PodParley PodParley

Episode 04 - Hati Yang Berfikir

Episode 4 of the Islamic Wisdom podcast, hosted by Liyas Syarifuddin, titled "Episode 04 - Hati Yang Berfikir " was published on August 3, 2020 and runs 11 minutes.

August 3, 2020 ·11m · Islamic Wisdom

0:00 / 0:00

Hati Yang Berfikir Terkadang dalam percakapan sehari-hari muncul ungkapan “Mikir tuh pakai otak!” Ungkapan lain yang kerap terdengar sehari-hari adalah ungkapan “Otakmu di dengkul.” Kedua ungkapan tersebut mengandung 2 pesan yang berbeda. Ungkapan pertama berisi instruksi agar orang yang diajak berbicara mau berpikir dengan otaknya atau akalnya. Ungkapan kedua berisi kekecewaan, walaupun orang sudah menggunakan otaknya untuk berpikir, tetapi respons yang diharapkan tidak sesuai harapan dan tidak masuk akal. Untuk menjawab itu semua, mari perhatikan cerita berikut ini! Suatu hari penulis bertanya kepada salah seorang kiai yang memimpin sebuah pesantren di Bone, Sulawesi Selatan dengan jumlah santri sekitar 700 orang. Penulis mendengar bahwa pesantren tersebut melayani ratusan orang santri tanpa dipungut biaya. Penulis bertanya kepada sang kiai, “Apakah benar bahwa para santri tinggal, makan, dan belajar di pesantren tersebut secara gratis?" Mendengar pernyataan tersebut dari penulis, sang kiai spontan menjawab, “Ya benar, semua santri di sini belajar secara gratis." Mendengar jawaban tersebut, terpikir di benak penulis bahwa pesantren sudah memiliki donatur yang secara rutin bertanggung jawab untuk memenuhi seluruh kebutuhan operasional pesantren termasuk makan, tempat tinggal, dan segala sarana pendidikan di dalamnya. Apalagi pesantren sudah berdiri sejak tahun 1975. Demikianlah kebanyakan pesantren yang tidak memungut biaya pendidikan kepada santrinya, biasanya disebabkan oleh ketersediaan dana dari para donatur. Namun, hal yang tidak diduga terjadi ketika penulis kembali bertanya lebih lanjut, “Apakah sudah banyak donatur di pesantren ini sehingga dapat menggratiskan layanan pendidikan kepada santrinya?” Sang kiai menjawab dengan lugas bahwa sejak awal pesantren ini tidak meminta-minta atau membuat proposal untuk diajukan ke berbagai instansi dan lembaga donatur. Pesantren hanya menerima bantuan dari siapa saja yang ingin membantu tanpa diminta. Lebih lanjut sang kiai menyatakan bahwa untuk menopang perjuangan di pesantren ini, untuk sementara akal tidak digunakan secara optimal untuk berpikir, tetapi yang diminta untuk berpikir adalah hati. Hal tersebut diperkuat dengan ayat Al-Qur’an surah Al-A’raf: 179 yang berbunyi: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Quran Surat Al-A’raf ayat 179) Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, penulis kembali menanyakan bagaimana pesantren memenuhi seluruh kebutuhan para guru dan santri selama tinggal di pesantren. Penulis ingin mengetahui prinsip apa yang selama ini dipegang oleh kiai, sehingga begitu yakin bahwa semua kebutuhan santri selalu bisa terpenuhi. Jawaban yang sangat luar biasa penulis dapatkan saat itu adalah ketika kiai mengatakan, “Jika ada seorang santri yang mendaftar dan diterima di pesantren ini, maka insya Allah rezekinya secara otomatis juga akan diantarkan ke pesantren ini. Jadi tidak perlu khawatir bahwa santri tersebut tidak makan dan kelaparan.” Mendengar jawaban tersebut, penulis merasa takjub geleng-geleng kepala memikirkan betapa kuatnya keyakinan kiai kepada Allah, sambil terpikir, “Kok bisa ya, kiai yang masih di bawah 40 tahun memberikan jawaban yang lugas tentang keyakinan akan Maha kayanya Allah, Maha kasih dan sayangnya Allah, dan begitu berlimpahnya rezeki yang Allah tebarkan untuk seluruh umat manusia. Memang begitulah sebenarnya realitas kehidupan manusia, yang sudah digaransi 100% oleh Allah akan ketersedian rezekinya di dunia.

Hati Yang Berfikir Terkadang dalam percakapan sehari-hari muncul ungkapan “Mikir tuh pakai otak!” Ungkapan lain yang kerap terdengar sehari-hari adalah ungkapan “Otakmu di dengkul.” Kedua ungkapan tersebut mengandung 2 pesan yang berbeda. Ungkapan pertama berisi instruksi agar orang yang diajak berbicara mau berpikir dengan otaknya atau akalnya. Ungkapan kedua berisi kekecewaan, walaupun orang sudah menggunakan otaknya untuk berpikir, tetapi respons yang diharapkan tidak sesuai harapan dan tidak masuk akal. Untuk menjawab itu semua, mari perhatikan cerita berikut ini! Suatu hari penulis bertanya kepada salah seorang kiai yang memimpin sebuah pesantren di Bone, Sulawesi Selatan dengan jumlah santri sekitar 700 orang. Penulis mendengar bahwa pesantren tersebut melayani ratusan orang santri tanpa dipungut biaya. Penulis bertanya kepada sang kiai, “Apakah benar bahwa para santri tinggal, makan, dan belajar di pesantren tersebut secara gratis?" Mendengar pernyataan tersebut dari penulis, sang kiai spontan menjawab, “Ya benar, semua santri di sini belajar secara gratis." Mendengar jawaban tersebut, terpikir di benak penulis bahwa pesantren sudah memiliki donatur yang secara rutin bertanggung jawab untuk memenuhi seluruh kebutuhan operasional pesantren termasuk makan, tempat tinggal, dan segala sarana pendidikan di dalamnya. Apalagi pesantren sudah berdiri sejak tahun 1975. Demikianlah kebanyakan pesantren yang tidak memungut biaya pendidikan kepada santrinya, biasanya disebabkan oleh ketersediaan dana dari para donatur. Namun, hal yang tidak diduga terjadi ketika penulis kembali bertanya lebih lanjut, “Apakah sudah banyak donatur di pesantren ini sehingga dapat menggratiskan layanan pendidikan kepada santrinya?” Sang kiai menjawab dengan lugas bahwa sejak awal pesantren ini tidak meminta-minta atau membuat proposal untuk diajukan ke berbagai instansi dan lembaga donatur. Pesantren hanya menerima bantuan dari siapa saja yang ingin membantu tanpa diminta. Lebih lanjut sang kiai menyatakan bahwa untuk menopang perjuangan di pesantren ini, untuk sementara akal tidak digunakan secara optimal untuk berpikir, tetapi yang diminta untuk berpikir adalah hati. Hal tersebut diperkuat dengan ayat Al-Qur’an surah Al-A’raf: 179 yang berbunyi: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Quran Surat Al-A’raf ayat 179) Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, penulis kembali menanyakan bagaimana pesantren memenuhi seluruh kebutuhan para guru dan santri selama tinggal di pesantren. Penulis ingin mengetahui prinsip apa yang selama ini dipegang oleh kiai, sehingga begitu yakin bahwa semua kebutuhan santri selalu bisa terpenuhi. Jawaban yang sangat luar biasa penulis dapatkan saat itu adalah ketika kiai mengatakan, “Jika ada seorang santri yang mendaftar dan diterima di pesantren ini, maka insya Allah rezekinya secara otomatis juga akan diantarkan ke pesantren ini. Jadi tidak perlu khawatir bahwa santri tersebut tidak makan dan kelaparan.” Mendengar jawaban tersebut, penulis merasa takjub geleng-geleng kepala memikirkan betapa kuatnya keyakinan kiai kepada Allah, sambil terpikir, “Kok bisa ya, kiai yang masih di bawah 40 tahun memberikan jawaban yang lugas tentang keyakinan akan Maha kayanya Allah, Maha kasih dan sayangnya Allah, dan begitu berlimpahnya rezeki yang Allah tebarkan untuk seluruh umat manusia. Memang begitulah sebenarnya realitas kehidupan manusia, yang sudah digaransi 100% oleh Allah akan ketersedian rezekinya di dunia.
Rubáiyát of Omar Khayyám (Fitzgerald 5th edition), The by Omar Khayyám (1048 - 1131) LibriVox The Rubáiyát of Omar Khayyám is so-named from the Persian word rubáiyát - a Persian word denoting a specific type of two-line stanza. Omar's Rubaiyat is a beautiful anthology of Islamic wisdom literature: originally penned in medieval Persian during the late 11th century AD. The best known English translations are those by Edward Fitzgerald: his fifth (and last) translation includes a mere 101 quatrains - a fraction of Omar's original work. Fitzgerald's selection loosely groups quatrains by theme; rendering quatrains into English as four-line, rhymed stanzas.Omar's writings are pervaded by the consciousness of the transient quality of life. In his Rubáiyát, the author ponders the limits of human knowledge and morality: and confronts his readers point-blank with the difficult questions that challenge every generation: - what is the ultimate benefit derived from human knowledge? - given human mortality; is is best to guide our lives by the dictat The Holy Qur'an in Hafs Kalam Research & Media Kalam Research & Media (KRM) is a collegial think tank and training center dedicated to research, education, content development, and capacity building in the following core areas: Islamic Theology (Kalam); Islamic Philosophy & Wisdom; Islamic Philosophy of Science, Technology, & the Environment; Inter-Faith Engagement; Inter-Faith Conflict Prevention & Resolution; Scriptural Reasoning & Hermeneutics; Islamic Professional & Business Ethics; Creative & Critical Thinking; Compassion Architecture. IqraSense.com Islamic Podcast on Quran Wisdom IqraSense.com Islamic Blog - Articles on Muslims, Quran, Hadith, Tafsir, Surah Topics Spiritual Counsel: Wisdom on Turning to God from the Islamic Tradition SeekersGuidance.org In the Spiritual Counsel podcast, SeekersGuidance founder Shaykh Faraz Rabbani, covers great texts from the rich Islamic spiritual tradition on how to turn to Allah, to cultivate spiritual presence, acquire Prophetic character, and attain true virtue.
URL copied to clipboard!