Skip to content
Kumpulan Puisi & Fiksi Audio podcast artwork

PODCAST · arts

Kumpulan Puisi & Fiksi Audio

by M. Edgar. A

70 % Puisi 30 % Audio Fiksi

Publisher-supplied feed metadata · PodParley refreshed Apr 15, 2026 · Source feed

Episodes

  1. Tentang Pertanyaan Seseorang

    Pukul sebelas lewat lima. Seekor kupu-kupu menyelinap dan hinggap di radio milik ayahmu yang memutar lagu Roxette. Dia pikir radio itu adalah pohon yang berubah bentuk. Dulu, kata ibunya, orang kota gemar menculik kenari untuk dipaksa jadi kursi dan lemari. Yang dia tidak tahu, radio itu terbuat...

  2. Hari Bertaruh

    Mengenai apa yang kusut dan ribut di dalam kepalaku, selalu ingin jadi ketanpaan yang berdiri di tengah-tengah padang rumput. Seperti kehampaan yang lapang ; puisi yang menunggu untuk dikarang.

  3. Alasan Kau Semakin Cantik

    Bila saatnya tiba; kau tersenyum. Ribuan puisi telah tertancap di dadamu. Kendati gemuruh tak lagi datang dari lautan. Meskipun orang-orang bertengkar tentang bagaimana cara mengisi istana. Aku masih gentar—gemetar meminta Tuhan mengosongkan hatimu dari selain aku.

  4. Bila Kau Berjalan Sendiri

    Ada tempat riuh bernama kenangan. Ada tempat jauh yang kusebut dirimu. Semacam luka berat yang ingin meledak di jantung puisi-puisi.

  5. Ketika Tak Ada Seorang pun di Puncak Hermit

    Mata kekasih adalah nyala yang selamanya. Sewajar lihai jemari seniman di Pulau Fajar. Kepak sayap dan jejakmu yang kelip gemerlap membentang sepanjang jalan ini.

  6. Kyla

    Sampai saatnya Kyla bertemu dengan waktu dan langit secara bersamaan. Sebuah pertanyaan menjadi pakaiannya di hari itu. Apakah manusia benar-benar bisa memaafkan? Sedangkan di dalam kepala mereka, kesedihan datang seperti lautan. Dan hidup hanya punya kapal kecil yang terbuat dari air mata.

  7. Puisi Berikutnya Untukmu

    Kau pernah berkata: Menerima adalah terluka. Bersabar adalah terluka sekali lagi dan pergi adalah luka yang tak bisa kau hitung jumlahnya.

  8. Jika Waktu Tak Berumur Panjang

    Diam adalah hal yang paling ingin dicintai gedung-gedung perkotaan. Setiap orang yang melintas adalah kebisingan bagi tidur malam mereka di hari yang lain. Televisi, dan apa pun yang bisa menyala, adalah mimpi buruk bagi setiap mata yang menidurkan kesedihan.

  9. BADUT (Remake 2021)

    Cerita oleh : Clandestine @selembarmemoar Voice Over : Hanahoshi @yaelahanahoshi Additional V.O : Chelly

  10. Menjadi 'Pizza'

    Aku akan menjadi 'pizza' dengan cara-cara yang membosankan. Seperti cara-cara hari sabtu melumpuhkan ingatan orang-orang tentang negara; senyuman palsu yang saling bertemu: di gang-gang sempit dan ruang tamu—menjadi mimpi buruk manusia di hari lain.

  11. Tentang Sesuatu yang Luput Dari Waktu

    Di dalam diriku ada sebuah ruang tunggu yang tak memiliki warna. Ada seorang lelaki di sana. Dia tak suka berkata-kata dan tak ingin berada di dalam waktu. Ia tak ingin merasakan detak jantung atau pun berdetak di jantung orang lain. Ia tidak ingin matanya melihatmu: melihatku—seperti kau melihat...

  12. Apa yang Sebenarnya Hilang?

    Puisi oleh : Rumah Dalam Kepala

  13. Sebelum Jam Tidurmu Kian Sempit

    Apa kabarmu hari ini? Sudahkah seseorang mengucapkan selamat tidur pada kedua matamu yang menolak langit selain hitam? Apakah kedua lenganmu masih berusaha memadamkan sebuah kota yang terbakar di dalam kepalamu? Ataukah rahasia memang selalu bodoh menemukan bahasa untuk ia kenakan?

  14. Kau yang Berjodoh Dengan Sore Ini

    Di tanah lapang di dalam kepalaku, kenangan terus terbakar. Masa kecil adalah masa yang kian terpencil. Satu persatu pergi dari ingatan kau. Lalu ingatan kau akan pergi meninggalkan kau. Lalu kau akan pergi meninggalkan aku.

  15. Menghapus Rencanamu Untuk Meninggalkan Aku Sendiri

    Kesedihanku tidak diciptakan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Aku hanya bisa menanamnya di dalam kepalaku atau pada halaman belakang sebuah buku. Aku akan membayangkannya tumbuh menjadi sebatang pohon yang rindang sekaligus rapuh. Di sana lah ingatanku dapat berkumpul berteduh. Setiap kali...

  16. Menjadi Air Mata Ibu

    Aku dan ibuku sering kali mengundang keheningan untuk duduk di meja makan. Walau kami sama-sama tahu, ia terlalu rakus menelan banyak pembicaraan. Walau kami sama-sama tahu, ia terlalu rakus menelan banyak pembicaraan.

  17. Menjadi Ingatan

    Halaman belakang sebuah buku adalah ingatan yang paling mudah melupakan dirinya sendiri. Sebelum ia menjadi sebuah buku, ia hanyalah jasad kulit-kulit kayu. Ketika tinta merekatkan dirinya kembali, ia seutuhnya merelakan aroma tanah. Menyerahkan dirinya untuk ditumbuhi oleh hal-hal lain. Serupa...

  18. Elipsis

    Kau pun membatasi tubuhmu senantiasa dalam pelukan jendela. Udara di luar sana hanyalah bekas mimpi orang lain. Ada beberapa hal yang seharusnya tak bertemu. ketika Hujan adalah bensin dan rindumu sebatang korek api.

  19. Tak Ada yang Benar-Benar Hening Pukul 02.30 Pagi

    Semoga matahari dapat memperlakukannya dengan baik. Dan hujan berkenan menyapanya dalam bahasa ibu.

  20. Menyemangati Kesedihan

    Agustus terlalu banyak menjatuhkan majas tapi terlalu sedikit menyediakan kertas.

  21. Perayaan

    Kau kadang bernyanyi, menimpali dan bertanya, tentang apa yang kulakukan hari ini. Aku tak pernah ingin menjawab pertanyaan semacam itu. Karena yang aku lakukan adalah hal-hal yang selalu sama : Memadamkan masa lampau, kemudian menyalakan kau.

  22. Dosa Besar Kepada Puisi

    Aku telah berdosa pada puisi ini. Sementara puisi ini telah berdosa padamu. Di dalam lemari, masih merintik sekotak hujan dalam jubah pagi—yang pernah jatuh di bagian akhir sebuah puisi—sehari sebelum Sapardi pergi.

  23. Rintik Kata

    Langit adalah pustaka kata kerja. Awan adalah sekumpulan perumpamaan-perumpamaan. Keduanya berpagut dalam tulisan-tulisan; melebatkan hujan-hujan; runtuh di ranjang para sastrawan.

  24. Ruang dan Kata

    Aku tak ingin kau terendam di teras puisimu sendiri yang sudah lama mengendap dalam luap. Karena kau tak pernah mengizinkanku menggali parit-parit bagi air matamu.

  25. Jendela

    Aku mendapati bulan april sedang sibuk menyembuhkan diri dari dirinya sendiri. Sementara orang-orang hilang dari jalanan, melepas rindu pada kaki ibu dan ruang makan.

  26. Hari Ini Kau Hilang

    Kau tak ada di rumahmu. Ketika kiriman hadiah dariku sampai di depan pintu. Isinya sekotak kecupan di keningmu yang cukup dipakai untuk seminggu.

  27. Di Ujung Jalan Ketika Mata Hujan Berkaca-kaca

    Lelaki itu diam sebentar, menunggu hujan selesai mencuci tubuh bayi itu dari duka yang akan ia dengar ketika tumbuh besar. "Silahkan," bisik hujan pada lelaki itu dengan mata berkaca-kaca. Hujan kemudian pergi, memilih pulang ke dalam puisi Sapardi.

  28. Jauh Sebelum Ibumu Pergi

    Jauh sebelum kau sadar matamu mirip mata ibumu, ia pernah berdiri lama meminjam kedua mata jendela. Menatap sebatang mahoni yang ia tanam menjelang kau keluar dari dalam kandungan. Ya, mahoni itu saudara kembarmu. Yang membedakan, mahoni itu tidak pernah tahu cara menyakiti ibumu.

  29. Germinabunteur

    Kumpulan puisi 'Pernah Dituliskan'

  30. Hal-hal yang Berhubungan dengan Matamu

    Kumpulan Puisi 'Pernah Dituliskan'

  31. Memoar Untuk Vinadine

    Kumpulan Puisi Clandestine 'Pernah Dituliskan'

  32. MANTRA

    Puisi oleh Clandestine & Mala

  33. MicroCuts 3 : KETIKA

    Kumpulan cerita fiksi

  34. Menanam Pohon

    Kumpulan Puisi 'Pernah Dituliskan'

  35. Kepada yang Tak Pernah Reda

    Kumpulan Puisi 'Pernah Dituliskan'

  36. MicroCuts 2 : Saya Adalah Tuhan

    Kumpulan Cerita Misteri

  37. Pernah Dituliskan

    Sebuah Catatan

  38. Pakanira

    Kumpulan puisi Clandestine 'Jantung Kota'

  39. Menunggu Kau Kembali Sehat

    Kumpulan puisi Clandestine 'Jantung Kota'

  40. Perempuan-Perempuan

    Kumpulan puisi Clandestine 'Jantung Kota'

  41. Bagian Terindah Dari Tubuhmu

    Kumpulan Puisi Clandestine 'Jantung Kota'

  42. Hujan, Es Krim dan Boneka Panda

    Kumpulan puisi clandestine

  43. Conundrum 6 : Ruang Gelap

    Audio fiksi misteri

  44. Magnolia

    Kumpulan puisi Clandestine

  45. Tamasya ke Kota Kekasih

    Kumpulan Puisi Clandestine 'Sebelum Kamu'

  46. Masa Lalu di Matamu

    Kumpulan puisi Clandestine 'Sebelum Kamu'

Type above to search every episode's transcript for a word or phrase. Matches are scoped to this podcast.

Searching…

We're indexing this podcast's transcripts for the first time — this can take a minute or two. We'll show results as soon as they're ready.

No matches for "" in this podcast's transcripts.

Showing of matches

No topics indexed yet for this podcast.

Loading reviews...

ABOUT THIS SHOW

70 % Puisi 30 % Audio Fiksi

HOSTED BY

M. Edgar. A

CATEGORIES

Frequently Asked Questions

How many episodes does Kumpulan Puisi & Fiksi Audio have?

Kumpulan Puisi & Fiksi Audio currently has 54 episodes available on PodParley. New episodes are automatically indexed when they're published to the podcast feed.

What is Kumpulan Puisi & Fiksi Audio about?

70 % Puisi 30 % Audio Fiksi

How often does Kumpulan Puisi & Fiksi Audio release new episodes?

Kumpulan Puisi & Fiksi Audio has 54 episodes. Check the episode list to see recent publication dates and frequency.

Where can I listen to Kumpulan Puisi & Fiksi Audio?

You can listen to Kumpulan Puisi & Fiksi Audio on PodParley by clicking any episode. We provide an embedded audio player for direct listening, and you can also subscribe via your preferred podcast app using the RSS feed.

Who hosts Kumpulan Puisi & Fiksi Audio?

Kumpulan Puisi & Fiksi Audio is created and hosted by M. Edgar. A.
URL copied to clipboard!