Suara Puan cover art

All Episodes

Suara Puan — 680 episodes

#
Title
1

izinkan suara puan mengambil jeda sejenak.

2

manusia dan ragam upayanya mencari ketenangan.

3

protes itu mudah. tapi maukah berkontribusi mengubah?

4

ada apa di ujung quarter life crisis?

5

jangan takut untuk move on ketika kamu harus.

6

pelajaran yang dibawa oleh luka dan trauma.

7

kesempatan kecil yang memelihara hidup kita.

8

mungkin masa depan kita ada di masa lalu.

9

jangan remehkan perkara yang kecil.

10

wajah cinta yang sesungguhnya.

11

ketika rasanya tidak akan ada puncak yang lebih tinggi.

12

mengapa kita seringkali malu mengakui privilese?

13

nyatanya, kita tak bisa senangkan semua orang.

14

yang kelihatannya enak, belum tentu begitu kenyataannya.

15

seharusnya, iman adalah titik tanpa tanda tanya.

16

kita hidup di dunia nyata, bukan dunia maya.

17

jurnal harian penulis: middle class sialan!

18

apakah kita lupa apa yang menjadikan hidup kita bermakna?

19

merayakan kali pertama yang datang.

20

dalam bebas, ada batas. sebaliknya dalam lepas, justru bebas.

21

akankah kita keluar dari labirin bernama kehidupan?

22

untuk semua orang dewasa yang malu mengaku diri patah hati.

23

konsekuensi dari cinta yang sedang kamu cari.

24

pernahkah kamu bertemu malaikat?

25

mengapa manusia harus terampil menghadapi bosan.

26

bergerak meski sedih; sebab hidup berjalan, bukan berlarut.

27

sebuah pesan untuk hati yang sedang terdemotivasi.

28

hidup tak melekat biar tak perlu sakit hati. bisakah?

29

biarlah kenangan jadi kenangan.

30

pentingnya sadar bahwa kita tak tahu apa-apa.

31

“sabar, tidak semua hal harus ada jawabannya sekarang,” katanya.

32

hanya karena bebas berpikir, bukan berarti semua harus dipikirkan.

33

di hadapan bahagianya orang lain.

34

berhadapan dengan trauma sebelum kita siap.

35

jurnal harian penulis: hari terbahagia dalam hidupku.

36

jawab sebenar-benarnya: bagaimana kabarmu?

37

belajar mengerti darimana kebahagiaan berasal.

38

mengapa keberhasilan harus disadari dan dirayakan.

39

mengapa di dunia ini harus ada kegagalan?

40

cara terbaik menghadapi ketakutan kita.

41

untuk kita yang ternyata sudah tak lagi muda.

42

akankah keberuntungan besar datang lagi nanti?

43

memasuki separuh dari hari ini, mengapa masih begini?

44

ketika mereka yang kita sayang bahagia bersama orang lain.

45

“ya elah, begitu doang bangga. biasa aja kali.”

46

penting mana: persahabatan atau relasi romantis?

47

orang-orang yang olehnya kamu rela dibuat lemah.

48

siapkah kita untuk naik ke level hidup yang lebih tinggi?

49

mengunjungi masa lalu dan memungut yang ketinggalan.

50

memangnya kenapa kalau berbeda?

51

bu, ini aku anakmu.

52

bagaimana jika pilihan hidupku tak sama dengan mereka?

53

mengapa kita harus mengalahkan gengsi.

54

belajar memahami maksud orang tua.

55

surat cinta untuk awal bulan baru.

56

belajar menghitung berkat dan cukup kita.

57

jurnal harian penulis: kepergian teman seangkatan.

58

kawan ngabuburit: perihal pengampunan.

59

kawan ngabuburit: perihal kebenaran.

60

kawan ngabuburit: perihal beriman.

61

kawan ngabuburit: perihal harapan.

62

kawan ngabuburit: perihal berjuang.

63

kawan ngabuburit: perihal belajar.

64

kawan ngabuburit: perihal merelakan.

65

kawan ngabuburit: perihal bersabar.

66

kawan ngabuburit: perihal nafsu.

67

bahagia yang sempurna versi kita.

68

berhenti menghitung kebaikan sendiri.

69

yang lebih sedih dari sebuah kehilangan.

70

pesan ini bukan kebetulan.

71

nikmatnya menjadi biasa saja.

72

jangan takut merasa sedih.

73

berdamai dengan ketidaktahuan.

74

dunia dan para pelari.

75

haruskah kita berhenti peduli?

76

saat badai datang nanti.

77

tak pernah karena usaha sendiri.

78

puncak bukan satu-satunya tujuan.

79

bahagia atas kebahagiaan teman kita.

80

menemukan jalan kita sendiri.

81

tentang amarah dalam diri manusia.

82

membantu dalam diam.

83

semua cuma soal perspektif saja.

84

untuk yang sedang merasa tidak produktif.

85

sisi yang lebih indah.

86

sebuah ruang tempat cinta berada.

87

bunga lama bersemi kembali.

88

tentang masuk ke lingkungan baru.

89

cukup adalah kaya.

90

pencarian makna hidup yang sebenarnya.

91

berbuat salah itu manusiawi.

92

surat cinta untuk generasi sandwich.

93

perihal ketimpangan dalam relasi.

94

naik-turun pencapaian manusia.

95

tekanan yang baik.

96

menghadapi insecurity dalam diri.

97

rupa-rupa rezeki manusia.

98

bersama, lebih baik daripada sendiri saja.

99

berani mengaku tidak tahu.

100

tanpa banyak bicara.

101

tentang relativitas waktu.

102

keyakinan yang kita percaya.

103

meretas jarak di antara dua hati.

104

menemukan makna dari pekerjaan kita.

105

untuk hal-hal yang tersembunyi dalam diri.

106

sesal masa lalu adalah pertanda kita tumbuh.

107

nikmati kesempatan untuk merasa.

108

berkebun di tanah kehidupan.

109

tak sesuai rencana, tak selalu buruk ternyata.

110

lembar pertama buku 2023.

111

lembar terakhir buku 2022.

112

pentingnya memaafkan orang lain.

113

menjadi orang yang kita benci.

114

tak bisa memilih untuk tak dijahati.

115

selebrasi musim hujan.

116

untuk ibu belahan jiwaku.

117

tentang nilai dan prinsip hidup manusia.

118

kita dulu, baru mereka.

119

tanyakan pada dirimu: kenapa harus?

120

sahabat adalah dua hati yang saling menganggap.

121

pekerjaan yang kita cinta.

122

hidup orang di media sosial.

123

menjaga ketakutan yang baik.

124

cara menyikapi putus hubungan.

125

belajar untuk tidak melekat.

126

bertemu sahabat di usia dewasa.

127

saat yang diharap tak sesuai harap.

128

prinsip dalam berteman.

129

kerja bukan haya soal gaji.

130

mata adalah jendela jiwa.

131

akhir yang belum berakhir.

132

tenang sesudah bencana.

133

berbeda peran, bukan berarti tak penting.

134

menyerap energi musim hujan.

135

ditemukan oleh apa yang hilang.

136

bahagia dengan apa yang ada.

137

lelah. lelah sekali.

138

menyikapi kelemahan diri sendiri.

139

si baik dalam pertemanan.

140

tak ada cinta yang mudah.

141

jenuh berada di lingkungan yang sama.

142

keberanian last minute.

143

membiarkan hidup mengerjakan tugasnya.

144

hidup dan paradoks-paradoksnya.

145

tak akan selamanya cinta.

146

terkelabui rindu.

147

belajar memahami seluk beluk badai.

148

ada apa lagi setelah ambisi?

149

pentingnya harapan dalam perencanaan.

150

kembara ke kota istimewa.

151

mengecil, mengendap.

152

sejujur-jujurnya apa kabar.

153

melepas kecewa & menanam pohon ikhlas.

154

manusia-manusia penyeimbang.

155

pentingnya rasa tidak nyaman.

156

dalam menanggapi musibah besar.

157

berjalan di atas seutas benang tipis.

158

beri waktu untuk hatimu berubah.

159

pegang kendali atas kekhawatiran kita.

160

pentingnya menumbuhkan empati.

161

rumus mencari pasangan hidup.

162

mencukupkan usaha kita sendiri.

163

melihat kurva hidup dari jauh.

164

mencari pelarian yang baik.

165

hidup adalah sebuah kesempatan.

166

ingatan, bukan kenyataan.

167

hidup berkesadaran, memperbaiki kebiasaan.

168

takut keluar dari zona nyaman.

169

saat pencapaian terasa kurang.

170

mencintai adalah seni yang butuh keterampilan.

171

rumah dalam diri setiap manusia.

172

apakah manusia berhak atas kesempatan kedua?

173

mau, tapi tak mampu. harus bagaimana?

174

menjalin sesuatu yang lebih daripada hidup.

175

menyikapi hubungan jarak jauh.

176

cara menaklukkan hal-hal besar.

177

perkara rumput kita dan tetangga.

178

tumbuh dewasa, bukan bergerak mundur.

179

menabur dan menuai kebaikan.

180

takut sendiri tapi tak mau buka hati.

181

perihal menjaga yang melekat pada kita.

182

cara terbaik memanfaatkan waktu.

183

belajar memberi tanpa ekspektasi.

184

tentang menang, kalah, dan perjuangannya.

185

untuk kita yang sedang rindu ibu.

186

hubungan yang selamanya saling.

187

siapkah kita menerima hal-hal yang kita minta?

188

pentingnya mengeluh dalam kesusahan.

189

kurang atau kelimpahan: mana lebih baik?

190

panjang usia dan berkelanjutan.

191

menjalani hari tanpa perhitungan.

192

apa arti sebuah kesetiaan?

193

orang-orang yang suka dipuji.

194

tentang tujuan hidup dan nilai-nilai.

195

pelajaran kekuasaan dari hubungan pertemanan.

196

belajar memaknai duka karena kehilangan.

197

bakat untuk berbahagia.

198

kompas hidup yang berubah.

199

belajar dari kekalahan sendiri.

200

tentang memberi gelap ruang.

201

alasan untuk berbuat baik.

202

periode sial dalam hidup.

203

sepi adalah jeda untuk melihat ke dalam.

204

dua tangan yang sinkron.

205

dua ibu: puisi tentang sebuah kota.

206

tentang kebanggaan manusia.

207

menjadi versi terbaik diri kita.

208

untuk kita yang takut kalah saing.

209

jiwa yang pertama-tama harus dibantu.

210

analogi memancing ikan.

211

ibu menggali kuburnya sendiri.

212

cara terbaik untuk memulai sesuatu.

213

tentang sebuah rahasia.

214

pengetahuan yang tak perlu.

215

tidak ada pekerjaan yang kecil.

216

alasan kita terlahir ke dunia.

217

sesekali, coba biarkan dirimu bosan.

218

esok, kau akan menangis lebih sedikit.

219

suatu hari nanti di atas panggung.

220

duka yang tiba-tiba.

221

pekerjaan kita adalah hati.

222

ada apa dibalik kesuksesan?

223

patah hati adalah milik dan hak semua orang.

224

mendengarkan bahasa tubuh sendiri.

225

rasa takut kita akan masa depan.

226

pelajaran bebenah diri.

227

titik tengah itu diri kita sendiri.

228

prinsip dasar dari memberi.

229

menjalani hidup dengan cara yang baik.

230

tentang pertemuan dan perpisahan.

231

mempersilakan orang lain untuk masuk.

232

hidup itu berjalan, bukan berlarut.

233

hidup adalah permainan menjaga nyala api.

234

perihal memasuki babak hidup yang baru.

235

teman kita bukan milik kita seorang.

236

biasa-biasa saja itu cukup apa adanya.

237

menikmati bahagia pelan-pelan.

238

fungsi teman saat hari sedang gelap.

239

cara terbaik melihat musibah.

240

cukup sadari cinta, untuk bisa mencintai.

241

ketakutan akan lewat, jika dihadapi.

242

rasa khawatir akan kedewasaan.

243

tameng untuk menutupi kelemahan.

244

berdamai dengan suara bising di kepala.

245

menjaga perjuangan yang sudah kita perjuangkan.

246

merayakan kedamaian hati dan jiwa manusia.

247

keluarga yang tidak sempurna.

248

berkat yang dekat-dekat.

249

menerima takdir yang tak bisa dilawan.

250

mengikuti suara hati sendiri.

251

belajar dari prinsip cahaya.

252

nahkoda tanpa awak kapal.

253

kalah perang sebelum berjuang.

254

tersinggung dengan pendapat orang lain.

255

kita juga layak atas cinta.

256

memangnya hidup harus selalu berhasil?

257

untuk manusia-manusia overprotektif.

258

kembali pada yang paling esensi.

259

fakta-fakta di rumah.

260

jalan-jalan ke padang rumput.

261

mengenal orang lain seapa-adanya.

262

jangan buru-buru ganti yang baru.

263

kehilangan sesuatu yang kita jaga.

264

surat dari hati: pesan selama isolasi.

265

harus berjalan ataukah berlari?

266

dari perempuan pada perempuan lainnya.

267

iri akan keberhasilan orang lain.

268

untukmu, anak perempuan pertama dalam keluarga.

269

surat dari hati: yang mana dirimu sebenarnya?

270

perhatian yang tidak seharusnya.

271

intens.

272

sedih yang lebih sedih dari milik kita sendiri.

273

bukan karma mereka, tapi kita.

274

sedih, tapi ikhlas.

275

ketakutan yang menyelamatkan.

276

terbatas, tapi tak apa.

277

bahagia dengan derita pilihan kita.

278

menunggu cinta yang mencukupkan kita.

279

begitu hebat menjadi sedih.

280

sesuatu yang tak boleh berhenti.

281

ternyata cinta tidak seburuk itu.

282

tenang saja, kita cuma satu.

283

perihal memilih jalan kita sendiri.

284

teman yang memecah ketakutan.

285

kedewasaan dan rasa sayang kita pada orang tua.

286

untuk kita yang pernah kehilangan teman baik.

287

mencintai seseorang apa adanya.

288

bukan cepat, tapi jauh.

289

memberanikan diri untuk meminta lebih dulu.

290

cara membuat orang lain jujur pada kita.

291

pentingnya keras kepala dan mencoba berkali-kali.

292

benarkah bahagia itu pilihan kita?

293

mengapa kita sulit mencintai diri sendiri.

294

untuk apa jadi baik kalau ujungnya sia-sia?

295

langkah kita yang takut tertinggal.

296

menanam bunga bernama harapan.

297

hidup sesuai peran dan kapasitas kita.

298

belajar untuk jatuh dan gugur.

299

pencapaian tak punya bentuk.

300

tiba dan selamat.

301

surat dari hati: diriku, kau adalah mahakarya.

302

mengerjakan sesuatu dengan hati yang mau.

303

kiat-kiat membuat keberhasilan kita sendiri.

304

terakhir kali kita gagal.

305

menerima perubahan tubuh kita.

306

untuk mereka yang kehilangan makna pulang.

307

rupa-rupa bahagia manusia.

308

kesalahan yang membuat kita tumbuh.

309

berdamai dengan derita dan bahagia.

310

langkah kecil di hari yang baru.

311

di simpang jalan kehidupan.

312

menutup lembar yang lama dengan harap yang baru.

313

bukan lagi mencari, tapi mempertahankan.

314

jadi lebih baik dari tahun sebelumnya.

315

hari pertama, 2022.

316

malam tahun baru, 2021.

317

surat dari hati: diriku, kau tak harus secepat mereka.

318

satu hal yang tidak boleh berubah.

319

belajar untuk berhenti memperbaiki.

320

surat dari hati: aku percaya padamu, diriku.

321

memilih derita hidup kita.

322

bertahan, juga sebuah pencapaian.

323

menghitung pencapaian diri sendiri.

324

kepergian seseorang dari hidup kita.

325

mengizinkan hal-hal baik datang terlambat.

326

makna spesial di balik 'begini-begini saja'.

327

pembunuh paling keji.

328

Suara Mereka: Merayakan Disabilitas dengan Penerimaan (Laninka Siamiyono)

329

rahasia hidup yang sejahtera.

330

pelajaran tentang menjaga tutur kata.

331

menjadi lebih kecil dan bersinergi.

332

memberi orang lain kesempatan untuk berubah.

333

yang lebih penting dari diri kita sendiri.

334

berdamai dengan waktu.

335

melihat proses, bukan tujuannya saja.

336

membaca pola diri sendiri.

337

Suara Mereka: Tak Perlu Sempurna untuk Berbagi (Farhanah Fitria)

338

cinta yang sederhana.

339

pentingnya menerima dan meminta bantuan.

340

sesaat sebelum dunia terbangun.

341

memenangkan dunia dengan kebaikan.

342

setiap hari adalah awal yang baru.

343

Suara Mereka: Bertemu dengan Belahan Jiwaku (Miranda Kalangi)

344

belajar mengenal tubuh sendiri.

345

karena manusia tidak ada yang sempurna.

346

menyambut hujan akhir tahun.

347

tak harus cocok dengan semua orang.

348

hari terbahagia dalam hidup kita.

349

Suara Mereka: Melawan Kanker dalam Diriku (Helena Hutomo)

350

pada hal-hal yang bukan untukku.

351

hal yang perlu kamu tahu tentang pekerjaanmu.

352

menerima hidup apa adanya.

353

yang bisa kita lakukan dengan kedukaan kita.

354

kita tak pernah tahu apa yang akan datang esok hari.

355

Suara Mereka: Jalan Panjang Menuju Terang (Bentara Bumi)

356

perihal kanvas kosong dan memulai lagi.

357

pentingnya teman bagi hidup kita.

358

tentang kekhawatiran dan keajaiban tak kasat mata.

359

apa yang sedang kamu rasakan?

360

Suara Mereka: Sebuah Pesan dari Masa Depan (Madam Arra)

361

hidup yang baik itu seperti apa?

362

peran kecil di dunia yang besar.

363

perempuan andalan dalam diriku.

364

tumbuh jadi lebih baik.

365

manusia dan perandaiannya.

366

Suara Mereka: Meniti Karier sebagai Atlet Profesional (Aldila Sutjiadi)

367

bahan bakar untuk hari-hari yang kita jalani.

368

jangan tertipu kesan pertama.

369

tentang manusia dan keputusan-keputusan dalam hidupnya.

370

kita adalah kekalahan yang sedang berjuang menang.

371

belajar minum kopi pahit.

372

Suara Mereka: Merdeka Memilih Diri Sendiri (Siti Nurfaizah)

373

merayakan gelap dengan pijar-pijar cahaya.

374

melawan hustle culture adalah melawan diri sendiri.

375

pentingnya afirmasi diri.

376

tentang manusia dan kebahagiaannya.

377

melihat tanamanku tumbuh.

378

Suara Mereka: Menapaki Perjalanan Baru sebagai Transpuan (Alegra Wolter)

379

kita tak akan pernah menang melawan waktu.

380

mengapa hal baik harus berakhir?

381

untuk kamu yang sedang merasa gagal.

382

besar kecilnya derita manusia.

383

menanti-nanti akhir pekan.

384

sikap hati dalam mengerjakan hal-hal kecil.

385

apakah kamu sudah siap jatuh cinta?

386

saat ini, kita hanya punya memori.

387

manusia dan ritual-ritual kecil.

388

bertahan dulu saja, semampunya.

389

kalau pagi tak baik-baik saja.

390

tentang manusia dan kegagalannya.

391

hal kecil, tapi bermakna besar.

392

siapa kita tanpa kebaikan kecil yang kita perbuat?

393

ruang hampa bernama kehidupan.

394

hidup ini ada yang menjaga.

395

pada siapa aku pulang, kalau bukan diri sendiri?

396

mengetuk pintu lebih dulu.

397

di hari pernikahanku nanti.

398

saatnya belajar melamban.

399

yang kita perlu cuma menangis seharian.

400

kagum, tapi jangan punya.

401

pekerjaan paling mulia.

402

sebuah seni bertahan hidup.

403

titik cinta tertinggi.

404

atas dasar aku perempuan.

405

tak harus sempurna untuk bahagia.

406

memberi tak mengurangi.

407

puisi tentang senja dan kopi.

408

hidupmu bukan iklan.

409

mungkin rumah butuh waktu.

410

Suara Mereka: Kembali ke Tanah Leluhur Kami (Natasha Siahaan)

411

jarak ini bukan salah kita.

412

pada hari-hari tertentu.

413

atas dasar ingin penuh.

414

pakai baju apa hari ini?

415

hantu-hantu ketakutan.

416

Suara Mereka: Memaknai Lupus dengan Cinta (Winjani Prita Dewi)

417

ketidaktahuan adalah berkat.

418

memilih untuk setia.

419

Suara Mereka: Migrasi, Duka, dan Rindu Ingin Kembali (Martha Weruing)

420

kalau ibu punya pilihan 36 tahun lalu.

421

sepasang mata yang balas menatap.

422

Suara Mereka: Cahaya di Ujung Lorong Gelap

423

kita adalah titik tengah menanti ditemukan.

424

yang kau bilang gila itu siapa?

425

Suara Mereka: Harta yang Paling Berharga (Amanda Bernice)

426

yang bisa luka lakukan.

427

anak-anak semesta.

428

atas dasar ingin bahagia.

429

ibu kita, kartini.

430

membuka pintu menuju kebahagiaan.

431

Suara Mereka: Aku Mengingat Bulan dan Aku Menari (Putri Minangsari)

432

kata-kata adalah napas kehidupan.

433

lari dari patah hati.

434

Suara Mereka: Aku Mengingatmu dan Aku Rindu (Amelia Juanita)

435

tak ada cinta yang tulus.

436

sejatinya cinta adalah sebuah pengalaman.

437

Suara Mereka: Aku Mengingatmu dan Aku Berduka (Amanda Tandiary)

438

tempat paling aman di dunia.

439

hati yang tak lagi sempurna.

440

atas dasar diri sendiri.

441

lihat ke dalam, bukan ke luar.

442

cara terbaik merangkul duka.

443

Suara Mereka: Sesudah Gempa Itu (Christyaputri)

444

foyer brisé: broken home.

445

tentang air dan angkasa.

446

Suara Mereka: Adara dan Ekstra Satu Kromosom (Lisa Margaret)

447

Suara Mereka: Saat Cita-Cita Tak Jadi Nyata (Debora Defiyanti)

448

dewasa dan menjadi tua.

449

ingat, kita juga pernah bahagia.

450

Suara Mereka: Pelajaran tentang Menjaga Tutur Kata (Myra Saviera)

451

seribu tahun dari hari ini, siapa yang akan ingat kita?

452

mengambil waktu untuk diri sendiri.

453

Suara Mereka: Reda Tanpa Ari (Reda Gaudiamo)

454

menjadi orang yang biasa-biasa saja.

455

mencari, dan saling menemukan.

456

Suara Mereka: Lahir dari Dua Perbedaan (Carissa Atrianty)

457

sebuah permintaan kecil pada mimpi yang besar.

458

memperhatikan kesuksesan orang-orang.

459

Suara Mereka: Kisah Cinta dan Rahasia Yura (Yura Yunita)

460

cinta yang paling tulus.

461

sudah siap jadi orang besar?

462

Suara Mereka: Hidup dengan Vitiligo (Metta Mini)

463

pesan di akhir bulan ulang tahunku.

464

sesekali, kita perlu validasi.

465

Suara Mereka: Cantik Itu Apa? (Gabriella Dhillon)

466

kebebasan yang paling bebas.

467

jauh salah, dekat juga salah.

468

Suara Mereka: Lebih dari Sekadar Tubuh (Amita Kesia)

469

perjuangan manusia untuk belajar terbang.

470

asal muasal kekuatan manusia.

471

Suara Mereka: Adikku yang Spesial (Wulan Nabila)

472

menghargai apa yang kita punya.

473

berkenalan dengan awal lagi.

474

Suara Mereka: Tulang Punggung dalam Keluarga (Rasya Ardannary)

475

renungan penutup tahun.

476

belajar diam dan berhenti.

477

Suara Mereka: Yang Tengah, Yang Menengahi (Yenti Amelia)

478

mengamalkan pelajaran ikhlas.

479

spesial hari ibu: karena aku anak ibuku.

480

Suara Mereka: Jadi Ibu yang Tak Sempurna (Jessica Amadea)

481

melihat keberhasilan orang lain.

482

untuk kita yang sedang kecewa.

483

Suara Mereka: Setelah Papa & Mama Tak Ada (Claudia Rachel)

484

mereka yang hadirnya sebuah keajaiban.

485

jangan berpaku pada keberuntungan.

486

Suara Mereka: Stigma Hijab dan Kebebasan Berkarya (Idha Umamah)

487

kalau malam sedang gelap.

488

tentang manusia dan ketakutannya.

489

Suara Mereka: Menghadapi Perpisahan Kedua Orang Tua

490

kalau kita berbeda pendapat.

491

sajak cinta untuk kekasihku.

492

Suara Mereka: Hidup dalam Tuntutan Adat (Sally Manullang)

493

tentang pilihan dan konsekuensinya.

494

tentang cinta dan jarak di antaranya.

495

Suara Mereka: Membuka Hati untuk Cinta yang Baru (Olivia Siahaan)

496

waktu aku jalan-jalan sore.

497

sebagai wanita, dengan kuat dan lebihnya.

498

Suara Mereka: Perjalanan Mencari dan Menemukan Diri (Grace Mathilda)

499

tentang mengambil langkah pertama.

500

tanda-tanda kematian.

501

Suara Mereka: Cinta dari Seekor Kucing Tua (Agnes Hapsari)

502

teman yang baik itu seperti apa?

503

perihal keyakinan manusia.

504

Suara Mereka: Si Anak Sulung (Maria Cynthia)

505

pelajaran penting dari kehilangan.

506

tentang hati dan kepala.

507

Suara Mereka: Sejauh Rumah, Sedekat Rumah (Yunita Dewiyana)

508

menerima ketidaksempurnaan.

509

mungkin, kamu hanya perlu pulang.

510

Suara Mereka: Pulang ke Kampung Halaman (Ivonne Natalia)

511

arti kemewahan yang sesungguhnya.

512

jiwa yang muda dan berani.

513

Suara Mereka: Rekan & Kawan di Tempat Kerja (Misyel Wongkar)

514

perumpamaan tentang iri hati.

515

perihal bersikap peduli.

516

Suara Mereka: Menemukan Keberanian untuk Berpisah

517

lapisan-lapisan manusia.

518

mengapa hidup harus sirik amat?

519

Suara Mereka: Covid-19 & Hidup dalam Stigma (Amanda Auwdina)

520

pikiran adalah nahkoda yang handal.

521

kita kembali ke awal lagi.

522

Suara Mereka: Belajar Dewasa dari Hubungan (Aya Nabila)

523

belajar untuk ikhlas.

524

kekuatan tak kasat mata yang menyatukan dunia.

525

Suara Mereka: Menyatukan Cita-cita & Keinginan Orang Tua (Clarissa Priscilia)

526

tentang kita sebagai satu keluarga.

527

cerita sekuntum bunga.

528

Suara Mereka: Bicara Resign & Kegagalan (Dessya Paramitha)

529

memaknai seni kehidupan.

530

tentang gembok dan kunci.

531

Suara Mereka: Menjadi Ibu Saat Harus Kehilangan Ibu (Indriyani Hapsari)

532

dunia ini, panggung sandiwara.

533

mulai dari yang dekat.

534

Suara Mereka: Pasangan Terbaik dari Allah (Nadira Risma)

535

kita: generasi serba instan.

536

hubungan punya tanggal kadaluwarsa.

537

Suara Mereka: Melanjutkan Hidup tanpa Bapak (Putri Chrismita)

538

melewati masa berjaga.

539

menemukan lagi sesuatu yang hilang.

540

tak punya juga tak apa.

541

bagaimana kita bisa menghadapi kematian?

542

memahami cara kerja waktu.

543

pelajaran dari warna-warna cahaya.

544

cinta, tapi tak sampai.

545

dalam posisi kalah telak.

546

menjadi orang yang pemberani.

547

surat berisi catatan langit.

548

sekelibat pertanyaan di saat gelap.

549

jika perasaanku benar, kita akan jatuh cinta.

550

tentang manusia dan kesedihannya.

551

mimpi-mimpi sedih.

552

tentang perubahan.

553

rindu adalah batu berat di bahu.

554

tentang para pemimpi.

555

hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

556

catatan perjalanan: sebuah rumah.

557

catatan perjalanan: surat untuk abah.

558

kita selalu punya tempat.

559

pengecut yang takut jatuh.

560

berbagi sebelum penuh.

561

hukum aksi reaksi.

562

cerita dari motor biru langit.

563

tentang kegagalan manusia.

564

ingat kita, terkenang.

565

metamorfosa seorang pecundang.

566

sebuah opini tentang berkarya.

567

Hari Lebaran

568

Jika Suatu Hari

569

Cara Terakhir Mencintai

570

Ramadhan Tanpa Ibuku

571

Aku Ingin Melihatmu

572

Pertunjukan Drama Paling Jujur

573

Dapatkah Kutemukan Jalan Pulang?

574

Pesan Untuk Tuan

575

Ramadhan Tahun Ini

576

Asal Muasal

577

Hari ke-Tujuh

578

Manusiawi

579

Para Pendosa

580

Berpuasa

581

di pagi pertunanganku.

582

sesaat sebelum pandemi: berangkat kerja.

583

sesaat sebelum pandemi: lari pagi.

584

berkarya dari hati.

585

tentang yang sudah hilang.

586

ciri-ciri mahkluk hidup.

587

untuk mereka di perantauan.

588

meluruskan pikiran-pikiran kusut.

589

mencari tempat hati kita pulang.

590

perihal bersiap.

591

jadi orang baik.

592

canggung di lingkungan baru.

593

untuk doa yang jadi nyata.

594

yang kulakukan minggu ini.

595

aku hanya butuh kau ada.

596

badut: sebuah perasaan terdalam.

597

selamat datang kembali!

598

Soal Bersyukur dan Perbandingan

599

awal minggu yang buru-buru.

600

pendamping hidup yang mengerti.

601

kuburan mimpi [bagian kedua]

602

kuburan mimpi [bagian pertama]

603

agar cinta jadi berguna.

604

sedikit tentang suara puan.

605

Untuk Cindy

606

Untuk Ani

607

menuliskan hari jadi kita.

608

Untuk Larasati

609

Untuk Putri

610

cukup satu senyummu.

611

Untuk Mesia

612

Untuk Nur

613

mengapa kita dipertanyakan?

614

dan ia, hijau.

615

takut memulai lagi [bersama teman tidur]

616

isi hatimu adalah teka-teki.

617

dan ia, biru.

618

tiada hari tanpa rindu.

619

surat cinta untuk pacarku.

620

dan ia, jingga.

621

tak ada yang dapat menjamin jarak.

622

puan merayakan kata.

623

dan ia, merah.

624

bergerak lambat menuju tahun baru.

625

puisi untuk rumah kita.

626

merawat anjingku yang sakit.

627

hari raya [karena cinta ada bermacam-macam]

628

spesial hari ibu: sepotong surat untuk anakku.

629

la dolce vita!

630

cabang-cabang rindu.

631

suatu pagi penuh doa.

632

Era Kolaborasi Kata Puan: Sebelas

633

Era Kolaborasi Kata Puan: Sepuluh

634

cinta tak saling tahu.

635

sepucuk perpisahan [oleh christyaputri]

636

kau jelek bagaimana?

637

kerdil [oleh christyaputri]

638

Era Kolaborasi Kata Puan: Sembilan

639

Era Kolaborasi Kata Puan: Delapan

640

Era Kolaborasi Kata Puan: Tujuh

641

Era Kolaborasi Kata Puan: Enam

642

Era Kolaborasi Kata Puan: Lima

643

Era Kolaborasi Kata Puan: Empat

644

Era Kolaborasi Kata Puan: Tiga

645

Era Kolaborasi Kata Puan: Dua

646

Era Kolaborasi Kata Puan: Satu

647

kepada lelakiku yang jauh.

648

posesif [bersama teman tidur]

649

yang didoakan kala malam.

650

cerita tentang senja.

651

carmen arboris mundi [pohon kehidupan]

652

sebenar-benarnya, hanya kamu.

653

pemabuk [cerita yang sedang bahagia]

654

sudut jakarta yang lebih gelap.

655

di antara dua dunia.

656

tentang pulang dan rindu.

657

seribu wajah tuhan.

658

cerita minggu: pilihan itu ada padamu.

659

hidup dan pertanyaan-pertanyaan.

660

kepada hati yang sedang hancur-hancurnya.

661

tentang perasaan.

662

antara perempuan dan wanita.

663

warna [sebuah pertanyaan]

664

beling [akan pribadi terdalam]

665

bagaimana manusia menemukan surga.

666

kebun belakang rumah nenek.

667

pemahaman, nelangsa, menjelma, dan diri.

668

untuk segala sangsi dan pertanyaan mengapa.

669

waktu sedang hati-hati jatuh cinta.

670

tentang batu dan asam.

671

seluruh rinduku, milikmu.

672

menuliskanmu, karena selalu.

673

manakala kita, sepiring berdua.

674

berpulang pada senja.

675

berkenalan dengan kata puan.

676

apapun peranmu dalam semesta: jadilah.

677

cerita rabu: hanya akan jadi sekadar hari.

678

gadis lagu [sebuah kecintaan]

679

berduka di hari baik.

680

sesadar-sadarnya, percaya.