#981 Merekam Ingatan, Merawat Peradaban episode artwork

EPISODE · Apr 12, 2026 · 4 MIN

#981 Merekam Ingatan, Merawat Peradaban

from INI KOPER · host Dani Wahyu Munggoro

Riak Sungai Kapuas yang mengalir tenang menjadi saksi bisu dari sebuah upaya besar dalam menjaga ingatan kolektif warga. Seorang ahli, David Cooperrider, pernah menyatakan bahwa dunia yang kita tinggali sebenarnya dibentuk oleh percakapan-percakapan yang kita lakukan. Di Kabupaten Kapuas Hulu, melalui Workshop Co-Creation: Mengarsipkan Cerita, Merawat Ingatan Warga Sungai Kapuas, sebuah narasi baru sedang dibangun untuk masa depan sungai ini. Perjalanan ini dimulai dengan membedah kekuatan diri melalui metode Perisai Diri. Rekan-rekan dari Putussibau Art Community, Samodra Kudong, dan Borneo Catalyst memetakan modal berharga yang mereka miliki: keahlian teknis, kelenturan hati dalam berkolaborasi, akses informasi, hingga keunikan diri yang menjadi jati diri setiap tim. Kekuatan inilah yang menjadi fondasi utama sebelum mereka terjun langsung ke tengah masyarakat. Visi besar pun mulai diletakkan dengan menatap jauh ke tahun 2060. Melalui perencanaan skenario, disadari adanya tarikan kuat antara arus masyarakat global dan kekuatan masyarakat lokal. Sebuah pertanyaan mendasar muncul: apakah peradaban Kapuas akan dibiarkan runtuh, ataukah kita akan bergerak bersama menuju skenario yang optimis dan transformatif? Jawaban atas pertanyaan ini mulai dirajut melalui dokumentasi yang dilakukan hari ini. Untuk mewujudkan misi tersebut, alat perjuangan bernama Z-Template digunakan sebagai logika dasar dalam menyusun cerita dan melakukan wawancara mendalam. Proses ini dimulai dengan Sensing, yaitu menangkap realitas yang kasat mata; diikuti Intuition untuk menggali makna di balik kenyataan; kemudian Thinking untuk menyusun data secara logis; dan diakhiri dengan Feeling agar cerita yang dihasilkan mampu menyentuh sisi kemanusiaan yang terdalam. Melalui latihan produksi podcast, setiap peserta belajar untuk mempraktikkan Radical Listening atau mendengar secara radikal. Prinsip utamanya adalah menyadari bahwa setiap pertanyaan yang tepat bukan sekadar pencarian informasi, melainkan sebuah intervensi yang mampu mengubah cara pandang narasumber maupun pendengarnya. Misi utama dari kegiatan ini adalah menemukan dan mendokumentasikan 300 Social Hackers atau para penggerak perubahan di tingkat tapak. Setiap tim bertanggung jawab untuk memotret dan menuliskan profil dari 100 pejuang lokal yang memiliki gagasan unik serta solusi nyata dalam menjaga kelestarian sungai dan kehidupan mereka. Seluruh temuan ini akan diabadikan dalam sebuah Coffee Table Book yang berfungsi sebagai arsip penting bagi peradaban di sepanjang Hulu Sungai Kapuas. Sebagai langkah nyata, perjalanan akan dilanjutkan menuju utara, menempuh waktu sekitar dua jam menuju Menua Sadap di Embaloh Hulu. Di pemukiman Dayak Iban ini, peserta akan melakukan sensitisasi atau pengasahan kepekaan terhadap alam dan masyarakat. Mendengarkan langsung cerita dari rumah Betang Sadap dilakukan dengan satu komitmen utama: menjaga martabat para narasumber. Dengan prinsip Appreciative Inquiry, setiap karya foto dan tulisan difokuskan pada hal-hal terbaik yang dimiliki warga. Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap intervensi kreatif yang dilakukan mampu mengangkat harga diri dan menghargai keberadaan mereka sebagai penjaga sungai. Inilah misi Madani Berkelanjutan dan Inspirasi Tanpa Batas atau INSPIRIT bersama para penjaga garda depan Kapuas. Sebuah kerja kolaboratif untuk memastikan bahwa ingatan tetap terjaga dan peradaban tetap merawat kehidupan.

Riak Sungai Kapuas yang mengalir tenang menjadi saksi bisu dari sebuah upaya besar dalam menjaga ingatan kolektif warga. Seorang ahli, David Cooperrider, pernah menyatakan bahwa dunia yang kita tinggali sebenarnya dibentuk oleh percakapan-percakapan yang kita lakukan. Di Kabupaten Kapuas Hulu, melalui Workshop Co-Creation: Mengarsipkan Cerita, Merawat Ingatan Warga Sungai Kapuas, sebuah narasi baru sedang dibangun untuk masa depan sungai ini. Perjalanan ini dimulai dengan membedah kekuatan diri melalui metode Perisai Diri. Rekan-rekan dari Putussibau Art Community, Samodra Kudong, dan Borneo Catalyst memetakan modal berharga yang mereka miliki: keahlian teknis, kelenturan hati dalam berkolaborasi, akses informasi, hingga keunikan diri yang menjadi jati diri setiap tim. Kekuatan inilah yang menjadi fondasi utama sebelum mereka terjun langsung ke tengah masyarakat. Visi besar pun mulai diletakkan dengan menatap jauh ke tahun 2060. Melalui perencanaan skenario, disadari adanya tarikan kuat antara arus masyarakat global dan kekuatan masyarakat lokal. Sebuah pertanyaan mendasar muncul: apakah peradaban Kapuas akan dibiarkan runtuh, ataukah kita akan bergerak bersama menuju skenario yang optimis dan transformatif? Jawaban atas pertanyaan ini mulai dirajut melalui dokumentasi yang dilakukan hari ini. Untuk mewujudkan misi tersebut, alat perjuangan bernama Z-Template digunakan sebagai logika dasar dalam menyusun cerita dan melakukan wawancara mendalam. Proses ini dimulai dengan Sensing, yaitu menangkap realitas yang kasat mata; diikuti Intuition untuk menggali makna di balik kenyataan; kemudian Thinking untuk menyusun data secara logis; dan diakhiri dengan Feeling agar cerita yang dihasilkan mampu menyentuh sisi kemanusiaan yang terdalam. Melalui latihan produksi podcast, setiap peserta belajar untuk mempraktikkan Radical Listening atau mendengar secara radikal. Prinsip utamanya adalah menyadari bahwa setiap pertanyaan yang tepat bukan sekadar pencarian informasi, melainkan sebuah intervensi yang mampu mengubah cara pandang narasumber maupun pendengarnya. Misi utama dari kegiatan ini adalah menemukan dan mendokumentasikan 300 Social Hackers atau para penggerak perubahan di tingkat tapak. Setiap tim bertanggung jawab untuk memotret dan menuliskan profil dari 100 pejuang lokal yang memiliki gagasan unik serta solusi nyata dalam menjaga kelestarian sungai dan kehidupan mereka. Seluruh temuan ini akan diabadikan dalam sebuah Coffee Table Book yang berfungsi sebagai arsip penting bagi peradaban di sepanjang Hulu Sungai Kapuas. Sebagai langkah nyata, perjalanan akan dilanjutkan menuju utara, menempuh waktu sekitar dua jam menuju Menua Sadap di Embaloh Hulu. Di pemukiman Dayak Iban ini, peserta akan melakukan sensitisasi atau pengasahan kepekaan terhadap alam dan masyarakat. Mendengarkan langsung cerita dari rumah Betang Sadap dilakukan dengan satu komitmen utama: menjaga martabat para narasumber. Dengan prinsip Appreciative Inquiry, setiap karya foto dan tulisan difokuskan pada hal-hal terbaik yang dimiliki warga. Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap intervensi kreatif yang dilakukan mampu mengangkat harga diri dan menghargai keberadaan mereka sebagai penjaga sungai. Inilah misi Madani Berkelanjutan dan Inspirasi Tanpa Batas atau INSPIRIT bersama para penjaga garda depan Kapuas. Sebuah kerja kolaboratif untuk memastikan bahwa ingatan tetap terjaga dan peradaban tetap merawat kehidupan.

NOW PLAYING

#981 Merekam Ingatan, Merawat Peradaban

0:00 4:59

No transcript for this episode yet

We transcribe on demand. Request one and we'll notify you when it's ready — usually under 10 minutes.

Frequently Asked Questions

How long is this episode of INI KOPER?

This episode is 4 minutes long.

When was this INI KOPER episode published?

This episode was published on April 12, 2026.

What is this episode about?

Riak Sungai Kapuas yang mengalir tenang menjadi saksi bisu dari sebuah upaya besar dalam menjaga ingatan kolektif warga. Seorang ahli, David Cooperrider, pernah menyatakan bahwa dunia yang kita tinggali sebenarnya dibentuk oleh percakapan-percakapan...

Can I download this INI KOPER episode?

Yes, you can download this episode by clicking the download button on the episode player, or subscribe to the podcast in your preferred podcast app for automatic downloads.
URL copied to clipboard!