EPISODE · Dec 7, 2018 · 6 MIN
Tanpa Penumpahan Darah (8-Dec-2018)
from Renungan Pagi - Pulang Ke Rumah - bersama Pdt. Andri Daimbani · host Pulang Ke Rumah
TANPA PENUMPAHAN DARAH (Without the Sheeding Blood) Ayat Inti: Ibrani 9 : 22 "Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan." NKJV Hal ini boleh jadi akan mengejutkan bagi sementara orang, tapi ketika kita membaca apa pun---termasuk membaca Alkitab---kita perlu terlibat dalam kegiatan penafsiran. Bagi sementara orang, “penafsiran” adalah kata yang buruk tapi sebuah komunikasi tidak akan terjadi tanpanya. Segala yang kita lihat dan kita dengar memerlukan penafsiran, yang berarti kita harus menganalisis pesan, dan menemukan artinya. Maka tidak akan mengejutkan kita untuk mengakui bahwa Ibrani 9:22 (seperti ayat-ayat lainnya di dalam Alkitab) memerlukan penafsiran. Ayat kita hari ini dapat dimengerti dalam dua cara. Prinsip Universal ---Salah satu cara untuk mengerti teks ini adalah bahwa dosa dimana pun, di semua tempat, dan di segala waktu tidak dapat diampuni (ditebus) tanpa penumpahan darah. Prinsip ini terdapat dalam lex talionis di Pentateuch: “Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki" (Ulangan 19:21, NKJV; lihat juga Kejadian 21:24; Imamat 24:20). Di kalangan orang Kristen konsep ini menjadi landasan bagi penggantian kekal dan model penebusan yang memuaskan. Prinsip di Timur Dekat kuno --- lbrani 9:22 tidak harus dilihat sebagai prinsip universal yang bersifat Ilahi. Boleh jadi itu hanya mencerminkan cara pandang purba tentang hal tersebut. Di dalam kultus orang Yahudi, penebusan dilakukan melalui penumpahan darah sebagai korban pengganti---si pelanggar hukum membawa ke bait Allah seekor anak lembu, anak domba, atau burung, yang disembelih, dipotong-potong, dan dibakar. Sebagian darah itu dipercikkan di beberapa tempat di bait Allah, dan penebusan itupun selesai. “Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu sehingga ia menerima pengampman" Imamat 4:31, NKJV; juga Imanat 17:11). Penafsiran mana yang benar? Barangkali yang kedua. Pertama, Ibrani 9 : 22, muncul di dalam konteks tuntutan hukum Imamat: “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah.” Kedua, orang miskin dapat meminta pengampunan dengan mempersembahkan makanan nabati (tepung), yang tidak memerlukan penumpahan darah (Imamat 5:11-13). Ketiga,ketika kita mengampuni orang lain dapat telihat bahwa pengampunan adalah tindakan psikologis yang tidak melibatkan kekerasan dan balas dendam, hanya belas kasihan dan kasih karunia. Mengapa Allah---yang merupakan perwujudan kasih, karunia, dan belas kasihan---harus berbeda---dan menuntut pertumpahan darah sebagai syarat sebuah pengampunan? Allahkah yang membutuhkan Golgota, atau kita? Apakah penyaliban adalah sebuah syarat bagi keadilan Ilahi atau sebuah pertunjukan kasih Ilahi?
Embed this episode
NOW PLAYING
Tanpa Penumpahan Darah (8-Dec-2018)
No transcript for this episode yet
Similar Episodes
No similar episodes found.