PODCAST · religion
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
by Media La Porta
Renungan harian katolik yang ditulis oleh Pastur Peter Tukan SDB. Diupdate setiap harinya.
-
1000
Reading and meditation on the Word of God on Tuesday of the 17th week in ordinary time, July 28, 2026
Delivered by Alice Budiman from the Parish of Salib Suci in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Jeremiah 14: 17-22; Rs psalm 79: 8.9.11.13; Matthew 13: 36-43.THE REAL WORLD IS THE FIELD FOR OUR STRUGGLE The theme for our meditation today is: The Real Worldis the Field for Our Struggle. There was a student studying in the city, washaving a phone call with his parents in the village. He told them about manytemptations that always bothered him, such as love relationship between boysand girls who were not enough mature, fights between friends, laziness ortiredness in study, and many other evil influences around him. His father whowas speaking with him then responded, "We in the village also have problemssuch as I argue many times with your mother, your brothers and sisters are lazyto work and study, and a very poor signal almost happens everyday." Our life everyday is full with distractions. Thisworld and every human person who inhabits in it becomes the field of workintended by Jesus Christ who was sent by the heavenly Father. He was willing todie for our goodness and salvation. Sin, evil influences, disturbances anddifficulties of any kind always make our lives not in peace. According to thetoday's reading, these are the weeds that disturb our lives as followers ofChrist. None of us can go free from the threat of these weeds. Even though you try to do good and always intend toplease those around you, but there are still some of them who dissatisfy,disagree, dislike, oppose, and envy at you. They are all weeds who have notolerance on you. However, Jesus never gives up or stops giving us His lovingattention. Jesus Christ does not abandon us, and the Holy Spirit faithfullyaccompanies us. This is the reality of this world. We cannot avoid this world's reality. We can onlystand on our feet, keep walking on our way, and must be able to equip ourselveswith all the commandments and guidance of the Lord. Like the prophet Jeremiahwho lamented that this real life is broken because of sin and it really hopesfor God's mercy, we also should have an optimistic view about a better life wecan achieve. This attitude surely will support our purpose of being at homewith one another and contribute our sharing of active participation for therenewal of our lives and the world we are in. Let us free ourselves from theview that sees this life merely a dream or an illusion that can lead people toa pessimistic attitude and hatred toward this real world. When people dream to escape from the real worldbecause they can't stand the situation right now, this maybe like a car thatpasses a long road where some times endures the rocky part and some timesenjoys the smooth part. The rear wheels continue to dream or fantasize as theysay: "We want to be in the front position in order to arrive first, buthow can we ...? Many of us often fall into such dream, which means that theyare not comfortable, not optimistic and not realistic about this life on thisworld. We hope we are not part of this type of people, because we are stillrealistic and optimistic about this life and because God Himself is always withus.Let'spray. In the name of the Father ... O God, the almighty Father, may the HolySpirit always enable us to renew the world and our lives, and our fidelity toJesus Christ never fades from the faith that we profess. Glory to the Fatherand to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...
-
999
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Selasa dalam pekan ke-17 masa biasa, 28 Juli 2026
Dibawakan oleh Christopher dan Matve Audre Sembiring dari Paroki Bunda Maria Banjar Baru di Keuskupan Banjarmasin, Indonesia. Yeremia 14: 17-22; Mazmur tg 79: 8.9.11.13; Matius 13: 36-43.DUNIA NYATA ADALAH MEDAN KITA BERJUANG Tema renungan kita pada hari ini ialah: Dunia Nyata adalah Medan KitaBerjuang. Ada seorang mahasiswa yang sedang kuliah di kota menelepon orangtuanya di kampung. Ia bercerita tentang banyaknya godaan yang mengganggunya,seperti pergaulan bebas laki-laki dan perempuan, perkelahian di antara teman,malas atau bosan belajar, dan banyak pengaruh jahat lainnya. Bapanya yangberbicara di telepon menanggapi, "Kami di kampung juga banyak gangguanseperti bertengkar dengan ibumu, adik-adikmu malas bekerja dan belajar dansinyal telepon yang hilang muncul sesukanya." Kehidupan kita sangat nyata penuh dengan gangguan. Dunia ini dan setiappribadi manusia yang mendiaminya menjadi pilihan Yesus Kristus yang diutus olehBapa ke dalam dunia. Ia rela mati demi kebaikan kita. Dosa, pengaruh jahat,gangguan dan kesulitan apa pun jenisnya selalu membuat hidup kita tidak damaidan tenang. Semua itu adalah lalang-lalang yang mengganggu hidup kita sebagaipengikut Kristus. Tidak ada seorang pun yang bebas dari gangguan apa pun didalam dunia ini. Namun Yesus tidak pernah menyerah atau berhenti memperhatikan kita. Andaberusaha berbuat baik dan senantiasa teratur dalam setiap kondisimu, namun disekitarmu tetap saja ada orang yang tidak puas, tidak setuju, tidak menyukai,masa bodoh, dan iri dengan dirimu. Semua itu adalah lalang yang tidak pernahmembuatmu bebas. Namun Yesus Kristus tidak lepas kontrol atas dirimu, dan RohKudus setia mendampingimu. Itu adalah kenyataan di dunia ini. Kenyataan di dunia ini tak bisa kita hindari. Kita hanya bisa mengambilsikap dan memiliki kemampuan yang dibekali dengan semua ajaran kebenaran dankebaikan dari Tuhan. Seperti nabi Yeremia yang meratapi kehidupan nyata iniyang rusak berantakan karena dosa dan sangat berharap belas kasih Allah, kitajuga berusaha untuk selalu optimis untuk kehidupan yang lebih baik. Sikap inimendukung rasa betah dan tetap berusaha aktif untuk membarui diri dan duniatempat kita berada. Orang mesti terlepas dari angan-angan, khayalan dan mimpiyang bisa membuatnya pesimis dan anti akan dunia nyata ini. Bermimpi untuk terlepas dari dunia nyata ini hanya karena tidak tahandengan situasinya saat ini, mungkin bisa disamakan dengan empat roda mobil yangberputar di atas bahu jalan berbatu dan aspal. Roda belakang terus sajabermimpi atau berkhayal: saya ingin berada di posisi depan biar tiba duluan,tapi kapan ya saya bisa... Banyak dari kita sering jatuh dalam angan-anganseperti ini, yang berarti bahwa mereka tidak betah, tidak optimis dan realististentang hidupnya di dunia ini. Semoga Anda dan saya tidak seperti ini, tetapitetap realistis dan optimis karena Tuhan ada bersama dengan kita. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Allah Bapa maha murah, semoga Roh Kudus senantiasamemampukan kami untuk membarui dunia dan hidup kami, dan kesetiaan kami kepadaYesus Kristus tidak pernah pudar dari iman yang telah kami akui. Kemuliaankepada Bapa... Dalam nama Bapa...
-
998
Reading and meditation on the Word of God on Monday of the 17th week in ordinary time, July 27, 2026
Delivered by Ria from the Parish of Good Shepherd in the Diocese of Surabaya, Indonesia. Jeremiah 13: 1-11; Rs psalm: Deut 32: 18-19.20-21; Matius 13: 31-35.WE ARE LIKE MUSTARD SEED AND YEAST The theme for our meditation today is: We Are LikeMustard Seed and Yeast. There was a friendship that was not between humanbeings, but between mustard seed and yeast. They both were kept in a shop, butit was not easy to locate them among the many big things being displayed. Onemorning the mustard seed said to his friend: "Hopefully today I have agood fortune." His friend responded, "What do you mean goodfortune?" Mustard seed replied: "Hopefully a buyer will buy me."They both agreed that they must indeed be useful when they are used by men. Both are immobile, wrapped securely in plastics, smallin size, and unnoticed among all other objects around them. If you were someonewho was in the shop but didn't want to buy anything, what you saw weredefinitely big and attractive things. You never took a slightest time to thinkand see small objects such as mustard seed or yeast. Only people who havespecific purpose for small objects, will try to find and buy them. Then theywill eventually be used according to those people's intentions. Jesus had made the Kingdom of God as the core of Histeaching to people who increasingly followed and heard Him day after day. Theyhad never received such teachings before from the time of Abraham and prophets.They never imagined what the kingdom of God looked like. However, Jesus was thepersonification of the Kingdom itself, He who was speaking and being with them.If there is a new teaching to be inserted into the hearts of people who arestill innocent, the teaching must start from the smallest and simplestbeginning. For those who are already full with knowledge and beliefs such asthe leaders of the Jews, things about the Kingdom of God must be taught withextreme complexity and patience. In using parables in His teaching, Jesus made use ofthings that were familiar and simple to the common understanding of the people,so that the complexity and the depth of divine message can be accepted by Hislisteners. If every day you read and listen to the word of God, this profile ofmustard seeds and yeast are enough to explain that this Word is preserved inyour mind and heart, and this will be the the power of God to renew yourself.If you regularly receive the Holy Communion, or regularly make yourconfessions, the profile of mustard seeds and yeast are enough to make you knowabout the growth of your faith though apparently hidden but real and will bearfruits in its proper time. The Lord puts His kingdom in us through variousevents and forms. All of these, even though hidden within us, are growing andnurtured by Him with or without our knowledge. When times of difficulty, trial,struggle, and sickness come, the power of His Kingdom will come out to help usspeak, act and behave.Let'spray. In the name of the Father ... O Lord Jesus, may we be a worthy place forthe growth of the Kingdom of God. Our Father who art in heaven ... In the nameof the Father ...
-
997
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Senin dalam pekan ke-17 masa biasa, 27 Juli 2026
Dibawakan oleh Bebby Antonia dan Bianca Maria Talita dari Paroki Bunda Maria Banjar Baru di Keuskupan Banjarmasin, Indonesia. Yeremia 13: 1-11; Mazmur tg: Ul 32: 18-19.20-21; Matius 13: 31-35.KITA SEPERTI BIJI SESAWI DAN RAGI Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kita Seperti Biji Sesawi dan Ragi.Ada satu persahabatan yang bukan terjadi di antara sesama manusia, tetapi diantara biji sesawi dan ragi. Mereka berdua dijual di toko, tetapi letaknyatidak kentara. Pada suatu pagi si biji sesawi berkata kepada temannya:"Semoga hari ini saya bernasib baik." Temannya menanggapi,"Maksudmu nasib baik apa?". Biji sesawi menjawab: "Semoga adapembeli yang membeli aku." Mereka berdua sepakat bahwa mereka memang harusberguna ketika dipakai manusia. Kedua benda ini tidak bergerak, dibungkus rapat, berukuran kecil, dantersembunyi dari semua benda lain di sekitarnya. Kalau Anda adalah seseorangyang sempat berada di toko namun tidak ingin membeli sesuatu, yang tampakpadamu ialah barang-barang yang besar dan mencolok. Anda tidak pernahmeluangkan waktu sedikit pun untuk berpikir dan melihat benda-benda kecilseperti biji sesawi atau ragi. Hanya orang yang memiliki maksud tertentu atasbenda-benda kecil itu, akan berusaha menemukan dan membelinya. Selanjutnyamereka akan digunakan sesuai dengan maksud orang tersebut. Yesus menjadikan kerajaan Allah sebagai inti pengajaran-Nya kepadaorang-orang yang kian hari kian bertambah mengikuti dan mendengar-Nya.Pengajaran seperti itu tidak pernah mereka dapatkan sebelumnya sejak zamanAbraham dan para nabi. Seperti apa kerajaan Allah itu tak pernah merekabayangkan. Padahal Yesus adalah personifikasi kerajaan itu sendiri yang sedangberbicara dan berada bersama mereka. Jika suatu pengajaran baru hendakdimasukkan ke dalam hati dan pribadi manusia yang masih polos, pengajaran ituharus mulai dari yang paling kecil dan sederhana. Bagi mereka yang sudah penuhdengan pengetahuan dan keyakinan lama seperti orang-orang Yahudi, hal tentangkerajaan Allah mesti diajarkan dengan sangat rumit dan penuh kesabaran. Banyak perumpamaan dipakai Yesus dengan benda-benda yang sudah biasa dansederhana supaya kerumitan itu dapat diuraikan. Jika setiap hari Anda membacadan dengarkan firman Tuhan, gambaran biji sesawi dan ragi ini cukup untukmenjelaskan bahwa firman yang Anda terima tersembunyi di dalam pikiran danhatimu, tetapi punya potensi untuk hidup yang membaharui dirimu. Jika Andamenerima Komuni Kudus secara rutin, atau dengan teratur melakukan pengakuandosa, profil biji sesawi dan ragi cukup memberimu kesadaran bahwa potensipertumbuhan iman sungguh nyata dan buah-buahnya tinggal dipanen pada masa yangtepat. Tuhan menaruh aspek-aspek kerajaan-Nya di dalam diri kita dalam anekaperistiwa dan bentuk. Semua itu meski tersembunyi di dalam diri kita, merekasedang bertumbuh dan dipelihara Tuhan meski sering di luar kesadaran kita. Didalam saat-saat sulit, pencobaan, perjuangan, dan pengungkapan diri kita, semuaitu akan tampil untuk membantu kita berbicara, berbuat dan bersikap.Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Yesus, semoga diri kami menjadi tempat yang layakbagi tumbuhnya Kerajaan Allah. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa...
-
996
Readings and meditation on the Word of God on the 17th Sunday in Ordinary Time, July 26, 2026
Delivered by Donna from the Parish of Holy Spirit in the Diocese of Surabaya, Indonesia. 1 Kings 3: 5.7-12; Rs psalm 119: 57.72.76-77.127-128; Romans 8: 28-30; Matthew 13: 44-52.WISE SACRIFICE The theme for our meditation on this 17thSunday in Ordinary Time is: Wise Sacrifice. There was an incident when a youngman who really loved the girl he has been following for a period of time, who wantedto express his will to marry her. The proposal was planned to be done on abridge over a wide and deep river, and witnessed by many people around there,with such a beautiful view. The young man brought a ring, a bounce of flowersand a precious gift. But before stating his most personal will, thebeautiful girl requested the young man to plunge into the river to prove herhis love. The young man immediately laid all things on the floor, took off hisshoes and jumped in. A moment later he returned to the bridge in a wetcondition and was about to declare his real will. But how shocked the young manand everyone around on the unpredicted reaction of the girl who rejected theyoung man's marriage proposal. She indeed ignored the young man who hassacrificed all to prepare everything and jumped into the river. This is an example of a futile sacrifice. Both thegirl and the young man have already made sacrifices, but the outcome wasnothing. There are so many experiences of vain sacrifice that are common in ourlives. There were people who have worked with good will, but they were notsupported by human or material resources, so they found only futility. Therewere those who have worked or done something with the support of sufficient oreven adequate resources, but they did not achieve the goal planned, which wasalso a futility. Some people were more likely to be relaxed, unfocused,lazy and delayed to work on what they supposed to make to its completeness,which eventually came as an outcome which was just a futility. Some of thosewho have done some sacrifices and works but only on certain occasions, thenthey would not continue any more the work. Actually, what it really needed wasconsistency and continuity. This was also a futile sacrifice. There are stillmany other similar examples. Today we are taught to overcome all those futile worksor sacrifices and we are led to embrace a wise sacrifice. A wise sacrificerequires us to focus on the highest goal that we want to achieve. All oursacrifices should help us to achieve that goal. For us believers and followersof Christ, our goal is primarily the kingdom of God. King Solomon asked forwisdom from that Kingdom and God gave it to him. We as followers of Christ havebeen called to that highest goal, therefore we sacrifice all our efforts andworks to achieve it.Let'spray. In the name of the Father ... O God, look and bless us, so that with thisSunday celebration we may become Your children who are diligent in the paththat leads us to You. Our Father who art in heaven ... In the name of theFather ...
-
995
Bacaan-bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Minggu Biasa ke-17 tanggal 26 Juli 2026
Dibawakan oleh Argita Febiola Oposumbu, Desi Manuela Widyotomo, Bianca Maria Talita, dan Bella Claudia Simanjuntak dari Paroki Santo Yohanes Pemandi di Keuskupan Banjarmasin, Indonesia. 1 Raja-Raja 3: 5.7-12; Mazmur tg 119: 57.72.76-77.127-128; Roma 8: 28-30; Matius 13: 44-52.PENGORBANAN YANG BIJAKSANA Tema renungan kita pada hari Minggu Biasa ke-17 ini ialah: Pengorbanan yangBijaksana. Ada suatu kejadian ketika seorang pemuda yang sangat mencintai gadisyang ditaksirnya sekian lama, ingin melamar wanita muda tersebut. Lamaran ituingin dilakukan di sebuah jembatan di atas sungai yang luas dan dalam, sertadisaksikan banyak orang di sekitar situ, dengan pemandangan yang begitu indah.Si pemuda membawa cincin, bunga dan sebuah bingkisan berharga. Tetapi sebelum menyatakan lamarannya, gadis cantik itu meminta supayapemuda itu terjun ke sungai untuk membuktikan cintanya itu. Si pemuda segeramenggeletakkan semua barang bawaannya, membuka sepatu dan terjun. Sesaatkemudian ia kembali ke jembatan dalam kondisi basah kuyup dan hendak menyatakanlamarannya. Tetapi alangkah kagetnya pemuda itu dan semua orang di sekitarnya,ternyata gadis itu menolak lamaran pemuda yang sudah berkorban menyiapkansegala sesuatu dan terjun ke sungai. Yang terjadi dengan kisah itu adalah contoh sebuah pengorbanan yangsia-sia. Baik gadis itu maupun si pemuda terlanjur melakukan pengorbanan,tetapi hasil akhirnya kosong. Ada begitu banyak pengalaman tentang pengorbananyang sia-sia yang ada di sekitar kita. Ada orang yang bekerja dengan modalkemauan yang baik, tetapi mereka tidak didukung oleh sumber daya baik manusiamaupun materi pendukung, maka pekerjaan itu sia-sia saja. Ada yang bekerja atauberbuat dengan dukungan sumber daya cukup bahkan memadai, tetapi tidak mencapaitujuan yang sudah direncanakan, itu pun pekerjaan yang sia-sia. Sebagian orang lebih cenderung santai, tidak fokus, malas dan menunda-nundauntuk bekerja dengan maksimal, akhirnya pekerjaan dan hasilnya yang diinginkanmenjadi sia-sia saja. Sebagian lagi yang memberikan pengorbanannya dalamberusaha dan bekerja namun hanya dalam kesempatan tertentu saja, sedangkan padakesempatan selanjutnya pekerjaan tersebut berhenti. Padahal yang sangatdiperlukan ialah konsistensi dan kontinuitas. Ini juga merupakan suatupengorbanan yang sia-sia. Masih ada banyak contoh lainnya yang serupa. Hari ini kita diajarkan untuk mengatasi semua pekerjaan atau pengorbananyang sia-sia itu dengan suatu pengorbanan yang bijaksana. Suatupengorbanan yang bijaksana menuntut kitauntuk fokus kepada tujuan tertinggi yang hendak kita capai. Segala pengorbanankita hanya untuk mencapai tujuan itu. Bagi kita orang beriman dan para pengikutKristus, tujuan kita terutama ialah Kerajaan Allah. Raja Salomo memintakebijaksanaan dari Kerajaan itu dan Allah memberikan itu kepadanya. Kitasebagai pengikut Kristus sudah terpanggil untuk tujuan yang tertinggi itu, olehkarena itu kita berkorban sekuat-kuatnya untuk mencapainya. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Allah, pandanglah dan berkatilah kami, sehingga denganperayaan hari Minggu ini kami dapat menjadi anak-anak-Mu yang tekun dalam jalanyang menuju kepada-Mu. Bapa Kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...
-
994
Reading and meditation on the Word of God on Saturday of the 16th week in ordinary time, July 25, 2026, Feast of Saint James, Apostle
Delivered by Bella from the Parish of Kristus Raja in the Diocese of Surabaya, Indonesia. 2 Corinthians 4: 7-15; Rs psalm 126: 1-2ab.2cd-3.4-5.6; Matthew 20: 20-28.THE RIGHT TO A POSITION Our meditation today has the theme: The Right to aPosition. Let us think for a moment in the light of this illustration. Youarrived home from an outside need. When the door was opened, you immediatelyfind a stranger sitting at the dining table, occupying the seat you normallyuse, and really enjoyed the dishes. What were your thoughts and feelings aboutthe incident? Huff! How dare that person entered my house without permission! That illustration describes how important and verypersonal for each of us entitled to the position that belongs to us. We havemany positions in which we stand, sit, lie down and being present at a moment.Our basic human rights justify the possessions that we have, especially to theplaces or spaces that belong to us, and there are basic human obligations torespect them too. If someone intentionally forces or pressures us to be out ofour own position, it is here that tension will definitely explode. Thereactions we usually give to this situation would be strong and perhaps violentrefusal. It is normally unacceptable for someone to allow his position ofwhatever degree to be taken up by others without using any good manner orcertain moral standard. We all understand that in this world in order to havea position, there is the right of every person to have it on one side, and theavailability of such position on the other, which is to be the obligation ofothers to provide and respect it. Today we encounter an example of thescriptures about two apostles, namely James and John, who with the help oftheir mother, wanted a special position for each of them in the kingdom of God.It is not wrong if they dared to claim their rights, because that was indeedthe price of the following of Christ. However, the Lord Jesus emphasized that this claim ofright is not an automatic thing to happen. A claim for right can only begranted if it is compatible with the obligation of other people done. A claimfor right must not be a blind act, meaning to say, it is only an independentact. Jesus teaches us today that our basic right to obtain a place in thekingdom of God really depends on these following conditions: We must first carry out our basic obligation, which isto drink the bitter cup which Jesus had already drunk when He was still onearth. It is a way of self-denial through a humble life, enduring varioushardships and suffering. God the Father, who is pleased with the act ofself-denial, will provide us with an appropriate position in His kingdom. Oneof the most concrete ways of self-denial is to serve others with selfless loveand not demanding to be served. Saint Paul in his second letter to the Corinthianscalls it as the death of our body, which always wants to be prioritized on thebasis of lust and desire of the flesh. The death of the body gives life to thespirit of life.Let'spray. In the name of the Father ... O Lord, purify our hearts from every desireof the flesh and lust for power, that we may become your genuine faithful. OurFather who art in heaven ... In the name of the Father ...
-
993
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Sabtu dalam pekan ke-16 masa biasa, 25 Juli 2026, Pesta Santo Yakobus, Rasul
Dibawakan oleh Joafina Paramita Silalahi dan Isaura Joansari Gultom dari Paroki Bunda Maria Banjar Baru di Keuskupan Banjarmasin, Indonesia. 2 Korintus 4: 7-15; Mazmur tg 126: 1-2ab.2cd-3.4-5.6; Matius 20: 20-28.HAK UNTUK SEBUAH POSISI Renungan kita pada hari ini bertema: Hak Untuk Sebuah Posisi. Marilah kitaberpikir sejenak dengan ilustrasi ini. Anda tiba di rumah dari suatu keperluandi luar. Saat pintu dibuka, Anda langsung menemukan seorang asing sedang dudukdi meja makan, menempati kursi yang biasa Anda pakai, dan sangat menikmatihidangan yang ada. Apa pikiran dan perasaan Anda tentang kejadian itu? Huff!Beraninya orang itu memasuki rumah tanpa ijin ya! Ilustrasi itu menggambarkan betapa penting dan sangat pribadi bahwa kitamasing-masing berhak atas posisi yang menjadi milik kita. Kita memiliki banyakposisi entah saat kita berdiri, duduk, berbaring, dan berada. Itu adalah hakasasi bahwa tempat dan ruang yang melingkupi kita adalah hak milik kita. Jikaseseorang sengaja mendesak atau menekan kita keluar dari posisi tersebut, pastiterjadi ketegangan. Reaksi yang kita berikan biasanya keras dan menolak. Tidakmudah bagi setiap orang untuk melepaskan hak milik posisinya diambil orang laindengan tidak melalui suatu cara yang layak dan beradab. Jadi di dunia ini keinginan dan kenyataan untuk mempunyai posisi sudahmenjadi pemahaman bersama bahwa setiap pribadi berhak atasnya di satu pihak danketersediaan posisi tersebut di lain pihak, yang menjadi kewajiban dari oranglain untuk menyediakannya. Kita mendengar kejadian dua rasul kakak-beradikYakobus dan Yohanes, dengan bantuan ibunya, menginginkan posisi keduanya didalam kerajaan Allah. Tidak salah jika mereka meng-claim haknya itu, karena memang itu adalah harga dari mengikutiKristus. Namun pada saat yang sama Tuhan Yesus mengajarkan bahwa penuntutan hakbukan suatu hal yang otomatis jadi. Suatu penuntutan hak hanya dapatterfasilitasi jika hak itu tepat dengan kewajiban yang dilakukan orang lain.Suatu penuntutan hak tidak boleh sebagai suatu tindakan buta, artinya hanyadipandang sebagai satu-satunya tindakan yang berdiri sendiri. Yesus mengajarkanbahwa hak dasar kita untuk mendapatkan tempat di dalam kerajaan Allahbergantung pada syarat ini: Kita harus menjalankan dahulu suatu kewajiban dasar, yaitu meminum cawanpahit yang juga diminum oleh Yesus. Itu adalah cara penyangkalan diri melaluihidup yang rendah hati, menanggung aneka kesulitan dan penderitaan. Allah Bapayang berkenan atas semua penyangkalan diri itu, bakal menyediakan posisi yangpantas bagi kita di dalam kerajaan-Nya. Salah satu cara penyangkalan diri yangpaling konkret dilakukan ialah melayani tanpa pamrih dan bukan dilayani. SantoPaulus dalam surat keduanya kepada jemaat di Korintus menyebutnya sebagaikematian atas tubuh kita yang selalu ingin diutamakan atas dasar nafsu dankeinginan daging. Kematian tubuh memberikan kehidupan bagi roh kita. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, murnikanlah hati kami dari setiap kecongkakan dannafsu untuk menang sendiri. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...
-
992
Reading and meditation on the Word of God on Friday of the 16th week in ordinary time, July 24, 2026
Delivered by Valeria Sandra Hendrawinata from the Parish of Saint Paul in the Diocese of Bandung, Indonesia. Jeremiah 3: 14-17; Rs psalm: Jer 31: 10.11-12ab.13; Matthew 13: 18-23.LISTENING AND UNDERSTANDING The theme for our meditation today is: Listening andUnderstanding. There is a question that is often raised to the people and alsoto the priests which goes like this: "Why in the moments of teaching,reflection, and homily, the listeners are not quite comfortable in listening toit but they are more often found sleepy? Just look at the time the priest givesa homily in the holy Mass, quite a lot of people who are sleepy." There are so many reasons. Weaknesses or deficienciescan be found out from the priest side and the people side as well. The weaknesspoint can be from the preacher himself or can be from his listeners. Quite anumber of people say that the listeners apparently can hear what is beingpreached or proclaimed but they do not understand it. This is considered as oneof the reasons why they are easilly bored and sleepy. These two mental andintellectual abilities, listening and understanding, play important roles inthe growth of our mental, spiritual, and social life. Listening is an activity that is supported by humanears, the instrument that is the first to receive messages that come to us.This activity is the same as seeing with the eyes and feeling with the skin.The messages that come and we are able to hear them are still raw. Forinstance, we feel a drop of water on our skin. This feeling does not meananything before it is processed in the brain so that it becomes a thought or anidea. Only then can an understanding occur in us. A new understanding is made fromthe listening process which is then made up by the mind, which eventuallyshapes new attitude, behavior and way of life. That is why Jesus is very firm in saying that a goodperson is the one who can hear and understand the Word of God that isproclaimed to him. If he only listens to it, he does not have a completegoodness from God. His understanding will never happen if he does not hear theWord of God. Such person with adequate ability to listen and understand is likethe good soil, that is when the Word of God comes to him, it will grow and bearmuch fruit in his life. In the activity of hearing and understanding we mustbe able to avoid some of these things: our hearts and minds seem to be like bigand small streets where the word of God falls there, then birds or chickenscome to eat it, and finally the word of God does not grow. We seem also likerocks with so little soil on it, and where the word of God grows on it, it doesnot take roots, and eventually withers when the sun becomes hot and it dies.Our hearts and minds seem like thorns and shrubs, then when the word of Godgrows, it will be crushed and threatened to death. By avoiding all thosedefects in ourselves, what remains is we as the good and fertile soil. Let'spray. In the name of the Father ... O God almighty, we pray that by Yourprovidence, we may become good and fertile soil so that your Word will flourishand ultimately bear much fruit. Hail Mary, full of grace... In the name of theFather ...
-
991
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Jumat dalam pekan ke-16 masa biasa, 24 Juli 2026
Dibawakan oleh Gregorius Danar Damanihuruk and Aldi Noel Silalahi dari Paroki Bunda Maria Banjar Baru di Keuskupan Banjarmasin, Indonesia. Yeremia 3: 14-17; Mazmur tg: Yer 31: 10.11-12ab.13; Matius 13: 18-23.MENDENGAR DAN MENGERTI Tema renungan kita pada hari ini ialah: Mendengar Dan Mengerti. Adapertanyaan yang sering diutarakan kepada umat dan juga para imam yang bunyinyakira-kira begini: mengapa di dalam sesi pengajaran, renungan, dan homili, parapendengar tidak cukup betah dalam mendengar namun mereka lebih sering kedapatanmengantuk? Lihat saja pada waktu imam memberikan homili dalam misa, cukupbanyak umat yang mengantuk. Ada begitu banyak alasan. Kesalahan atau kekurangan dapat diuraikan dandidaftar, baik itu dari pihak imam maupun umat. Baik itu dari pihak pewartamaupun dari pendengar. Cukup banyak orang mengatakan bahwa umat atau pendengarrupanya dapat mendengarkannya tetapi tidak mengerti. Ini dipandang sebagaisalah satu penyebab mereka mengantuk. Dua kemampuan intelektual ini, mendengardan mengerti, sama-sama berperan penting dalam pertumbuhan kejiwaan,kerohanian, dan hidup sosial seseorang. Mendengar merupakan kegiatan yang ditopang oleh indra telinga, oleh karenaitu harus menjadi yang pertama menerima pesan yang datang. Kegiatan ini samaseperti melihat dengan mata dan merasakan dengan kulit. Pesan yang datang dandidengar masih mentah. Kita merasakan sentuhan seperti terkena air pada kulitkita. Perasaan ini belum berarti apa-apa sebelum ia diproses di dalam otaksehingga menjadi sebuah pikiran. Di sini baru bisa terjadi pemahaman ataupengertian. Sebuah pengertian baru dibuat dari proses mendengar yang kemudiandiolah oleh pikiran, yang akhirnya membentuk sikap, perilaku dan cara hidupyang baru pula. Itulah sebabnya Yesus sangat tegas mengatakan bahwa seorang pribadi yangbaik ialah ia yang dapat mendengar dan mengerti Sabda Tuhan yang disampaikankepadanya. Kalau ia hanya mendengar, ia baru setengah baik. Ia juga tidak bisalangsung mengerti jika belum mendengar Sabda itu. Orang seperti ini diumpamakansebagai tanah yang baik, yaitu kemampuannya untuk mendengar dan mengerti secarabaik, sehingga ketika Sabda Tuhan datang kepadanya Sabda itu akan tumbuh danberbuah banyak di dalam hidupnya. Dalam proses mendengar dan mengerti itu kita mesti dapat menghindaribeberapa hal ini: hati dan pikiran kita seperti jalanan besar dan kecil di manasabda Tuhan jatuh di situ lalu burung dan ayam datang memakannya, akhirnyasabda Tuhan tidak tumbuh. Kita juga seperti bebatuan dengan tanah tipis diatasnya, di mana sabda Tuhan tumbuh tapi tidak berakar, akhirnya layu ketikakena panas matahari dan mati. Hati dan pikiran kita seperti duri-duri dan semakbelukar, di mana sabda Tuhan akan terhimpit dan terancam mati. Denganmenghindari semua itu, yang tinggal adalah diri kita sebagai tanah yang subur. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Allah maha kuasa, jadikanlah diri kami tanah subur supayaSabda-Mu bertumbuh subur dan akhirnya berbuah melimpah. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa ...
-
990
Reading and meditation on the Word of God on Thursday of the 16th week in ordinary time, July 23, 2026
Delivered by Father Peter Tukan, SDB from Salesian Don Bosco Gerak in the Diocese of Labuan Bajo, Indonesia. Jeremiah 2: 1-3.7-8.12-13. Rs psalm 36: 6-7ab.8-11; Matthew 13: 10-17.WAY TO UNDERSTAND HIM Our meditation today has the theme: Way To UnderstandHim. There were three girls who fell in love with a young man who was of theirage. Each girl always tried to win the heart of the young man with her best wayof appearance. Sometimes they competed unfairly in the manner that one tendedto highlight the weaknesses of her other friends. Sometimes they competed in ahealthy and positive way in order to show the real personality each of them. The young man also had his own way to appear nicely toeach girl who was so fond of him. As time went on, each of them became boredand tired. The three girls were confused about who really deserved to be thebest and chosen, because it was not possible for all three of them to bechosen. The three of them agreed to discuss about this. They finally concludedthat the young man would definitely have his own way to understand them and tochoose only one whom he loved. This illustration shows how love is expressed. Aself-expression certainly has a peculiar quality to make other people havetheir impressions on it. A good impression would normally develop the feelingof attraction. A guitarist appears so talented, then those who have passion formusic would be attracted to him. A person's self-expression aims to make otherpeople understand about him and they normally support him. If this is a kind of human attractiveness that deservesappreciation by all of us, it should be all the more the attractiveness ofGod's love that always move our hearts to be in love with Him and to love ourfellow brothers and sisters as well. The Lord first revealed Himself to ushumans. The quality and power of the expressions of His love are beyond the oneof ours, simply because God incarnates in us. Through incarnation He purifies,empowers and perfects our lives in the world. He reveals Himself in order tosanctify the world and all of us. To the Israelites, God had revealed Himself as theLord who was so kind and merciful to them for their obedience and faithfulness.But He also became the Lord who had punished this people because of theirungratefulness and sinfulness. Jesus also made His listeners understand Himthrough His various ways of preaching or teaching. He uses parables, so thatHis listeners understand that He is so concerned about those who are humble,suffering, alienated and persecuted. He also opened the mind of those who aregreat, powerful, rich, proud, and smart but they were not willing to accept andunderstand Him. So we have a duty to be always ready to understand theLord who reveals Himself through His words and deeds that help our faith grow.But we also have the same important task to make our neighbors understand usfor the witnesses of our faith. This is also the way we serve others. Let'spray. In the name of the Father ... O Lord Jesus Christ, help us to always havegood and true understanding about You and our neighbors. Our Father who art inheaven ... In the name of the Father ...
-
989
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Kamis dalam pekan ke-16 masa biasa, 23 Juli 2026
Dibawakan oleh Yohanes Sukardi dan Onny Pakendek dari Paroki Santa Maria Assumpta Kota Baru Kupang di Keuskupan Agung Kupang, Indonesia. Yeremia 2: 1-3.7-8.12-13; Mazmur tg 36: 6-7ab.8-11; Matius 13: 10-17.CARA UNTUK MENGERTI DIA Renungan kita pada hari ini bertema: Cara Untuk Mengerti Dia. Ada tigagadis jatuh cinta kepada satu pemuda yang hampir seumur dengan mereka.Masing-masing gadis berusaha tampil sebaik mungkin untuk memenangkan pujaanhatinya itu. Kadang mereka bersaing kurang sehat karena yang satu menonjolkankejelekan temannya yang lain. Kadang-kadang mereka bersaing sehat dan positifseperti menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Pemuda itu juga mempunyai strategi untuk tampil secara positif kepadamasing-masing gadis yang menyukainya. Sekian waktu berjalan, masing-masing darimereka menjadi bosan dan lelah. Khususnya ketiga gadis itu, masing-masing darimereka justru bingung tentang siapa sesungguhnya yang pantas dipilih, karenatidak mungkin ketiga-tiganya dipilih. Mereka bertiga berdiskusi tentang ini,dan mereka akhirnya sepakat bahwa pemuda itu mempunyai caranya sendiri untukmengerti dan memilih salah satu yang dicintainya. Ilustrasi ini menunjukkan seperti apa cinta itu diungkapkan. Ungkapan diriseseorang tentu memiliki kekhasan sehingga orang lain yang mendapatkan kesannyasesuai dengan daya tariknya. Seorang pemain gitar tampil begitu berbakat, makamereka yang mempunyai kesukaan dengan musik tertarik kepadanya. Ungkapan diriseseorang itu bertujuan untuk membuat orang lain mengerti tentang dia danmendukung dia. Kalau hal ini merupakan tindakan manusia yang layak untuk diapresiasi,justru tindakan kasih Tuhan yang jauh lebih meyakinkan dan menarik perhatiankita. Ia telah lebih dahulu mengungkapkan diri-Nya kepada manusia. Kualitas dankekuatan ungkapan cintanya jauh melebihi ungkapan manusia, karena Tuhan ituberinkarnasi. Ia membuat yang suci, mulia dan sempurna masuk ke dalam hidupkita di dunia. Ia mengungkapkan diri untuk menguduskan dunia dan kita semua. Kepada bangsa Israel, Allah mengungkapkan diri-Nya sebagai Tuhan yangberbaik hati ketika umat-Nya taat dan beriman dengan benar, tetapi juga Tuhanyang menghukum kalau mereka melawan dan berbuat dosa. Yesus juga membuat parapendengar-Nya mengerti Dia melalui pengajaran-Nya. Ia memakaiperumpamaan-perumpamaan, agar mereka mengerti bahwa Ia sangat memperhatikanmereka yang kecil, rendah hati, menderita, terasing dan teraniaya. Ia jugamembuka pemahaman kepada orang-orang besar, penguasa, kaya, congkak, namunmereka tidak rela menerima dan mengerti Dia. Jadi kita memiliki tugas untuk selalu ingin mengerti Tuhan yangmengungkapkan diri-Nya melalui firman-Nya dan ungkapan iman kita. Tetapi kitajuga mempunyai tugas yang sama pentingnya yaitu membuat sesama kita dapatmengerti kita. Ini adalah juga cara kita melayani orang lain. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Yesus Kristus, bantulah kami untuk selalu memilikipengertian yang baik dalam berhubungan dengan sesama kami. Bapa kami yang adadi surga ... Dalam nama Bapa...
-
988
Reading and meditation on the Word of God on Wednesday of the 16th week in ordinary time, July 22, 2026, Feast of St. Mary Magdalene, Holy Woman
Delivered by Monika Kimberly from the Parish of Good Shepherd in the Diocese of Surabaya, Indonesia. Song of Songs 3: 1-4a; Rs psalm 63: 2.3-4.5-6.8-9; John 20: 1.11-18.PARTICIPATING IN THE LOVE OF CHRIST Our meditation today has the theme: Participating inthe Love of Christ. "Why does the bible say that love is demanding?" Agirl once expressed this to her boyfriend who was always ready to pick her upevery time she went to work and came from work as well. The young man answeredher confidently, "If someone is moved by love, then he is happy to dothings with good ways to achieve a good purpose. He is not forced to dothat." Their relationship grew well and healthty because their motivationis love. Today we celebrate the feast day of Saint MaryMagdalene. This Jewish woman at the time of Jesus was known to be very close toJesus. She was the first person to witness Jesus rose from death. This veryclose relationship should be a lesson for us about love. Our point ofreflection here is the love of Jesus, which is to offer Himself for thegoodness and salvation of His fellow men and women. When its right time and place come, the act of lovedemands. At most, perhaps there is 90 percent of its power encourages someoneto love such as being patient, understanding, kind and generous. The remaining10 percent perhaps shown in doubt, fear, reluctance, confusion, and lack ofunderstanding. Mary Magdalene in that particular moment of her life respondedto the love of Jesus in an imperfect condition, but she continued to followJesus with all her strength and will. The climax of her spiritual experience was when she wasso tremble in fear to find out that the tomb of Jesus was empty, and she wasrather difficult to recognize the risen Jesus until Jesus revealed Himself toher, then she immediately recognized the risen Lord. Mary Magdalene certainly had learned a lot about thelove of Christ. In various occasions after following Christ, she lived by thatlove she had taken from her Teacher. In general, she was faithful to Jesus, forinstance she was in Jesus' company along the way of the cross until His death,then she grieved over the empty tomb and eventually found Him alive as therisen one. However, another prominent experience of love that strengthened herspiritual life was the biblical prove of her courage and joyfulness inproclaiming to rest of the Lord's followers, as she said "I have seen theLord". In doing so, Mary Magdalene indeed merited her beingan apostle of Jesus who was the true paschal messenger to the first Church inJerusalem, and all of us in this world. Today she gives us a challenge, inthese words: "I had taken my part from the love of our Master, JesusChrist, so now it is your turn. Don't let the precious fragrance of the love ofJesus Christ go in vain without being experienced. There is a simple questionfor our reflection that may help us to experience the closeness with the Lord:Do you experience right now the love of the Lord Jesus Christ? Let'spray. In the name of the Father ... Thank you Lord Jesus Christ for Yourselfand Your teaching on love. Stay with us always and fill us with your love. HailMary, full of grace ... In the name of the Father ...
-
987
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Rabu dalam pekan ke-16 masa biasa, 22 Juli 2026, Pesta St. Maria Magdalena, Wanita Kudus
Dibawakan oleh Maria Belino Lasar dari Paroki St. Laurensius Hadakewa di Keuskupan Larantuka, Indonesia. Kidung Agung 3: 1-4a; Mazmur tg 63: 2.3-4.5-6.8-9; Yohanes 20: 1.11-18.MENGAMBIL BAGIAN DALAM CINTA KASIH KRISTUS Renungan kita pada hari ini bertema: Mengambil Bagian Dalam Cinta KasihKristus. "Mengapa kitab suci berkata bahwa cinta kasih itu menuntut?"Pertanyaan ini dari seorang pemudi terhadap pacarnya yang selalu mengantar danmenjemputnya setiap kali pergi dan pulang dari kerja. Pemuda itu menjawabsingkat, "Kalau seseorang didorong oleh cinta, maka ia bahagia untukmelalukan apa yang bertujuan untuk kebaikan. Ia tidak terpaksa untuk melakukanitu." Benar sekali, hubungan mereka tumbuh dengan baik dan indah. Hari ini kita memperingati Santa Maria Magdalena. Ia adalah seorangperempuan Yahudi pada zaman Yesus dikenal sangat dekat dengan Yesus. Ia adalahorang pertama yang menyaksikan Yesus bangkit. Hubungan yang amat dekat inidapat menjadi pembelajaran cinta bagi kita. Patokan kita ialah cinta kasihYesus, yaitu persembahan diri bagi kebaikan dan keselamatansahabat-sahabat-Nya. Pada saat dan waktu yang tepat perbuatan cinta itu menuntut. Sebagianbesar, mungkin 90 persen, cinta itu mendorong seseorang untuk mencintai,sementara sisanya 10 persen mungkin berisi keraguan, takut, malu, bingung, dankurang paham. Maria Magdalena membalas semua cinta kasih Yesus dalam kondisiyang tidak sempurna. Puncaknya ialah ketika ia ketakutan dalam mencari jenazahYesus di makam, dan agak sulit mengenali Yesus yang bangkit sebelum Yesussendiri memanggil namanya. Dalam situasi seperti inilah, cinta itu cenderungmenuntut, yang dengan itu memengaruhi supaya Maria segera mengakui bahwa ituadalah Tuhan yang bangkit. Maria Magdalena tentu sudah belajar banyak tentang cinta kasih Kristus.Dalam aneka perbuatannya setelah mengikuti Kristus, ia ungkapkan cinta kasihitu yang telah diambil dari Gurunya. Umumnya, ia memiliki kesetiaan dalammengikuti Kristus hingga mendampingi-Nya saat Gurunya itu wafat di salib, laluia bersedih mencari-Nya di makam dan akhirnya menemukan Dia. Namun yang palingmenonjol aspek cinta kasih yang diambil dari Yesus Kristus ialah ia sungguhmemiliki suka cita, keberanian, semangat, kebenaran dan ketulusan untukmewartakan kepada rekan-rekannya, bahwa “Aku telah melihat Tuhan”. Dengan bertindak seperti ini, Maria Magdalena ingin menginspirasi pararasul dan kita semua yang mendengarkan firman ini, seolah-olah menantang kita:ayolah, aku sudah ambil bagianku dari cinta kasih Guru kita, Yesus Kristus,maka kini giliran kalian untuk mengambil bagian dari cinta kasih Yesus itu.Jangan biarkan keharuman cinta kasih Yesus Kristus itu sia-sia saja, tanpadisukai dan diambil. Pertanyaan sebagai tantangan dan refleksi bagi kita ialah:Anda cocok untuk aspek cinta kasih apa yang dapat Anda ambil dari YesusKristus? Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Terima kasih ya Tuhan Yesus Kristus atas diri-Mu danajaran-Mu tentang cinta kasih. Kuatkanlah dan penuhilah kami dengan cintakasih-Mu itu. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
-
986
Reading and meditation on the Word of God on Tuesday of the 16th week in ordinary time, July 21, 2026
Delivered by Vici from the Parish of St. John the Baptist in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Micah 7: 14-15.18-20; Rs psalm 85: 2-4.5-6.7-8; Matthew 12: 46-50.THE STAFF OF GOD'S POWER Our meditation today has the theme: The Staff of God'sPower. In many political traditions a staff or stick is used as a symbol ofpower. We remember Moses who used a staff to show that the power of God was atwork in him, when he was in his mission to lead the people of God to where theLord led them. Kings and presidents of various countries also use staff whichis the symbol of the power they hold. In the Church, the Pope and Bishops havealso staff with the similar meaning. The staff that is made of wood or metal refers to thepower or authority of the person who uses it. Even a stick of wood which isused by father or mother at home is enough to give us understanding that ifchildren violate the rules, they will be subjected to punishment be beaten withthe stick. Seeing what this staff or stick signifies, now we can furtherunderstand why in the scriptures Godalways reveals His power through the symbolic staff being used by His chosenfigures who had so important duty to do. Today we listen to the Lord who says through theprophecy of Micah in the first reading, that He Himself shepherded His peoplewith His staff. Jesus the good shepherd also carried out the pastoral works byusing the high priest's staff, which until now has been symbolized by the Popeand Bishops. With that staff, the duty as leader and shepherd have itslegitimacy and strength to demand obedience and reliance from people who aresubjected to it. The staff of God has its powerful function in thepurification and deliverance of men and women believers from the power ofdarkness and sin. Satan, the ruler of darkness, when confronted with the powerof God that is symbolized by the staff, he will fall trembling and fear. Thatwas evident in every action of Jesus who was always present through words anddeeds, which instantly frightened the Satan who asked not to be tortured. Thisis the role of to the staff of God, that is to cast all our sins and to bethrown into the sea, says the prophet Micah. So we must look at the staff when it is shown to us insuch manner being held by the person in power, it is made as a support when westand, or when it is used to emphasize on something so important. Jesus referredto all the power that existed in Him, when He spoke that His true disciples andapostles were indeed His mother and His brothers. This statement of Jesussurely contains the teaching that is full with authority. This teaching isabout to carry out God's will which is to be the main task of every follower ofChrist. The staff of Jesus until now is in the hands of the Pope and the Bishopsof the Church. We must listen and follow our Holy Father and our Bishop.Let'spray. In the name of the Father ... O Lord, may our fidelity and obedience tothe Church always be strong and lasting especially through our obedience to theHoly Father and Bishop. Glory to the Father and to the Son and to the HolySpirit ... In the name of the Father …
-
985
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Selasa dalam pekan ke-16 masa biasa, 21 Juli 2026
Dibawakan oleh Veronika Genua dari Paroki St. Martinus Roworeke di Keuskupan Agung Ende, Indonesia. Mikha 7: 14-15.18-20; Mazmur tg 85: 2-4.5-6.7-8; Matius 12: 49-50.TONGKAT KUASA TUHAN Renungan kita pada hari ini bertema: Tongkat Kuasa Tuhan. Tradisi dalambanyak budaya politik menjadikan tongkat sebagai simbol kekuasaan. Kitamengingat Musa memakai tongkat untuk menampilkan kuasa Allah yang bekerja dalamdirinya untuk memimpin bangsa dan umat Allah. Para raja dan presidennegara-negara juga memakai tongkat dengan makna simbolik kekuasaan yang merekamiliki. Di dalam Gereja, tongkat uskup juga memiliki makna serupa. Tongkat yang terbuat dari bahan entah kayu entah logam sangat melekatdengan kekuasaan atau otoritas orang yang memakainya. Bahkan rotan ataupotongan kayu lurus yang dipakai bapak atau ibu di rumah cukup memberikanpemahaman bahwa jika anak-anak melanggar aturan hukumannya ialah pukulan dengankayu itu. Dalam semua pemandangan dengan tongkat ini, kita dapat mengerti lebihlanjut mengapa Tuhan selalu mengungkapkan di dalam kitab suci kuasa-Nya yangdisimbolkan dengan tongkat. Ia berkata dalam nubuat Mikha dalam bacaan pertama hari ini bahwa Iamenggembalakan umat-Nya dengan tongkat-Nya. Yesus sang gembala yang baik jugamenjalankan tugas penggembalaan itu dengan memakai tongkat imam agung, yanghingga saat ini disimbolkan pada Paus dan para uskup. Dengan tongkat itu,tugas-tugas sebagai pemimpin dan gembala memiliki legitimasi dan kekuatan untukmendapatkan ketaatan atau kepatuhan dari orang-orang yang dipimpin. Tongkat kuasa Tuhan, memiliki fungsi untuk suatu pemurnian dan pembebasanmanusia dari kuasa kegelapan dan dosa. Setan dan penguasa kegelapan ketikaberhadapan dengan kuasa Allah yang dilambangkan dengan tongkat, ia menjadiketakutan. Itu terbukti dalam setiap tindakan Yesus yang selalu hadir melaluikata-kata dan hardikan, yang langsung membuat para setan menjadi takut danmemohon untuk tidak disiksa. Berkat tongkat kuasa Tuhan itu, segala dosa kitadapat dicampakkan ke dalam dasar laut, demikian kata nabi Mikha. Jadi kita mesti memandang tongkat saat ditunjukkan kepada kita apakah dalamposisi dipegang, dijadikan penopang pada saat berdiri, atau saat menunjukkandan menegaskan sesuatu dalam suatu proses pengajaran. Yesus menunjuk dengansegala kuasa yang ada pada-Nya, ketika Ia mengajarkan bahwa para murid danrasul sesungguhnya adalah ibu-Nya, dan saudara-saudara-Nya. Penegasan ituberisi suatu ajaran yang penuh kewibawaan dan prinsip. Ajaran itu ialah bahwamelaksanakan kehendak Allah merupakan tugas utama setiap pengikut Kristus.Tongkat kuasa Yesus itu sampai detik ini berada pada tangan Paus dan Uskup ditempat kita masing-masing. Kita harus mendengar dan mengikuti Bapa Suci danUskup kita. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, semoga kesetiaan dan ketaatan kami kepada Gerejasenantiasa kuat dan bertahan, khususnya melalui ketaatan kami kepada Bapa Sucidan Uskup kami. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam namaBapa.
-
984
Reading and meditation on the Word of God on Monday of the 16th week in ordinary time, July 20, 2026
Delivered by Evelyn Lumanta from the Parish of Santo Laurensius in the Diocese of Bandung, Indonesia. Micah 6: 1-4.6-8; Rs psalm 50: 5-6.8-9.16bc.17.21.23; Matius 12: 38-42.UNFAITHFULNESS The theme for our meditation today is: Unfaithfulness.There was a man who got a job from the company to work outside the city forthree to six months. During this time he did not return to his home and family.Communication with his wife and children was done via online messages and videocalls. When he returned home after finishing the job, hefound out that almost everything in the house was normal and good, except forhis two beloved dogs who were no longer familiar with him. The two dogs reallyignored him, even though he wanted to play with them. His youngest son, eightyears old, said this to him: "The problem is that you haven't been closeand played with them, so they have become strangers to you." Infidelity happens in our relationship with oneanother is caused by many factors, and one of them is that people are not closeto each other, they do not communicate, there is no news shared and there is nosharing of attention between them. This also happens between us and the Lord.There is a long history about people who have been unfaithful to God which inthe end they must be subjected to the punishment imposed on them because oftheir infidelity. The Lord Jesus was sent by the Father into the world to bringthem back to faithfulness and true faith. The people of God, and especially theIsraelites, were expected to be the first to renew this broken relationship andto walk on the new way initiated by Jesus Christ. However they did not even want to know and acknowledgeJesus. They asked for signs that could help them to believe in Jesus Christ.This is what made Jesus gave them a very strong reaction. They openly opposedGod by rejecting and not recognizing that Jesus was sent by God whom theybelieved according to the faith of their fathers. This is a great sin ofunfaithfulness. They preferred such worldly things like money, position, fleshpleasure, social status, fame, then God alone and His teachings brought by Jesusof Nazareth was not their priority. According to Jesus Christ, this sin is asin against the Holy Spirit, and it will never be forgiven. The temptation to deny God by making Him not ourpriority in life is really very big. In general there are three greattemptations that threaten us any time and anywhere in this world namely money,power and flesh. The prophet Micah said that we need to be sincere aboutourselves: whether we can overcome the temptation or we are always overcome byit, the world around us is the witness. If we stay with God and let ourselvesto be guided by the Holy Spirit, we are the ones who overcome temptation. Let'spray. In the name of the Father ... Our almighty God, may Your Spirit help usto be faithful always in the way of Your Son Jesus Christ, and keep us from alltemptations that cause us to be away from Your path. Hail Mary, full of grace... In the name of the Father ...
-
983
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Senin dalam pekan ke-16 masa biasa, 20 Juli 2026
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Mikha 6: 1-4.6-8; Mazmur tg 50: 5-6.8-9.16bc.17.21.23; Matius 12: 38-42.KETIDAKSETIAAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Ketidaksetiaan. Ada seorang lelakimendapat tugas dari perusahaan untuk bekerja jauh dari rumah dan di luar kotaselama tiga sampai enam bulan. Selama waktu tersebut ia tidak kembali ke rumahdan keluarganya. Komunikasi dengan sang istri dan anak-anaknya tetap dilakukanmelalui pesan-pesan singkat online dan telepon video. Pada saat ia kembali ke rumah setelah tugas tersebut, hampir semua keadaandi rumah normal dan baik, kecuali dua anjing kesayangannya yang sudah tidakakrab lagi dengannya. Kedua anjing sangat tidak menghiraukannya, meskipun iaingin bermain-main dengan mereka. Anak bungsunya yang berusia delapan tahunberkata kepadanya: "Masalahnya Bapak sudah lama tidak dekat dan bermaindengan mereka, maka mereka menjadi asing dengan Bapak." Banyak faktor di dalam hidup kita yang menjadi penyebab sikap tidak setiadi antara kita, dan salah satunya ialah orang-orang tidak dekat satu sama lain,tidak berkomunikasi, tidak ada berita dan tidak ada jalinan perhatian di antaramereka. Hal ini juga terjadi antara manusia dengan Tuhan Allah. Ada sejarahpanjang dan banyak tentang manusia yang tidak setia dengan Tuhan yang berakibatpada hukuman dijatuhkan kepada mereka yang tidak setia. Tuhan Yesus diutus Bapake dalam dunia untuk mengembalikan mereka kepada kesetiaan dan iman yang benar.Umat beriman, dan khususnya Israel diharapkan sebagai yang pertama memperbaikihubungan yang telah rusak ini. Tetapi mereka malah tidak mau mengenal dan mengakui Yesus. Mereka memintatanda-tanda yang menurut mereka harus membuat mereka percaya. Ini yang membuatYesus melawan mereka dengan tegas. Mereka dengan terang-terangan melawan Tuhandengan menolak dan tidak mengakui bahwa Yesus adalah wujud Allah sendiri yangmereka percaya. Ini adalah dosa ketidaksetiaan yang amat besar. Mereka lebihmemilih materi, uang, posisi, kenikmatan daging, status sosial, ketenaran, laluTuhan dilupakan. Menurut Yesus sendiri, dosa ini adalah dosa melawan Roh Kudus,dan tidak dapat diampuni. Godaan untuk menyangkal Tuhan dengan menjadikannya bukan utama danprioritas di dalam hidup kita sungguh sangat besar. Pada umumnya ada tigagodaan besar yang mengancam kita setiap saat dan di mana saja, yaitu harta,kekuasaan dan nafsu kedagingan. Nubuatnabi Mikha mengatakan bahwa kita perlu tulus tentang diri kita: apakah kitadapat mengalahkan godaan itu atau sebaliknya kita yang selalu dikalahkanolehnya, karena dunia di sekeliling kita menjadi saksinya. Kalau kita tetapbersama Tuhan dan memberikan diri untuk dibimbing Roh Kudus, kita yangmengalahkan godaan. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Tuhan maha kuasa, semoga Roh-Mu membantu kami untuksenantiasa setia di jalan Putra-Mu Yesus Kristus, dan jauhkanlah kami darisegala godaan yang menyebabkan kami semakin jauh dari jalan-Mu. Salam Maria,penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
-
982
Readings and meditation on the Word of God on the 16th Sunday in Ordinary Time, July 19, 2026
Delivered by Javinsen, Claire and Celine from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Wisdom 12: 13.16-19; Rs psalm 86: 5-6.9-10.15-16a; Romans 8: 26-27; Matthew 13: 24-30.THE ENEMY GIVES US OPPORTUNITY The theme for our meditation on this 16thSunday in Ordinary Time is: The Enemy Gives Us Opportunity. A high schoolstudent got praise and gifts from his parents for achieving best grades for allthe subjects in his study. This somehow surprised everyone in the familybecause they still remembered of his grades at the beginning of school thatwere far from expectation. He even got a number of red marks. Why did he change so quickly with his studyachievements when he was in the second and third grade? Did he cheat duringexam in order to get satisfactory grades? These are the common questions thatwere always addressed to him. To those who asked these questions, the boyalways answered wisely, as he said: "Every friend of mine who gets bettergrades than me is my challenger in study, even I want to be better thanhim." This boy continued to follow this way until he finished high school. That teenager's experience is an example of a healthyand good competition. There is also unhealthy and bad competition, which goesthrough bad ways to pursue its goals. In every competition, each competingparty considers its counterpart as an enemy. There are enemies who becomefriends of competition and struggle, so we can be helped to achieve progressand success. Enemies of this quality are considered good enemies, because theygive us the opportunity to become better. But there are enemies who become deadly opponents, whoare moved by hatred, anger and jealousy. We are not helped to become better,instead we are led to a disaster and loss. We naturally and in following thecommon sense, want to have good enemies. God himself is in the category of ourgood enemies. We are sinners. Every time we realize ourselves as sinners, wemust be able to see God as our good enemy, who is patient with us and providesall the opportunities so that we can repent and ultimately return to Him. The parable of coexistence between the seed sower andhis enemy the weed sower, then between the seed that grows together withits enemy the weed, is so clearly toteach us about the role of the enemy that helps us in this life. Our own familymembers, our friends and people whom we don't know can be our good enemies.Even if we cannot avoid the presence of the dangerous or deadly enemies, thiswas actually already experienced by the Lord Jesus himself and the martyrs whohave gone before us. Such enemies give us opportunities to drink the cup ofsuffering like Jesus Christ did, who is our Teacher and Savior. In this case,we should be grateful and pray for our enemies. Let'spray. In the name of the Father ... O Lord, bless us so that we can live inYour truth and wisdom. Make us good neighbours to those around us. Our Fatherwho art in heaven ... In the name of the Father ...
-
981
Bacaan-bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Minggu Biasa ke-16, 19 Juli 2026
Dibawakan oleh Eduardus Bala, Yuliana dan Wiliam Aleksander Nopan dari Paroki Santo Arnoldus Jansen Tanjung Isui di Keuskupan Agung Samarinda, Indonesia. Kebijaksanaan 12: 13.16-19; Mazmur tg 86: 5-6.9-10.15-16a; Roma 8: 26-27; Matius 13: 24-30.MUSUH MEMBERIKAN KITA KESEMPATAN Tema renungan kita pada hari Minggu Biasa ke-16 ini ialah: Musuh MemberikanKita Kesempatan. Seorang siswa SMA mendapatkan pujian dan hadiah dari orangtuanya karena mendapatkan nilai-nilai rapor yang bagus. Padahal semua di dalamkeluarga masih mengingat, bahwa nilai prestasinya di waktu permulaan sekolahjauh dari harapan. Ia bahkan memiliki sejumlah nilai merah. Mengapa ia berubah begitu cepat dengan prestasinya itu setelah naik kelasdua dan kelas tiga? Apakah ia bermain curang pada waktu ujian demi mendapatkannilai-nilai yang memuaskan? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan umum yang selaluditujukan kepadanya. Kepada semua yang bertanya, siswa tersebut menjawab dengansangat bijaksana, katanya: "Setiap temanku mendapat nilai lebih baik daripada aku, aku selalu tertantang untuk menjadi seperti dia, bahkan harusmelebihi dia." Ia tetap mengikuti prinsip itu selama belajar di SMA. Pengalaman si remaja itu merupakan sebuah contoh kompetisi yang sehat. Adajuga kompetisi atau perlawanan yang tidak sehat, yang melalui cara yang tidakbaik dan dengan tujuan yang tidak baik pula. Di dalam setiap kompetisi,masing-masing pihak yang bersaing menganggap lawannya sebagai musuh. Ada musuhyang menjadi teman persaingan atau perjuangan, sehingga kita dapat dibantuuntuk meraih kemajuan dan kesuksesan. Musuh dalam kualitas seperti ini adalahmusuh yang baik, yang memberikan kita kesempatan untuk menjadi lebih baik. Tetapi ada musuh yang menjadi lawan mematikan, yang karena didasari olehkebencian, marah dan iri hati, sehingga kita tidak mendapatkan bantuan untukmaju, tetapi sebaliknya kerugian dan bahkan kebinasaan. Secara kodrati danmengikuti akal sehat, kita ingin memiliki musuh yang baik. Tuhan sendiritermasuk dalam kategori musuh kita yang baik. Kita adalah orang-orang yangberdosa. Setiap menyadari diri sebagai orang berdosa, kita harus dapat melihatTuhan sebagai musuh kita yang baik, yang sabar terhadap kita dan menyediakansegala kesempatan supaya kita dapat bertobat dan kembali kepada-Nya. Perumpamaan tentang hidup berdampingan antara penabur benih dan musuhnyayaitu penabur lalang, kemudian antara benih yang tumbuh bersama dengan musuhnyalalang, sangat jelas mengajarkan kita tentang peran musuh yang membantu kita didalam hidup ini. Anggota keluarga sendiri, teman atau orang yang tidak kitakenal dapat menjadi musuh-musuh kita yang baik. Bahkan jika kita memang tidakdapat menghindari adanya musuh yang tidak baik atau yang mematikan, inimerupakan juga pengalaman Tuhan Yesus sendiri dan para martir yang sudahmendahului kita. Musuh yang demikian membuka kesempatan bagi kita untuk meminumpiala penderitaan seperti Yesus Kristus. Dalam hal ini, kita sepantasnyabersyukur dan mendoakan musuh-musuh kita. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan, berkatilah kami sehingga kami dapat hidup dalamkebenaran dan kebijaksanaan-Mu. Semoga kami menjadi sesama yang baik bagiorang-orang di sekitar kami. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa...
-
980
Reading and meditation on the Word of God on Saturday of the fifteenth week in ordinary time, July 18, 2026
Delivered by Father Peter Tukan, SDB from Salesian Don Bosco Gerak in the Diocese of Labuan Bajo, Indonesia. Micah 2: 1-5; Rs psalm 10: 1-2.3-4.7-8.14; Matthew 12: 14-21.GOD IS NOTHIDING The theme forour meditation today is: God is Not Hiding. The school year for schools hasjust started this week. In general, teaching and learning activities take placein the middle of summer and dry which can have a negative impact on theactivities of students and teachers at school. They feel the hot air bothinside the classroom and outside and especially when they are in the playground. In remotevillages, students walk daily from home and school. They endure hot every dayand bathed in dust along the way. They easily get sick because of the hot anddry weather. There was a junior high school student writing on his social mediapage, in the form of a challenge addressed to God. He said: "This is aserious threat to life. God seems to be hiding and not near us to helpus." This student'sheartfelt expression represents the feelings of difficulty, anxiety, lack ofpatience and pessimism of many people in today's world. These feelings arenatural for us humans and there is nothing wrong with complaining or urging Godto help us. The event recounted in the Gospel about Jesus calming down the windand violent waves that nearly destroyed His disciples very clearly give usconfidence that God is not silent or hiding. Our Gospel readingtoday also illustrates how Jesus chose to avoid and hide, at a time when thethreat of enemies and evil was evident. There was a conspiracy that plottedevil against Jesus and all of His works, but Jesus got rid of himself. If aleader or chief chose to abandon his responsibilities, then we can understandthat his work, struggle or task has failed. If our life inthis world only give attention to violence, evil and the threat of the enemy,we are the people who live in fear and this world is like a terrible jungle.God is indeed seen or understood to be in silent and hiding, but He actuallydwells in our hearts. God fills the spaces of understanding and conviction ofour faith. He works as the invisible Holy Spirit, but provides everything bothin word and deed, so that we become able to face our enemies. Our livesactually remain focus on the kingdom of God and the path we walk is the way ofJesus Christ. If until this moment we have this life in the midst of adifficult and bad situation while we continue to adapt ourselves to the newreality of life, this is the path that God has given us. He is actually with usand guides our lives. Let us pray. In thename of the Father ... O Lord, in your hands we put all our hopes and fates inlife. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit... In the nameof the Father ...
-
979
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Sabtu dalam pekan ke-15 masa biasa, 18 Juli 2026
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Komunitas Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Mikha 2: 1-5; Mazmur tg 10: 1-2.3-4.7-8.14; Matius 12: 14-21.TUHAN SEDANG TIDAK BERSEMBUNYI Tema renungan kita pada hari ini ialah: Tuhan Sedang Tidak Bersembunyi.Tahun ajaran untuk sekolah-sekolah sampai tingkat menengah baru saja dimulaidalam minggu ini. Pada umumnya kegiatan belajar-mengajar berlangsung di tengahmusim panas dan kering yang dapat memberi dampak kurang baik dalam kegiatan paramurid dan guru di sekolah. Hawa yang panas mereka rasakan baik di dalam ruangankelas maupun di luar dan terlebih-lebih saat mereka bermain di lapangan. Di desa-desa pelosok, para murid berjalan kaki setiap hari dari rumah dansekolah. Mereka ditimpah panas terik dan bermandi debu di sepanjang jalan. Tidakjarang mereka sakit karena cuaca yang panas dan kering itu. Ada seorang siswaSMP menulis di halaman media sosialnya, berupa tantangan yang ditujukan kepadaTuhan. Ia berkata begini: "Ini adalah ancaman yang serius terhadapkehidupan. Tuhan sepertinya sedang sembunyi dan tidak berada di dekat kitauntuk menolong kita." Ungkapan hati siswa ini mewakili perasaan susah, kuatir, kurang sabar danpesimis banyak orang di dalam dunia saat ini. Perasaan-perasaan ini merupakansesuatu yang wajar bagi kita manusia dan tidak ada salahnya kalau kitamenyampaikan keluhan atau desakan kepada Tuhan untuk membantu kita. Peristiwayang dikisahkan di dalam Injil tentang Yesus meredakan angin topan dangelombang ganas yang hampir membinasakan para murid-Nya, sangat jelasmemberikan kita keyakinan bahwa Tuhan tidak diam atau bersembunyi. Injil kita pada hari ini juga menggambarkan bagaimana Yesus memilihmenghindar dan bersembunyi, pada saat ancaman musuh dan kejahatan ada di depanmata. Ada persekongkolan yang merancang kejahatan atas diri Yesus dan seluruhkarya-Nya, tetapi Yesus menyingkirkan diri. Jika seorang pimpinan atau kepalamemilih untuk meninggalkan tanggung jawabnya, maka kita dapat memahaminya bahwapekerjaan, perjuangan atau tugasnya gagal. Sekiranya hidup kita di dunia ini hanya memusatkan perhatian kepadakekerasan, kejahatan dan ancaman musuh, kita adalah makhluk yang hidup dalamketakutan dan dunia ini adalah seperti rimba raya yang mengerikan. Tuhan memangdipandang atau dipahami berdiam dan bersembunyi, tetapi Ia sesungguhnya berdiamdi dalam hati kita. Ia mengisi ruang-ruang pemahaman dan keyakinan iman kita.Ia bekerja sebagai Roh Kudus yang tak kelihatan, tetapi menyediakan segalasesuatu baik sebagai kata maupun tindakan, sehingga kita menjadi mampu untukmenghadapi musuh-musuh. Hidup kita sebenarnya tetap berpusat pada kerajaan Allah dan jalan yangkita lalui ialah jalan Yesus Kristus. Jika sampai detik ini kita dapatmenikmati hidup di tengah suasana yang tidak baik dengan suatu cara penyesuaiandiri untuk kenyataan hidup yang baru, ini merupakan jalan yang diberikan Tuhankepada kita. Ia sesungguhnya berada bersama kita dan membimbing hidup kita. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan, di dalam tanganmu kami menaruh segala harapan dannasib hidup kami. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam namaBapa ...
-
978
Reading and meditation on the Word of God on Friday of the fifteenth week in ordinary time, July 17, 2026
Delivered by Nia from the Parish of Good Shepherd in the Diocese of Surabaya, Indonesia. Isaiah 38: 1-6.21-22.7-8; Rs psalm: Is 38: 10.11.12abc.16; Matthew 12: 1-8.BETWEEN COMPASSION AND SACRIFICIAL OFFERRING The theme for our meditation today is: BetweenCompassion and Sacrificial Offering. There are many Catholics who no longer goto the confession. This is represented by a young man who once spoke with hisparish priest, that he himself and his friends do not consider it important tomake confession through a Catholic priest. The young man has his own reason,that a direct confession of sins to God is sufficient and it is secure in termsof each person privacy. Confession of sins through a priest does not make themany good sense. The confession of sins is not just an act of prayingto God to reveal the sins committed and to ask forgiveness. Its main point isan act of reconciliation and repentance that a penitent should do. Prayer forforgiveness is not a sacrament of reconciliation and it cannot replace it. Thisprayer is the same as all kinds of offering sacrifices that the believersnormally do, namely to give something as the sign of our faith and love forGod. This is the same as giving something to our loved ones to respect andplease them. An offering of sacrifice is solely a human act, so itis very dependent on the free will, choice or taste of each person. Oftencertain offerings are arranged or institutionalized in order to meet the wishesof the authorities or leaders, therefore, the rules are made to keep an orderof observance. For example, there were some amount of money to be submitted,namely one tenth of monthly income. Burnt offerings and animals slaughteredmust be counted all and the condition of those animals should be unblemishedand many other items of norm. The Lord Jesus Christ came to the world and he hadauthority to replace all the existing rules with His own self-offeringsacrifice. What the Lord Jesus had made was the work of the almighty God forall of us, and this work is not actually the offerings to praise or honorsomebody but a merciful love or an act of compassion. God loves us bysacrificing Himself. God is all merciful and full of love, therefore, He gaveHis own Son for our salvation. The action of Jesus in His merciful love andcompassion is to save the world and us from the slavery of sin and death. The Lord's merciful love and our obligation topractice this in our daily lives is an act of worship that is superior to theSabbath observance and other offering sacrifices, when the call for salvationof mankind requires. This is what Jesus wanted to correct, when mercy orcompassion was despised or even abolished, while offering sacrifices andsabbath observance were strictly obeyed. For us believers, offering sacrificesand worships are also needed for our expression of faith. However, when mercyor compassion requires, we cannot replace it by merely offering prayers andsacrifices. Let'spray. In the name of the Father ... Strengthen and fill us with Your power, OGod, so that we can witness Your truth through merciful love and compassionthat we do in the light of faith we profess. Glory to the Father and to the Sonand to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...
-
977
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Jumat dalam pekan ke-15 masa biasa, 17 Juli 2026
Dibawakan oleh Theresia Keneka Muli dan Mateus Nong Mus dari Paroki Harapan Indah Bekasi, Gereja Santo Albertus Agung di Keuskupan Agung Jakarta. Yesaya 38: 1-6.21-22.7-8; Mazmur tg: Yes 38: 10.11.12abc.16; Matius 12: 1-8.ANTARA BELAS KASIH DAN PERSEMBAHAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Antara Belas Kasih dan Persembahan.Ada banyak umat Katolik sudah tidak lagi melakukan pengakuan dosa. Hal initerwakili oleh seorang pemuda yang berbicara dengan pastor parokinya, bahwa iasendiri dan teman-teman tidak menganggap penting untuk melakukan pengakuan dosakepada seorang imam Katolik. Pemuda itu memberikan alasannya, bahwa pengakuandosa langsung kepada Tuhan sudah cukup dan terjamin aman. Pengakuan dosamelalui imam justru tidak masuk di akalnya. Pengakuan dosa merupakan suatu perbuatan yang bukan sekedar berdoa kepadaTuhan untuk menyampaikan dosa-dosa dan meminta pengampunan, tetapi yang menjadiintinya ialah terjadi rekonsiliasi dan pertobatan. Doa mohon pengampunan itubukan sebuah sakramen tobat. Doa ini sama dengan semua jenis persembahan yangkita lakukan, yaitu memberikan sesuatu sebagai bukti iman dan kasih kita kepadaTuhan. Ini sama dengan memberikan sesuatu kepada orang yang kita kasihi untukmenghormati dan menyenangkannya. Persembahan itu semata-mata perbuatan manusia, maka sangat bergantung padakehendak bebas, pilihan atau selera masing-masing orang. Sering persembahan itudiatur atau dilembagakan demi memenuhi keinginan pihak penguasa atau parapemimpin, maka dibuatlah aturannya. Ada jumlah yang mesti dipenuhi, misalnyaderma harus sepersepuluh dari penghasilan. Korban bakaran dan sembelihan harusberjumlah sekian dan kondisi hewan persembahan itu cacat atau tidak dansebagainya. Tuhan Yesus Kristus menggantikan semuanya itu dengan persembahan diri-Nyasendiri. Yang dibuat oleh Tuhan ini adalah perbuatan Tuhan bagi kita manusia,yang bukan sebagai persembahan tetapi sebagai belas kasih. Tuhan mengasihi kitadengan mengorbankan diri-Nya. Bapa Allah berbelas kasih dan sangat menyayangikita manusia maka Ia memberikan Anak-Nya sendiri bagi kita. Perbuatan Yesusdalam berbelas kasih ialah menolong dan menyelamatkan kita manusia dari segalabentuk perbudakan dosa, kejahatan dan kematian. Belas kasih dari Tuhan dan kewajiban kita untuk melakukannya, merupakansebuah ibadat yang melebihi hari sabat dan persembahan lainnya ketika nasibhidup manusia sangat menuntut untuk diperhatikan. Inilah yang ingin Yesusperbaiki, ketika belas kasih diremehkan atau bahkan ditiadakan, sementarapersembahan dan hari sabat dipatuhi secara berlebihan. Bagi kita umat beriman,persembahan dan ibadat tidak perlu dihilangkan dari hidup kita, artinya kitatetap memerlukannya. Tetapi pada saat belas kasih itu diperlukan, kita tidakboleh menggantikannya dengan sekedar mempersembahkan doa-doa kita. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Kuatkanlah dan penuhilah kami dengan kuasa-Mu ya Allah,supaya kami dapat memberikan yang sesungguhnya sebagai belas kasih dan sebagai persembahan di dalam penghayatan iman kami.Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
-
976
Reading and meditation on the Word of God on Thursday of the fifteenth week in ordinary time, July 16, 2026
Delivered by Evelyn from the Parish of Holy Spirit in the Archdiocese of Singapore. Isaiah 26: 7-9.12.16-19; Rs psalm 102: 13-14ab.15.16-18.19-21; Matthew 11: 28-30.KNOWING THE LORD WITH HIS NAME The theme for our meditation today is: Knowing theLord with His Name. There was a ten-year-old boy named Bastian. He wrote aletter to God to ask about His name. Bastian has prayed many times to ask whatreally the name of the Lord is, like his own name Bastian. Since he has notfound an answer, he wrote a special letter. He wrote such words: "LordGod, like Your Son's special name Jesus Christ, so what is Your realname?" He placed that letter at the foot of the cross in the church. The parish priest found that letter one morning. Hetook the letter and wrote under the written words of Bastian, and it read:"The name of the Lord God is 'I AM'. This was not a direct answer fromGod, but what the parish priest gave was the real answer, as the book ofGenesis says about Moses who did meet God and received this name. Then some daylater when Bastian and his family came to church, the boy took his letter andfound the answer he was really waiting for. God gives His own name "I" which means He isperfect, total and eternal. For the name "I", God is the onlypowerful being who affirms Himself as the almighty and everliving Lord. Withsuch superiority, Moses in the old testament and all of us from everygeneration are so blessed with this so special dignity of the Lord. God is notselfish, but He always shares with us, especially involves Himself with us andwe participate in His divinity, through Jesus Christ. We are encouraged to bring such divine superiority toequip ourselves, that we may be able to face enemies and those who oppose thewill of God. Our aim is to defeat those enemies. If we only use our ownstrengths and egos as human beings, we must be very weak when we face all thecomplexities of our works, various challenges and threats. But by using theidentity "I" of God, we will always be enabled by Him and we canstand to face all threats and difficulties. Jesus Christ shows this when He always says: "Itell you". Jesus revealed God's own name when He spoke and when He did theworks of God. Jesus never called himself by using such expression: "Jesustells you". He indeed used "I" to give affirmation ofHimself and this also means to bring allthe believers to come to Him, to live with Him and to walk in His way of life.Today Jesus invites us to come to Him in order to draw from Him our spiritualrichness. "Come to me, for I am gentle and humble of heart." Let usalways believe and rely on God's name "I AM". Let'spray. In the name of the Father ... O powerful and almighty God, accept ourprayer of gratitiude dependence for the love that You bestow on us through theperson Jesus Christ Your Son, and may we always rely on your power. Glory tothe Father and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father...
-
975
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Kamis dalam pekan ke-15 masa biasa, 16 Juli 2026
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Komunitas Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Yesaya 26: 7-9.12.16-19; Mazmur tg 102: 13-14ab.15.16-18.19-21; Matius 11: 28-30.MENGENALI TUHAN DENGAN NAMA-NYA Tema renungan kita pada hari ini ialah: Mengenali Tuhan Dengan Nama-Nya.Ada seorang bocah berusia sepuluh tahun bernama Bastian, menulis surat kepadaTuhan. Ia sudah banyak kali berdoa dengan lisan untuk menanyakan apa sebenarnyanama Tuhan, seperti dirinya yang bernama Bastian. Karena tidak menemukanjawaban, maka ia menulis surat itu. Isi surat itu adalah seperti ini:"Tuhan Allah, seperti Putra-Mu yang bernama Yesus Kristus, sebenarnyaTuhan sendiri bernama apa?" Ia menaruh surat itu di kaki salib di dalamgereja. Pastor paroki menemukan surat itu pada suatu pagi. Diambilnya surat itu dania menulis di bawah tulisan Bastian, bunyinya ialah: "Nama Tuhan Allahialah 'AKU'. Ini memang bukan jawaban langsung dari Tuhan, tetapi pastor parokimemberikan jawaban yang sesungguhnya, seperti yang dikatakan di dalam kitabKejadian. Kemudian pada saat Bastian dan keluarganya datang ke gereja, si bocahmengambil suratnya dan menemukan jawaban yang sedang ia tunggu. Allah menyebut nama-Nya “AKU” berarti bahwa Ia sempurna, total dan abadi. Untuk nama “AKU” tersebut, hanya Tuhan yang bisa menegaskan demikian karenaIa maha esa dan maha kuasa. Dengan keunggulan-Nya seperti ini, nabi Musa didalam perjanjian lama dan kita semua pada saat ini diberkati dengan keunggulanyang istimewa ini. Tuhan tidak mementingkan diri-Nya sendiri, tetapi Iasenantiasa berbagi dengan kita, khususnya melibatkan diri-Nya dengan kita dankita dengan Dia, melalui Yesus Kristus. Kita diharapkan untuk membawa keunggulan Ilahi tersebut untuk menghadapimusuh-musuh yang jahat dan yang melawan kehendak Allah, bahkan sampaimengalahkan musuh-musuh itu. Jika kita hanya memakai kekuatan dan ego kitasendiri sebagai manusia, kita pasti sangat lemah ketika berhadapan dengankompleksitas pekerjaan, aneka tantangan atau ancaman musuh-musuh. Namun denganmemakai identitas "Aku" dari Tuhan Allah, kita akan selalu dimampukanoleh Dia dan kita dapat berhasil melewati semua ancaman dan kesulitan. Yesus Kristus menegaskan hal ini ketika Ia selalu berkata: Aku berkatakepadamu. Yesus menyatakan nama Allah sendiri dalam bersabda dan berbuat. Yesustak pernah menyebut dirinya sendiri, seperti: "Yesus berkatakepadamu". Penegasan “Aku” untuk diri-Nya ini, juga berarti hendak membawasemua orang yang mendengar dan percaya, datang kepada-Nya, tinggal bersama-Nyadan menghayati cara hidup-Nya. Pada hari ini Yesus mengajak kita untuk datangkepada-Nya untuk menimba kekayaan belas kasih-Nya. “Datanglah kepada-Ku, karenaAku lemah lembut dan rendah hati.” Marilah kita selalu percaya dan mengandalkannama Tuhan sebagai AKU. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Allah maha baik, terima kasih berlimpah karena telahmenunjukkan kepada kami diri-Mu sebagai pribadi, semoga kami selalumengandalkan ke-esa-an dan kekuasaan-Mu. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra danRoh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
-
974
Reading and meditation on the Word of God on Wednesday of the fifteenth week in ordinary time, July 15, 2026, Memorial of Saint Bonaventure, Bishop and Doctor of the Church
Delivered by Svara Nirmala and Stella from the Parish of The Assumption of the Blessed Virgin Mary, Mamajang, in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Isaiah 10: 5-7.13-16; Rs psalm 94: 5-10.14-15; Matthew 11: 25-27.KNOWING GOD The theme for our meditation today is: Knowing God.Joyce, a grade 2 student of elementary school who has only been to school for aweek. In religion class, the students were taught to pray the "OurFather" and other basic prayers. The teacher once asked the students tojot down the formula of Our Father's prayer. However, Joyce only wrote thetitle "Our Father", then under it she drew the face of a man withthick and curly hair, mustache and thin beard. The teacher then asked why Joyce drew that man's face.She replied in this way: "I can already memorize the Lord's Prayer, and Ieven want something more, namely the face of God the Father. Because I do notknow the face of God, I better draw the face of my father at home. He is alsoas good as God". The little girl Joyce represents all of us believerswho want to know God directly and clearly. But like her, we certainly find it difficult toverify on what or who God looks like. There is no human being can do this, butJesus Christ, who is the Son of God, indeed does it for us. The face of Jesusis so well known to us. According Him, as we come to know Him, to see His faceand to meet Him, we indeed know and experience the existence of God the Father. Today we come to meet the Lord God who introducesHimself to us. Through the passage of the book of the prophet Isaiah chapter10, God revealed Himself as the ruler of the universe and all nations on earth.The evil power who ruled over thegodless nations would be eventually defeated by the power of Heaven, when Godused the Assyrian Kingdom to oppress them. Indeed, the Lord wanted to make themaware of their sinfull lives and they should repent then returned to Him. Jesus introduced God the Father as the One who hadincarnated in his human form. Jesus himself knew God the Father and what Godthe Father is really like. We can only obtain this knowledge through JesusChrist who is speaking and meeting us. In His prayer to the Father, Jesus askedthat all goodness and mercy are to be given to the simple, little and sufferingones. Whereas the arrogant, the powerful and the learned people find itdifficult to recognize God in their complicated lives. Many of us truly recognize God in times of difficultyand threat of suffering, and we really need the Lord's help. We also recognizeGod when He frees us from all forms of oppression and persecution. We alsorecognize God in situations of pain and helplessness. In a simple and humblelife we also know the Lord our God. Let'spray. In the name of the Father ... Almighty God, strengthen us with Yourblessings, so that we can recognize You without obstacles in all situations ofour lives. Our Father who art in heaven ... In the name of the Father ...
-
973
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Rabu dalam pekan ke-15 masa biasa, 15 Juli 2026, Peringatan Santo Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Yesaya 10: 5-7.13-16; Mazmur tg 94: 5-10.14-15; Matius 11: 25-27.MENGENALI TUHAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Mengenali Tuhan. Yuvita, muridkelas dua SD baru seminggu masuksekolah. Di dalam pelajaran agama, mereka diajarkan berdoa “Bapa Kami” dandoa-doa umum lainnya. Murid-murid diminta gurunya untuk mencatat rumusan doaBapa Kami. Tetapi Yuvita hanya menuliskan judul doa “Bapa Kami”, lalu dibawahnya ia menggambar wajah seorang lelaki: rambut agak tebal dan keriting,berkumis dan jenggot tipis. Ibu guru kemudian bertanya mengapa Yuvita menggambar wajah itu. Murid itumenjawab: "Doa Bapa Kami sudah aku hafal, padahal aku mau sesuatu yanglebih, yaitu wajah Bapa Allah. Karena aku tak tahu wajah Tuhan Allah, aku lebihbaik gambar wajah bapakku di rumah. Kan dia juga baik seperti TuhanAllah". Yuvita mewakili kita semua orang beriman yang ingin mengenali Tuhan Allahsecara nyata. Tetapi sama seperti dia, kita pasti kesulitan menentukanwajah-Nya seperti apa atau siapa. Tidak seorang pun manusia mampu melakukanini, tapi Yesus Kristus yang adalah Putra Allah justru melakukan bagi kita.Wajah Yesus tidak asing bagi kita. Mengenali Dia, melihat wajah-Nya danberjumpa Dia, ialah sama saja dengan mengalami Bapa Allah. Secara khusus pada hari ini kita bertemu Tuhan Allah sendiri yangmemperkenalkan diri-Nya kepada kita. Melalui perikop kitab nabi Yesaya bab 10,Tuhan Allah menyatakan diri-Nya sebagai penguasa alam semesta dan terutama atassegala bangsa di bumi. Kejahatan yang dibuat oleh bangsa-bangsa tidak ber-Tuhanakan dikalahkan oleh kuasa Surgawi, di mana Allah memakai bangsa Asyur untukmenindas mereka. Sesungguhnya Tuhan hendak menyadarkan mereka agar merekasegera bertobat dan berbalik kepada-Nya. Yesus memperkenalkan Allah sebagai Tuhan yang telah menjelma di dalamdiri-Nya. Ia sendiri mengenal Allah Bapa dan seperti apa Allah Bapa itu, kitahanya bisa mendapatkan itu dalam diri Yesus Kristus yang sedang berbicara danberjumpa dengan kita. Di dalam doa kepada Bapa, Yesus meminta supaya semuakebaikan dan kemurahan menjadi berkat-berkat bagi orang-orang sederhana, kecildan menderita. Orang-orang congkak, sombong dan cerdik susah sekali mengenaliTuhan. Banyak dari kita mengenali Tuhan sungguh-sungguh pada saat kesulitan danancaman penderitaan dan kita sangat membutuhkan pertolongan-Nya. Kita jugamengenali Tuhan saat Ia membebaskan kita dari segala bentuk penindasan danpenganiayaan. Kita pun mengenali Tuhan ketika kita dalam situasi sakit dantidak berdaya. Di dalam hidup yang sederhana dan rendah hati kita juga mengenalTuhan.Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Allah yang maha kuasa, kuatkanlah kami denganberkat-berkat-Mu, supaya kami dapat mengenali Engkau dengan tanpa halangandalam segala situasi hidup kami. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam namaBapa ...
-
972
Reading and meditation on the Word of God on Tuesday of the fifteenth week in ordinary time, July 14, 2026
Delivered by Amelia from the Parish of Saint Francis Xavier in the Archdiocese of Kuala Lumpur, Malaysia. Isaiah 7: 1-9; Rs psalm 48: 2-3a.3b-4.5-6.7-8; Matthew 11: 20-24.OVERCOMING DISAPPOINTMENT The theme forour meditation today is: Overcoming Disappointment. There was a teenager namedAnto, who wanted to use his time outside of school with soccer training. Heenrolled in one of the football schools near where he lived. But after twoweeks of training, he quit and moved to another football school. The reason wasthat he was very disappointed because there was no atmosphere of mutualappreciation and support for creativity. Anto had a good playing talent but hedid not have the support of the coach and friends. There are manyfactors that cause a person to be disappointed and in this reflection wehighlight the factor of lack of appreciation and happy for the goodness andquality we have. Appreciation is the same as acceptance, listening, respect,support and paying attention. Another expression for all this is gratitude. Agrateful person is the one who appreciates goodness and truth and lives in it. Today's readingsgive us examples of disappointments. God expressed disappointment overJerusalem and its rulers and inhabitants, who did not rely on the power of theAlmighty God to guard and defend them from the interference of the othernations. They lack faith in God, and were overcome by fear and want to escapefrom the threat of the enemy. Jesus Christ was disappointed in the cities thathad received His teaching and power but had no intention of repentance. Alongwith that disappointment, Jesus affirmed that the punishment was already instore for them at the time of the final judgment. We always showdisappointment because there is no appreciation and no gratitude in variousforms such as anger, reprimands, warnings and even strong resistance. There'snothing wrong with this. The important thing is that this is an act to makepeople aware, remind and bring people back to have gratitude and appreciation.We always have ways such as fraternal correction or protest in a way like Antomade earlier, so that the bad atmosphere of living together again gives a senseof home and acceptance of each other. So, what needsto be avoided from this disappointed attitude? What we need to avoid isdisappointment that drives someone to revenge, to have evil plans, or createconflict and war. There is constructive disappointment that is useful forfixing a disorder and chaos, and there is also disappointment that leads todestruction, that is, to bring about worse problems. If we always use ourdisappointments constructively, we are contributing to improving and renewingour lives.Let us pray. In thename of the Father... O Almighty Father, we are grateful for Your wisdom toilluminate the path of our lives, especially when we are disappointed, hurt anddespaired. Hail Mary, full of grace... In the name of the Father ...
-
971
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Selasa dalam pekan ke-15 masa biasa, 14 Juli 2026
Dibawakan oleh Wilibroda Gunung Lajar dari Paroki Santo Arnoldus Jansen Waikomo di Keuskupan Larantuka, Indonesia. Yesaya 7: 1-9; Mazmur tg 48: 2-3a.3b-4.5-6.7-8; Matius 11: 20-24.MENGATASI KEKECEWAAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Mengatasi Kekecewaan. Ada seorangremaja bernama Anto, ingin mengisi waktu di luar sekolah dengan latihan sepakbola. Ia mendaftarkan diri ke salah satu sekolah bola di dekat tempat iatinggal. Namun setelah dua minggu berlatih, ia berhenti dan pindah ke sekolahbola yang lain. Alasannya ialah bahwa ia sangat kecewa karena di sana tidak adasuasana saling memberi apresiasi dan mendukung kreativitas. Anto memiliki bakatbermain yang bagus tetapi ia tidak mendapat dukungan dari pelatih danteman-teman. Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi kecewa dan dalamrenungan ini kita menyoroti faktor tidak ada apresiasi dan rasa bangga ataskebaikan dan kualitas yang kita miliki. Apresiasi adalah sama denganpenghargaan, mengindahkan, menghormati, mendukung dan memberikan perhatian.Ungkapan lain untuk ini ialah bersyukur. Orang yang bersyukur adalah dia yangmenghargai kebaikan dan kebenaran dan hidup di dalamnya. Bacaan-bacaan hari ini memberikan kita contoh pengalaman kekecewaan. Allahmengungkapkan kekecewaan atas Yerusalem bersama penguasa dan penduduknya, yangtidak mengandalkan kekuasaan Tuhan yang maha tinggi untuk menjaga dan membelamereka dari gangguan bangsa lain. Mereka kurang percaya kepada Tuhan, dandikuasai rasa takut serta ingin lari dari gertakan musuh. Yesus Kristus kecewaatas kota-kota yang telah menerima pengajaran dan kekuatan dari-Nya tetapimereka tak punya niat untuk bertobat. Menyertai rasa kecewa itu, Yesusmemberikan penegasan bahwa hukuman sudah disiapkan bagi mereka pada waktupenghakiman yang terakhir. Kita selalu menunjukkan rasa kecewa karena tidak ada apresiasi dan tidakada sikap bersyukur ini dalam berbagai bentuk seperti marah, teguran,peringatan bahkan perlawanan yang keras. Tak ada salah tentang ini. Yangpenting adalah ini sebagai tindakan untuk menyadarkan, mengingatkan dan membawaorang kembali kepada sikap bersyukur dan memberikan apresiasi. Kita selalumemiliki cara-cara seperti koreksi persaudaraan atau protes dengan cara sepertiyang dibuat oleh Anto tadi, supaya suasana hidup bersama yang kacau kembalimemberikan rasa betah dan salingmenerima satu terhadap yang lain. Lalu apa yang perlu dihindari dari sikap kecewa ini? Yang perlu kitahindari ialah kekecewaan yang mendorong seseorang untuk balas dendam, rencanajahat, atau menciptakan konflik dan perang. Ada kekecewaan yang konstruktifyang berguna untuk memperbaiki keadaan yang tidak beres dan kacau, dan ada jugakekecewaan yang menjurus destruktif, yaitu mendatangkan masalah yang lebihburuk. Jika kita selalu menggunakan kekecewaan kita yang konstruktif berartikita berkontribusi untuk memperbaiki dan membarui kehidupan kita.Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Bapa maha kuasa, kami bersyukur atas kebijaksanaan-Muuntuk menerangi jalan hidup kami, terutama ketika kami kecewa, sakit hati danputus asa. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
-
970
Reading and meditation on the Word of God on Monday of the fifteenth week in ordinary time, July 13, 2026
Delivered by Fiona from the Parish of Mary Queen of Rosary in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Isaiah 1: 11-17; Rs psalm 50: 8-9.16bc-17.21.23; Matthew 10: 34 - 11: 1.SPIRITUAL WARFARE The theme for our meditation today is: SpiritualWarfare. In one particular morning there was a girl who was quarreling with hermother. They shouted and blamed each other over something not substantial. Whenleaving home to work, she was still angry and during work she remained angryover that problem with her mother. But the mother at home was continuallypraying for her daughter. She just wanted that her daughter's anger couldimmediately go away. In the afternoon when the girl returned from work, there wasno more anger and the atmosphere in the house returned to normal as if therewas nothing just happened. Anger, like many other sins, originates from the evilone, which is the devil. When we allow ourselves to be dominated by this evilpower, any sinful act can happen as quickly as possible. Even a human personwho is good and intelligent, if he is controlled by the power of darkness, hewill be defeated and eventually perished. This evil power aims to afflict anddestroy him. This power always seizes the opportunity that is available, whichis those persons who are mentally and spiritually weak. The incident above between that girl and her mother isan example of the spiritual war. In a spiritual war, the physical violence thatinvolves tools or weapons does not occur, but people normally use words,thoughts, arguments, criticisms, advices, and the powerful force of prayer. Thespiritual warfare in its true sense is the fight between the power of good andthe power of evil. From His part, the Lord wants that truth and goodness are tobe safeguarded because the forces of evil have already inflicted chaos or haveambition to take power over the life of mankind. In this regard, the prophet Isaiah insisted theIsraelites during their exile period, that in the presence of the almighty Godthey must cleanse themselves by avoiding all the evil deeds. The sword thatJesus used in the spiritual war is the Word of God. This sword has two equallysharp sides used to defend our spirits and souls from the danger of evil, theconsideration and decision of our minds, and the purpose of our hearts. The Word of God is actually thesword of the Holy Spirit that is used to destroy the spirit of darkness thatbrings us into sin and ultimately removes our dignity as sons and daughters ofGod. So it is Jesus Christ who leads the war that createsdivision among the relatives and friends, where the power of darkness anddestruction of human souls can be found existing there. Purification must bemade there, in order to give us sons and daughters of God an opportunity tolive righteous, peaceful, and joyful in the Holy Spirit. We should always usethe spiritual sword of Jesus Christ in our lives as Christians. Let'spray. In the name of the Father ... O beloved Father, we pray that may the fireof Your Spirit burn our zeal to be courageous and diligent to fight all formsof evil that at any moment can disturb and conquer us. Glory to the Father andto the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...
-
969
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Senin dalam pekan ke-15 masa biasa, 13 Juli 2026
Dibawakan oleh Andreas Muhu Pukai dan Eugenesia Maria Tada Tolok dari Paroki Santo Yohanes Rasul di Keuskupan Tanjung Karang Lampung, Indonesia. Yesaya 1: 11-17; Mazmur tg 50: 8-9.16bc-17.21,23; Matius 10: 34 - 11: 1.PERANG ROHANI Tema renungan kita pada hari ini ialah: Perang Rohani. Ada seorang pemudipada suatu pagi bertengkar dengan ibunya. Mereka berteriak dan salingmempersalahkan atas sesuatu persoalan yang sepele. Saat meninggalkan rumahuntuk bekerja, ia masih marah dan selama di tempat kerja ia tetap marah. Tetapisang ibu di rumah tidak henti-hentinya berdoa bagi putrinya itu. Ibu hanyaingin supaya kemarahan putrinya segera berhenti. Pada sore hari ketika pemudiitu kembali dari kerja, tidak ada lagi kemarahan dan suasana kembali normal. Kemarahan merupakan satu dari banyak dosa lain yang bersumber dari sijahat, yaitu iblis atau setan. Pada saat kita membiarkan diri kita dikuasaioleh iblis ini, perbuatan dosa apa pun dapat terjadi dengan secepat mungkin.Sehebat dan sepandainya manusia itu, jika berhadapan dengan kuasa kegelapan inibakal takluk dan binasa. Kuasa ini masuk ke dalam diri manusia dengan tujuanmenghancurkan dan menyengsarakannya. Ia memanfaatkan kesempatan untuk masuk danbekerja, yaitu mereka yang lemah dalam mental dan rohani. Kejadian antara pemudi dengan ibunya tadi merupakan satu contoh perangrohani. Di dalam suatu perang rohani, tidak terjadi kekerasan fisik yangmelibatkan alat atau senjata, tetapi yang dipakai ialah kata-kata, pikiran,argumen, kritikan, nasihat, dan yang kekuatannya dahsyat yaitu doa. Perangrohani dalam wujud yang sesungguhnya ialah kekuatan yang benar berperangmelawan kekuatan yang salah atau jahat. Dari pihak Tuhan, kebenaran dankebaikan hendak ditegakkan atau dipertahankan karena kekuatan jahat sudahterlanjur menghadirkan kekacauan atau bahkan ancaman untuk berkuasa. Maka nabi Yesaya menegaskan kepada bangsa Israel di pembuangan, bahwamereka harus membersihkan dirinya dengan menjauhkan perbuatan-perbuatan yangjahat dari hadirat Allah yang maha kuasa. Pedang yang dipakai Yesus untukberperang secara rohani ialah Firman Allah. Pedang itu memiliki dua sisi samatajamnya yang membela roh dan jiwa, pertimbangan-pertimbangan pikiran danmaksud-maksud hati manusia. Firman Allah itu sesungguhnya ialah pedang Rohuntuk menghancurkan roh kegelapan yang menjerumuskan kita ke dalam dosa danakhirnya kehilangan martbat sebagai putra dan putri Allah. Jadi Yesuslah yang menggerakkan terjadinya pembinasaan itu bahkan dapatmembuat perpecahan di antara saudara dan sahabat, mengingat di situ memangsering terdapat kegelapan dan kebusukan yang dibiarkan tumbuh subur.Pembersihan memang harus terjadi, supaya memberikan kita kesempatan sebagaiputra dan putri Allah yang hidup benar, damai, dan bersuka cita dalam RohKudus. Hendaknya kita selalu menggunakan pedang rohani Yesus Kristus. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Semangati dan penuhi hidup kami hari ini ya Bapa, supaya apiRoh-Mu membakar semangat kami untuk giat dan tekun memerangi segala bentukkuasa kegelapan yang setiap saat dapat mengganggu dan menaklukkan kami. Kemuliaankepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
-
968
Reading and meditation on the Word of God on the Fifteenth Sunday in Ordinary Time, July 12, 2026
Delivered by Martinus Ifan Fernanto and Stefanus Raynaldo Septywan from the Parish of Our Lady of Seven Sorrows in the Diocese of Bandung, Indonesia. Isaiah 55: 10-11; Rs psalm 65: 10abcd.10e-11.12-13.14; Romans 8: 18-23; Matthew 13: 1-9.DON'T LET THIS LIFE GO IN VAIN The theme for our meditation on this Fifteenth Sundayin Ordinary Time is: Don't Let this Life Go in Vain. There was an incident thatwas quite disturbing in a residential area of the city. Many of the husbandsbegan to get used to gathering until midnight from one house to another.Usually they drank alcohol drinks, did gambling and making noisy there. Thissurely had caused much sorrow to their wives at homes and increased problems intheir respective homes. In one ocassion, those wives gathered in one of theirhouses to discuss the matter, then they decided to strike a protest. All theresidents supported them and together they went to where their husbandsgathered. They carried a banner with this expression: "Don't Let YourFamily Life Go in Vain". They together also shouted in one voice: "Myhusband, go home. Don't ruin your family." In responding to the demand ofthose wives, the local government deliberately disbanded the activity and wasprohibited from repeating it. God never plans our lives in vain. We are the ones whoalways make it useless or meaningless. Our weaknesses as human beings, coupledwith bad influences of the world, are always the endless threats that make ourpersonal or common life useless and meaningless. This means that we submitourselves to be controlled by our own weaknesses and evil influences around us. We can mention our human weaknesses such as laziness,reluctance, boredom, surrender and lack of confidence, indeed contribute amajor influence to let this life go in vain. If someone reaches a moment ofdeath, when he is only known by the people around as a lazy person, or atroublemaker, or a criminal and a burden for others, this is obviously a realwasting of life. If someone until the moment of death, could not solved theproblems that have tormented him physically and spiritually, this means that hereally experienced a problematic and useless life. Our today's sacred readings give us one importantpiece of advice, namely that our lives should not go vain, simply because ourattitudes are bad or we do not have a meaningful life. God wants us todiscipline ourselves in the way we live out our faith, that is, we should nottake it for granted and to underestimate His teachings and commandments. We must view it as a very important thing for us andwe take it seriously. Jesus uses the symbolical method to teach us, that wemust become the good soil for His word to grow and bear abundant fruit. Therain of His grace sent down to us on earth in order to grow our life of faithso that it can also bear abundant fruit. A life that goes in vain is anindication of the fragile and shallow faith. Let'spray. In the name of the Father ... O Jesus Christ, may Your Word proclaimedtoday to us flourish in our daily lives and at proper time bears fruit in loveand goodness. Our Father who art in heaven ... In the name of the Father ...
-
967
Bacaan-bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Minggu Biasa ke-15 tanggal 12 Juli 2026
Dibawakan oleh Onny Pakendek, Maria Saraswati Sukardi dan Yohanes Sukardi dari Paroki Santa Maria Assumpta Kota Baru Kupang di Keuskupan Agung Kupang, Indonesia. Yesaya 55: 10-11; Mazmur tg 65: 10abcd.10e-11.12-13.14; Roma 8: 18-23; Matius 13: 1-9.JANGAN SAMPAI HIDUP INI SIA-SIA Tema renungan kita pada hari Minggu Biasa ke-15 ini adalah: Jangan SampaiHidup ini Sia-Sia. Ada suatu kejadian yang cukup mengagetkan di sebuah wilayahpemukiman kota. Para suami mulai terbiasa berkumpul sampai tengah malam, darisatu rumah ke rumah yang lain. Biasanya mereka minum minuman beralkohol,berjudi dan menghabiskan waktu di situ. Hal ini membuat para istri di rumahnyamasing-masing semakin gelisah dan marah. Para istri berkumpul dan ingin melakukan sebuah gerakan protes. Merekamendapat restu dari semua warga di situ dan bersama-sama pergi ke tempatsuami-suami mereka berkumpul. Mereka membawa spanduk dengan tulisan besar:"Jangan Membuat Hidup Keluarga Sia-Sia". Mereka juga berteriakbersama-sama: "Suamiku, kembali ke rumah. Jangan membuat hidup keluargasia-sia." Atas desakkan para istri tersebut, pihak pemerintah setempatdengan paksa membubarkan aktivitas tersebut dan dilarang untuk terulangkembali. Tuhan tidak pernah merencanakan kehidupan kita yang sia-sia. Kitalah yangselalu membuatnya sia-sia. Kelemahan kita sebagai manusia yang ditambah denganpengaruh-pengaruh buruk di dunia selalu menjadi ancaman tanpa henti yangmembuat hidup kita pribadi atau bersama tidak berguna dan tidak bermakna. Ituberarti kita menyerah untuk dikuasai kelemahan kita sendiri danpengaruh-pengaruh jahat dari luar diri kita. Kita dapat menyebutkan sifat-sifat manusiawi seperti malas, malu, bosan,menyerah dan kurang percaya diri, sangat memberi kontribusi besar bagikehidupan yang sia-sia. Jika seseorang sampai pada saat ajalnya, hanya dikenaloleh orang-orang sekitar sebagai pemalas, pengacau, penjahat dan beban bagiorang lain, ini merupakan sebuah kehidupan yang sia-sia. Jika seseorang yangsampai mati tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah yang menyiksa dirinyajasmani dan rohani, berarti ia memang mengalami kesia-siaan dalam hidupnya. Bacaan-bacaan suci pada hari ini memberikan kita satu nasihat penting,yaitu agar jangan sampai hidup kita menjadi sia-sia, hanya karena sikap hidupkita yang kurang teratur atau tidak disiplin. Tuhan menghendaki supaya kitadisiplin dalam menghayati iman kita, yaitu kita tidak boleh memandang remehatau santai dengan ajaran-ajaran dan perintah-perintah-Nya. Kita harus memandangnya begitu penting dan kita menjalaninya dengan serius.Simbol yang dipakai oleh Yesus ialah diri kita yang harus menjadi tanah subursehingga firman yang ditanam dapat tumbuh. Hujan rahmat yang diturunkanoleh-Nya menumbuhkan hidup kita sehingga dapat berbuah melimpah. Kehidupan yanghanya sia-sia adalah tanda iman yang rapuh dan dangkal. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Yesus, semoga Firman-Mu yang diwartakan, tumbuh di dalamdiri kami dengan subur dan selanjutnya sampai berbuah dan kasih dan kebaikan.Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...
-
966
Reading and meditation on the Word of God on Saturday of the fourteenth week in ordinary time, July 11, 2026, Memorial of Saint Benedict, Abbot
Delivered by Ria from the Parish of Good Shepherd in the Diocese of Surabaya, Indonesia. Isaiah 6: 1-8; Rs psalm 93: 1ab.1c-2.5; Matthew 10: 24-33.CHOOSING THE KINGDOM OF GOD The theme for our meditation today is: Choosing theKingdom of God. There was a young man who wanted to get married because his agewas already sufficient, which was 35 years old. He spoke with his mother aboutthis plan. The mother asked about who exactly was the girl whom his son haschosen. That's where the problem came out for clarification. The young man wasconfused to choose one of the two girls whom he thought were equally importantand precious to him. He explained to his mother all the characteristics of thetwo girls. However, the mother with her motherly intuition wasable to release her son's confusion by saying that he must choose one of thetwo who had the spirit of sacrifice. She must be able to offer from herselfwithout reservation for the sake of her partner in life. In consequence, herson must leave the girl who was believed to be the possessive person. The signof someone who is possessive is that he demands to be considered important, orbe given a very special attention. Then the young man could finally make hisright decision in choosing his ideal girl to be his partner for life. The Kingdom of God exists forever with God Himself andit came true in our history with the coming of Jesus Christ into the world. Thecenter of this Kingdom is the Lord Jesus Christ and all of His works for all ofus. The main characteristic of this Kingdom is all the spiritual works that aremanifested in the self-sacrifice of the Lord Jesus with His greatest goal, thatis to save humanity from sin and death. This Kingdom directs its work to uniteall mankind to be its people and citizens. On the contrary, the kingdoms of the world are fullwith this world's characteristics, namely a life that is attached with fleshand materialism. In this type of life people have a possessive mentality, thatis to take and to own. This is natural and none of us is born free from theinclination to be attached to this world's influence. If this attitude becomesvery dominant, this is where the competition and conflict begin becauseeveryone really wants to pursue one's own interest. For us the followers of Christ, the Kingdom of God isthe only choice to achieve salvation for a life that is eternal. Jesus is ourtrue Teacher and today He invites us to choose and follow Him until we becomelike Himself. We are weak servants, but we are given a challenge to become likeour Master, which is Jesus. The prophet Isaiah testified about himself, thatalthough he was a sinner, he chose to follow the Kingdom of God, then he wasready to be sent by God. Saint Benedict Abbot, in his time, provided analternative to live in the Kingdom of God in the European world, namely asimple and monastic life. Let'spray. In the name of the Father ... Almighty God, we pray that today we willbecome people who are helpful to our neighbors by witnessing the presence ofyour Kingdom to them, and we can give special attention for those who are farfrom Your way. Hail Mary, full of grace ... In the name of the Father ...
-
965
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Sabtu dalam pekan ke-14 masa biasa, 11 Juli 2026, Peringatan Santo Benediktus, Abas
Dibawakan oleh Aloysius Langoday dan Nelti Cornelia dari Paroki Santo Fransiskus Asisi Lamahora, Dekenat Lembata di Keuskupan Larantuka, Indonesia. Yesaya 6: 1-8; Mazmur tg 93: 1ab.1c-2.5; Matius 10: 24-33.MEMILIH KERAJAAN ALLAH Tema renungan kita pada hari ini ialah: Memilih Kerajaan Allah. Ada seorangpemuda ingin menikah karena usianya sudah dianggap cukup, yaitu 35 tahun. Iaberbicara kepada ibunya tentang rencana ini. Ibu bertanya tentang siapasebenarnya gadis pilihan putranya itu. Di situlah pokok masalahnya. Pemuda itubingung untuk memilih satu dari dua gadis yang menurutnya sama-sama penting danberharga baginya. Ia menjelaskan semua ciri kedua gadis itu kepada ibunya. Tetapi sang ibu yang memiliki intuisi lebih tajam, menghilangkankebingungan putranya dengan mengatakan bahwa dari dua gadis itu, ia harusmemilih gadis yang memiliki sikap rela berkorban. Apa saja yang ada padadirinya harus dapat dipersembahkan demi pasangan hidupnya. Maka konsekuensinya,putranya harus meninggalkan gadis yang bersikap posesif. Tanda seseorang yangposesif ialah ia sangat menuntut untuk diperhatikan, dipentingkan, atau diberitempat sangat istimewa. Pemuda itu akhirnya dapat mengambil keputusannya yangtepat dengan pilihan gadis idamannya untuk dijadikan pasangan hidupnya. Kerajaan Allah sudah ada bersama Tuhan Allah sendiri dan menjadi kenyataandengan kedatangan Yesus Kristus ke dunia. Pusat kerajaan Allah itu ialah TuhanYesus Kristus dan seluruh karya-Nya kepada umat manusia. Ciri utama kerajaanini ialah penuh dengan karya rohani, pengorbanan dan persembahan diri dengantujuan terbesar ialah menyelamatkan umat manusia dari dosa dan kematian.Kerajaan ini ingin menyatukan semua umat manusia menjadi warganya. Kerajaan dunia penuh dengan ciri-ciri hidup duniawi dengan tanda utamanyaialah kedagingan dan materialisme. Oleh karena itu sikap manusia yang sangattepat untuk ini ialah posesif, dengan mengambil dan memilikinya. Setiap pribadimanusia memiliki sikap alami untuk terikat dengan dunia ini. Jika sikap inimenjadi sangat dominan maka dari sinilah dimulai persaingan dan konflik diantara orang-orang yang mengejar pemenuhan kepentingan dirinya sendiri. Bagi para pengikut Kristus, kerajaan Allah adalah pilihan satu-satunya demimencapai keselamatan hidupnya. Yesus adalah Guru sejati kita dan pada hari iniIa mengajak kita untuk memilih dan mengikuti Dia sampai kita menjadi sepertidiri-Nya. Kita adalah para hamba yang lemah, namun kita diberi tantangan untukdapat menjadi Tuan seperti Dia. Nabi Yesaya memberikan kesaksian tentangdirinya, bahwa meskipun ia seorang yang berdosa, ia memilih mengikuti KerajaanAllah, kemudian ia siap untuk diutus oleh Tuhan. Santo Benediktus Abas, padamasanya, memberikan alternatif Kerajaan Allah di dunia Eropa, yaitu jalanpertapaan dan hidup membiara.Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Tuhan yang maha kuasa, semoga pada hari ini kami membuatdiri kami menjadi orang-orang berguna bagi sesama kami melalui kesaksiankehadiran kerajaan-Mu di dalam dunia, khususnya menjadi terang bagi orang-orangyang tersesat. Salam Maria, penuh rahmat... Dalam nama Bapa ...
-
964
Reading and meditation on the Word of God on Friday of the fourteenth week in ordinary time, July 10, 2026
Delivered by Vina Kuesal from the Holy Trinity Parish in the Archdiocese of Melbourne, Australia. Hosea 14: 2-10; Rs psalm 51: 3-4.8-9.12-13.14.17; Matthew 10: 16-23.PREPARE FOR THE RISK Our meditation today has the theme: Preparing for theRisk. There were two teenagers, brother and sister, who went shopping for theirschool bags. The sister who is older bought her bag that was cheaper, while heryounger brother bought his that was more expensive. The cheaper bag had pocketsfor keeping the tupperware water or food and other items such as umbrella andobjects for playing. The more expensive bag looked beautiful in shape andcolor but did not have pockets for keeping the tupperware and umbrella. Thebrother realized the importance of the bag as his sister bought, so he returnedto the shop to change it with the same bag as his sister had. We see that thetwo teenagers really foresaw the risks they would face when they returned toschool in the beginning of the new school year. The risk for the Israelites described by the prophetHosea was the trouble they had to face as the consequence of their sins againstthe Lord. If they wished a renewal, a better and a new life, all they had to dowas to abandon their old life that was in the bondage of sins, then returned tosay words of regret and then repent in the face of God. That was a kind of riskwhich was easy to say or teach, but was difficult to put into practice. In today's Gospel, we see Jesus made a list of risksand dangers that already awaited His disciples who were sent on His behalf. Themost serious thing was that they must suffer all forms of persecution likeJesus Christ himself experienced. They were expected to always ready for anygiven situation even to experience the loss of their lives. Actually Jesus isconvincing us that the risk is very useful for our faithfulness in thefollowing of His call for all of us. This is the price of our being called andchosen by Him. So the nature of our motivation is actually spiritual. Prepare for the risk is different from fighting therisk. Prepare for the risk shows that someone is calm, optimistic, confidentand in good will for whatever risk hewill face. If the risks are severe and unpredictable, he will face withenthusiasm and willingness. If the risk is small, he does not underestimate orrelax with it. Whereas fighting the risk is related to reaction and resistanceto the risks already noticed. It is here when clashes or conflicts can occurbetween the opposing parties. For us, preparation or vigilance is our priority. Thescriptures always advise us to always be alert and attentive to the signs fromGod because in front of us are many risks already awaiting. When we choose tohave faith in Jesus Christ and decide to live out with responsibility ourpersonal vocations, we must prepare for the risks. Let'spray. In the name of the Father ... O Lord Jesus Christ, may we always beprepared and be aware of any risks we will face in the path of our mission toheed and fulfill Your call for each of us. Our Father who art in heaven... Inthe name of the Father ...
-
963
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Jumat dalam pekan ke-14 masa biasa, 10 Juli 2026
Dibawakan oleh Apolonia Lema dan Maria Tania Mosa dari Paroki Santo Simon Petrus Tarus di Keuskupan Agung Kupang, Indonesia. Hosea 14: 2-10; Mazmur tg 51: 3-4.8-9.12-13.14.17; Matius 10: 16-23.BERSIAP MENGHADAPI RISIKO Renungan kita pada hari ini bertema: Bersiap Menghadapi Risiko. Ada duaorang remaja, kakak dan adik, belanja tas sekolah di toko. Sang kakak yangseorang perempuan membeli tas yang harganya lebih murah, sedangkan adiknya yanglaki-laki membeli yang lebih mahal. Tas yang lebih murah memiliki saku-sakuuntuk menyimpan botol air dan barang lain seperti payung dan benda-benda lainuntuk keperluan bermain di sekolah. Tas yang lebih mahal memang bentuk dan warnanya jauh lebih indah tetapitidak memiliki saku-saku untuk menyimpan air dan payung. Sang adik menyadaripentingnya tas seperti yang dibeli kakaknya, maka ia kembali ke toko untukmenggantikannya dengan tas yang sama dengan kakaknya. Kita melihat bahwa keduaremaja ini sungguh memperhitungkan risiko yang akan dihadapi ketika merekakembali ke sekolah pada tahun ajaran baru ini. Risiko bagi bangsa Israel yang disampaikan oleh Nabi Hosea ialah apa yangharus mereka hadapi setelah mereka sudah terlanjur jatuh ke dalam lumpur dosa.Jika mereka ingin mendapatkan hidup baru yang lebih baik, yang harus merekalakukan ialah meninggalkan hidup yang penuh dosa, kemudian kembali membawakata-kata penyesalan dan bertobat kepada Tuhan. Itu adalah sebuah risiko yanggampang dikatakan atau diajarkan, tetapi berat untuk dipraktikkan. Yesus memberikan sebuah daftar risiko dan bahaya yang sudah menunggu paramurid-Nya yang diutus atas nama-Nya. Yang paling serius ialah mereka harusmenderita segala bentuk penganiayaan seperti Yesus Kristus sendiri alami.Mereka siap untuk mengalami kehilangan nyawanya. Risiko ini berguna untuksebuah kelangsungan hidup dalam mengikuti kehendak Tuhan. Ini adalah hargasebuah panggilan dalam mengikuti Kristus. Jadi motivasinya sangat spiritual. Bersiap untuk risiko berbeda dengan berani menghadapi risiko. Bersiapdengan risiko menunjukkan bahwa seseorang itu tenang, optimis, percaya diri danrela untuk apa pun yang bakal dihadapi. Kalau risikonya berat dan tak terduga,ia akan menghadapi dengan bersemangat dan kerelaan. Kalau risikonya kecil iatidak meremehkan atau bersantai-santai. Sedangkan keberanian itu berkaitandengan reaksi dan perlawanan terhadap risiko yang sudah diketahui. Di sinidapat terjadi bentrok atau konflik di antara pihak-pihak yang bertentangan. Bagi kita, persiapan dan kewaspadaan adalah keutamaan. Kitab suci selalumenasihatkan kita untuk selalu bersiap-siaga dan penuh perhatian akantanda-tanda dari Tuhan karena di depan kita ada banyak risiko yang menunggu.Ketika kita memilih untuk beriman kepada Yesus Kristus dan memutuskan untukmenjalani panggilan kita masing-masing, kita harus bersiap dengan risikonya. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Yesus Kristus, semoga kami selalu bersiap dan waspadaterhadap setiap risiko yang akan kami hadapi di dalam jalan panggilan kamimasing-masing. Bapa Kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...
-
962
Reading and meditation on the Word of God on Thursday of the fourteenth week in ordinary time, July 9, 2026
Delivered by Samuel Ivan Gunarta from the Parish of Mary of All the Nations in the Diocese of Bogor, Indonesia. Hosea 11: 1b.3-4.8c-9; Rs psalm 80: 2ac.3b.15-16; Matthew 10: 7-15.FREELY RECEIVE FREELY GIVE The theme for our meditation today is: Freely ReceiveFreely Give. There was a grade 5 elementary school boy who was asking hismother, as he said: "Mommy, which one goes first, to give or toreceive?" His mother immediately replied, "What is obvious is togive." Then the boy said, "So give me money because I want buy mytoys." We all should agree that to give is the first, because this is whatGod always does towards us. Our lives as human beings and the gift of faith inus are indeed God's gifts to us. In today's Gospel, we see the commission of Jesus tothe apostles, which is to give, to bring the name of Jesus Christ to everyone,and to present His kingdom that brings justice and comfort to those who receiveit. Then Jesus concluded His message by saying this to them: "Without costyou have received; without cost you are to give" or freely receive freelygive. Jesus also addresses this to us, that when we give or share the Lord'sgift, it must be free of charge. For example, the apostles had received all thedivine wisdom and gift for free, so they should preach them for free too. Theyshould not take any advantage of whatever God's work that they did. It was equally evident to the Israelites who hadreceived all the goodness of God especially when God defended, nurtured andmade them a chosen people of God. In fact, according to the prophet Amos, whenthis nation suffered being exiled in the foreign land other than their own landof the Palestine, the Lord God had always His pity on them. God indeed punishedthem for the sins they had committed but later God comforted them and gave themhope for their liberation. They also must follow the example of God to be kindand generous toward one another and other people foreign to them as well. The act of freely receive freely give is the way howwe imitate the Lord Jesus Christ. We also imitate Our Lady, the Blessed VirginMary, Saint Joseph, the apostles, Saint Paul, Saint John the Baptist and allthe other Saints. Our own parents are also the examples for us of thislifestyle, because they give everything to each of us and they never ask forreward or payment. What is really unpleasant and discouraging is that there arechildren who should have pleased their parents with their good deeds and exemplarylives, but instead cause troubles by hurting and showing unkind manner to themto their death. So our good news today would be this: we like to bealways in the way of Jesus Christ, because we have freely received so much fromanywhere and anyone, and so we are happy to give them freely as well. Let usnot be so obsessed to be given importance and served of all cost, but let us begenerous to give what we should give to God and to our neighbors.Let'spray. In the name of the Father ... O Lord our God, strengthen us with YourSpirit, that is, the Spirit of selfless love, so that our lives will beenriched with love that covers all people. Hail Mary, full of grace ... In thename of the Father ...
-
961
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Kamis dalam pekan ke-14 masa biasa, 9 Juli 2026
Dibawakan oleh Petrus Kanisius Kebaowolo dan Elisabeth Welan dari Paroki Karawaci, Gereja Santo Agustinus di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Hosea 11: 1b.3-4.8c-9; Mazmur tg 80: 2ac.3b.15-16; Matius 10: 7-15.MENERIMA DENGAN CUMA-CUMA, MEMBERI JUGA CUMA-CUMA Tema renungan kita pada hari ini ialah: Menerima Dengan Cuma-Cuma, MemberiJuga Cuma-Cuma. Ada seorang bocah kelas 5 SD bertanya kepada ibunya: "Ma,mana yang duluan, memberi atau menerima?" Ibunya langsung menjawab,"Yang jelas memberi." Kata anak itu, "Kalau begitu berikan akuuang untuk membeli mainan." Kita semua sepatutnya setuju bahwa memberimemang yang pertama, karena hal ini adalah tindakan Tuhan terhadap kita. Hidupkita sebagai manusia dan karunia iman yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Di dalam Injil hari ini, tugas perutusan Yesus kepada para rasul ialahuntuk memberi, yaitu membawa nama Yesus kepada setiap orang dan menghadirkankerajaan-Nya untuk menyejahterakan mereka jiwa dan raga. Lalu pesan Yesuskepada mereka: Kalian telah menerima semua dari-Ku sebagai karunia cuma-cuma.Maka ketika kalian memberikan semua itu, harus juga dengan cuma-cuma. Contoh,para rasul mendapatkan pengetahuan tentang Allah dan rahasia-Nya secara gratis,maka mereka hendaknya mewartakan itu dengan gratis pula. Mereka tidak bolehmengambil keuntungan apa pun kegiatan pewartaan itu. Rahmat dan karunia yang gratis ini sejak dahulu sebelum zamannya pararasul, telah dialami oleh bangsa Israel yang mendapat segala perbuatan baikAllah yang membela, memelihara dan membesarkan mereka. Bahkan, menurut NabiAmos, ketika bangsa ini sangat menderita sebagai tawanan di Babel, Tuhan Allahjuga berbelas kasih kepada mereka. Tuhan mengangkat semua bentuk hukuman kepadamereka dan kembali mengasihani mereka. Oleh karena itu mereka harus mengikuticontoh dari Tuhan untuk selalu berbuat baik pertama-tama di antara mereka dankemudian kepada bangsa-bangsa lain. Menerima cuma-cuma dan memberi juga cuma-cuma merupakan cara kita meniruTuhan Yesus. Kita juga meniru Bunda Maria, Santo Yusuf, para rasul, santoPaulus, Yohanes Pembaptis dan semua orang kudus lainnya. Orang tua kita sendirijuga telah menjalani gaya hidup ini, karena mereka memberikan segala sesuatudemi kita masing-masing dan tak pernah mereka meminta balasan atau bayaran.Justru yang sangat tidak terpuji ialah jika ada anak-anak yang mestinyamembalas orang tua dengan menyenangkan mereka, tetapi sebaliknya menyusahkanbahkan menyakiti mereka sampai kematian mereka. Jadi pesan bijaksana hari ini adalah: kita hendaknya tetap dalam jalanYesus Kristus, yaitu karena kita telah menerima begitu banyak dan cuma-cumadari mana pun dan siapa pun, maka kita harus memberi dengan cuma-cuma juga.Jangan sampai terjadi bahwa kita hanya ingin untuk diberi dan dilayani sesuaidengan keinginan kita, sementara itu kita membatasi diri untuk memberi apa yangseharusnya dapat kita berikan kepada Tuhan dan sesama kita.Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Tuhan dan Allah kami, kuatkanlah kami dengan Roh-Mu,yaitu semangat dalam pelayanan yang tanpa pamrih, sehingga berkat-Mu menjadinyata bagi kami. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa ...
-
960
Reading and meditation on the Word of God on Wednesday of the fourteenth week in ordinary time, July 8, 2026
Delivered by Joanna from the Parish of Saint Thomas the Apostle in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Hosea 10: 1-3.7-8.12; Rs psalm 105: 2-3.4-5.6-7; Matthew 10: 1-7.FINDING THE LOST The theme for our meditation today is: Finding theLost. There was a story about the leader of Satan went to meet God. Heprotested, that every time those sent into the world were angels, then prophetsand the top of all was the Son of God himself. The leader of Satan urged thathe himself or his representatives be given opportunity to be sent as well. But God did not fulfill the demand of Satan. Thereason was because Satan's main mission was to destroy and eliminate whateverbelongs to God, while the work of God and persons sent to the world were thosewith the duty to find out and bring back what had been lost because of Satan'swork. This means that, if there is freedom and opportunity in favor of Satan, hewill be more enjoyable with his mission and that would bring more damages andelimination from God’s side. Jesus Christ is the Lord, the Son of God, who seeksand finds the lost. When He was still alive on earth, He did this mission tofulfill the will of the Father during his public works. This mission then wascontinued by the apostles who were sent in the name of Jesus for the samepurpose, namely to find the lost ones. Jesus told them to focus on the lost sheepof the Israelites. They obeyed to fulfill this duty. The commission of the twelve apostles is related tothe twelve tribes of Israel. They were the chosen people who accepted andcontinued the teachings of God for all mankind. But they were not the holdersof all truth. They were chosen to mediate the great deeds of God to the world.Jesus Christ is the principle messenger of God himself who came into the worldthrough this chosen people. So the Lord Jesus wanted the twelve apostles torealize the mission, that is to unite the scattered children of God. They wereasked to strengthen the unity of people as a nation chosen and blessed by God.Jesus Christ wished this unity is strongly rooted with all the truth which isfrom God and is brought throughout the world reaching out all nations andcultures. This was realized by the foundation of the Church after the Ascensionof Jesus. Now the duty of the Church is to make Christ and His gospel known toall nations of the world. The good news for us today is that we should firstmake ourselves strong, mature, capable and available men and women of Christ,before we can bring our brothers and sisters to come and to meet God. We shouldnot be like Pharisees who were able to teach and speak but by their own livesthey kept people away from God. We must depart from ourselves, then we reachout and guide others to the Lord. Let'spray. In the name of the Father ... O Lord Jesus Christ, teach us to be trueexamples for our neighbors through our words and deeds every day. Glory to theFather and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...
-
959
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Rabu dalam pekan ke-14 masa biasa, 8 Juli 2026
Dibawakan oleh Suster Petri Canisia, CIJ dan Suster Roberta, CIJ dari Komunitas Suster CIJ Santa Maria Assumpta Dili, di Keuskupan Agung Dili, Timor Leste. Hosea 10: 1-3.7-8.12; Mazmur tg 105: 2-3.4-5.6-7; Matius 10: 1-7.MENEMUKAN YANG HILANG Tema renungan kita pada hari ini ialah: Menemukan Yang Hilang. Pada suatuketika kepala Setan menghadap Tuhan Allah. Ia mengajukan protes, bahwa setiapkali yang diutus ke dalam dunia ialah para malaikat, kemudian para nabi danpuncaknya Putra Allah sendiri. Kepala Setan ini mendesak supaya dirinya atauwakil-wakilnya dapat diberikan juga kesempatan untuk diutus. Tetapi Tuhan Allah tetap tidak akan memenuhi tuntutan Setan. Alasannyaialah karena tugas utama Setan ialah merusak dan menghilangkan yang menjadimilik Tuhan, sedangkan tugas Tuhan dan para utusannya ialah menemukan manusiadan ciptaan Tuhan lainnya yang telah hilang karena ulahnya Setan. Yang jelas,kalau diberi kebebasan dan kesempatan, Setan akan menjadi lebih menikmatitugasnya itu, dan membawa kerugian bagi Tuhan Allah sendiri. Yesus Kristus adalah Tuhan dan Putra Allah yang mencari dan menemukan yanghilang. Tugas itu ia lakukan selama pekerjaan-pekerjaan publik-Nya. Tugas ini dilanjutkanoleh para rasul yang diutus atas nama-Nya. Yesus berpesan kepada mereka untukfokus kepada domba-domba yang hilang dari kalangan Israel. Yang mereka lakukanialah semua perbuatan baik yang telah Yesus perbuat. Apa yang diperintahkan oleh Tuhan kepada kedua belas rasul ini terkaitdengan kedua belas suku Israel. Mereka adalah umat pilihan yang menerima danmeneruskan ajaran Tuhan Allah bagi segenap umat manusia. Tetapi mereka bukanpenguasa segala kebenaran. Mereka dipilih untuk menjadi pengantaraperbuatan-perbuatan Tuhan Allah yang besar. Yesus Kristus adalah utusan BapaAllah sendiri yang datang ke dunia melalui bangsa pilihan ini. Jadi Tuhan Yesus ingin supaya kedua belas rasul itu dapat mewujudkan misiuntuk menyatukan suku-suku Israel. Mereka harus memperkuat persekutuan yanglebih kuat sebagai satu bangsa yang diberkati oleh Allah, bangsa pilihan-Nya.Yesus Kristus ingin menjadikan suatu persekutuan yang kuat, yang mengakarkansemua kebenaran dari Allah dan matang untuk melanjutkan misi itu ke seluruhdunia. Ini direalisasikan dengan berdirinya Gereja setelah Yesus naik ke surga.Kini tugas Gereja ialah membuat Kristus dan Injil-Nya dikenal di seluruh bangsadi dalam dunia ini. Warta gembira bagi kita hari ini ialah hendaknya kita terlebih dahulumenjadikan diri kita kuat, matang, mampu dan unggul sebagai pengikut Kristus,sebelum kita dapat membawa sesama atau saudara kita datang berjumpa denganTuhan. Kita hendaknya tidak boleh seperti orang Farisi yang mampu mengajarkandan berbicara tetapi membuat orang-orang jauh dari Tuhan. Kita harus berangkatdari diri kita, barulah kita mencapai dan membimbing orang lain.Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa.... Ya Tuhan Yesus Kristus, ajarilah kami untuk menjadi teladanyang sesungguhnya bagi sesama kami di dalam kata dan perbuatan kami setiaphari. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
-
958
Reading and meditation on the Word of God on Tuesday of the fourteenth week in ordinary time, July 7, 2026
Delivered by Thia Santos from the Church of Divine Mercy Shah Alam, in the Archdiocese of Kuala Lumpur, Malaysia. Hosea 8: 4-7.11-13; Rs psalm 115: 3-4.5-6.7ab-8.9-10; Matthew 9: 32-38.JESUS IS NOT AN EQUAL SPARRING TO THE EVIL SPIRIT Our meditation today has the theme: Jesus is Not anEqual Sparring to the Evil Spirit. There was a priest who was invited by afamily to pray and cast out some evil spirits that possessed one of itsmembers. The priest brought with him the necessary instruments such as holywater, crucifix, alb and stole. As soon as the possessed person saw the priestcoming from the front of the house, he showed his face like someone who wantedto fight an enemy. He looked very strong. The priest stood calm before him. He spoke with allhis courage and what came out of his mouth was the word of God. This was enoughto silence that possessed person from uttering all curses. He couldn't standanymore the powerful God who made him very weak and powerless. The possessedman dropped into the bed. Meanwhile the priest kept praying and repeatedlyuttering the name of the Lord Jesus Christ. Jesus Christ was actually working in the person ofthat priest. Jesus is the Lord, so he is not bothered at all, scared or runaway because of the evil spirits. Jesus loves the sick, while evil spirits arenot loved. Instead they are rebuked, rejected and pressured to go out from thehuman person they take control. The evil spirits themselves are afraid to seeJesus from the first moment. They know that Jesus is much stronger and theywill never succeed to challenge Him. It is often shown in the scriptures thatthese evil spirits beg the Lord to have pity on them. It is very clear that every evil spirit is not anequal sparring to Jesus Christ. We as the followers of Christ have ouradvantage. We always go to Jesus to beg His power that He provides through Hisofficial representative, the ordained priest, in order to drive away evilspirits that take possession on our lives. However, by the dignity of thecommon priesthood because of the Baptism in Jesus Christ, every follower ofJesus should have the authority to reject and cast away temptations and evilpowers by using the name and power of the Lord Jesus Christ. The Lord Jesus gives us grace and strength to rejectthe evil spirits or any bad influence, through the power of sacraments of theChurch. Through the sacraments of Baptism, Reconciliation and Eucharist, wehave the power of the Almighty God to fight Satan and all his powers. There aremany instruments that we can use in fighting evil influences in this world, forexample through knowledge and wisdom, prayer and work, maturity as human personand self-sacrifice, discipline and faithfulness. The work of driving out evil spirits and theinfluences of the world is a very big thing to do. In their times, Jesus ofNazareth and the prophet Amos worked alone to fulfill this particular task.Today there are so many from our part who represent the Lord Jesus and theprophet Amos to do this duty. We must be able to carry out this important duty,and God himself guides us because after all God is the winner.Let'spray. In the name of the Father … O Lord Jesus Christ, fill us with Your powerso that we are able to resist all evil spirits that aim to destroy us. OurFather who art in heaven ... In the name of the Father ...
-
957
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Selasa dalam pekan ke-14 masa biasa, 7 Juli 2026
Dibawakan oleh Suster Amaria, SSpS dari Paroki Salib Suci Nanzan di Keuskupan Nagoya, Jepang. Hosea 8: 4-7.11-13; Mazmur tg 115: 3-4.5-6.7ab-8.9-10; Matius 9: 32-38.YESUS BUKAN LAWAN SEPADAN ROH JAHAT Renungan kita pada hari ini bertema: Yesus Bukan Lawan Sepadan Roh Jahat.Seorang pastor diundang satu keluarga untuk berdoa dan mengusir roh jahat yangmerasuki salah seorang anggotanya. Pastor membawa peralatan yang diperlukanseperti air suci, salib Yesus, juba dan stola. Begitu orang kerasukan itumelihat pastor datang dari depan rumah, ia menampakkan wajahnya sepertiseseorang yang ingin berperang melawan musuh. Ia terlihat sangat kuat. Pastor tampak tenang di hadapannya. Ia berani berbicara dan yang keluardari mulutnya ialah firman Tuhan, sehingga membuat orang yang kerasukan itudiam. Keberaniannya semakin berkurang dan membuatnya menjadi lemah sekali. Iamenjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Sementara itu sang pastor tetap berdoa danberulang kali mengucapkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Yesus bekerja di dalam diri pastor tersebut. Yesus adalah Tuhan, jadi samasekali ia tak dibuat gemetar, takut atau lari oleh roh-roh jahat. Yesus sayangkepada orang yang sakit, sementara roh jahat tidak mendapatkan sayang tetapiteguran, hardikan dan tekanan untuk keluar. Roh jahat sendiri lebih dahuluketakutan melihat Yesus. Ia tahu Yesus jauh lebih kuat, maka ia takut. Makasering roh jahat juga memohon dikasihani juga oleh Tuhan. Sungguh jelas bahwa roh jahat yang sejahat apa pun, ia bukan lawan sepadanYesus Kristus. Keuntungan ada di pihak kita yang menjadi pengikut Kristus. Kitaselalu berpaling kepada Yesus untuk memakai kekuatan-Nya, melalui wakilresmi-Nya yaitu imam, untuk mengusir roh jahat yang merasuki manusia. Atausetiap orang yang percaya dapat langsung mengusir godaan dan rasukan roh jahatdalam nama dan kuasa Yesus Kristus. Tuhan Yesus memberikan rahmat dan kekuatan untuk pengusiran roh-roh jahatatau setiap pengaruh jahat melalui sakramen-sakramen di dalam Gereja. Secarakhusus melalui sakramen permandian, tobat dan Ekaristi, kita sudah dipenuh olehkuasa Allah yang maha tinggi untuk melawan setan dan segala kekuatannya. Adabanyak peran yang kita mainkan dalam pengusiran pengaruh jahat di dunia ini,misalnya melalui pengetahuan dan kebijaksanaan, dengan doa dan bekerja, dalamkedewasaan dan rela berkorban, serta dengan disiplin dan kesetiaan. Pekerjaan mengusir roh jahat dan pengaruh dunia yang mematikan adalah tugasyang sangat besar dan banyak. Pada waktunya masing-masing, Yesus dan nabi Amosbekerja sendiri dalam menunaikan tugas tersebut. Saat ini yang mewakili TuhanYesus dan nabi Amos sudah sangat banyak, yaitu kita semua. Kita harus dapatmenjalankan tugas yang penting ini, sambil Tuhan sendiri yang membimbing kita,karena bagaimana pun Tuhan harus menang.Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Bapa, penuhilah kami dengan kuasa-Mu sehingga kami mampumelawan segala pengaruh jahat yang dibawa oleh roh-roh jahat dan segala tipumuslihatnya. Bapa kami yang ada surga ... Dalam nama Bapa ...
-
956
Reading and meditation on the Word of God on Monday of the fourteenth week in ordinary time, July 6, 2026
Delivered by Josephine Mercy Ho from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Hosea 2: 13.14b-15.18-19; Rs psalm 145: 2-3.4-5.6-7.8-9; Matthew 9: 18-26.THE WOMEN WHOM JESUS LOVED The theme for our meditation today is: The Women whomJesus Loved. Jesus Christ of Nazareth, the Son of God, indeed became a man likeus. He had all the characteristics like human beings in general. One of themwas that He had women who were near Him and served Him. Jesus could not justhave male friends who were evidently close to Him. There was a parish priest who said this in one of hishomilies. After the Holy Mass, the priest was questioned by several youngpeople who met him outside the church. "Who were these women very specialand so loved by Jesus?" They expected that the answer given would be likeMary Magdalene, Martha and her sister Mary or one of the women found in thescriptures. They wanted to know that Jesus Christ had really a love story likeanyone of us, men and women. The Priest said that the women whom Jesus loved andthat they were so special to Him, were those small, poor, sick, sinful, andwidowed in the society where Jesus lived. The first woman should be His ownMother Mary and our Mother too. There were many other women in the newtestament, with or without names, who can be included in this group with theBlessed Mother. Women who were so loved by Jesus had thecharacteristics or signs that made Jesus' attention went to them. The mostnatural sign should be their attractiveness as women that make them equalpartners to men. The Lord makes a woman wife to her husband. This symbolimplies that whoever we are, both men and women, if we are righteous personsand God is working in us, just like the good soil for the word of God to grow,this certainly shows that God really loves us. Another sign of women whom the Lord Jesus loves istheir weakness, their difficulties, and their pains. Jesus' choice has alwaysbeen those people like what the Gospel of today shows us, namely the daughterof the head of the synagogue who was brought back to life by Jesus and a womansuffering hemorrhages for 12 years healed by Jesus. This symbol represents allof us who are in trouble, sickness, and missing something or someone. We reallyneed the Lord Jesus to heal and comfort us. Another one sign of women whom Jesus loved is theirpiety, pure hearts and sacrifices that they offer both for those they love andfor the life in general. Saint Maria Goretti was a little girl who defended herpurity by offering her own life, and this must be an example for all of us. Byfollowing all these examples, we deserve great and wonderful love from the LordJesus Christ. Let'spray. In the name of the Father ... O Lord Jesus, make us able to love ourneighbors with Your own love so that they may have a wonderful encounter withyou and may renew their lives. Hail Mary, full of grace ... In the name of theFather ...
-
955
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Senin dalam pekan ke-14 masa biasa, 6 Juli 2026
Dibawakan oleh Markus Soge Purab dan Maria Fidelia B. Niron dari Stasi Santo Petrus Waowala, Paroki Santo Bernardus Abas Tokojaeng, Keuskupan Larantuka, Indonesia. Hosea 2: 13.14b-15.18-19; Mazmur tg 145: 2-3.4-5.6-7.8-9; Matius 9: 18-26.PEREMPUAN YANG DICINTAI YESUS Tema renungan kita pada hari ini ialah: Perempuan Yang Dicintai Tuhan.Yesus Kristus dari Nazareth adalah Putra Allah yang menjadi manusia. Iamemiliki semua ciri seperti manusia pada umumnya. Salah satunya ialah memilikiwanita-wanita yang berada di dekat-Nya dan yang melayani Dia. Yesus tidakmungkin hanya bersahabat atau dekat dengan kaum laki-laki. Ada seorang pastor paroki mengatakan hal ini di dalam kotbahnya. SetelahMisa kudus, pastor itu ditanyai oleh beberapa orang muda yang bertemudengannya. "Siapakah perempuan yang menjadi orang yang sangat spesial atauyang sangat dicintai oleh Yesus?" Mereka berharap agar jawaban yangdidapatkan ialah seperti Maria Magdalena, Marta dan saudarinya Maria atau salahsatu nama wanita yang ditemukan namanya di dalam kitab suci. Sang Pastor berkata bahwa perempuan yang dicintai dan sangat spesial bagiYesus Kristus ialah mereka yang dipandang kecil, hina, sakit, pendosa, danjanda. Perempuan yang paling pertama ialah ibunda-Nya sendiri, yaitu BundaMaria, Bunda kita semua. Ada banyakwanita di dalam perjanjian baru, baik yang punya nama maupun yang tidakdisebutkan namanya, yang dapat kita sebutkan. Perempuan yang dicintai oleh Yesus memiliki ciri-ciri atau tanda-tanda yangmembuat perhatian Yesus jatuh kepada mereka. Tanda yang natural padanya ialahsebagai pribadi yang disayangi dan dijadikan pasangan yang sepadan, yang didalam istilah yang selalu kita pakai ialah istri. Simbol ini mengandung artibahwa siapa pun kita baik laki-laki maupun perempuan, jika kita menjadi tepatbagi Tuhan untuk bekerja di dalam diri kita, seperti tanah subur agar benihsabda-Nya tumbuh, maka Tuhan sungguh mencintai kita. Tanda lain pada perempuan sehingga cinta Tuhan Yesus mengalir kepadanyaialah kelemahan, kekurangan, dan sakit yang mereka alami. Pilihan Yesus selalujatuh ke orang-orang dalam kategori ini terlihat jelas di dalam kisah Injilpada hari ini, yaitu anak perempuan kepala rumah ibadat yang dipulihkan olehYesus dan seorang wanita 12 tahun menderita pendarahan yang disembuhkan olehYesus. Simbol ini mewakili kita semua yang berada dalam kesulitan, sakit, dankehilangan sesuatu atau seseorang, kita memang sangat memerlukan Tuhan Yesusuntuk menyembuhkan dan menghibur kita. Tanda yang lain dari perempuan ialah kesalehan, hati yang murni danpengorbanan diri yang ia berikan, baik kepada orang-orang yang dikasihinyamaupun kepada kehidupan pada umumnya. Santa Maria Goreti adalah gadis cilikyang mempertahankan kemurniannya, dan harus menjadi teladan bagi kita semua.Dengan mengikuti semua teladan ini, maka kita pantas mendapatkan kasih yangbesar dan sangat indah dari Tuhan Yesus Kristus. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan Yesus, buatlah kami mampu mengasihi orang laindengan kasih-Mu sendiri sehingga mereka dapat mengalami perjumpaan dengan-Mudan memuliakan Dikau. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
-
954
Readings and meditation on the Word of God on the Fourteenth Sunday in Ordinary Time, July 5, 2026
Delivered by Christine Gunawan from the Parish of Saint Joseph Cathedral in the Archdiocese of Pontianak, Indonesia. Zechariah 9: 9-10; Rs psalm 145: 1-2.8-9.10-11.13cd-14; Romans 8: 9.11-13; Matthew 11: 25-30.HE GIVES US REST The theme for our meditation on this 14thSunday in Ordinary Time is: He Gives Us Rest. There were two children in afamily, one was in grade 6 and the younger one is in grade 4 elementary school.Their mother was so obsessed that her children were to be smart and successful.She required them with a lot of extra learning and tutoring. She was so upsetif her children got red marks. She was so disciplined with them that thechildren became so scared and exhausted. Every time they returned home, their faces lookeddiscouraged. But they remained under the observance of the mother who did notwant her children to have time for relax and play. However, they had a wise andkind father. Even though he had just returned from work, he took times toaccompany his two children. He brought them pleasant gifts or souvenirs. Hehugged them and told them many things that were entertaining and made themlaugh. What the father did to his children reflects Jesus'own deed, as He brought the little ones, the sick, the weak, the neglected, thepoor, and the forgotten to come to Him. He says: "Come to Me, all of youwho are weary and heavy burdened. I will give you rest." Jesus invites allof us to come to Him to experience such wonderful blessing from him. What heprovides is what happiness is all about. However, are we all tired and helpless? Of course weare. Tiredness and helplessness differ in grades from one person to another.Situation, work, and difficulty of each person is different with their relatedburdens or problems. Based on the light of the readings of today, there arethree burdens that we should give attention to. The first is the burden of our being as little andweak persons. If we are the little ones, the weak and those who have noinfluence, it signifies that there are always some who are in power and at anytime they may act towards us without love and mercy. They often don't have pityand trust in us. Another burden is the burden of sin. If we do not take care ofour souls by regretting sin, confessing it and repenting, it signifies that theburden is becoming heavier day by day. In due time the sin will torment anddestroy us. Saint Paul is very clear in saying that life in the flesh is aheavy burden for us. The third burden is the burden of pride. According toJesus Christ, the learned, wise, powerful and rich people are those who carryheavy burdens. They are actually very tired, because they are so obsessed formany things in life. For example, if you are too much preoccupied with so manyplans and ambitions, you will be very tired and boring. To all of these, Jesus'invitation becomes for us very important, that we should come to Him, becausefrom Him we find a pleasant rest. Let'spray. In the name of the Father ... O heavenly Father, may with this Sundaycelebration, we find in You a restful life and gain good health of our bodiesand souls. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit ... In thename of the Father ...
-
953
Bacaan-bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Minggu Biasa ke-14, tanggal 5 Juli 2026
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Zakaria 9: 9-10; Mazmur tg 145: 1-2.8-9.10-11.13cd-14; Roma 8: 9.11-13; Matius 11: 25-30.IA MEMBERI KITA KELEGAAN Tema renungan kita pada hari Minggu Biasa ke-14 ini ialah: Ia Memberi KitaKelegaan. Ada dua orang bocah kakak-beradik, masing-masing kelas 6 dan 4 SD.Ibu mereka sangat terobsesi supaya anak-anaknya pintar dan sukses. Ia wajibkanmereka dengan banyak les tambahan. Ia menjadi malu kalau anak-anaknya mendapatnilai merah. Ia sangat disiplin dengan mereka sampai-sampai anak-anak tampaksangat takut dan kelelahan. Setiap mereka pulang ke rumah, wajah mereka sudah tampak kehilangansemangat. Tetapi mereka harus tetap diikuti sang ibu yang tidak inginanak-anaknya santai. Untung ada sang bapak yang bijaksana. Meskipun baru sajapulang kerja, ia meluangkan waktu untuk mendampingi kedua anaknya. Iamembawakan oleh-oleh yang menyenangkan. Ia memeluk mereka lalu menceritakanmereka banyak hal yang menghibur dan membuat tertawa. Apa yang dibuat oleh sang bapak kepada anak-anaknya itu merefleksikanperbuatan Yesus, ketika Ia membawa orang-orang kecil, sakit, lemah, terlantar,miskin, dan terlupakan untuk datang kepada-Nya. Ia berkata: "Marilahkepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikankelegaan kepadamu." Yesus mengundang kita semua untuk datang kepada-Nya. Namun demikian, apakah kita semua sedang lelah dan tidak berdaya? Tentusaja. Kelelahan dan ketidak-berdayaan itu berbeda tingkatnya dari satu orang keorang yang lain. Situasi, pekerjaan, dan kesulitan setiap orang berbeda-bedadengan beban atau masalah yang berbeda-beda pula. Berdasarkan terangbacaan-bacaan pada hari ini, ada tiga beban yang perlu kita sadari danrenungkan. Yang pertama ialah beban sebagai orang kecil dan lemah. Kalau kita sebagaiorang kecil, lemah dan tidak memiliki pengaruh, berarti selalu ada orang yangberkuasa dan kapan saja bertindak sewenang-wenang terhadap kita. Mereka seringtidak punya kasihan dan kepercayaan kepada kita. Beban yang lain ialah bebandosa. Kalau kita tidak memelihara jiwa kita dengan menyesali dosa, mengakuinyadan bertobat, berarti beban itu kian hari kian berat. Pada saatnya dosa ituakan menyiksa dan membinasakan kita. Santo Paulus sangat tegas bahwa hidup didalam kedagingan adalah beban dosa kita yang berat. Beban yang ketiga ialah beban kesombongan. Menurut Yesus Kristus,orang-orang pandai, bijak, yang berkuasa dan yang kaya, adalah mereka yangmemikul beban yang berat. Mereka sebenarnya sangat lelah, karena begitu banyakyang menjadi obsesi mereka dalam hidup. Anda misalnya, terlalu banyak urusandan ambisi, akan membuat dirimu amat lelah dan membosankan. Terhadap semua ini, ajakan Yesus menjadisangat penting, yaitu hendaknya kita datang kepada Dia, karena dari Dia kitamendapatkan kelegaan yang menyenangkan. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Bapa di surga, semoga dengan perayaan hari Minggu ini,kami mendapatkan kelegaan hidup dan kesehatan lahir dan batin demi kelangsungnhidup kami di dunia. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus... Dalam namaBapa ...
-
952
Reading and meditation on the Word of God on Saturday of the thirteenth week in ordinary time, July 4, 2026
Delivered by Heidy from the Parish of Christ the King in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Amos 9: 11-15; Rs psalm 85: 9.11-12.13-14; Matthew 9: 14-17.PARTY STYLE ANDFASTING STYLE The theme for our meditation today is: Party Style and Fasting Style. Ayoung girl celebrated her seventeenth birthday with great joy. Most of theguests were her school friends, and each brought her a gift. Her family alsoprepared a special present because she was the eldest of three children. Thecelebration was held on the beach on a bright sunny day. She was grateful andvery happy on her special day. A celebration is meaningful because people come together. Family andfriends meet, talk, share stories, eat and drink, sing, and enjoy one another'scompany. A joyful celebration is very different from fasting. Each has its ownpurpose. The essential characteristic of fasting is the experience of absence,self-denial, and sacrifice. When there is a sense of loss or longing, peopleusually set aside eating, drinking, entertainment, and other forms ofcelebration. There is no atmosphere of music, dancing, or festivity. Fastingexpresses our desire to seek the Lord more deeply. It reminds us that we longfor God's presence and wish to draw closer to Him through prayer,self-discipline, and spiritual renewal. This contrast is illustrated in today's Gospel. The disciples of Johnand many of the Jews did not recognize that Jesus, the Lord Himself, wasalready present among them. They thought of God as distant and believed thatfasting was the proper way to seek Him. In contrast, Jesus' apostles anddisciples rejoiced because the Bridegroom was with them. It was a time forcelebration, not for fasting. Jesus also taught that when He was taken awayfrom them, then it would be the proper time to fast. For us today, both fasting and celebration remain important. The Churchprovides regular occasions for fasting and for joyful feasts through theliturgical calendar. Many people also choose to fast as part of their personalspiritual discipline. Likewise, we celebrate feasts, both in large and smallgatherings, to give thanks for the gift of one another and for God's presencein our lives. The important lesson is that both celebration and fasting have theirown time and purpose. We should do each in the right way and respect those whoare celebrating or fasting. At one time we may celebrate, and at another timewe may fast. So, let us not disturb one another, but support each other inliving our faith. Let us pray.In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.Amen.Lord Jesus Christ, help us follow Your teaching on fasting and everyspiritual practice. May Your Holy Spirit guide us always, so that we may do allthings with faith, hope, and love.Hail Mary, full of grace...In the name of the Father, and of the Son, andof the Holy Spirit. Amen.
-
951
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Sabtu dalam pekan ke-13 masa biasa, 4 Juli 2026
Dibawakan oleh Onny Pakendek dan Yohanes Sukardi dari Paroki Santa Maria Assumpta Kota Baru Kupang di Keuskupan Agung Kupang, Indonesia. Amos 9: 11-15; Mazmur tg 85: 9.11-12.13-14; Matius 9: 14-17.GAYA PESTA DAN GAYA PUASA Tema renungan kita pada hari ini ialah: Gaya Pesta dan Gaya Puasa. Seorangremaja perempuan merayakan ulang tahunnya ke-17 dengan meriah. Kebanyakan yanghadir ialah teman-teman sekolahnya, dan masing-masing membawa hadiah baginya.Keluarga juga menyiapkan hadiah spesial bagi gadis yang sebagai anak sulungdari tiga bersaudara itu. Perayaan pesta itu dirayakan di pinggir pantai dengansuasana yang sangat alami dan pada saat cuaca yang sangat cerah. Gadis itusangat bersyukur pada hari ulang tahunnya itu. Sangat sulit memahami apalagi melaksanakan sebuah pesta atau perayaan tanpaadanya kehadiran orang-orang terkait. Sebuah pesta berisi perjumpaan,pembicaraan, cerita, makan-minum, hal-hal seremonial, bernyanyi, berjoget,bersuka-ria, santai dan menikmati kegembiraan satu sama lain. Dalam pemahamanseperti ini, jelas sekali gayanya sebuah pesta sangat berbeda dengan sebuahpuasa. Gaya pesta adalah sebuah dunia lain dari pada gaya puasa. Di dalam berpuasa, aspek terpenting di sini ialah mengalami sebuahketiadaan dan ketidakhadiran. Aspek-aspek yang menjadi bagian dari ketiadaandan ketidakhadiran ialah seperti tidak makan minum, tak ada suasana suka riaseperti musik, menyanyi, joget, pekerjaan dan pertemuan. Ada suatu pemahamanbahwa Yang maha tinggi yang menjadi tujuan kegiatan berpuasa, tidak dekat dantidak hadir saat kita berpuasa. Jadi melalui puasa itu kita dapat memilikikesempatan untuk lebih fokus mencari dan menjadi dekat dengan-Nya. Perbedaan dua gaya inilah yang ditampilkan dalam bacaan Injil hari ini.Murid-murid Yohanes dan orang-orang Yahudi pada umumnya tidak menyadari bahwaYesus sebagai Tuhan sedang berada bersama mereka. Mereka menganggap Tuhansangat jauh, Ia harus dicari dan diminta kedatangan-Nya. Caranya ialah denganberpuasa. Sementara para rasul serta murid-murid Yesus sedang mengalami sukacita dan pesta karena Tuhan Yesus ada bersama mereka. Nanti ketika Yesus tidakbersama lagi dengan mereka, barulah mereka berpuasa. Bagi kita saat ini, puasa tetap penting, demikian juga pesta. Gereja telahmemberikan kesempatan yang teratur bagi kita sebagai umatnya untuk menjalankanitu sesuai dengan waktunya. Puasa personal sering menjadi pilihan ketika orangingin melakukan suatu latihan rohani tertentu. Pesta juga dilaksanakan baiksecara bersama maupun personal sebagai kesempatan merayakan kehadiran bersama,Tuhan dan manusia. Pokoknya, masing-masing dijalankan dengan baik, teratur dantak boleh dicampur-adukkan. Kita perlu saling menghormati saat ada kegiatanpesta dan puasa. Kita perlu menghindari perbuatan mengganggu dan intervensimereka yang berpuasa dan berpesta. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Yesus Kristus, kami ingin mengikuti dengan patuhajaran-Mu tentang berpuasa dan bermati raga, maka kami mohon semoga kamidibimbing selalu di dalam Roh-Mu untuk dapat menjalankannya dengan benar danbaik. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
We're indexing this podcast's transcripts for the first time — this can take a minute or two. We'll show results as soon as they're ready.
No matches for "" in this podcast's transcripts.
No topics indexed yet for this podcast.
Loading reviews...
ABOUT THIS SHOW
Renungan harian katolik yang ditulis oleh Pastur Peter Tukan SDB. Diupdate setiap harinya.
HOSTED BY
Media La Porta
CATEGORIES
Loading similar podcasts...