52 - Skyscrapers without Fire Exits (Mitigation) 20:13 - Critical Thinking & Psychology of Stupidity 23:38 - Spiral of Silence & Social Pressure 27:33 - Dunning-Kruger Effect 32:15 - Gen Z in the Workplace 37:54 - Media Relations 101 41:39 - Jokowi vs. Prabowo: Comms Style Analysis 45:41 - 3 Traits for Success in Crisis Comms📌 Mentioned in this Episode: Prita Laura, Joko Widodo, Prabowo Subianto, Sri Mulyani, Donald Trump, Jeffrey Rachmat, KSP, Metro TV, Taco Bell, Instagram. (Buku: The Psychology of Stupidity, Thinking, Fast and Slow).🏢 Our Agencies: www.whitewood.digital | www.praxis.co.id | www.prajna.co.id | www.explicar.co.id🎙️ About Proxemics Podcast: Mercy (@mercytahitoe) & Steph (@stephaniesicilia) ngebahas PR, advertising, media, digital marketing, & audience psychology. Buat lo para praktisi komunikasi yang pengen ngerti interaksi manusia di balik kesuksesan brand, yuk SUBSCRIBE biar nggak ketinggalan insight terbaru!#ProxemicsPodcast #CrisisCommunication #PublicRelations #PritaLaura #CriticalThinkingApakah draf yang lebih padat ini sudah pas dengan style yang lo mau, atau ada link / sponsor tambahan yang mau diselipkan di bagian bawah?Proxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  15. 14

    Anatomi Krisis: Gaya 'Koboy' Purbaya & Rahasia Branding Apple yang Kebal Kritik | 017

    Dari koridor kementerian hingga viral di media sosial, komunikasi adalah pedang bermata dua. Episode Proxemics kali ini membedah tiga spektrum komunikasi yang berbeda: gaya kepemimpinan politik, manajemen reputasi infrastruktur negara, dan penanganan krisis FMCG.Kami menganalisis gaya komunikasi Menteri Keuangan Purbaya yang memicu perdebatan: apakah ketegasannya adalah "obat kuat" bagi birokrasi atau sekadar gimik tanpa akuntabilitas? Kami juga menyoroti proyek Kereta Cepat Whoosh—bukan dari sisi teknis, melainkan dari kacamata legacy sejarah (Dinasti Syailendra) vs realitas utang negara. Tak ketinggalan, bedah kasus krisis viral Aqua dan oleh-oleh ilmu Neuromarketing langsung dari SXSW Sydney.Berikut adalah rangkuman analisis strategis dari diskusi ini:Q: Apakah gaya komunikasi "Koboy" Menkeu Purbaya efektif untuk birokrasi Indonesia? A: Gaya komunikasi maskulin dan direct ala Purbaya memang efektif untuk memotong rantai birokrasi dan menciptakan persepsi "kerja cepat". Namun, dalam konteks budaya Indonesia yang cenderung high-context dan feminim (mengutamakan harmoni), gaya ini berisiko dianggap arogan jika tidak diimbangi dengan accountability yang transparan.Q: Bagaimana menyeimbangkan narasi "Legacy Peradaban" Whoosh dengan isu beban utang? A: Proyek Whoosh sering dibandingkan dengan pembangunan Borobudur oleh Dinasti Syailendra—sebuah legacy peradaban jangka panjang. Namun, untuk meredam isu utang, narasi PR harus bergeser ke solusi tata kelola konkret, seperti skema BOT (Build-Operate-Transfer) atau Transfer of Technology, agar proyek ini tidak menjadi beban APBN yang mencederai reputasi pemerintah.Q: Apa pelajaran PR utama dari kasus viral "Sidak Aqua"? A: Kasus ini adalah contoh klasik kegagalan PR Onsite. Dalam era digital, setiap karyawan lapangan adalah brand ambassador. Ketidaksiapan tim di lapangan menghadapi konfrontasi kamera menyebabkan framing negatif menyebar liar, merusak branding yang dibangun puluhan tahun.Q: Apa insight Neuromarketing dari SXSW Sydney untuk campaign yang sukses? A: Kuncinya adalah keseimbangan antara Novelty (kebaruan) dan Mere Exposure Effect (familiaritas). Otak manusia menyukai hal baru, tapi lebih mempercayai hal yang familiar. Campaign yang sukses harus memiliki unsur kejutan namun tetap terasa dekat dengan audiens.Timestamps Topik Penting: (00:00:52) Analisis Gaya "Koboy" Menkeu Purbaya & Budaya Komunikasi (00:13:35) Whoosh: Antara Simbol Peradaban & Jeratan Utang (00:22:18) Solusi Tata Kelola: BOT & Transfer Teknologi (00:29:42) Bedah Krisis Komunikasi Aqua: Pentingnya PR Onsite (00:39:01) Fenomena Apple: Ketika Brand Prestige Mengalahkan Kritik Produk (00:48:33) Laporan SXSW Sydney: Neuromarketing & AINarasumber & Brand:Tokoh: Menkeu Purbaya, Sri Mulyani, Ridwan Kamil, Jeremy Thomas.Brand/Proyek: Kereta Cepat Whoosh, Aqua (Danone), Apple, SXSW Sydney.Simak analisis mendalam mengenai strategi komunikasi di balik headline nasional.#PublicAffairs #CrisisCommunication #PoliticalPR #Whoosh #MenkeuPurbaya #AquaDanone #SXSW #Neuromarketing #ProxemicsPodcast #CorporateAffairsProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  16. 13

    Ngulik Strategi Marketing & Branding dari Boss Marketing Kopi Kenangan + Live Report dari SXSW | 016

    Bagaimana Kopi Kenangan bertransformasi dari kedai kopi lokal menjadi Unicorn F&B pertama di Asia Tenggara dengan valuasi miliaran dolar? Di pasar yang sangat price-sensitive dan penuh persaingan, strategi apa yang membuat mereka bertahan?Di episode ini, Proxemics berbincang dengan Ananditha Mayasari (Ditha), VP of Marketing Kenangan Brands. Dengan latar belakang unik (Lulusan Fisika UI yang banting setir ke Sales B2C), Ditha membedah realita industri kopi: dari menghadapi loyalitas ganda (dualism) Gen Z, hingga seni memimpin tim tanpa drama.Berikut adalah rangkuman insight strategis dari diskusi ini:Q: Bagaimana strategi Kopi Kenangan menghadapi kompetitor lokal dan loyalitas Gen Z yang tidak setia? A: Gen Z memiliki karakter "Dualism Loyalty" (setia pada beberapa brand sekaligus). Alih-alih memusuhi kompetitor seperti Tuku, Fore, atau Janji Jiwa, Kopi Kenangan justru merangkul mereka sebagai "Kolektif" melalui kampanye Indonesian Pride. Tujuannya adalah membesarkan market share kopi lokal melawan raksasa global, bukan saling mematikan.Q: Mengapa pengalaman Sales B2C dianggap fondasi terbaik untuk karier Marketing? A: Ditha menekankan bahwa Sales mengajarkan Resiliensi (ketahanan mental) dan Human Psychology (kemampuan membaca orang) yang tidak diajarkan di bangku kuliah. Kemampuan menerima penolakan dan memahami kebutuhan konsumen secara langsung adalah skill paling mahal bagi seorang Marketer.Q: Apa "Red Flag" terbesar dalam kepemimpinan dan rekrutmen tim menurut Ditha? A: Kebohongan (Lack of Integrity). Dalam memimpin, Ditha mencari tiga kualitas non-teknis utama: Willingness to Learn, Humility (kerendahan hati), dan Integrity. Skill teknis bisa diajarkan, tetapi integritas adalah karakter harga mati.Q: Sejauh mana peran AI dalam industri F&B yang mengandalkan rasa? A: AI tidak bisa menggantikan taste (rasa) dan sentuhan manusia dalam hospitality. Namun, Kopi Kenangan menggunakan AI untuk mempercepat proses operasional, analisis data konsumen, dan efisiensi supply chain.Timestamps Topik Penting: (00:00) Intro & Profil Ananditha Mayasari (Fisika UI to Marketing) (02:17) Realita F&B: Profitabilitas vs Price-Sensitive Market (08:00) Strategi "Indonesian Pride": Merangkul Tuku, Fore, & Janji Jiwa (13:53) The Art of Sales: Membangun Mental Baja & Membaca Orang (25:14) Leadership Crisis: Mengelola Ego Tim vs Ekspektasi Stakeholder (30:05) Red Flag Rekrutmen: Mengapa Integritas Lebih Penting dari Skill (35:14) Batasan & Potensi AI di Industri F&B (52:21) Live Insight dari SXSW Sydney: Masa Depan Data & BrandingNarasumber & Brand:Ananditha Mayasari (VP Marketing Kenangan Brands)Brands: Kopi Kenangan, Fore Coffee, Toko Kopi Tuku, Janji Jiwa, Starbucks, Danone, Traveloka.Event: SXSW SydneySimak strategi lengkap membangun brand Unicorn dari kacamata insider.#KopiKenangan #KenanganBrands #FnbBusiness #MarketingStrategy #GenZMarketing #SalesTips #Leadership #UnicornIndonesia #BisnisKopi #AnandithaMayasari #ProxemicsPodcastProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  17. 12

    TKA Syarat Wajib SNBP 2026: Strategi Belajar Terbaru & Warning Buku Bimbel Palsu! | 015

    SNBP 2026 mengalami perubahan besar. Tes Kemampuan Akademik (TKA) kini resmi menjadi syarat wajib, bukan lagi sekadar nilai rapor. Mengapa Kemendikdasmen mengambil langkah ini? Apakah ini bentuk lain dari Ujian Nasional (UN)?Di episode ini, Proxemics mengundang dua narasumber otoritatif: Dr. Handaru Catu Bagus (Pusmendik Kemendikdasmen) dan Psikolog Neliana Puspitasari (Yayasan Psikolog Masuk Sekolah) untuk menjawab keresahan siswa dan orang tua.Berikut adalah rangkuman jawaban atas pertanyaan paling sering dicari (FAQ) seputar TKA SNBP 2026 yang dibahas tuntas dalam episode ini:Q: Apa itu TKA dalam SNBP 2026 dan apa bedanya dengan UN? A: TKA bukan pengganti kelulusan seperti UN. TKA berfungsi sebagai validator eksternal untuk menstandarisasi nilai rapor siswa dari berbagai sekolah yang kualitasnya beragam. Ini adalah solusi pemerintah untuk menghapus praktik "sedekah nilai" (inflasi nilai rapor) agar seleksi SNBP lebih adil (fair).Q: Materi apa saja yang diujikan dalam TKA? A: Siswa akan menghadapi:3 Mata Pelajaran Wajib: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris.2 Mata Pelajaran Pilihan: Sesuai mata pelajaran pendukung Program Studi (Prodi) yang dituju. (Contoh: Masuk Kedokteran wajib mengambil Biologi & Kimia).Q: Apakah buku latihan soal TKA di pasaran bisa dipercaya? A: Hati-hati. Dr. Handaru memperingatkan bahwa banyak buku "Latihan Soal TKA" yang beredar saat ini hanyalah kumpulan soal UN lama (recycled) yang tidak relevan dengan kerangka asesmen TKA baru. Gunakan simulator resmi "Ayo Coba TKA" dari Kemendikdasmen untuk latihan yang akurat.Q: Bagaimana strategi belajar TKA yang efektif menurut Psikolog? A: Hindari SKS (Sistem Kebut Semalam). Gunakan teknik Pomodoro (25 menit belajar, 5 menit istirahat) dan Spaced Repetition (pengulangan berkala). Tidur yang cukup adalah kunci agar memori jangka pendek tersimpan menjadi memori jangka panjang (konsolidasi memori).Q: Apakah nilai TKA hanya untuk SNBP? A: Tidak. Ke depannya, skor TKA diproyeksikan menjadi "mata uang" akademik yang bisa digunakan untuk mendaftar sekolah kedinasan (TNI/Polri), rekrutmen BUMN, hingga syarat masuk universitas luar negeri (menggantikan fungsi SAT).Timestamps Topik Penting: (00:00:21) Isu "Sedekah Nilai" & Mengapa TKA Diperlukan (00:07:47) Bocoran Materi Prioritas TKA & Mapel Pilihan (00:12:30) Awas Scam! Buku Bimbel TKA Palsu vs Simulator Resmi (00:15:57) Teknik Belajar: Pomodoro & Active Recall (00:20:35) Teknis Ujian: Pengawasan Zoom & Durasi (00:29:17) Cara Membaca Hasil TKA (Kurang, Baik, Istimewa) (00:37:18) Panduan Orang Tua: Menjadi Support System Anti-ToksikNarasumber & Referensi:Dr. Handaru Catu Bagus, S.T, M.M (Kabid Pengembangan Asesmen Pusmendik Kemendikdasmen)Neliana Puspitasari, S.Psi, M.Psi (Psikolog Pendidikan)Platform Resmi: Ayo Coba TKA, Erakini.idSimak diskusi lengkapnya untuk memahami peta jalan baru pendidikan Indonesia.#SNBP2026 #TKA2026 #TesKemampuanAkademik #TipsBelajar #Kemendikdasmen #Pusmendik #MasukPTN #PendidikanIndonesia #ParentingRemajaProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  18. 11

    Analisis Krisis Komunikasi: Istana vs Pers, Drama Boikot Freeport & Masa Depan SEO | 014

    Ketika jurnalis dilarang bertanya dan musisi memboikot sponsor korporat, siapa yang salah secara strategi komunikasi?Dalam edisi "Full House" ini, Host Mercy Tahitoe dan co-host Stephanie Sicilia bergabung dengan Adwi Yudiansyah (Praxis) dan Sofyan Herbowo (Prajna) untuk membedah rentetan krisis komunikasi yang melanda Indonesia minggu ini. Dari insiden pencabutan kartu pers di Istana hingga polemik "Salah Jurusan" sponsorship Freeport di Pestapora, tim Proxemics memberikan analisis brutal namun strategis.Diskusi ditutup dengan perdebatan teknis tentang SEO vs GEO: Apakah Search Engine Optimization benar-benar mati di era AI, atau justru berevolusi menjadi "Meta Search"?🎙️ Panelis (Full House Edition):Mercy Tahitoe (White Wood)Stephanie Sicilia (Praxis)Adwi Yudiansyah (Praxis)Sofyan Herbowo (Prajna)🔥 Topik Diskusi untuk Praktisi Komunikasi:Krisis Istana vs Pers: Analisis insiden "Doorstop" Presiden. Apakah ini ketidakpahaman protokol atau sinyal pembungkaman? Mengapa "Desakralisasi Pejabat" menjadi tuntutan publik saat ini.Sponsorship Gone Wrong (Pestapora vs Freeport): Bedah kasus mundurnya musisi (Sukatani, dll) karena sponsor tambang. Mengapa Brand sering menjadi korban miskomunikasi EO, dan bagaimana Due Diligence sponsorship harus diperketat.Kabinet "Couture" & Flexing Pejabat: Fenomena akun Instagram yang mengekspos kemewahan pejabat. Mengapa tone-deaf communication (pamer saat rakyat susah) adalah bom waktu reputasi.Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Kritik terhadap eksekusi yang "Bias Kota" dan risiko keracunan massal jika standar higienitas diabaikan demi budget cut.SEO is Dead? Debat LinkedIn tentang masa depan pencarian. Mengapa Generative Engine Optimization (GEO) tidak bisa hidup tanpa Citation dari media kredibel (SEO).💡 Strategic Takeaway: Bagi Brand dan Pejabat Publik, pelajaran minggu ini adalah "Anticipatory PR." Jangan menunggu krisis terjadi (musisi mundur atau jurnalis marah) baru bereaksi. Risk Assessment harus dilakukan sebelum kontrak sponsorship ditandatangani atau sebelum mikrofon pers dinyalakan.Timestamps: (00:00) Intro: Full House Edition (00:40) Krisis Istana: Insiden Kartu Pers Wartawan Dicabut (09:50) Drama Sponsorship: Musisi Boikot Freeport di Pestapora (21:30) Gaya Komunikasi Pejabat Baru: "Desakralisasi Jabatan" (37:50) Fenomena "Kabinet Couture": Flexing vs Empati Publik (46:50) Kritik Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Isu Higienitas (56:10) Analisis Pidato Presiden Prabowo di PBB (Isu Gaza) (01:09:30) Digital Trend: Apakah SEO Mati Digantikan AI (GEO)?Tentang Proxemics Podcast: Proxemics adalah podcast referensi utama bagi praktisi Komunikasi, Public Relations, dan Marketing di Indonesia. Kami menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan realitas lapangan yang kacau, memberikan wawasan yang bisa langsung diterapkan oleh C-Level dan strategis.Keywords: Krisis Komunikasi, Public Relations Indonesia, Manajemen Isu, Freeport Indonesia, Pestapora, Kebebasan Pers, Makan Bergizi Gratis, SEO vs GEO, Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo.Jangan lupa untuk Subscribe dan bagikan episode ini kepada tim komunikasi Anda!Our Agencies:PraxisPrajnaExplicarWhite WoodProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  19. 10

    PR vs Public Affairs: Strategi Advokasi Kebijakan & Studi Kasus Cukai MBDK | 013

    Apakah Public Relations (PR) dan Public Affairs (PA) itu sama? Di episode Proxemics Podcast ini—podcast referensi utama bagi praktisi Komunikasi Korporat, Hubungan Pemerintah, dan Marketing di Indonesia—kami membedah perbedaan fundamental antara membangun reputasi (Citra) dan mengamankan regulasi (Izin Operasi).Host Mercy Tahitoe duduk bersama praktisi senior Corporate Affairs untuk membahas realitas di balik meja perundingan kebijakan. Diskusi ini mengupas tuntas bagaimana industri menavigasi regulasi sensitif seperti Cukai Minuman Berpemanis (MBDK), bukan dengan jargon marketing, melainkan dengan data ilmiah.🎙️ Narasumber Eksklusif:Jeffrey Haribowo: Corporate Affairs Director, Mars.🔥 Topik Diskusi untuk Praktisi Komunikasi & Regulasi:PR vs. Public Affairs: Mengapa PR fokus pada Social License (Penerimaan Publik), sementara PA fokus pada Technical License (Izin Legal/Regulasi).Studi Kasus Cukai MBDK (Sugar Tax): Bedah strategi "Evidence-Based Advocacy". Bagaimana industri bernegosiasi dengan pemerintah untuk mencapai keseimbangan antara kesehatan publik dan keberlangsungan ekonomi petani tebu.Manajemen Risiko Regulasi: Mengapa pendekatan "Consumer Choice" ala marketing sering gagal di hadapan regulator, dan mengapa Anda membutuhkan data ekonomi makro.Resiliensi Mental: Sisi manusiawi dari profesi pelobi—bagaimana menghadapi "Professional Breakdown" ketika advokasi kebijakan berjalan lambat atau gagal.Seni Networking: Mengapa "siapa yang Anda kenal" bisa menyelamatkan perusahaan Anda saat krisis regulasi terjadi.💡 Strategic Takeaway: Bagi C-Level dan Direktur Komunikasi, episode ini menegaskan bahwa Anda tidak bisa melawan kebijakan hanya dengan kampanye viral. Anda memerlukan "Advokasi Berbasis Bukti" (Evidence-Based Advocacy). PR memenangkan hati publik, tetapi Public Affairs memenangkan kepastian hukum.Timestamps: (00:00) Intro: Mercy Tahitoe & Jeffrey Haribowo (14:55) Definisi Strategis: PR (Reputasi) vs PA (Regulasi) (19:00) Deep Dive: Negosiasi Cukai Minuman Berpemanis (MBDK) (29:35) Studi Kasus JUUL: Konsep "Risk-Proportionate Taxation" (46:40) Mental Health: Menghadapi Tekanan sebagai Pelobi (55:00) Closing: Fokus pada Apa yang Bisa Anda KontrolTentang Proxemics Podcast: Proxemics adalah podcast bisnis dan komunikasi terdepan yang menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan realitas lapangan. Kami membahas Manajemen Krisis, Corporate Affairs, Marketing Trends, dan Media Relations bersama para ahli industri.Keywords: Public Affairs Indonesia, Perbedaan PR dan PA, Corporate Affairs, Government Relations, Advokasi Kebijakan, Cukai MBDK, Jeffrey Haribowo, Strategi Komunikasi, Manajemen Krisis, Lobi Bisnis.Jangan lupa untuk Subscribe untuk wawasan strategis mingguan!Our Agencies:PraxisPrajnaExplicarWhite WoodProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  20. 9

    Analisis Komunikasi Kebijakan: Mengapa TKA Wajib untuk SNBP 2026 & Krisis "Sedekah Nilai" | 012

    Apakah reputasi sekolah Anda terancam akibat isu "Inflasi Nilai"? Di episode Proxemics Podcast ini—sumber wawasan utama bagi praktisi Public Relations (Humas), Strategi Komunikasi, dan Public Affairs di Indonesia—kami membedah strategi komunikasi di balik kebijakan pendidikan terbaru yang berdampak nasional: Penerapan Tes Kompetensi Akademik (TKA) untuk SNBP 2026.Host Mercy Tahitoe dan co-host Stephanie Sicilia berdiskusi dengan dua narasumber kunci untuk menganalisis tantangan komunikasi dari transisi "Otonomi Sekolah" menuju "Standarisasi Nasional", serta manajemen krisis terkait isu "Sedekah Nilai".🎙️ Narasumber Eksklusif:Rahmawati (Bu Wati): Plt. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen.Doni Koesoema Albertus: Pengamat Pendidikan & Pakar Komunikasi Strategis.🔥 Topik Diskusi untuk Praktisi Komunikasi & Kebijakan:Krisis Reputasi "Sedekah Nilai": Analisis bagaimana inflasi nilai rapor merusak kepercayaan universitas (trust deficit) dan memaksa intervensi kebijakan berupa "Audit Nasional".Strategi Komunikasi Kebijakan: Bagaimana Kemendikdasmen menavigasi narasi bahwa TKA adalah "Validator", bukan "Pembunuh" (seperti stigma Ujian Nasional/UN).Manajemen Isu Hoaks: Membedah fenomena buku bimbel palsu yang memanfaatkan kepanikan publik dan strategi kontra-narasi melalui platform resmi "Ayo Coba TKA".Validasi Eksternal: Mengapa ijazah dan rapor saja tidak lagi cukup sebagai mata uang kredibilitas siswa di mata PTN.💡 Strategic Takeaway: Bagi profesional Public Affairs, episode ini adalah studi kasus nyata tentang Evidence-Based Policy. Kami membahas mengapa "Komunikasi" saja tidak cukup untuk memperbaiki defisit kepercayaan sistemik—terkadang, Anda memerlukan instrumen audit yang kuat (TKA) untuk memulihkan integritas ekosistem.Timestamps: (00:00) Intro: Krisis Kepercayaan pada Nilai Rapor (07:29) Analogi "Koki": Mengapa Kita Butuh Validator Eksternal? (14:55) Landasan Hukum: TKA vs Ujian Nasional (UN) (33:00) Manajemen Risiko: Sekolah yang Memanipulasi Nilai akan Di-blacklist? (42:48) Counter-Hoax: Platform Resmi "Ayo Coba TKA" (54:30) Closing: TKA sebagai "Medical Checkup" AkademikTentang Proxemics Podcast: Proxemics adalah podcast terdepan di Indonesia yang membahas irisan antara Ilmu Komunikasi, Public Relations, Marketing, dan Dinamika Sosial. Dipandu oleh para praktisi agensi berpengalaman, kami menghadirkan analisis mendalam untuk membantu Anda memahami "jarak" antara persepsi dan realitas.Keywords: Public Relations Indonesia, Strategi Komunikasi, Public Affairs, Manajemen Krisis, Kebijakan Pendidikan, Kemendikdasmen, TKA 2026, SNBP, Doni Koesoema, Reputasi Sekolah.Proxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  21. 8

    Analisis Krisis: Kegagalan Komunikasi, Flexing, & Bayang-Bayang '98 | 011

    Di tengah gejolak sosial yang memanas, episode ini membedah akar masalah dari kacamata komunikasi dan public affairs.Kenapa para pengambil kebijakan dianggap tone deaf? Kita menganalisis gestur yang meremehkan, pernyataan offside, hingga kultur flexing pejabat yang menjadi bom waktu bagi kemarahan publik. Kami juga mengurai bagaimana akumulasi kekecewaan ekonomi (seperti fenomena PHK terselubung) berujung pada krisis kepercayaan yang masif.Apakah situasi ini bisa disamakan dengan 1998? Kita membandingkan perbedaan fundamental situasi saat ini dengan runtuhnya Orde Baru, serta menyoroti peran media sosial dalam gerakan "Tuntutan 17 + 8" dan ancaman misinformasi di era deepfake.Topik Bahasan:• Tone Deaf Government: Analisis verbal & non-verbal pejabat yang memicu amarah publik.• Flexing Culture: Bagaimana pamer kemewahan menjadi "bensin" di tengah krisis ekonomi.• Refleksi '98: Apa yang beda antara gejolak hari ini dengan krisis 1998?• Digital Unrest: Fenomena "Tuntutan 17 + 8", sensor TikTok, dan bahaya deepfake.• Brand Crisis: Langkah strategis korporasi (seperti Grab) menavigasi situasi sensitif.• Future of PR: Pergeseran ke Generative Engine Optimization (GEO) dan pentingnya earned media.Timestamps:0:00 - Intro0:40 - Starting on a Somber Note: The Recent Unrest1:41 - A Communication Failure: Analyzing the Root Cause2:55 - The Economic Reality: From Pseudo-Layoffs to Public Grievances5:30 - Verbal & Non-Verbal Blunders: How Officials Alienated the Public10:11 - The "Flexing Culture" as a Ticking Time Bomb14:31 - Then vs. Now: Comparing the '98 Crisis with Today's Unrest19:27 - Conspiracy Theories vs. Incompetence?22:30 - The Danger of Misinformation & Deepfakes23:38 - The TikTok Live Shutdown: Censorship or Necessary Precaution?31:28 - Is Indonesia's Democracy Flawed by a Lack of Education?33:46 - Three Core Problems: Financing, Regeneration, Decentralization38:37 - "Taxation Without Representation": Anger Towards Sri Mulyani40:37 - The Geopolitical PR Move: Prabowo with Putin & Kim Jong Un50:25 - The Asset Confiscation Law: Long Overdue or Problematic?57:31 - Dissecting the "17 + 8 Demands" Social Movement1:02:41 - Brand Responses: Grab's Bold PR Move1:14:42 - The Future of PR: AI, White Papers, and GEO1:19:02 - Closing Thoughts: The Man in the MirrorMentioned in this episode:• Brands/Media: Detik, Grab, Kompas, Kontan, Maverick Indonesia.• People: Prabowo Subianto, Sri Mulyani, Anthony Tan, Vladimir Putin, Kim Jong Un, Donald Trump.• Events/Issues: Tuntutan 17+8, UU Perampasan Aset, TikTok Live Shutdown.#ProxemicsPodcast #CrisisCommunication #PublicAffairs #SocialUnrest #Reformasi #PRStrategy #IndonesianPolitics #DeepfakeProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  22. 7

    Marketing View: Benarkah Orang Indonesia Malas, Orang Vietnam Rajin & Orang Singapura 'Kiasu'? | 010

    Episode spesial bareng tamu internasional pertama kita! 🌏Di episode ini, Vanessa Tan (Razer) hadir untuk membedah pengalamannya bertahan dan bersinar di industri teknologi yang didominasi pria, termasuk cerita di balik kultur kerja super fast-paced di raksasa teknologi, Xiaomi.Kita juga masuk ke debat panas soal AI: Apakah ChatGPT bikin kita makin efisien, atau justru bikin otak kita "menciut" karena malas berpikir?Selain itu, kita mengupas tuntas stereotip bisnis lintas negara (Indonesia vs. Singapura), menjawab persepsi "apakah orang Indonesia malas?", serta dinamika abadi antara PR vs. Marketing. Vanessa juga berbagi kisah inspiratif di balik bisnis gown rental-nya, Ministry of Gowns.Topik Bahasan: * Kultur Kerja Tech Giant: Inside scoop kerja di Xiaomi—demanding tapi penuh pelajaran. * Debat AI: Alat bantu produktivitas atau ancaman bagi kecerdasan manusia? * Cross-Border Business: Membedah stereotip market & perilaku kerja Indonesia vs. Singapura. * PR vs. Marketing: Kenapa PR sering dianggap "anak tiri" atau sekadar cost center? * Ministry of Gowns: Bisnis yang lahir dari pain point pribadi. * Women in Tech: 3 kunci sukses bagi perempuan untuk stand out di industri teknologi.Timestamps:0:00 - Intro & Welcoming Vanessa Tan!2:15 - Nostalgia: The Early Days of Xiaomi in Indonesia7:45 - Key Lessons from a Fast-Paced Work Culture12:12 - The Importance of Cognitive Diversity in a Team15:30 - The AI Debate: Helpful Tool vs. Brain Shrinker?19:05 - The 95-Year-Old Grandma Story & Keeping Your Brain Sharp25:22 - The Future of Marketing: From Sensory to Neuro-marketing30:10 - Unique Marketing Case Studies in Japan (KFC & Nestle)34:50 - Dissecting Perceptions & Stereotypes of the Indonesian Market41:01 - Common Misconception: "Are Indonesians Lazy?"46:30 - Comparing National Culture & PR: Indonesia vs. Singapore52:45 - The Eternal Debate: Where Does PR Fit in Marketing Strategy?57:10 - Biggest Misconception: PR & Marketing as a "Cost Center"1:01:48 - The Origin Story of Ministry of Gowns1:09:15 - "All Polish, No Substance?" - A Common Industry Myth1:12:35 - 3 Keys to Success for Women in the Tech IndustryMentioned in this episode: * Brands: Xiaomi, Redmi, Cinema XXI, OpenAI, Google, KFC, Nestle, Ministry of Gowns. * People: Vanessa Tan, Hugo Barra, JKT48, Lawrence Wong. * Events/Tech: ChatGPT, South by Southwest (SXSW).#ProxemicsPodcast #WomenInTech #MarketingTrends #PR #DigitalMarketing #AI #Leadership #XiaomiProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  23. 6

    Edisi Full House: Debat 996, Deal Dagang AS-Indo, & Perang EV di GIIAS (feat. Garda Maharsi) | 009

    Tim lengkap, topik panas, dan debat seru! 🔥Di episode Full House ini, kita bedah budaya kerja “996” (9 pagi – 9 malam, 6 hari seminggu). Apakah ini kunci kompetitif di era modern atau cuma jalan cepat menuju burnout?Kita juga membahas deal dagang AS-Indonesia yang memicu pertanyaan besar: Tarif 0% buat produk Amerika, tapi 19% buat kita? Siapa yang sebenarnya diuntungkan?Tak ketinggalan, kita mengulik euforia GIIAS, fenomena “Rojali & Rohana,” serta rivalitas panas antara pemilik mobil bensin vs listrik. Plus, bareng Garda Maharsi, kita bongkar hasil survei eksklusif Praxis tentang kepuasan pengguna mobil listrik di 12 kota besar Indonesia.Topik Bahasan: * Debat 996: Produktif atau eksploitatif? * Trade Deal: Analisis untung-rugi tarif impor yang timpang. * Euforia GIIAS: Perang harga EV & drama sentimen di media sosial. * Survei EV: Apa kata 1.200 responden tentang pengalaman real mereka? * Royalti Musik: Kasus Mie Gacoan & kerumitan hak cipta di era streaming. * SXSW Sydney: Program apresiasi talenta industri kreatif.Timestamps:0:00 - Intro0:24 - Debat Budaya Kerja 996: Efektif atau Eksploitatif?4:32 - Perspektif Praktis: Apakah 996 Cocok untuk Semua Industri?5:38 - Dampak Jangka Panjang Budaya Kerja Keras terhadap Kesehatan6:34 - Perbandingan dengan Konsep 4-Day Work Week8:13 - Realita Jam Kerja di Industri Kreatif vs. Sales9:30 - Kompetisi Global & The Race to AI11:21 - Produktivitas vs. Waktu Kerja12:57 - Pengalaman Grinding di Awal Karier16:34 - Isu Tarif Dagang Baru: AS 0%, Indonesia 19%17:26 - Dampak ke Konsumen & Barang yang Terdampak19:00 - The Bigger Picture: Akses Mineral & Boeing22:18 - Kewajiban Indonesia Menyesuaikan Regulasi Buruh24:52 - Fenomena GIIAS: Kenapa Selalu Ramai?26:10 - Gebrakan BYD & Perang Harga26:51 - Sentimen Netizen: Mobil Bensin vs. Listrik32:18 - Fenomena "Rojali & Rohana"34:21 - Dampak Ekonomi GIIAS untuk Industri Agensi37:32 - Pengumuman Survei Independen Praxis39:19 - Kontroversi Hak Cipta Musik: Kasus Mie Gacoan47:43 - Program Apresiasi SXSW Sydney49:59 - Guest Segment: Bedah Tuntas Survei EV Bersama Garda Maharsi51:15 - Temuan Utama: 79% Pengguna Lebih Puas dengan EV52:13 - Alasan Utama: Biaya Operasional & Pragmatisme53:57 - Keluhan Pengguna: Infrastruktur SPKLU & Fitur59:31 - Pentingnya Ekosistem Penta-helixMentioned in this episode: * Brands: Boeing, Ford, GMC, Dodge, Tesla, BYD, Toyota, Hyundai, Honda, Mie Gacoan. * Agencies: Praxis, White Wood. * People: Ahmad Dhani, Once Mekel, Kenny G, Danang Arradian, Garda Maharsi. * Events/Orgs: GIIAS, SXSW Sydney, WTO, G7 Summit.#ProxemicsPodcast #MarketingTrends #PR #DigitalMarketing #WorkCulture #GIIAS #EVIndonesiaProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  24. 5

    Media 'Sombong', PR vs Jurnalis & Masa Depan AI: Ngobrol Bareng Dr. Algooth Putranto | 008

    🎙️ Selamat Datang di Proxemics!Wadah diskusi mendalam seputar komunikasi, PR, advertising, media, digital marketing, dan the art of influencing. Kami mengulik bagaimana interaksi manusia dan pergeseran industri membentuk strategi brand yang sukses di masa kini.Tentang Episode Ini:Tamu spesial kita kali ini adalah jurnalis senior, Dr. Algooth Putranto, yang pengalamannya terbentang dari era reformasi '98 hingga peliputan di zona konflik Ukraina. Bersama tim Proxemics, Algooth membongkar kondisi industri media yang disebut sedang "berdarah-darah"—sebuah siklus yang menurutnya dipicu oleh "kesombongan" para mogul media yang terlambat beradaptasi dengan disrupsi digital.Kami juga membedah hubungan panas-dingin antara praktisi PR dan jurnalis: Apakah mereka rival atau rekan kolaborasi? Tak ketinggalan, kami mendebat peran AI—apakah ia ancaman nyata bagi penulis atau sekadar tool bantu? Episode ini penuh dengan cerita raw, dari ide unik penagihan pajak hingga observasi menarik tentang Gen Alpha yang mungkin menjadi "penyelamat" media fisik.Highlights Episode Ini: * Media 'Sombong' & Adaptasi: Mengapa banyak media besar tumbang dan apa yang salah dengan strategi digital mereka? * PR vs Jurnalis: Tips praktis bagi praktisi PR agar disukai media dan cara membangun hubungan yang berintegritas. * Masa Depan AI: Apakah AI akan menggantikan peran jurnalis dan praktisi PR? Analogi AI sebagai "internet baru" dalam efisiensi kerja. * Gen Alpha Effect: Fenomena generasi digital yang justru menunjukkan ketertarikan kembali pada media fisik. * Pelajaran dari Ukraina: Kisah di balik buku "Senja di Ukraina" tentang keberanian, resiliensi, dan realita zona konflik. * Pendidikan vs Industri: Kesiapan kurikulum kampus menghadapi era disrupsi dan AI.TIMESTAMPS:0:00 - Welcome & Perkenalan Dr. Algooth Putranto1:32 - Karier Jurnalis dari Reformasi '98 ke Konflik Ukraina5:03 - Disertasi S3: Konflik Ruang Publik & Ancaman Drone9:29 - Hubungan Kolaboratif PR & Jurnalis12:21 - "Kesombongan" Media Indonesia yang Telat Adaptasi Digital20:16 - Kebangkitan Model Bisnis Media Berbasis Langganan (Subscription)25:33 - Algoritma Google & Relevansi SEO Saat Ini28:12 - Debat Panas: Apakah AI Menggantikan Manusia?41:49 - Gen Alpha: Harapan Baru untuk Media Tradisional?50:30 - 3 Karakteristik PR yang Dicari Jurnalis53:20 - Kisah "Horor" Berurusan dengan PR Tidak Profesional1:02:48 - Bedah Buku "Senja di Ukraina"1:17:40 - Penutup & Closing StatementBrands, Media & Tokoh yang Disebut: * Media & Tech: Detik, Bisnis Indonesia, Bloomberg, Tempo, Kompas, New York Magazine, Google, Meta, OpenAI (ChatGPT), YouTube, TikTok, Instagram. * Tokoh & Akademisi: Dr. Algooth Putranto, Anies Baswedan, Djauhari Oratmangun, Prof. Rhenald Kasali, James Gunn. * Institusi Pendidikan: Univ. Paramadina, UI, UGM, ITB, Univ. Udayana, National Aviation University Ukraine. * Our Agencies: Praxis.co.id, Prajna.co.id, Explicar.co.id, Whitewood.digital.🎧 LIKE, COMMENT & SUBSCRIBE untuk terus mendapatkan insight tajam seputar dunia PR dan marketing dari kacamata praktisi.📩 Punya pertanyaan? Menurut Anda, praktisi PR atau jurnalis yang harus lebih dulu beradaptasi dengan AI? Tulis opini Anda di bawah!#ProxemicsPodcast #MarketingTrends #PR #DigitalMarketing #Jurnalistik #MediaMassa #AI #ArtificialIntelligence #GenAlpha #PublicRelations #StrategiKomunikasi #PodcastIndonesiaProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  25. 4

    AI, Authenticity & YONO: Ngulik Trust Economy Zaman Now | 007

    AI, Authenticity & YONO: Ngulik Trust Economy Zaman Now | Proxemics Podcast🎙️ Selamat Datang di Proxemics!Tempat kita mengupas tuntas dunia komunikasi, PR, advertising, media, digital marketing, dan the art of influencing. Kami mengeksplorasi bagaimana semua elemen ini bersinergi membentuk audience engagement dan brand messaging yang kuat.🚀 Untuk Siapa Podcast Ini?Episode ini wajib didengar oleh para praktisi PR, marketers, content creators, dan media strategists yang ingin memahami bagaimana pergeseran teknologi dan psikologi manusia menentukan kesuksesan sebuah brand.Tentang Episode Ini:Apakah era kejayaan Google sudah berakhir? Tim Proxemics membuka diskusi dengan perdebatan panas mengenai pergeseran perilaku audiens dari search engine konvensional ke alat AI seperti ChatGPT dan Gemini. Kami membedah implikasinya terhadap masa depan SEO dan munculnya tren Generative Engine Optimization (GEO).Lebih jauh lagi, kami membahas Trust Economy. Di tengah audiens yang mulai kebal terhadap endorsement selebriti yang terlalu "kinclong", autentisitas menjadi mata uang paling berharga. Dari fenomena food reviewer hingga gerakan anti-konsumsi YONO (You Only Need One), kami mengulas bagaimana brand harus beradaptasi agar tetap relevan.Highlights Episode Ini: * Google vs AI: Apakah ChatGPT akan membuat Google usang? Kenalan dengan konsep Generative Engine Optimization (GEO). * Bangkitnya Trust Economy: Mengapa audiens kini lebih percaya pada kreator niche dan mikro daripada mega-influencer? * Tren YONO (You Only Need One): Gerakan anti-konsumsi yang mindful atau sekadar alasan untuk membeli barang mahal? * Media Berdarah-darah: Analisa di balik tutupnya media besar seperti SEAToday dan Tech in Asia Indonesia. * Luka Lama & Kontroversi '98: Diskusi jujur dan reflektif mengenai trauma personal dan sejarah yang kembali mencuat. * Krisis PR Boeing: Bedah kasus kegagalan komunikasi brand global dalam menghadapi krisis beruntun.TIMESTAMPS:0:00 - Welcome & Perkenalan0:12 - AI Gantiin Google Search?2:55 - Masa Depan SEO vs GEO (Generative Engine Optimization)9:15 - Trust Economy: Autentisitas Jadi Kunci Utama11:30 - Mengapa Kita Mulai Tidak Percaya Influencer Besar?20:00 - Peran Media & Objektivitas: "Nggak Ada yang Bebas Nilai"26:40 - Gerakan Anti-Konsumsi "YONO" (You Only Need One)34:49 - Analisa Tutupnya SEAToday & Nasib Media43:55 - Kilas Balik Pahit: Kontroversi Kerusuhan '9852:40 - Mimpi Buruk PR Boeing & Management Krisis1:01:55 - Penutup & Kata AkhirBrands & Tokoh yang Disebut: * Tech & AI: Google, ChatGPT (OpenAI), Gemini, Perplexity, Meta AI, WhatsApp, YouTube, Boeing. * Media: CNN Indonesia, Tech in Asia, The Jakarta Post, NHK, Kompas, Liputan 6, Tempo, KataData. * Brand & Retail: Air India, Toyota Indonesia, Uniqlo, H&M. * Tokoh: Fadli Zon, Steve Harvey. * Our Agencies: Praxis.co.id, Prajna.co.id, Explicar.co.id, Whitewood.digital.🎧 LIKE, COMMENT & SUBSCRIBE untuk terus mendapatkan insight terbaru seputar dunia komunikasi dan marketing.📩 Punya pertanyaan atau opini? Tulis pendapat kamu di bawah: Tren mana yang menurutmu paling berdampak besar di tahun ini?#ProxemicsPodcast #MarketingTrends #PR #DigitalMarketing #AI #SEO #GenerativeAI #TrustEconomy #Branding #MediaIndustry #BoeingCrisis #YONO #PodcastIndonesiaProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  26. 3

    AI Bukan Ancaman? Masa Depan Qualcomm, Snapdragon & NPU | 006

    Inside the Brain of Your Gadgets: A Deep Dive with Qualcomm Indonesia | Proxemics Podcast🎙️ Welcome to Proxemics!Kami membedah dunia komunikasi, PR, advertising, media, digital marketing, dan the art of influence. Episode ini dirancang bagi para profesional PR, marketer, content creator, dan strategist yang ingin memahami bagaimana interaksi manusia dan teknologi membentuk kesuksesan sebuah brand.Tentang Episode Ini:Pernahkah Anda bertanya-tanya apa yang membuat smartphone, mobil, hingga laptop Anda menjadi sangat pintar? Dalam edisi kali ini, Mercy dan Steph berbincang langsung dengan sosok kunci di balik raksasa teknologi dunia: Bapak Dominikus Susanto (Pak Kentos) dari Qualcomm Indonesia.Kami mengupas tuntas perjalanan 40 tahun Qualcomm (yang ternyata singkatan dari Quality Communication!) dan bagaimana mereka bertransformasi dari perusahaan B2B menjadi household name melalui brand Snapdragon.Hal-hal yang kita bahas: * The Snapdragon Universe: Bagaimana Snapdragon menjadi "otak" utama tidak hanya bagi ponsel, tapi juga TWS, router Wi-Fi, IoT, hingga otomotif. * Revolusi PC: Mengintip Snapdragon X Series terbaru untuk laptop yang menjanjikan performa maksimal meski tanpa charger dan baterai yang tahan berhari-hari. * Strategi B2B vs B2C: Rahasia di balik suksesnya strategi co-branding dan kolaborasi erat dengan mitra seperti Xiaomi. * Snapdragon Summit Hawaii: Cerita di balik layar acara teknologi tahunan legendaris, termasuk kisah unik karantina 10 hari saat pandemi. * Career Path & Personal Passion: Perjalanan karier Pak Kentos dari insinyur hingga pimpinan di industri teknologi, serta hobi off-road dengan Suzuki Jimny klasik. * 3 Tips Karier Emas: Nasihat berharga tentang loyalitas, upskilling, dan menangkap peluang di industri yang bergerak cepat.TIMESTAMPS:0:00 - Guest Introduction: Pak Kentos (Qualcomm)2:14 - Sejarah 40 Tahun Qualcomm & Filosofi Logo5:05 - Diversifikasi Snapdragon di Luar Smartphone10:55 - Snapdragon di Dunia Otomotif13:29 - Game Changer: Snapdragon X Series untuk Laptop14:44 - Tantangan Marketing Brand Tech B2B19:29 - Kolaborasi Qualcomm & OEM (Xiaomi, dll)22:06 - Mengapa Chipset Sama tapi Performa HP Berbeda?36:34 - Pentingnya Edukasi Pasar Jangka Panjang42:19 - Market Tech Indonesia vs Asia Tenggara44:46 - Perjalanan Karier Pak Kentos51:43 - Pengalaman Snapdragon Summit di Hawaii1:06:03 - 3 Tips Karier Esensial untuk Anak Muda1:15:50 - Hobby Corner: Suzuki Jimny & Off-roading1:26:12 - Outro & ClosingBrands Mentioned in This Episode: * Tech & Chipset: Qualcomm (@qualcomm), Snapdragon, Intel. * Mobile & Electronics: Xiaomi, Samsung, Ericsson. * Software & Platform: Windows, YouTube. * Automotive: Suzuki Global (Jimny). * Nostalgia Tech: Esia, Flexi, Smartfren.🎧 LIKE, COMMENT & SUBSCRIBE untuk insight terbaru mengenai strategi marketing, tren media sosial, dan psikologi audiens.📩 Got questions? Tulis di kolom komentar! Kami ingin tahu: Perangkat apa yang Anda gunakan yang menggunakan prosesor Snapdragon?#ProxemicsPodcast #MarketingTrends #PR #DigitalMarketing #Qualcomm #Snapdragon #SnapdragonXElite #TechMarketing #BrandStorytelling #PodcastIndonesia #TechIndustry #CareerTipsProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  27. 2

    Industri Tekstil Tutup Semua: Ada Apa Dengan Industri Padat Karya di Indonesia? | 005

    Vietnam Melaju, Cemas Pasar Kerja & Nasib Grab-Gojek | Rekap Isu Terkini Proxemics🎙️ Selamat Datang di Proxemics!Kami membedah dunia komunikasi, PR, advertising, media, digital marketing, dan the art of influence. Episode ini ditujukan bagi para profesional PR, marketer, content creator, dan strategist yang ingin memahami dinamika interaksi manusia dalam membentuk kesuksesan brand.Tentang Episode Ini:Tim lengkap Proxemics—Mercy, Steph, Adwi, dan Sofyan—kembali berkumpul untuk diskusi bulanan tanpa filter. Kami menganalisa tajuk berita dan pergeseran budaya terbesar selama bulan Mei yang membentuk lanskap bisnis, teknologi, dan masyarakat di Indonesia.Topik Utama Episode Ini:• Potensi Ekonomi Vietnam: Cerita langsung dari Hanoi & Da Nang. Benarkah Vietnam akan menjadi raksasa ekonomi baru di Asia Tenggara dengan kultur kerja dan kopinya yang kuat?• Kecemasan Pasar Kerja: Bedah kasus viral job fair President University. Menelaah middle-class anxiety, skill mismatch, dan realita angka pengangguran.• Rumor Merger Grab & Gojek: Analisa dampak monopoli pasar hingga 91% bagi konsumen dan nasib mitra pengemudi.• Realita Bisnis di Indonesia: Tantangan investasi mulai dari masalah 'ormas' hingga kompleksitas regulasi.• Sukses Animasi 'Jumbo': Bagaimana standar baru industri kreatif lokal tercipta melalui kekuatan word-of-mouth.• Skandal & Strategi: Isu kepindahan HQ Traveloka ke Singapura hingga skandal pengadaan Chromebook senilai 9,9 triliun.TIMESTAMPS:0:00 - Intro Tim Proxemics1:14 - Agensi & Trip Vietnam3:30 - Review Kopi Vietnam5:20 - Suasana Hanoi & Potensi Investasi9:34 - Vietnam vs. Indonesia13:13 - Isu Job Fair Viral & Pengangguran17:15 - Masalah Struktural Pasar Kerja24:23 - Rumor Merger Grab & Gojek25:35 - Bahaya Monopoli 91%33:00 - Dampak Ormas pada Investasi40:08 - Kesuksesan Film Animasi 'Jumbo'45:20 - Traveloka Pindah HQ?51:11 - Skandal Chromebook Kemendikbud1:01:45 - Penutup & InteraksiBrands/People Mentioned:• Tech/App: Shopee, Grab, Gojek, Maxim, Google, Walmart, Amazon.• Travel/Logistik: Traveloka, Tiket.com, JNE.• Kreatif/Edu: President University, Visinema Pictures (Jumbo Film), MD Pictures, Djarum Foundation.🎧 LIKE, COMMENT & SUBSCRIBE untuk insight terbaru seputar komunikasi dan marketing.📩 Punya pertanyaan? Tulis opini Anda di kolom komentar! Kami ingin mendengar perspektif Anda mengenai isu-isu di episode ini.#ProxemicsPodcast #TrenMarketing #PR #MarketingDigital #Media #BrandStorytelling #PodcastIndonesia #Bisnis #Startup #EkonomiVietnam #GrabGojek #IndustriKreatif #JobFairProxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  28. 1

    Growth Mindset + Vision = Bonus? | Jonathan Tenggara | Episode 004

    Hari ini adalah episode spesial karena kami kedatangan seorang teman lama, Jonathan Tenggara (Jonte), Head of Retail Marketing dari Indo Premier Sekuritas (Ipot).Join Mercy and Steph dalam sebuah obrolan mendalam yang mengalir santai, membongkar perjalanan karier Jonte yang unik di industri finansial, mulai dari menjadi bagian dari revolusi perbankan digital hingga kini memimpin marketing di salah satu sekuritas terbesar di Indonesia.Hal-hal yang kita bahas:🧠 Rahasia di Balik Ipot: Mengapa namanya Ipot? Jonte membagikan cerita di balik brand dan perannya dalam memimpin tim marketing, branding, PR, hingga customer care di 20 cabang di seluruh Indonesia.🏦 Perjalanan Karier di Dunia Finansial: Kisah lengkap perjalanan Jonte dari terinspirasi oleh Fintech, menjadi pionir di bank digital pertama Indonesia (Jenius), membangun tim digital marketing di OCBC, hingga mendalami model ekosistem di Bank Jago.🤝 Gaya Leadership Unik: Jonte membongkar filosofi kepemimpinannya yang "tough love", rahasianya dalam merekrut talenta terbaik (hint: wawancara di bar), dan 3 karakteristik esensial yang selalu ia cari dalam sebuah tim.🤖 AI Sebagai Teman Diskusi: Bagaimana seorang marketer top menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari—mulai dari belajar SEO, menulis email, hingga menjadi teman curhat—dan pandangannya tentang masa depan kolaborasi manusia dengan AI.💡 Tips Karier untuk Generasi Muda: Wejangan berharga tentang cara membangun karier, nilai tak ternilai dari pengalaman di agensi, dan pentingnya menghindari mentalitas kerja yang transaksional.TIMESTAMPS:0:00 - Selamat Datang & Perkenalan Jonathan "Jonte" Tenggara3:50 - Menanggapi Komentar Kontroversial Presiden Tentang Investasi Saham8:26 - Awal Mula Ketertarikan pada Industri Finansial & Fintech9:05 - Kisah di Balik Lahirnya Jenius, Bank Digital Pertama di Indonesia14:03 - Pengalaman Membangun Tim Digital Marketing dari Nol di OCBC18:23 - Belajar Model Ekosistem di Bank Jago (Bibit, Stockbit, GoPay)20:46 - 3 Hal Esensial yang Dicari dari Seorang Anggota Tim25:24 - Perbedaan Mindset Talenta Generasi Baru vs. Dulu30:33 - Cerita Personal: Proses di Balik Kesuksesan & Kerja Keras di Awal Karier40:33 - Filosofi & Gaya Kepemimpinan Jonathan Tenggara50:24 - Cara Menghadapi Anggota Tim yang Tidak Termotivasi (Tough Love)1:05:05 - Debat: Apakah AI Menjadi "Penopang" yang Berbahaya Bagi Generasi Muda?1:15:45 - Pesan Penutup untuk Para Profesional Muda1:26:11 - "Objective": Nama dan Filosofi di Balik Agensi Impian Jonte1:28:13 - Penutup & OutroBrands/people mentioned:Indo Premier Sekuritas (@indopremier)Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (@OJKIndonesia)Bank BTPN (@BankBTPN)Jenius (@JeniusConnect)SMBC (@SMBCGroup)OCBC (@ocbc_indonesia)Bank Jago (@BankJago)Bibit (@bibit_id)Stockbit (@Stockbit)GoPay (@GoPayIndonesia)Facebook (@Facebook)Google (@Google)Netflix (@Netflix)TikTok (@tiktok)OpenAI (@OpenAI)Taco Bell (@TacoBell)Starbucks (@Starbucks)Citibank (@Citibank)Unilever (@Unilever)Proxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  29. 0

    The Fall of FAB, Trump’s Tariffs, and Notes from Milan Design Week | Episode 003

    Tim lengkap Proxemics kembali! Mercy, Adwi, Sofyan, dan Steph, bersama Chris The Producer, berkumpul untuk membedah isu-isu terpanas yang mengguncang industri komunikasi dan bisnis bulan ini.Dari kolapsnya grup agensi yang pernah dianggap sebagai cita-cita, perang dagang global yang berdampak langsung ke Indonesia, hingga skandal media yang mempertanyakan batas etika jurnalisme, kami membahas semuanya secara mendalam dan tanpa filter.Hal-hal yang kita bahas:🏛️ Runtuhnya Agensi Raksasa: Analisa mendalam tentang kolapsnya grup agensi FAB (Fantastis Anak Bangsa). Kami membahas isu fundamental terkait manajemen SDM dan finansial, model bisnis yang sentralistis, hingga pengalaman klien yang pernah bekerja sama dengan mereka.⚔️ Perang Tarif Amerika vs. China: Mengupas dampak perang dagang global bagi Indonesia. Mulai dari logika proteksionisme, potensi pergeseran rantai pasok global, hingga bagaimana perang ini dimanfaatkan untuk kampanye disinformasi terhadap brand-brand mewah.📺 Skandal Media & Obstruction of Justice: Membedah kasus kompleks yang melibatkan Jak TV dan dugaan perintangan proses hukum (obstruction of justice). Diskusi ini mengupas batas tipis antara kritik, negative campaign, dan independensi media.🤝 Jurnalis vs. Influencer: Perdebatan klasik yang kembali mencuat. Siapa yang seharusnya diprioritaskan di sebuah acara? Tim membahas pentingnya kredibilitas media versus jangkauan influencerdi era digital saat ini.💡 Pelajaran dari Milan Design Week: Observasi Mercy dari pameran desain terbesar di dunia. Bagaimana sebuah acara bisa menjadi perayaan sekota, dan mengapa brand besar tidak selalu memamerkan produk inti mereka untuk membangun citra.Dari semua isu panas bulan ini, mana yang paling mengejutkan Anda? Kolapsnya FAB, perang tarif, atau skandal media? Sampaikan pendapatmu! 👇TIMESTAMPS:0:00 - Perkenalan Tim Lengkap Edisi Full House0:53 - Topik Utama: Runtuhnya Grup Agensi FAB (Fantastis Anak Bangsa)8:58 - Pengalaman Klien (Xiaomi) Bekerja dengan Agensi di Bawah FAB11:18 - Analisa Masalah Fundamental: Sentralisasi vs. Desentralisasi13:40 - Pindah Topik: Perang Tarif AS-China & Dampaknya ke Indonesia23:37 - Dampak Perang Tarif ke Brand-Brand Mewah (PR Angle)31:59 - Perdebatan Kris/GPN vs. Visa/Mastercard dalam Konteks Tarif37:16 - Pindah Topik: Skandal Jak TV & Dugaan Obstruction of Justice42:35 - Menjaga Independensi & Kredibilitas Media di Tengah Agenda Personal48:55 - Debat Abadi: Jurnalis vs. Influencer di Sebuah Event55:04 - Observasi & Pelajaran dari Milan Design Week1:00:03 - Update Klien & Aktivitas Agensi1:00:41 - Lowongan Terbuka & Ajakan untuk Bergabung1:01:33 - PenutupBrands/people mentioned:Xiaomi (@xiaomiindonesia)Samsung (@samsungindonesia)Visa (@Visa)Mastercard (@Mastercard)Jak TV (@JaktvOfficial)tvOne (@tvOnenews)LG (@LGIndonesia)Chanel (@CHANEL)Louis Vuitton (@LouisVuitton)Hermès (@hermes)Apple (@Apple)Lexus (@LexusIndonesia)IQOS (@IQOS)Prada (@Prada)Uber (@Uber)DANA (@danaindonesia)DBS (Digibank) (@dbsindonesia)BCA (MyBCA) (@bankbca)Proxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  30. -1

    Big Pharma, Big Tobacco, & The Birth of Iluminar | Reza Amirul | Episode 002

    Dari Agensi ke Korporat & Startup: Bongkar Perjalanan Karier Reza Amirul | ProxemicsHari ini adalah episode spesial di mana kami berbincang dengan Reza Amirul, seorang praktisi komunikasi korporat dengan pengalaman lebih dari satu dekade di berbagai industri paling kompleks di Indonesia.Join Mercy and Steph dalam sebuah diskusi mendalam tentang perjalanan kariernya, mulai dari lompatan besar dari dunia agensi ke korporat, menangani krisis di perusahaan multinasional, hingga keputusannya untuk memulai venture barunya, Illuminar.Hal-hal yang kita bahas:🚀 Lompatan dari Agensi ke Korporat: Didorong oleh rasa penasaran, Reza berbagi cerita tentang transisinya dan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar dunia korporat.🌪️ Manajemen Krisis di Industri Kompleks: Pengalaman langsung menangani krisis geopolitik di industri pulp & paper, menavigasi regulasi ketat di industri farmasi, hingga menghadapi tantangan di industri produk tembakau alternatif.📈 Membangun Reputasi di Tengah Pandemi: Kisah unik di balik keputusannya bergabung dengan Traveloka pada puncak pandemi COVID-19 dan strateginya dalam membangun narasi untuk persiapan go public di pasar Amerika Serikat.🌍 Berhadapan dengan Media Internasional: Tips dan persiapan intensif yang diperlukan saat berhadapan dengan jurnalis dari media sekelas CNBC dan Bloomberg.🧠 Bekerja dengan AI: Bagaimana seorang profesional dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan kemampuan (augment human skills), bukan sebagai ancaman yang akan menggantikan peran manusia.😠 3 Tipe Talenta yang Tidak Disukai: Reza membagikan pet peeves-nya dalam bekerja, termasuk tiga tipe karakter yang menurutnya sulit untuk diajak bekerja sama dalam sebuah tim.🔥 Memulai Venture Baru - Illuminar: Alasan di balik keputusannya untuk akhirnya membangun "warung sendiri" dan mengapa sekarang adalah waktu yang tepat untuk meluncurkan agensi digital PR miliknya, Illuminar.TIMESTAMPS:0:00 - Selamat Datang & Perkenalan Reza Amirul1:20 - Kecintaan pada Podcast & Awal Mula Perbincangan2:43 - Memulai Venture Baru: Illuminar3:27 - Alasan Pindah dari Agensi ke Dunia Korporat5:14 - Pengalaman Menangani Krisis di Industri Pulp & Paper dan Farmasi7:52 - Kisah di Balik Industri Produk Tembakau Alternatif11:11 - Bergabung dengan Traveloka di Puncak Pandemi COVID-1916:07 - Strategi Membangun Reputasi Korporat untuk Rencana Go Public20:33 - Pengalaman & Persiapan Menghadapi Media Internasional28:33 - Cerita di Balik Keputusan Bergabung dengan Sampurna34:55 - 3 Tipe Karakter yang Sulit Diajak Bekerja Sama42:37 - Bagaimana Seharusnya Perusahaan Memanfaatkan AI?51:49 - AI: Menggantikan atau Meningkatkan Kemampuan Manusia?54:06 - Illuminar: Cerita di Balik Venture Baru Reza57:43 - Apa yang Membedakan Illuminar dari Kompetitor?1:01:35 - Pentingnya Memiliki Visi dalam Berkarier1:04:44 - Pesan Penutup: Pentingnya Growth MindsetBrands/people mentioned:Traveloka (@traveloka)Sampurna (Philip Morris International) (@philipmorrisinternational)Tempo (@tempodotco)CNBC (@CNBC)Bloomberg (@Bloomberg)CNN (@CNN)Microsoft (@Microsoft)IQOS (@IQOS)Juul Labs (@JuulLabs)Proxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

  31. -2

    IHSG Suspended, Serbuan Mobil Cina & Kontroversi Snow White | Episode 001

    Tim lengkap Proxemics kembali! Mercy, Adwi, Sofyan, dan Steph berkumpul untuk membedah isu-isu terpanas yang mewarnai bulan Maret. Dari drama di pasar saham, manuver politik, serbuan merek mobil listrik, hingga kontroversi film Hollywood.Ini adalah analisa mengenai berbagai peristiwa yang membentuk percakapan publik, baik di dalam maupun di luar negeri.Hal-hal yang kita bahas:📉 IHSG Disuspen: Mengapa pasar saham Indonesia dihentikan untuk pertama kalinya sejak pandemi 2020? Kami membahas faktor-faktor pemicunya, mulai dari isu defisit anggaran, kepanikan pasar, hingga dugaan adanya usaha penggiringan opini.💰 "Liga Korupsi" & Pembiayaan Politik: Di tengah maraknya penangkapan kasus korupsi, apakah ini sebuah langkah bersih-bersih yang tulus atau hanya ajang "ganti pemain"? ⚔️ Revisi UU Militer: Sebuah pembahasan krusial mengenai revisi UU TNI yang kontroversial, yang berpotensi membuka kembali peran militer di jabatan sipil. Tim berbagi perspektif, dari trauma reformasi 98 hingga apatisme generasi masa kini.🚗 Serbuan Mobil Listrik & Strategi Cerdas VinFast: Fenomena banyaknya merek mobil listrik baru dari China dan langkah brilian VinFast (Vietnam) yang menggunakan armada taksi untuk penetrasi pasar di Indonesia.🎤 Event di Jakarta vs Singapura: Mengapa artis dunia sekelas Taylor Swift dan Lady Gaga memilih Singapura sebagai satu-satunya destinasi di Asia Tenggara? Sebuah diskusi tentang visi pemerintah dan kepastian hukum dalam menarik investasi besar.🍎 Kontroversi Snow White: Kenapa remake film klasik Disney ini menuai banyak kontroversi? Mulai dari isu casting hingga perubahan alur cerita yang memicu perdebatan sengit antara ekspektasi penonton lama dan relevansi dengan audiens modern.Topik mana yang paling membuatmu penasaran bulan ini? Bagikan analisamu di kolom komentar! 👇TIMESTAMPS:0:00 - Perkenalan Edisi Full House1:02 - Topik #1: IHSG Disuspen Setelah Jatuh Lebih dari 5%2:47 - Analisa Penyebab: Kepanikan Pasar atau Orkestrasi?4:32 - Perspektif Investor: Saatnya "Panic Selling" atau Justru "Time to Buy"?10:46 - Topik #2: Fenomena "Liga Korupsi"12:05 - Akar Masalah Korupsi di Indonesia: Struktural atau Individual?16:55 - Topik #3: Kontroversi Revisi UU Militer22:24 - Topik #4: Banjir, Korupsi & Tata Kelola Perkotaan31:01 - Pengalaman dari MWC Barcelona & Strategi Singapura Menarik Event Dunia39:32 - Kendala Indonesia Menarik Investor & Event Internasional53:05 - Topik #5: Serbuan Mobil Listrik China di Indonesia58:24 - Strategi Cerdas VinFast Menggunakan Taksi untuk Penetrasi Pasar1:06:21 - Masalah Fundamental di Bandara & Sulitnya Memberi Review Jujur1:08:18 - Topik #6: Kontroversi di Balik Remake Film "Snow White"1:14:23 - PenutupBrands/people mentioned:Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (@OJKIndonesia)Goto (@grupgojek)Tokyo Stock ExchangeTempo (@tempodotco)Hyundai (@HyundaiMotorIndonesia)Yamaha (@YamahaMotorIndonesia)BNI (@BNI)VinFast (@VinFastAuto.Official)Bluebird (@Bluebirdgroup)Polytron (@PolytronIndonesia)Honda (@HondaIndonesia)Toyota (@ToyotaID)Tesla (@Tesla)Disney (@Disney)Kompas (@kompastv)Proxemics Podcast is produced by White Wood Pod.

Type above to search every episode's transcript for a word or phrase. Matches are scoped to this podcast.

Searching…

No matches for "" in this podcast's transcripts.

Showing of matches

No topics indexed yet for this podcast.

Loading reviews...

ABOUT THIS SHOW

Proxemics Podcast: Bedah Strategi Komunikasi, Public Relations & Isu Terkini.Mengupas tuntas dunia Strategic Communication, Public Relations, dan Media Analysis. Kami membedah the art of influencing di balik berita viral, krisis korporasi, hingga dinamika politik dan bisnis di Indonesia. Bukan sekadar teori, setiap episode adalah studi kasus nyata tentang bagaimana pesan dirancang, reputasi dibangun, dan persepsi publik dikendalikan.🔍 Topik Utama:✅ Analisis Kasus Viral & Manajemen Krisis✅ Strategi PR & Corporate Comm✅ Psikologi Audiens & Media Trend✅ Marketing, Branding & Reputation🚀 Wajib dengar buat: Praktisi PR, Marketers, Entrepreneur, Mahasiswa, & siapa saja yang ingin paham "permainan" di balik layar media. Kami juga membahas leadership skills, personal branding, dan tips karier untuk profesional yang ingin upgrade kemampuan komunikasi. Produced by White Wood.👇 Connect with us:YouTube: @proxemicspodcastInstagra

HOSTED BY

White Wood

URL copied to clipboard!