EPISODE · Jun 25, 2026 · 27 MIN
Benarkah demo berefek besar terhadap ekonomi?
from SuarAkademia · host The Conversation
bagir bahana E sc dWzU unsplash Gelombang gejolak ekonomi nasional bak tak ada hentinya. Mulai dari perang Hormuz, merosotnya nilai tukar rupiah hingga menyentuh angka 18.000 per dolar AS, yang diperparah oleh kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi menjadi 16.250, hingga kasus korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Situasi ini memicu gelombang demonstrasi mahasiswa secara masif di sejumlah daerah. Para mahasiswa menyuarakan beragam tuntutan kebijakan ekonomi krusial, mulai dari desakan untuk menstabilkan rupiah, protes atas kenaikan harga BBM, hingga evaluasi terhadap MBG dan kritik atas pemborosan APBN yang dilakukan oleh pemerintah. Biasanya demonstrasi berskala besar bisa memberi sinyal negatif. Sentimen buruk yang tercipta akan makin menekan nilai tukar Rupiah serta penurunan IHSG. Namun, belakangan rupiah sempat menguat setelah berlangsungnya demonstrasi, meski hanya sedikit. Mulai muncul narasi bahwa unjuk rasa yang dilakukan memberi efek baik pada kondisi ekonomi Indonesia. Merespon hal tersebut, dalam episode Suar Akademia kali ini, kami mengundang Rayenda Brahmana, pengajar di bidang Finance and Business Analytics dari Deakin University Lancaster University Indonesia, guna membedah kaitan antara aksi massa dengan situasi ekonomi di suatu negara. Menanggapi kondisi ekonomi saat ini, Rayenda menyoroti fenomena aneh pada mata uang Indonesia. Di saat negara-negara ASEAN seperti Malaysia (ringgit) dan Singapura (S$) menguat, rupiah justru bergerak sebaliknya, yaitu makin melemah. Hal ini mengindikasikan bahwa masalah utama penurunan nilai tukar rupiah belakangan ini tak melulu terayun faktor eksternal seperti kondisi ekonomi global, melainkan karena masalah sentimen dan tata kelola dari dalam negeri kita sendiri. Menanggapi demonstrasi yang terjadi Rayenda juga memaparkan bagi investor global, aksi demonstrasi di Indonesia dianggap sebagai dinamika yang biasa terjadi. Indonesia dikenal memiliki iklim demokrasi yang sangat aktif. Investor juga sudah memetakan bahwa demo di Indonesia adalah hal yang lumrah. Kondisi ini akan berbeda jika terjadi di negara seperti Singapura, Cina, Hong Kong, atau Malaysia yang jarang terjadi demo. Rayenda menambahkan jika terjadi, aksi kecil saja di negara negara tersebut, bisa langsung menakuti investor karena menciptakan ketidakpastian yang tidak terukur. Rayenda juga meluruskan logika netizen yang menganggap Rupiah menguat karena adanya demonstrasi. Bahwa dalam statistik, fenomena ini disebut hubungan spurious (korelasi semu), yaitu dua hal yang tampak berhubungan padahal aslinya tidak saling mempengaruhi. Menurutnya penguatan Rupiah dari kisaran Rp18.000 ke Rp17.800 saat demo berlangsung hanyalah sebuah kebetulan. Penguatan tersebut sebenarnya didorong oleh kombinasi sentimen positif lain Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.
What this episode covers
Gelombang gejolak ekonomi nasional bak tak ada hentinya. Mulai dari perang Hormuz, merosotnya nilai tukar rupiah hingga menyentuh angka 18.000 per dolar AS, yang diperparah oleh kebijakan pemerintah menaikkan…
NOW PLAYING
Benarkah demo berefek besar terhadap ekonomi?
No transcript for this episode yet
Similar Episodes
No similar episodes found.
Similar Podcasts
No similar podcasts found.