Seorang ibu Orang Asli Papua Setiap Malam Tidur di depan emperan toko Mahligai episode artwork

EPISODE · Feb 16, 2022 · 10 MIN

Seorang ibu Orang Asli Papua Setiap Malam Tidur di depan emperan toko Mahligai

from Komaria Papua · host Komaria Papua

Wajah di pipihnya yang keriput, rambutnya sebagian sudah memutih, pakaiannya sudah Kumal, ferban Kumal besar melingkari kaki kiri dan kanan dan diinggapi lalat. Saya tidak tahu nama lengkapnya, apalagi alamat tinggalnya. Apakah dia punya keluarga? Mengapa dia setiap hari berada di depan toko Mahligai, Abepura, Kota Jayapura. Setiap orang saat berbelanja di toko Mahligai, pasti akan melihat ibu terkasih sedang duduk atau tertidur membaringkan tubuh beralaskan karton. Menurut pemilik toko Mahligai, dia mulai merasa tidak nyaman karena bau busuk yang keluar dari luka ibu ini. Sudah cukup lama ibu ini berada di depan tokonya, mungkin karena pemilik toko merasa ibah sehingga awalnya membiarkan ibu tersebut tidur-tiduran di depan tokohnya. Tetapi kali ini, dia harus berbuat sesuatu karena ibu tanpa identitas mengeluarkan bau di kakinya luka yang tak sedap. Bos Mahligai menghubungi dinas sosial kota Jayapura menyampaikan keberadaan ibu di depan tokonya dengan kondisi bauh pada kaki luka. Dinas Sosial Kota Jayapura, pun merespon dan mengantar ibu terkasih ke Rumah Sakit Jiwa, Abepura. Warga dan staf dinsos mengetahui bahwa ibu ini sering di emperan toko, dan biasa berlalu-lalang di seputaran Abepura jadi mereka berfikir saja ibu ini mengalami gangguan kejiwaan (ODGJ). Atas dasar itu ibu tersebut langsung di bawah ke RSJD Abepura dan setelah hasil pemeriksaan dokter, ternyata ibu ini tidak mengalami riwayat sakit jiwa. Saya tidak bisa pastikan bahwa dia tidak punya rumah (homeless). Tapi memang sudah lama dia berada di emperan toko. Perkiraan sudah setahun lamanya, ibu tersebut tinggal disitu. Bisa jadi ibu ini tidak betah tinggal di rumah? Mungkin di berasal dari daerah lain dan datang tinggal menumpang ke keluarga lainnya? Atau lebih buruk bisa jadi dia diusir atau tidak merasa tentram dengan situasi keluarga di rumah? Atau dia diusir, atau gangguan kejiwaan. Beberapa pertanyaan diatas mewakili rasa ingin tahu soal sosok ibu yang seharusnya tinggal di rumah, menikmati masa tua dengan menggendong cucu, atau di rawat oleh anak-anak nya. Tetapi hal itu berbanding terbalik. **** Saat saya melihat dari depan pintu ke dalam ruangan IGD RSJ, Abepura, Mama paruh bayah itu membaringkan tubuhnya dengan wajah tidak tentram. Saya melangkahkan kaki beberapa langkah ke depan, sentak mencium bau busuk luka yang sudah meluap ke dalam ruangan IGD dan terlihat juga dengan tangan Kanannya dia sedang menahan kaki. Saya masuk mendekapnya dan beberapa pertanyaan saya lontarkan, tetapi Ibu ini agak lama menjawab, lagian tangan kanannya sedang memegang luka Verban kumal dan paras wajahnya menunjukan kesakitan yang cukup serius. Selain itu, dia tidak fasih berbahasa Indonesia dengan lancar. Saya mencoba mengajak berbicara tetapi dia tidak menanggapi. Luka di kaki yang bernanah dan mengeluarkan bau yang menyengat, diindikasi ibu ini mengidap penyakit gula sehingga kami mencoba merujuk klien lagi ke RSUD Abepura yang mempunyai tenaga dokter spesialis. Birokrasi yang Berbelit-belit Memang agak repot mengadvokasi orang yang tidak memiliki identitas diri (KTP) dan jaminan kesehatan atau jaminan sosial untuk membawah mereka ke rumah sakit karena akan melewati prosedur yang berbelit-belit. Apalagi kini jaminan kesehatan Kartu Papua Sehat (KPS) sudah tidak berlaku lagi, hal itu membuat pasien OAP yang terlantar seperti LANSIA, ODGJ, ANJAL akan kewalahan atau di persulit karena belum ada jaminan kesehatan BPJS KIS dari pemerintah pusat. Pada awal staff Dinsos kota Jayapura membawah klien ke RSJD Abepura, dan pihak rumah sakit tidak mau membuat surat rujukan karena pasien tidak ada identitas, BPJS dan lainnya. Padahal harus ada surat rujukan bila mau antar ibu terkasih ke rumah sakit umum milik pemerintah daerah. Namun dokter RSJD Abepura sarankan kami membawah kendaraan sendiri dari luar sehingga bukan pasien rujukan.

Episode metadata supplied by the publisher feed · Published Feb 16, 2022

Embed this episode

Ready to play

Seorang ibu Orang Asli Papua Setiap Malam Tidur di depan emperan toko Mahligai

0:00 10:52

No transcript for this episode yet

We transcribe on demand. Request one and we'll notify you when it's ready — usually under 10 minutes.

No similar episodes found.

No similar podcasts found.

Frequently Asked Questions

How long is this episode of Komaria Papua?

This episode is 10 minutes long.

When was this Komaria Papua episode published?

This episode was published on February 16, 2022.

Can I download this Komaria Papua episode?

Yes. Use the download control on the episode player to save the publisher-provided media file.
URL copied to clipboard!