EPISODE · Dec 31, 2020 · 7 MIN
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Jumat, hari ke-8 Oktaf Natal, hari raya Santa Maria Bunda Allah, 1 Januari 2021
from La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy · host Media La Porta
Bacaan dibawakan oleh Kristina Retno dan renungan dibawakan oleh Nugrahanto (mereka adalah umat Gereja Santa Marai Bunda Segala Bangsa, Keuskupan Bogor, Jawa Barat). Bilangan 6: 22-27; Mazmur 67: 2-3.5.6.8; Galatia 4: 4-7; Lukas 2: 16-21. BUNDA YANG KEIBUAN Tema renungan kita pada hari pertama bulan Januari 2019 ini ialah: Bunda Yang Keibuan. Seluruh Gereja kita pada hari merayakan Hari Raya Maria Bunda Allah. Ini adalah sebuah perayaan besar untuk Bunda kita yang kita semua rayakan pada hari ke-8 setelah kelahiran Yesus Kristus. Pada hari ke-8 kelahiran-Nya ini juga, Yesus untuk pertama kali menumpahkan darah-Nya melalui ritual sunatan sesuai adat istiadat setempat. Bunda-Nya Maria, tentu sebagai orang yang paling bertanggung jawab untuk merawat luka pada Putera-Nya itu, yang bagi anak bayi amatlah sakit. Ibunda pasti berulang kali melap darah yang keluar selama luka masih belum sembuh. Darah merupakan simbol sangat kuat untuk menghubungkan seorang ibu dengan anaknya. Rahim ibu yang dihuni anak selama dalam kandungan memperlihatkan suatu hubungan darah yang tak terpisahkan antara keduanya, dan itu menjadi sangat jelas ketika bayi itu dilahirkan, ia bermandikan darah ibunya sebelum menikmati dunia baru di luar tubuh ibunda. Maria dan para ibu terus memperlihatkan betapa hubungan darah itu berlanjut sampai anak itu tumbuh menjadi besar dan dewasa. Bunda Maria menikmati hidup penuh dengan darah bersama Putera-Nya, khususnya selama di kaki salib di Golgota dan saat memangku jenasah Yesus Kristus, la pieta. Para ibu kita di dunia, tentu saja bersama suami atau bapa kita, merasakan betapa sakit di tubuh mereka jika anak-anaknya menderita. Darah mereka bagai mengalir deras tanda tak tahan penderitaan itu. Betapa mereka bersuka cita saat anak mereka bahagia, saat darah dalam tubuh mereka bersirkulasi baik sehingga mereka tampak ceria dan senang. Betapa susah senang anak-anaknya di dunia membuat darah mereka tenang, rendah, dan naik. Darah itu yang menyatukan ibu dan anak, sehingga hubungan ini pada prinsipnya hanya dapat diputuskan oleh kematian. Ini semua menggambarkan bahwa seorang bunda itu berhati keibuan. Wanita yang melahirkan kita itu keibuan karena kasih dan perhatiannya kepada kita sama dengan Tuhan Allah kepada kita ciptaan-Nya. Di hari istimewa Maria Bunda Allah ini, kiranya hati kita penuh dengan suka cita dan syukur. Natal yang mempertemukan kita dengan Yesus dan Keluarga Nazareth membuat suka cita kita penuh. Kita mesti memulai tahun ini dengan suka cita dan optimisme, dan itu adalah isi Injil yang akan kita wartakan. Figur bunda yang keibuan, pada dasarnya pada diri wanita, sangat sentral dalam hidup kita, maka kita mesti bersyukur sangat mendalam karena Tuhan amat baik memberikan karunia bunda, ibu, dan wanita kepada kita. Hidup kita tak bisa menjadi hidup yang sesungguhnya kalau tak punya seorang bunda yang keibuan. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Bapa maha baik, terima kasih berlimpah atas karunia Bunda Allah dan ibu kami masing-masing, jadikanlah kami anak-anak yang selalu setia pada ibu kami dan mendoakan mereka. Salam Maria... Dalam nama Bapa...
NOW PLAYING
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Jumat, hari ke-8 Oktaf Natal, hari raya Santa Maria Bunda Allah, 1 Januari 2021
No transcript for this episode yet
Similar Episodes
Mar 26, 2026 ·1m
Mar 19, 2026 ·34m
Feb 18, 2026 ·11m
Feb 11, 2026 ·45m