PODCAST · arts
Suara Puan
by Kata Puan
Cuma seorang pemerhati yang gemar merenung dan menuliskan kehidupan.
-
680
izinkan suara puan mengambil jeda sejenak.
Terima kasih selama ini sudah menemani dan mengapresiasi. Hal-hal yang sejatinya kecil, tapi jadi besar karena rasa yang dihadirkannya besar. Sampai jumpa segera. Tunggu kami kembali, ya.
-
679
manusia dan ragam upayanya mencari ketenangan.
Tidak bisa kita tenang, manakala semua praktik dan upaya kita hanya dilakukan saja tanpa tahu mengapa. Meditasi, jurnaling, dan lain-lain justru jauh dari itu, tapi prosesnya menajamkan kita. Sehingga tak pernah ada titik henti. Seumur hidup harus kita jalani.
-
678
protes itu mudah. tapi maukah berkontribusi mengubah?
Itulah integritas, dan itulah sebabnya kita tak boleh biarkan integritas naik-turun seiring situasi, melainkan menjaganya tetap, tak peduli bagaimanapun situasinya.
-
677
ada apa di ujung quarter life crisis?
Setelah makna sukses dan jati diri dirombak dan dibentuk ulang, ujungnya adalah kebangkitan yang baru. Bedanya, tak ada ruang untuk kesombongan.
-
676
jangan takut untuk move on ketika kamu harus.
Masa depan memang menakutkan, sebab kita selalu membayangkan yang buruk-buruk berdasarkan suasana hati kita saat itu. Tapi kita lupa bahwa segala hal bisa berubah. Sebab kita tumbuh.
-
675
pelajaran yang dibawa oleh luka dan trauma.
Hal-hal buruk ada fungsinya, selama kita tidak membawa serta kebencian pada mereka yang pernah menyakiti. Karena dari panjangnya pelajaran tentang luka, dendam bukan salah satunya.
-
674
kesempatan kecil yang memelihara hidup kita.
Sebuah episode yang semoga jadi api menyala di tengah gelapnya malam dan badaimu.
-
673
mungkin masa depan kita ada di masa lalu.
Tidak selamanya mengunjungi masa lalu itu hal yang buruk, selama kita berangkat ke sana dengan misi untuk mengambil fragmen masa depan yang tertinggal.
-
672
jangan remehkan perkara yang kecil.
Satu hal besar disusun dari seribu hal kecil. Jangan remehkan. Tanpa perkara kecil itu, tak akan sampai kita pada yang besar-besar yang kita impikan.
-
671
wajah cinta yang sesungguhnya.
Siapapun yang merasa cinta itu mudah, sudah pasti tidak pernah jatuh cinta. Atau setidaknya, belum cukup lama untuk melihat wajah cinta yang sesungguhnya.
-
670
ketika rasanya tidak akan ada puncak yang lebih tinggi.
Kata siapa? Mengapa bisa begitu yakin akan masa depan yang bukan milik kita? Lepaskan kebahagiaan yang harus lepas. Percaya, nanti akan datang bahagia baru yang mengalahkan puncak sebelumnya.
-
669
mengapa kita seringkali malu mengakui privilese?
Privilese bukan aib. Ia anugerah, dan sudah seharusnya disyukuri, dirayakan, dijadikan modal agar kebaikan berlipatganda.
-
668
nyatanya, kita tak bisa senangkan semua orang.
Kalau 'baik' itu subjektif, haruskah kita pilih-pilih agar terhindar dari kecewa karena respons negatif orang? Sebab baik untuk satu, belum tentu baik untuk lainnya, kan?
-
667
yang kelihatannya enak, belum tentu begitu kenyataannya.
Kita begitu mudah menilai sesuatu, terlebih ketika hal itu di luar diri sendiri. Tapi kenyataannya, belum tentu demikian ketika harus kita yang menjalani.
-
666
seharusnya, iman adalah titik tanpa tanda tanya.
Kalau percaya rezeki sudah ada yang mengatur, mengapa bertanya-tanya?
-
665
kita hidup di dunia nyata, bukan dunia maya.
Jangan karena media sosial, kita berubah jadi monster keras kepala yang hanya mengejar sensi, perhatian, dan buat kerusakan di mana-mana.
-
664
jurnal harian penulis: middle class sialan!
Jangan dimasukkan ke dalam hati. Ini catatan untuk diri saya sendiri. Tapi kalau relate, bantu bagikan 'jurnal harian' ini di media sosialmu, ya.
-
663
apakah kita lupa apa yang menjadikan hidup kita bermakna?
Jangan lupa apa yang menyusun kita. Semua sudah ada, semua sudah tersedia. Bumbu itu, syukur namanya.
-
662
merayakan kali pertama yang datang.
Terkadang kita malu mengaku senang, mengaku syukur, sebab kita kira hal-hal itu terlampau 'biasa saja' untuk orang lain. Padahal, bukankah sebelum jadi 'biasa saja' semua hal pernah terasa 'baru' buat kita?
-
661
dalam bebas, ada batas. sebaliknya dalam lepas, justru bebas.
Kebebasan adalah paradoks. Sedihnya, kita terlambat paham apa maksudnya.
-
660
akankah kita keluar dari labirin bernama kehidupan?
Tidak, tidak akan keluar sampai jika waktunya habis di dunia. Tapi bukan berarti kita tidak bisa bersenang-senang.
-
659
untuk semua orang dewasa yang malu mengaku diri patah hati.
Patah hatinya orang dewasa ada di mana-mana, kecuali di mulut dan pengakuan mereka.
-
658
konsekuensi dari cinta yang sedang kamu cari.
Cinta datang dengan konsekuensi. Apakah itu? Kenyataan bahwa suatu hari, ia akan usang. Bukan barang baru lagi. Dan ia sulit. Memintamu mengalah meski ia yang keras kepala.
-
657
pernahkah kamu bertemu malaikat?
Pernah. Semua orang pasti pernah. Tapi bukan. Bukan orang-orang yang wajahnya rupawan, melainkan orang-orang yang kebaikannya menyentuhmu tepat waktu.
-
656
mengapa manusia harus terampil menghadapi bosan.
Bosan. Stagnan. Tapi demikianlah hidup yang seimbang, bukan? Itu pertanda hidup sedang baik-baik saja. Kita sedang menjaga apa yang ada.
-
655
bergerak meski sedih; sebab hidup berjalan, bukan berlarut.
Jangan jadikan duka alasan untuk berhenti hidup dan berhenti melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Sebab kau tahu, akhir adalah awal yang baru. Satu pintu tertutup, pintu lain sedang terbuka.
-
654
sebuah pesan untuk hati yang sedang terdemotivasi.
Sepertinya selalu ada masa di mana kita merasa hampa. Demotivasi tingkat dewa. Terjadinya tanpa alasan, ataukah justru segala hal buat kita lemah dan tak bersemangat. Episode ini adalah untuk kamu yang merasa begitu.
-
653
hidup tak melekat biar tak perlu sakit hati. bisakah?
Jawabannya, tidak bisa. Sebab ada bagian jiwa yang akan selalu meronta-ronta sampai ia diisi oleh kehadiran cinta, yang datang dari relasi kita dengan manusia lain.
-
652
biarlah kenangan jadi kenangan.
Bersedih, boleh. Rindu, boleh. Tapi jangan sampai terjebak terlalu lama. Sebab bukan di sanalah hidup kita.
-
651
pentingnya sadar bahwa kita tak tahu apa-apa.
Sediakan ruang untuk ketidaktahuan. Terutama ketika hadapi kejadian ekstrem, entah itu bahagia atau duka. Tak selamanya demikian. Tak selamanya akan sama.
-
650
“sabar, tidak semua hal harus ada jawabannya sekarang,” katanya.
Meski awalnya terdengar tidak masuk akal, suatu hari ujaran itu akan jadi satu-satunya kepastian valid dan realistis.
-
649
hanya karena bebas berpikir, bukan berarti semua harus dipikirkan.
Jangan overthinking. Sudah tahu dampaknya, kan? Memang mau terpenjara pikiran sendiri?
-
648
di hadapan bahagianya orang lain.
Bukan iri, bukan tak bahagia untuk mereka. Hanya saja, secara otomatis kita bertanya-tanya: kapan giliran saya?
-
647
berhadapan dengan trauma sebelum kita siap.
Jawabannya, kita tak akan pernah siap, sampai waktu mempersiapkan kita.
-
646
jurnal harian penulis: hari terbahagia dalam hidupku.
Terima kasih ada ucapan dan doa baiknya. Semua yang terbaik, kembali kami doakan untuk kalian.
-
645
jawab sebenar-benarnya: bagaimana kabarmu?
Semoga kita semua bisa menjawab pada akhirnya dan percaya sepenuh hati, sebab inilah kenyataannya: aku baik-baik saja.
-
644
belajar mengerti darimana kebahagiaan berasal.
Bahagia. Satu-satunya yang manusia cari, sekaligus juga satu-satunya yang manusia tak akan pernah abadi untuk dimiliki.
-
643
mengapa keberhasilan harus disadari dan dirayakan.
Kalau berhasil, jangan disimpan sendiri. Sadari, rayakan. Terkadang kita malu karena merasa pencapaian itu kecil, atau kita tak mau orang menganggap kita sombong. Bisa dimengerti, sih. Tapi intinya, jangan takut dan izinkan dirimu merasa bangga, tak peduli bagaimana cara keberhasilan itu kamu rayakan.
-
642
mengapa di dunia ini harus ada kegagalan?
Singkatnya, karena memang harus demikian agar dunia berjalan seimbang.
-
641
cara terbaik menghadapi ketakutan kita.
Sudah seribu kali bicara rasa takut, tapi tetap saja kita tak akan pernah benar-benar bisa melewatinya. Kali ini, semoga bisa sekali lagi memberi peneguhan dan jadi teman yang menguatkan. Tidak apa-apa takut, asal tidak lari atau menyerahkan diri.
-
640
untuk kita yang ternyata sudah tak lagi muda.
Tidak ada yang mengalahkan gelora dan api masa muda. Tapi di satu titik dalam hidupnya, manusia harus beranjak dewasa. Entah karena waktu, pengalaman, atau memang sudah ketetapan. Bukan berarti kemudian kita berhenti belajar. Sebaliknya, justru tak boleh berhenti.
-
639
akankah keberuntungan besar datang lagi nanti?
Mungkin keberhasilan dan pencapaianku selama ini bukan karena kerja keras, melainkan karena beruntung saja. Wajar jika suatu waktu ia pergi dari kita. Orang bilang nanti akan datang lagi keberuntungan lainnya. Tapi masalahnya, seberapa beruntungnya, sih, kita yang cuma manusia biasa ini?
-
638
memasuki separuh dari hari ini, mengapa masih begini?
Sebelum bertanya lebih lanjut, ada baiknya hentikan rentetan pemikiran itu dengan tanyakan satu hal ini pada dirimu: memangnya apa, sih, yang seharusnya manusia capai dalam satu tahun hidupnya?
-
637
ketika mereka yang kita sayang bahagia bersama orang lain.
Salahkah kita sedih melihat mereka yang kita sayang bahagia bersama yang lain? Bukankah cinta tak harus memiliki? Apakah ini yang disebut obsesi?
-
636
“ya elah, begitu doang bangga. biasa aja kali.”
Jangan berkecil hati dan segan untuk bahagia, hanya karena sumber bahagiamu terkesan sepele buat orang lain. Episode ini adalah panggilan untuk kita merayakan segala hal kecil yang membuat kita bahagia. Pada mereka yang bersikap nyinyir, biarkan saja. Memangnya mereka tahu apa?
-
635
penting mana: persahabatan atau relasi romantis?
Sejatinya keduanya penting, tapi berbeda. Dalam bilik hati kita pun demikian, fungsi dan cara memperlakukannya berbeda. Berita baiknya, kamu tak harus memilih satu. Keduanya boleh ada, hanya tinggal pandai-pandai bagaimana kita melihatnya.
-
634
orang-orang yang olehnya kamu rela dibuat lemah.
Salah satu episode paling relate untuk kita yang suka bertanya-tanya: kenapa harus aku? Kan, banyak orang lain yang lebih baik. Mudah-mudahan, jawabannya kamu tahu. Karena sudah kamu lakukan seumur hidupmu. Bagikan episode ini ke teman-temanmu, ya.
-
633
siapkah kita untuk naik ke level hidup yang lebih tinggi?
Sering kita berpikir bahwa kita juga bisa jadi seperti orang lain yang hidupnya mudah dan enak. Toh, tinggal menikmati saja. Padahal, kita tak tahu persoalan macam apa yang datang sebagai bagian dari tanggung jawab mereka. Sebab semakin tinggi pohon, kan, semakin kencang pula anginnya. Memangnya benar sudah siap?
-
632
mengunjungi masa lalu dan memungut yang ketinggalan.
Orang bilang, hidup harus selalu bergerak maju. Sehingga pada satu titik, kita jadi anti dengan melihat ke belakang. Padahal, mengunjungi masa lalu itu perlu. Biar kita bisa memungut lagi pelajaran dan pengingat yang kemarin ketinggalan, sebagai bekal kita mempersiapkan masa depan.
-
631
memangnya kenapa kalau berbeda?
Kalau sudah bicara pendapat dan nilai, seringkali yang berdiri paling depan adalah ego. Sehingga tanpa sadar, saat berjumpa perbedaan sekecil apapun, kita jadi memaksakan apa yang kita rasa benar. Demikian juga mungkin, orang lain terhadap kita. Episode ini adalah tentang itu.
No matches for "" in this podcast's transcripts.
Loading reviews...
Loading similar podcasts...