EPISODE · Jul 21, 2025 · 6 MIN
Rabu, 23 Juli 2025 - Jerih Lelah Kita Akan Menyertai Kita
from Sinode Gereja Kristus Yesus · host Sinode Gereja Kristus Yesus
Jerih Lelah Kita Akan Menyertai KitaRabu, 23 Juli 2025Bacaan Alkitab hari ini:Pengkhotbah 1Kitab Pengkhotbah dimulai dengan perkenalan sang Pengkhotbah sebagai "anak Daud, raja di Yerusalem" (1:1). Jabatan raja tentu saja memberi keuntungan. Kekuasaannya membuat raja dapat mengakses segala literatur dan sumber pengetahuan untuk mempelajari hikmat "yang terjadi di bawah langit." Dalam kitab Pengkhotbah, ungkapan "di bawah langit" sama artinya dengan "di bawah matahari", "di bumi", dan "di dunia". Pengkhotbah bertekad untuk mempelajari hikmat dan pengetahuan bukan hanya dari literatur, tetapi juga dari pengamatan atas segala perbuatan yang terjadi di dunia. Pada akhirnya, Pengkhotbah menyimpulkan bahwa "semuanya adalah sia-sia". Kata "sia-sia" adalah terjemahan dari kata Ibrani "hebel" yang berarti "hawa" atau "uap" (untuk mengerti makna kata ini, silakan pembaca membaca bagian Pengantar Kitab Pengkhotbah: Hidup Ini Seperti Uap). Untuk menekankan bahwa "semuanya sia-sia", sang Pengkhotbah memakai ungkapan "hebel of hebalim"—artinya "uap dari segala uap", bandingkan dengan ungkapan "king of kings" (raja di atas segala raja)—untuk menyatakan bahwa semuanya sia-sia (akan meng-"uap").Pertanyaan pembuka, "Apa gunanya bagi manusia segala jerih payah yang dilakukannya di bawah matahari" (1:3) dan hasil pengamatan tentang apa yang terjadi di bumi (1:5-7) meyakinkan pembaca bahwa benar segala jerih payah yang dilakukan manusia akan "menguap". Sebagai akibat kejatuhan ke dalam dosa, manusia ditetapkan untuk berjerih payah mencari nafkah. Bumi tetap ada dengan segala siklus alam di dalamnya, tetapi umat manusia akan menguap, yaitu "generasi yang satu pergi dan generasi yang lain datang" (ada yang meninggal, ada yang lahir). Hasil jerih lelah akan menguap seiring dengan menguapnya orang yang berjerih lelah. Bahkan, kenangan kepada mereka juga menguap (1:11; 9:5). Memang hanya sebagian kecil orang yang dikenang. Pada umumnya, kenangan kepada orang mati akan lenyap.Demikian juga dengan hikmat yang diperoleh, Pengkhotbah berkata bahwa mendapat semua hikmat adalah "usaha menjaring angin" (artinya tidak bisa dipegang). Berhikmat itu berguna. Misalnya: seorang miskin dapat menyelamatkan kota dengan hikmatnya (9:15). Akan tetapi, hikmat yang diperoleh juga akan menguap seiring dengan menguapnya orang berhikmat (2:15-16). Bagaimana respons Anda pada saat mengetahui bahwa segala jerih payah yang Anda lakukan akan menguap? Kepada kita di zaman ini telah dinyatakan bahwa Allah telah menaklukkan kesia-siaan (penguapan) itu (Roma 8:20) sehingga segala perbuatan jerih lelah kita akan menyertai kita yang percaya kepada Tuhan di dalam kemuliaan-Nya (Wahyu 14:13). [Pdt. Abadi]
What this episode covers
Jerih Lelah Kita Akan Menyertai KitaRabu, 23 Juli 2025Bacaan Alkitab hari ini:Pengkhotbah 1Kitab Pengkhotbah dimulai dengan perkenalan sang Pengkhotbah sebagai "anak Daud, raja di Yerusalem" (1:1). Jabatan raja tentu saja memberi keuntungan. Kekuasaannya membuat raja dapat mengakses segala literatur dan sumber pengetahuan untuk mempelajari hikmat "yang terjadi di bawah langit." Dalam kitab Pengkhotbah, ungkapan "di bawah langit" sama artinya dengan "di bawah matahari", "di bumi", dan "di dunia". Pengkhotbah bertekad untuk mempelajari hikmat dan pengetahuan bukan hanya dari literatur, tetapi juga dari pengamatan atas segala perbuatan yang terjadi di dunia. Pada akhirnya, Pengkhotbah menyimpulkan bahwa "semuanya adalah sia-sia". Kata "sia-sia" adalah terjemahan dari kata Ibrani "hebel" yang berarti "hawa" atau "uap" (untuk mengerti makna kata ini, silakan pembaca membaca bagian Pengantar Kitab Pengkhotbah: Hidup Ini Seperti Uap). Untuk menekankan bahwa "semuanya sia-sia", sang Pengkhotbah memakai ungkapan "hebel of hebalim"—artinya "uap dari segala uap", bandingkan dengan ungkapan "king of kings" (raja di atas segala raja)—untuk menyatakan bahwa semuanya sia-sia (akan meng-"uap").Pertanyaan pembuka, "Apa gunanya bagi manusia segala jerih payah yang dilakukannya di bawah matahari" (1:3) dan hasil pengamatan tentang apa yang terjadi di bumi (1:5-7) meyakinkan pembaca bahwa benar segala jerih payah yang dilakukan manusia akan "menguap". Sebagai akibat kejatuhan ke dalam dosa, manusia ditetapkan untuk berjerih payah mencari nafkah. Bumi tetap ada dengan segala siklus alam di dalamnya, tetapi umat manusia akan menguap, yaitu "generasi yang satu pergi dan generasi yang lain datang" (ada yang meninggal, ada yang lahir). Hasil jerih lelah akan menguap seiring dengan menguapnya orang yang berjerih lelah. Bahkan, kenangan kepada mereka juga menguap (1:11; 9:5). Memang hanya sebagian kecil orang yang dikenang. Pada umumnya, kenangan kepada orang mati akan lenyap.Demikian juga dengan hikmat yang diperoleh, Pengkhotbah berkata bahwa mendapat semua hikmat adalah "usaha menjaring angin" (artinya tidak bisa dipegang). Berhikmat itu berguna. Misalnya: seorang miskin dapat menyelamatkan kota dengan hikmatnya (9:15). Akan tetapi, hikmat yang diperoleh juga akan menguap seiring dengan menguapnya orang berhikmat (2:15-16). Bagaimana respons Anda pada saat mengetahui bahwa segala jerih payah yang Anda lakukan akan menguap? Kepada kita di zaman ini telah dinyatakan bahwa Allah telah menaklukkan kesia-siaan (penguapan) itu (Roma 8:20) sehingga segala perbuatan jerih lelah kita akan menyertai kita yang percaya kepada Tuhan di dalam kemuliaan-Nya (Wahyu 14:13). [Pdt. Abadi]
NOW PLAYING
Rabu, 23 Juli 2025 - Jerih Lelah Kita Akan Menyertai Kita
No transcript for this episode yet
Similar Episodes
Jul 1, 2026 ·122m
Jun 30, 2026 ·27m
Jun 30, 2026 ·30m
Jun 29, 2026 ·31m
Jun 27, 2026 ·29m
Jun 25, 2026 ·27m