Skip to content
Sajak Kini podcast artwork

PODCAST · society

Sajak Kini

by Sajak Kini

Podcast Sajak Kini adalah sebuah sajak tercipta yang selalu berangkat dari kegelisahan dan gelisah harus di sampaikan melalui akun @podcastdajakkini yang rutin tayang setiap hari Sabtu | Jika Ingin ceritamu di buatkan literasi, tapi tak ingin rahasianya diketahui, ingin sekedar curhat atau meluapkan kegelisahan, kirim segera cerita menarikmu.Email : [email protected] : @podcastsajakkini

Publisher-supplied feed metadata · PodParley refreshed Apr 16, 2026 · Source feed

Episodes

  1. Tidak Menjadi Siapa-Siapa Dulu

    ✨ Sajak Kini – “Tidak Menjadi Siapa-Siapa Dulu” Semakin dewasa, kita mulai memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika orang lain terlihat sudah sampai ke tujuan, sementara kita masih sibuk memahami arah sendiri. Pertanyaan tentang pekerjaan, rencana, dan masa depan...

  2. Di Balik Papan Tulis yang Sunyi

    ✨ Sajak Kini – “Di Balik Papan Tulis yang Sunyi”Tidak semua perjuangan datang dengan sorotan. Ada yang berlangsung diam-diam, setiap hari, di ruang kelas sederhana—di mana satu suara terus hadir, menjelaskan, mengulang, dan bertahan, meski tidak selalu didengar. Menjadi guru bukan hanya tentang...

  3. Memaafkan Diri yang Pernah Salah

    ✨ Sajak Kini – “Memaafkan Diri yang Pernah Salah” Semakin dewasa, kita makin lihai menyimpan kesalahan—bukan kesalahan orang lain, melainkan milik kita sendiri yang diam-diam terus diingat, terutama saat malam terlalu sunyi. Kita mudah berkata “tidak apa-apa” pada orang lain, mudah memahami dan...

  4. Tunggu Aku Sukses Nanti

    ✨ **Sajak Kini – “Tunggu Aku Sukses Nanti”** Ada fase dalam hidup ketika kita tidak banyak bicara—bukan karena kehilangan mimpi, tapi karena sedang sibuk mengejarnya. Semakin dewasa, kita mulai mengenal diam yang penuh arti: bekerja tanpa banyak pengakuan, jatuh tanpa banyak diketahui, dan…

    more
  5. Bertahan Tanpa Tepuk Tangan

    ✨ Sajak Kini – “Bertahan Tanpa Tepuk Tangan” Semakin dewasa, kita mulai memahami bahwa tidak semua perjuangan datang dengan sorotan. Ada hari-hari yang berjalan diam-diam—tanpa penonton, tanpa pengakuan—ketika kita tetap bangun, menjalani peran, dan menjawab “baik” meski hati sedang menahan…

    more
  6. Waktu yang Mengubah Cara Mencintai

    ✨ Sajak Kini – Waktu yang Mengubah Cara Mencintai Semakin dewasa, kita mulai menyadari bahwa cinta tidak lagi datang dengan tergesa. Ada hati yang kini belajar berjalan pelan, bukan karena kurang rasa, tetapi karena sudah tahu betapa sakitnya jatuh terlalu cepat. Dulu kita mencintai dengan…

    more
  7. Tetap Lembut di Dunia yang Keras

    ✨ Sajak Kini – Tetap Lembut di Dunia yang Keras Semakin dewasa, kita mulai memahami bahwa dunia tidak selalu ramah. Ada hari-hari di mana bersikap keras terasa lebih aman, lebih melindungi, apalagi setelah luka, kecewa, dan harapan yang berkali-kali jatuh di tengah jalan. Pelan-pelan kita…

    more
  8. Special Lebaran - Tak Semua Rindu Bisa Pulang

    ✨ Sajak Kini – “Tak Semua Rindu Bisa Pulang” Semakin waktu berjalan, kita mulai memahami bahwa pulang tidak selalu sesederhana keinginan. Di tengah ramainya cerita mudik, ada yang hanya bisa melihat dari jauh—bukan karena tak rindu, tapi karena keadaan belum berpihak. Biaya, pekerjaan, dan…

    more
  9. Rindu yang Tidak Dicari Obatnya

    ✨ Sajak Kini – “Rindu yang Tidak Dicari Obatnya” Semakin dewasa, kita mulai mengenal rindu dengan cara yang berbeda. Ia tidak selalu datang dengan keinginan untuk kembali, tidak pula selalu ingin dipenuhi. Kadang rindu muncul begitu saja—saat sebuah lagu lama terdengar tanpa sengaja, saat…

    more
  10. Teman yang Tidak Lagi Setiap Hari

    ✨ Sajak Kini – “Teman yang Tidak Lagi Setiap Hari” Semakin dewasa, kita mulai menyadari bahwa yang berubah bukan hanya waktu, tapi juga cara kita menjaga pertemanan. Dulu ada nama yang selalu berada di urutan teratas daftar chat—bertemu tanpa rencana, bercerita tanpa batas, tertawa tanpa melihat...

  11. Pulang, Tanpa Harus ke Mana-Mana

    ✨ Sajak Kini – “Pulang, Tanpa Harus ke Mana-Mana Semakin dewasa, kita sadar pulang bukan soal alamat—melainkan rasa. Rasa aman. Rasa diterima. Rasa tidak perlu menjelaskan kenapa kita berubah. Ternyata pulang bisa sesederhana duduk sendirian tanpa rasa bersalah, mematikan notifikasi tanpa alasan,...

  12. Diri Sendiri yang Pelan-Pelan Berubah

    ✨ Sajak Kini – “Diri Sendiri yang Pelan-Pelan Berubah” Semakin dewasa, kita sering berhenti di depan cermin—bukan untuk memastikan penampilan, tapi untuk bertanya, “Sejak kapan aku jadi seperti ini?” Dulu kita lebih mudah tertawa, lebih berani bermimpi, yakin hidup akan mengikuti mau kita. Lalu...

  13. Capek yang Tidak Perlu Dijelaskan

    ✨ Sajak Kini – “Capek yang Tidak Perlu Dijelaskan” Di usia dua puluh sampai tiga puluh, kita mulai mengenal jenis lelah yang tidak terlihat. Bukan lelah karena kurang tidur, bukan juga karena pekerjaan yang menumpuk. Tapi lelah karena terlalu sering menahan perasaan, terlalu lama berusaha…

    more
  14. Menerima Bahwa Tidak Semua Orang Akan Tinggal

    ✨ Sajak Kini – Tentang Menerima Bahwa Tidak Semua Orang Akan Tinggal Semakin dewasa, kita mulai mengerti bahwa tidak semua orang yang datang akan tinggal. Teman yang dulu dekat pelan-pelan menjauh, percakapan yang dulu hangat kini terasa asing, dan hubungan-hubungan yang dulu penting perlahan...

  15. Diam-Diam Kita Sudah Bertumbuh

    Kita sering merasa hidup hanya berjalan begitu saja, sibuk, lalu lupa melihat diri sendiri. Padahal di balik hari-hari biasa itu, kita sedang berubah: belajar menahan amarah, memilih tenang, dan memaafkan demi hati yang lebih damai. Di situlah kedewasaan tumbuh, pelan dan sunyi. Mungkin tak...

  16. Insecure yang Tidak Pernah Kita Ceritakan

    ✨ Sajak Kini – “Insecure yang Tidak Pernah Kita Ceritakan” Di usia dua puluh sampai tiga puluh, kita sering hidup dengan perasaan “harusnya sudah lebih jauh”. Insecure datang pelan-pelan—saat melihat pencapaian orang lain, mendengar kabar teman seangkatan, atau menerima komentar tentang usia dan...

  17. Luka Lama yang Diam-Diam Masih Ikut Kita

    ✨ Sajak Kini – “Tentang Luka Lama & Cara Kita Bertahan” Ada luka yang tidak terlihat, tapi selalu terasa saat kita sendirian. Luka dari masa kecil, dari kehilangan, dari rumah yang terlalu keras atau tidak pernah benar-benar hangat. Luka-luka itu tumbuh bersama kita, membentuk cara kita…

    more
  18. Takut Gagal & Berani Coba Lagi

    ✨ Sajak Kini – “Tentang Takut Gagal & Berani Coba Lagi” Tidak ada yang benar-benar menyiapkan kita untuk kegagalan di usia dewasa. Kita belajar berharap, lalu pelan-pelan belajar kecewa saat usaha runtuh, lamaran ditolak, atau hubungan berakhir. Yang paling melelahkan sering kali bukan gagalnya,...

  19. Menjadi Baik Pada Diri Sendiri

    ​✨ Sajak Kini – “Menjadi Baik Pada Diri Sendiri” ​Kita sering kali terlalu sibuk menjadi tempat pulang bagi orang lain, sampai lupa bagaimana cara memperlakukan diri sendiri dengan lembut. Kita pandai memaafkan kesalahan orang, namun menjadi hakim yang paling kejam bagi kegagalan diri sendiri....

  20. Red Flag vs Green Flag: Jangan Cuma Karena Sayang, Jadi Buta

    ✨ Sajak Kini – “Red Flag vs Green Flag: Jangan Cuma Karena Sayang, Jadi Buta” Cinta seharusnya membuat kita merasa aman. Tapi karena terlalu sayang, kita sering menutup mata: kata-kata kasar disebut bercanda, kontrol berlebihan dianggap perhatian, dan rasa cemas diterima sebagai hal yang...

  21. Tentang Menata Diri di Tengah Hidup yang Berantakan

    ✨ Sajak Kini – “Tentang Menata Diri di Tengah Hidup yang Berantakan”Ada hari-hari ketika hidup terasa kacau:keuangan seret, pikiran penuh, kamar berantakan,dan kita pun tidak yakin sedang menuju ke mana.Tapi entah bagaimana, kita tetap bangun,tetap bergerak, tetap mencoba menjalani hari.Episode…

    more
  22. Mantan di Timeline: Unfollow atau Bertahan?

    ✨ Sajak Kini hadir lagi — episode terbaru:“Mantan di Timeline: Unfollow atau Bertahan?”Di zaman sekarang, putus cinta tidak selalu berarti benar-benar berpisah.Kadang ia tetap muncul di timeline, lewat story, lewat like kecil yang bikin hati goyah tanpa izin. Kita bilang ini silaturahmi… tapi...

  23. Cinta atau Mimpi? – Apakah Cinta Bisa Menunggu?

    ✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru: “Cinta atau Mimpi? – Apakah Cinta Bisa Menunggu?” Di usia muda, kita sering berdiri di dua dunia: antara cinta yang ingin dijaga, dan mimpi yang ingin dikejar. Ada waktu yang terbagi, jarak yang memisah, dan prioritas yang membuat hati harus belajar...

  24. Tentang Lelah yang Tidak Pernah Kita Akui

    ​✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru: “Tentang Lelah yang Tidak Pernah Kita Akui” ​Kita hidup dalam dunia yang menganggap kesibukan sebagai kebanggaan dan membuat kita malu untuk mengakui bahwa kita tidak sanggup. Ada lelah yang tidak membuat tubuh roboh, tapi membuat hati perlahan…

    more
  25. HTS: Cinta yang Tinggal di Ruang Abu-Abu

    ✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru: “HTS: Cinta yang Tinggal di Ruang Abu-Abu.” Bagaimana rasanya mencintai tanpa kepastian— menunggu tanpa tahu ditunggu, merindukan tanpa pernah benar-benar diakui? Hubungan yang hangat seperti rumah, tapi dingin seperti kamar kosong saat pertanyaan “kita...

  26. Chat Balas Lama, Story Update Cepat

    ✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru: “Chat Balas Lama, Story Update Cepat.” Tentang rasa yang diam-diam patah, saat menunggu pesan yang tak kunjung dibalas— sementara ia sibuk tertawa di story, membalas komentar orang lain, seolah semuanya baik-baik saja. Episode ini bercerita tentang rasa...

  27. Love Language di Balik Layar: Cinta di Era Chat & DM.

    ✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru: “Love Language di Balik Layar: Cinta di Era Chat & DM.” Cinta kini hidup lewat layar — dikirim dalam emoji, pesan singkat, dan tanda biru. Kadang “jaga diri ya” terasa lebih hangat dari pelukan, tapi kadang “hehe” justru terasa paling dingin. Episode ini...

  28. Ghosting: Luka yang Tak Pernah Dijelaskan

    ✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru: “Ghosting: Luka yang Tak Pernah Dijelaskan.” Sebuah episode yang menyelami sunyi paling dalam—tentang kehilangan tanpa perpisahan, tentang seseorang yang pergi tanpa jejak, dan tentang luka yang tak pernah sempat dijelaskan. Episode ini berbicara pada...

  29. Sebelum Ibu Pergi

    ✨ Sajak Kini hadir lagi — dengan episode terbaru: “Sebelum Ibu Pergi.” Ada cinta yang tak pernah lekang oleh waktu. Bukan cinta yang megah, tapi cinta sederhana — yang hadir lewat suapan nasi, lipatan baju, dan doa yang tak bersuara. Ia tumbuh hanya berdua bersama ibunya, di rumah kecil yang tak...

  30. Self-Healing vs Self-Burning: Saat Istirahat Pun Jadi Lelah

    ✨ Sajak Kini hadir lagi — dengan episode terbaru: “Self-Healing vs Self-Burning: Saat Istirahat Pun Jadi Lelah.” Kita sering mendengar kata healing di mana-mana. Ada yang healing ke Bali, ke gunung, ke coffee shop dengan playlist indie dan jendela besar. Tapi lucunya, sampai di sana pun… kepala...

  31. Produktif Katanya Bahagia, Tapi Kok Sesak?

    ✨ Sajak Kini hadir lagi dengan episode terbaru: “Produktif Katanya Bahagia, Tapi Kok Sesak?” Ini adalah obrolan dalam bentuk sajak tentang hal yang sering kita alami diam-diam: hidup yang sibuk, tapi hati terasa kosong. Tentang bagaimana kita tumbuh dengan tuntutan untuk selalu produktif, selalu...

  32. Teman Dewasa: Datang Tak Sering, Tapi Selalu Kita Tunggu

    Sajak Kini hadir lagi dengan episode terbaru: "Teman Dewasa: Datang Tak Sering, Tapi Selalu Kita Tunggu." Ini adalah obrolan dalam bentuk sajak tentang sesuatu yang mungkin sedang kamu rasakan—kesepian di usia produktif, kehilangan teman lama, dan betapa sulitnya menemukan koneksi yang…

    more
  33. Mimpiku Belum Mati, Aku Cuma Lagi Kerja Dulu

    Kadang mimpi itu bukan tentang seberapa cepat kita mencapainya, tapi seberapa berani kita menjaganya tetap hidup. Bukan berarti kita gagal hanya karena sekarang bekerja demi tagihan, atau masih mencari arah di tengah jalan yang panjang. Setiap langkah kecil, setiap pagi yang kita hadapi meski...

  34. Kita Nggak Lelah Sendirian, Cuma Lupa Istirahat

    Kita sering merasa lelah bukan karena terlalu banyak berjalan, tapi karena lupa berhenti sebentar. Kadang kita butuh diam, butuh hening, untuk sekadar ingat bahwa diri ini juga pantas dicintai. 🎧 Sajak Kini : Kita Nggak Lelah Sendirian, Cuma Lupa Istirahat Karena rehat bukan tanda kalah— tapi...

  35. Sahabat : Tempat Patah Yang Tak Bertanya Kenapa

    Kadang sahabat itu bukan yang selalu ada di foto, bukan juga yang sering kita pamerkan ke dunia. Mereka hadir diam-diam, dengan cara sederhana: satu pesan singkat, satu duduk diam di sebelah kita, atau sekadar meme receh yang bisa bikin kita tersenyum di tengah hari yang berat. Sahabat sejati…

    more
  36. Maaf, Hari Ini Aku Nggak Bisa Kuat Dulu

    Kadang kita bangun pagi bukan dengan semangat,tapi dengan jeda panjang sebelum beranjak dari tempat tidur.Bukan karena manja,tapi karena lelah yang sudah terlalu lama mengendap. Di dunia yang menuntut kita selalu positif,mengakui kesedihan sering terasa seperti dosa.Seolah kalau kita…

    more
  37. Sandwich Generation : Nanggung Hidup Sendiri, Nanggung Keluarga Juga

    Ada beban yang datang bukan karena kita minta, tapi karena kita lahir lebih dulu. Anak sulung katanya harus kuat, harus jadi contoh. Tapi… siapa yang jadi tempat pulang si anak sulung? Kita kerja bukan cuma buat diri sendiri. Ada nama-nama yang harus diprioritaskan sebelum keinginan pribadi.…

    more
  38. UMR & Mimpi yang Tertahan : Hidup, Nabung, atau Nafas Dulu

    Ada masa di hidup kita ketika gaji terasa terlalu kecil untuk hidup… tapi terlalu besar untuk menyerah. Bukan karena malas, tapi karena lelah yang belum sempat sembuh sejak kemarin. Di usia yang katanya penuh petualangan, kita malah sibuk menghitung: “Kalau beli kopi hari ini, masih bisa isi…

    more
  39. Usia 25 dan Tidak Punya Apa-Apa (Katanya Harusnya Sudah Sukses)

    Kadang hidup di usia segini terasa seperti lomba yang kita nggak pernah mendaftar. Orang lain sudah melesat jauh, sementara kita masih meyakinkan diri kalau semua baik-baik saja. Bukan karena malas atau kurang usaha, tapi karena jalan kita memang berbeda. Episode ini untuk kamu yang merasa...

  40. Swipe, Chat, Hilang: Hubungan di Era Algoritma

    Di masa ketika perkenalan dimulai dari swipe, dan perpisahan hanya butuh diam… Kita belajar mencintai dalam ketidakpastian, menunggu kepastian dari notifikasi yang makin jarang datang. Hubungan tidak lagi dibangun dari tatap mata dan percakapan panjang, tapi dari typing bubbles yang hilang…

    more
  41. Bertahan di Tempat yang Tidak Lagi Sehat

    Ada masa di mana yang kita perjuangkan bukan ambisi… tapi diri sendiri. Bukan karena lemah. Tapi karena terlalu sering dipaksa kuat. Tiap pagi berangkat bukan membawa semangat, tapi sisa-sisa keberanian untuk tetap ada. Di tempat yang pelan-pelan mengikis rasa percaya diri. Tempat yang bilang:...

  42. Yang Hampir Kita Percaya

    Ada masa di mana kita tak sedang mencari siapa-siapa. Hanya hidup… pelan-pelan menyembuhkan. Lalu seseorang datang. Dengan niat yang tampak baik. Kita sempat percaya. Tapi semesta punya cara bicara. Lewat story, explore, dan kepekaan yang tak bisa diabaikan. Ternyata dia bukan datang sendiri. Dan...

  43. Rindu Yang Tak Bisa Dikembalikan

    Mereka pernah saling mencinta, dengan cara yang mereka kira… sudah cukup. Cukup dewasa, cukup kenal luka, cukup ingin sama-sama. Tapi waktu akhirnya membuktikan: Cukup—tidak selalu benar-benar cukup. Karena cinta bukan hanya tentang bertahan, tapi tentang merasa aman. Dan pengertian... bukan...

  44. Sibuk Itu Alasan, Atau Tameng?

    Dunia ini terlalu sibuk menghitung siapa yang duluan sampai. Tapi teman sejati… tak pernah bertanya kamu sudah sampai mana— yang mereka tanya: “Masih kuat jalan, kan?” Dan untukmu yang memilih menjauh, semoga selalu ada satu ketukan lembut di pintu sepi: “Aku di sini, bukan untuk menghakimi.…

    more
  45. Mungkin, Kalau Saat Itu Kamu Bicara

    Mereka pernah bertahan bersama— melewati bangku kuliah, pekerjaan pertama, hingga rencana masa depan. Cinta mereka bukan tentang janji manis, tapi tentang sabar, menunggu, memeluk di tengah badai. Namun suatu hari, segalanya runtuh hanya karena satu pesan: "Kayaknya kita cukup sampai di sini."...

  46. Tak Semua Cinta Layak Bertahan

    Mereka pernah berjalan bersama— dari bangku sekolah hingga rencana masa depan. Cinta mereka sederhana: cukup saling mencintai, cukup saling percaya. Tapi sebuah pengkhianatan mengubah segalanya. Bukan karena pertengkaran, melainkan karena luka yang datang dari arah yang tak disangka. Ia pergi,...

  47. Cinta Tak Pernah Sederhana

    Kadang cinta datang tanpa aba-aba. Tak menunggu logika. Tak peduli jarak usia, status, atau seberapa siap hati menyambutnya. Dia datang—begitu saja—seperti hujan pertama setelah musim panjang yang kering. Menyegarkan, tapi juga menenggelamkan. Di episode ini, kita akan menyelami cerita tentang...

  48. Simponi Indah Keluarga

    Tentang mereka yang berterima kasih karena tanpa mereka kita tak akan jadi apa-apa, tentang harmoni keluarga yang sebenarnya bukan berasal dari keluarga yang sempurna namun saling mengisi/saling terikat saling berkasih ada kunci pelengkap kata keluarga Ingin ceritamu di publikasi, tapi tak ingin...

  49. Jangan Pernah Takut Melangkah

    Dihadapkan oleh begitu banyak pilihan rasanya sulit dan tak mengeenakkan dan cabang kehidupan sudah sewajarnya, kita merasa takut jika tak yakin harus menapakan kaki yang mana sulit untuk dijalani karena begitu panjang perjalanan yang dilalui Ingin ceritamu di publikasi, tapi tak ingin rahasianya...

  50. Jeda Waktu Beri Pesan

    Tak banyak dari kita yang ketika dihadapkan dengan seseorang yang tidak cocok dengan kita ini untuk pertama kali bertemu mereka segera menanamkan tidak suka dan sejak awal kita berhenti melihat kebaikan mereka sesekali kerap menjilat apakah pantas ada terus mencari-cari kesalahan hanya untuk...

Type above to search every episode's transcript for a word or phrase. Matches are scoped to this podcast.

Searching…

We're indexing this podcast's transcripts for the first time — this can take a minute or two. We'll show results as soon as they're ready.

No matches for "" in this podcast's transcripts.

Showing of matches

No topics indexed yet for this podcast.

Loading reviews...

ABOUT THIS SHOW

Podcast Sajak Kini adalah sebuah sajak tercipta yang selalu berangkat dari kegelisahan dan gelisah harus di sampaikan melalui akun @podcastdajakkini yang rutin tayang setiap hari Sabtu | Jika Ingin ceritamu di buatkan literasi, tapi tak ingin rahasianya diketahui, ingin sekedar curhat atau meluapkan kegelisahan, kirim segera cerita menarikmu.Email : [email protected] : @podcastsajakkini

HOSTED BY

Sajak Kini

Frequently Asked Questions

How many episodes does Sajak Kini have?

Sajak Kini currently has 128 episodes available on PodParley. New episodes are automatically indexed when they're published to the podcast feed.

What is Sajak Kini about?

Podcast Sajak Kini adalah sebuah sajak tercipta yang selalu berangkat dari kegelisahan dan gelisah harus di sampaikan melalui akun @podcastdajakkini yang rutin tayang setiap hari Sabtu | Jika Ingin ceritamu di buatkan literasi, tapi tak ingin rahasianya diketahui, ingin sekedar curhat atau...

How often does Sajak Kini release new episodes?

Sajak Kini publishes regularly with 128 episodes available. Check the episode list for the typical release schedule.

Where can I listen to Sajak Kini?

You can listen to Sajak Kini on PodParley by clicking any episode. We provide an embedded audio player for direct listening, and you can also subscribe via your preferred podcast app using the RSS feed.

Who hosts Sajak Kini?

Sajak Kini is created and hosted by Sajak Kini.
URL copied to clipboard!