Pesantren Kaliopak podcast artwork

PODCAST · society

Pesantren Kaliopak

Seri Diskusi Reguler Pondok Budaya Pesantren Kaliopak#Ngajidewaruci (mingguan)#Bimoseni (dwimingguan)#Ngajiposonan (tahunan)

  1. 33
  2. 32
  3. 31
  4. 30
  5. 29
  6. 28
  7. 27

    20231114 Ngaji Dewaruci_Apakah Dasar Ngara-Bangsa Kita (masih) Kuat

    Negara Bangsa sering kali membangun identitas nasional berdasarkan faktor-faktor seperti bahasa, budaya, dan sejarah, sementara mengabaikan atau mereduksi peran agama. Kritiknya terpusat pada asumsi bahwa agama musti dikesampingkan dari ranah publik dan menjadi urusan pribadi semata. Hal tersebut mendorong kekhawatiran akan kecenderungan Negara-Bangsa untuk menggunakan kekerasan atau tekanan politik dalam upaya untuk menghapus atau mengendalikan identitas keagamaan yang tidak sesuai dengan narasi nasional. Dalam konteks tersebut, adalah Talal Asad yang berupaya merangsang pemikiran kritis terhadap cara negara-negara modern membentuk identitas melalui konsepsi Negara-Bangsa. Dan bagaimana konsepsi tersebut kini menjadi efek berlanjut (continuing effect) dalam menginklusi ataupun justru mengeksklusi identitas, ras, kelas, perjuangan, dan kelompok tertentu. Melalui kritik Asad dan elaborasinya dengan pandangan para founding father, perenungan terhadap fondasi dan konsepsi Negara-Bangsa hendak dipertanyakan relevansi dan restrukturisasinya dalam realitas masyarakat Indonesia kontemporer yang semakin terfragmentasu dan semakin kompleks.

  8. 26
  9. 25
  10. 24
  11. 23
  12. 22
  13. 21
  14. 20
  15. 19
  16. 18
  17. 17
  18. 16
  19. 15
  20. 14
  21. 13
  22. 12

    14NP2023_M. Yaser Arafat-Subjek Aswaja Menjawab Keterasingan Kontemporer

    Sesi akhir NGAJI POSONAN #RESIDENSIRAMADHAN Pondok Pesantren Budaya Kaliopak tiba di depan mata. Akhirnya kita menjumpai pertanyaan mendasar, bagaimanakah menjadi seorang islam dalam haluan ahlusunnah wal jamaah? Khususnya, di dalam menghadapi perkembangan budaya dan tradisi keseharian cyber/digital/metaverse, yang didukung teknologi informasi dan AI (artificial intelligence).Sedang di sisi lain, di dalam bersikap selaku 'subjek aswaja' yang kreatif merespon perkembangan umat islam di indonesia membersamai konstelasi ekonomi-politik dan pertahanan kekuasaan (AUKUS, Rusia-China bahkan "upaya" ASEAN) dan globalisasi baru (multitude) itu sendiri.Melalui sesi ini, akan dipersoalkan pula langkah-langkah kritis-progresif dan praksis, sekaligus kontemplatif (arif berlandaskan tasawuf) ‘menjadi subjek aswaja’ yang mendialogkan secara kreatif pemikiran dan praktik di dalam tantangan era kontemporer (surveillance capitalism, hyper-digital consumerism, precarious worker etc).Berpijak dari situ, menimbang fenomena Indonesia hari ini, dan yang akan datang, Aswaja rupanya didesak menciptakan relevansi tata kemanusiaan, sehingga melahirkan subjek Aswaja yang fleksibel mendialogkan secara kreatif terhadap gejala-gejala zaman ini.Bertolak dari kompleksitas dan kebutuhan tersebut, Pesantren Kaliopak sebagai pondok pesantren yang memfokuskan pada kegiatan amaliyah dan fikriyah kebudayaan, khususnya selaku G.E.L.A.S (Gallery, Education, Library, Archives, and, Social) sengaja mengundang anda semua untuk turut serta dalam sesi serial Ngaji Malam ke-14 dari NGAJI POSONAN, dan berdiskusi membagikan perspektif dan pengalamannya melalui:Ngaji Malam ke-14:"Subjek (Kreatif) Aswaja an-Nahdliyah Menjawab Keterasingan"Bersama:- M. Yaser Arafat, M.A.(Budayawan, Penulis dan Pengajar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)Moderator:- Sarah Monica(Antropolog, Penyair dan Pengurus Lesbumi PBNU)

  23. 11

    13NP2023_Dra. Dwi Ratna Nurhajarini-Meneroka Aswaja, Menguatkan Strategi Kebudayaan

    Strategi kebudayaan indonesia (nusantara) kini ada di hadapan pemerintahan kita. Dirjen kebudayaan, Hilmar Farid pernah menyampaikan beberapa pokok persoalan di dalam kancah dan strategi pembangunan kebudayaan indonesia hari ini.Dalam sesi diskusi malam ketigabelas ini, akan diperbincangkan lebih lanjut pembahasan dari serial "'Ngaji Malam'-Ngaji Posonan" sebelumnya, yang berupaya berdialog secara kreatif dengan kebudayaan/peradaban Euro-Amerika, Rusia, China dan Iran.Walhasil, menjadi penting untuk melakukan pengkajian secara kritis atas kebudayaan nasional tempat Aswaja an-Nahdliyyah bernaung sekaligus menyemai negara-bangsa, yakni Indonesia. Dalam mana undang-undang pemajuan kebudayaan & perpres strategi kebudayaan pun berkelindan dengan konteks geopolitik global.Dari diskusi dan obrolan sesi ini, diharapkan akan diketemukan keterkaitan dan relevansi gagasan Aswaja an-Nahdliyah sebagai bagian dari langka pemajuan dan resistensi kebudayaan di indonesia, di hadapan kian mutlaknya peradaban cyber/digital/metaverse.Lantas, menimbang fenomena Indonesia hari ini, dan yang akan datang, Aswaja didesak menciptakan relevansi tata kemanusiaan, sehingga melahirkan subjek Aswaja yang fleksibel mendialogkan secara kreatif terhadap gejala-gejala zaman ini.Bertolak dari kompleksitas dan kebutuhan tersebut, Pesantren Kaliopak sebagai pondok pesantren yang memfokuskan pada kegiatan amaliyah dan fikriyah kebudayaan, khususnya selaku G.E.L.A.S (Gallery, Education, Library, Archives, and, Social) sengaja mengundang anda semua untuk turut serta mengikuti diskusi dan membagikan perspektif dan pengalamannya dalam salah satu tema sbb:Ngaji Posonan:"Aswaja an-Nahdliyah Menguatkan Strategi Kebudayaan Nasional"Bersama:- K.H. M. Jadul Maula(Ketua Lesbumi PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Budaya Kaliopak)- Dra. Dwi Ratna Nurhajarini, M.Hum.(Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya -BPNB- D.I.Yogyakarta)Moderator:- Athif Thitah Amithuhu(Penulis, Sejarawan dan Kepala Sekolah ceritasantri.id -Ponpes Budaya Kaliopak-)

  24. 10

    12NP2023_Dr. Arqom Kuswanjoyo & Afifah Ahmad-Dialog Kreatif Aswaja dengan Peradaban Persia

    Di tengah menjawab kebutuhan aswaja menghadapi kecenderungan perkembangan budaya digital hingga ekonomi dan politik kontemporer, menjadi penting untuk mempertimbangan praktik yang berlaku di dalam tradisi islam di iran.Di satu sisi iran mewakili islam dalam tradisi syiah, yang relative berbeda dengan aswaja atau sunni. Iran memiliki akar panjang, jika ditarik hingga era Persia.Sementara dalam kahazanah pemikiran islam, sosok-sosok seperti Suhrawardi dan Mulla Sadra memiliki sumbangan berarti bagi pemikiran rasionalitas islam atau apa yang diistilahkan sebagai teomorfisme (Nasr).Sementara itu, Revolusi 1979, hingga tata negara islam iran berikut politik ekonomi hingga kebudayaannya; menjadikan suatu alasan kuat bagi negara-negara maupun peradaban islam berbasis sunni atau aswaja untuk mengambil pelajaran dan hikmah dari iran.Sesi ini akan menelusuri bagaimana iran menjaga kedaulatan bangsanya atas humanisme barat hingga menyusun strategi kebudayaan sejak sinema hingga teknologi mutakhir seperti nuklir.Dalam sesi ini juga akan membaca sejarah dan konteks Persia hingga Iran, lalu paham Syiah di kawasan arab yang kerap berseberangan dengan wahabi, beserta konteks konstelasi politik Rusia vis a vis Amerika & Israel dan sekutunya.Lantas, menimbang fenomena Indonesia hari ini, dan yang akan datang, Aswaja didesak menciptakan relevansi tata kemanusiaan, sehingga melahirkan subjek Aswaja yang fleksibel mendialogkan secara kreatif terhadap gejala-gejala zaman ini.Bertolak dari kompleksitas dan kebutuhan tersebut, Pesantren Kaliopak sebagai pondok pesantren yang memfokuskan pada kegiatan amaliyah dan fikriyah kebudayaan, khususnya selaku G.E.L.A.S (Gallery, Education, Library, Archives, and, Social) sengaja mengundang anda semua untuk turut serta dalam salah sesi Ngaji Malam, dalam tema:Ngaji Posonan:"Dialog Kreatif Aswaja an-Nahdliyah dengan Peradaban Iran"Bersama:- Afifah Ahmad(Alumnus Al-Mostafa International University, Qom, Iran, Aktivis Gusdurian dan Penulis yang tinggal di Teheran, Iran)- Dr. Arqom Kuswanjoyo, M.Hum.(Pengajar di Fak. Filsafat UGM)Moderator:- M. Anta Kusuma(Penulis, Peneliti dan Jurnalis Lepas)

  25. 9

    11NP2023_T.g. Ahmad Rafiq Ph.d-Aswaja, Wahabisme & Modernitas

    Kini menyongsong abad kedua, NU menghadapi tantangan di dalam mengusung sekaligus mendialogkan Aswaja ke dalam kehidupan kontemporer.Peralihan kekuasaan sejak dekolonisasi terhadap penjajahan Belanda, Revolusi Kemerdekaan (1945 -1949), Demokrasi Terpimpin, Prahara 1965-66, disusul kelahiran Orde Baru sampai Reformasi, hingga kini telah 25 tahun; Nahdlatul Ulama terbukti eksis bergumul mengiringi Indonesia, dalam mengusung landasan harmoni kehidupan beragam(a), demi tatanan negara-bangsa.Jelang masa kiwari ini, menjadi penting untuk menelaah, bagaimanakah NU merancang sekaligus memijakkan diri di dalam peralihan trayektori, khususnya di era transisi kebudayaan digital yang ditopang oleh kemaharajaan AI (artificial intelligence), kewargaan netizen dan dunia metaverse ini?Penting dicatat, bahwa pasa masa berdirinya NU, khususnya melalui kehadiran komite Hijaz, berkembanglah upaya mendaulatkan ahlusunnah wal jama’ah, berbasis pada empat imam mazhab, maupun dua pijakan rumusan Aqidah dari al-Asy’ari lalu al-Maturidi.Hal tersebut berkaitan pula dengan keberpihakan terhadap kebutuhan menjaga hak bermadzhab dalam fikih hingga menjaga situs-situs yang diwariskan, seperti makam Rasulullah, dan seterusnya. Dalam hal inilah NU hadir sebagai kanal aswaja yang berhadapan dengan paham wahabi, yang berkembang menjadi penguasa Kawasan tanah suci.Kala itu perkembangan modernisme melalui kolonialisme, merangsek ke seluruh wilayah jajahan termasuk Indonesia. NU pun lahir sebagai salah satu organisasi modern yang merawat tradisi aswaja/sunni, sembari berdialog secara kreatif dengan perkembang moda kehidupan modern abad 20 kala itu.Lantas, menimbang fenomena Indonesia kini dan nanti, aswaja/sunni didesak menciptakan relevansi tata kemanusiaan. Sehingga melahirkan 'subjek aswaja' yang fleksibel mendialogkan secara kreatif terhadap gejala-gejala zaman ini.Berpijak dari kompleksitas dan kebutuhan tersebut, Pesantren Kaliopak sebagai pondok pesantren yang memfokuskan pada kegiatan amaliyah dan fikriyah kebudayaan, khususnya selaku G.E.L.A.S (Gallery, Education, Library, Archives, and, Social) sengaja mengundang anda semua dalam; ...

  26. 8

    10NP2023_Prof. Purwo Santoso & Inyiak Ridwan M-Dialog Kreattif Aswaja & Peradaban Barat

    Jika Ngaji Malam sebelumnya telah membedah persoalan aswaja dalam pergulatannya dengan wacana teologi dan kemanusiaan, termasuk wacana gender. Maka sesi selanjutnya ini, dengan dibersamai oleh Prof. Purwo dan Mas Inyak Ridwan, kita akan mendekatkan teropong ke dalam realitas NU sebagai salah satu pemegang estafet aswaja. Dalam mengontekstualisasikan aswaja, NU menghadapi kemendesakkan dalam menjawab kebutuhan peradaban, yang bukan saja akibat revolusi internet dan digital, tetapi juga oleh revolusi kapitalisme (high capitalism, surveillance capitalism etc) yang diikuti krisis kemanusiaan, iklim maupun lingkungan. Dalam perkembangan pemikiran di Euro-Amerika terkiwari sendiri, Antroposentrisme dikritisi dan dibantah melalui post/pasca-antroposen, atau membantah sudut pandang angkuh manusia. Hal itu diikuti dengan upaya pemikiran post/pasca-humanisme, atau membantah ukuran kemanusiaan warisan modernisme, yang terbukti gagal. Darinya terbukti menghasilkan kapitalisme dan segala pengerukan serakah atas sumber daya alam. Hal ini menyebabkan terasingnya nalar-nurani manusia, baik pada alam semesta, maupun sesama manusia. Kompleksitas ini terus berkembang ke ruang-ruang privat, melalui tradisi baru kebudayaan cyber/digital/virtual. Walakin, baik post/pasca-antroposen maupun post/pasca-humanisme sendiri nyatanya tidak pernah membebaskan diri dari keangkuhan sudut pandang manusia (materialisme). Benarkah peradaban Euro-Amerika dihadapkan pada kebingungan atas upaya “bunuh dirinya” sendiri? Dimanakah kita sebagai "bekas" terjajah ini? Lantas, menimbang fenomena Indonesia hari ini, dan yang akan datang, Aswaja didesak menciptakan relevansi tata kemanusiaan, sehingga melahirkan subjek Aswaja yang fleksibel mendialogkan secara kreatif terhadap gejala-gejala zaman ini. Oleh karenanya, menelaah kembali pengaruh dan kebergantungan kita pada peradaban Euro-Amerika, menjadi penting sebagai tolok ukur dialog kreatif.

  27. 7

    09NP2023_Irfan Afifi & K.H. Mustafied-Aswaja & Paradigma Kemanusiaan

    Menyambung diskusi sebelumnya tentang sejarah peradaban Islam di masa klasik, yang melahirkan pemikiran dan perkembangan sains yang menyatukan ilmu-ilmu, tanpa mengkotak-kotakan; sehingga menelorkan tokoh-tokoh dan ilmuwan yang serba bisa. Kini malam kedelapan, kita akan memasuki diskusi mengenai bagaimana ahlusunnah wal jamaah lahir, sebagai konsekuensi dari perkembangan sejarah dan teologi Islam yang mendasari sejak masa klasik hingga kini. Dibersamai duo pemateri kaliber jogja kulonan, mas Irfan afifi dan mas Kyai Mustafied, serta dimoderatori oleh Adhie Handika RD diskusi kali ini hendak mengulik lebih jauh dinamika hingga polemik aswaja di tengah dialog kritis sekaligus kreatif dengan, di satu sisi dengan sobat-rival pemikiran teologisnya, seperti misalnya mu’tazilah-Syi’ah, maupun di sisi lain, konsepsi kemanusiaan/humanisme yang lahir dari barat (rasionalitas cartesian hingga marxis dan seterusnya). Adapun kemudian aswaja berkembang dengan menawarkan pendekatan praktik islam yang khas, dengan pemahaman asy’ariyah maupun maturidiyah sehingga mendudukan posisi manusia secara khas, misalnya antara takdir dan kehendak. Lantas, menimbang fenomena Indonesia mutakhir, Aswaja didesak menciptakan relevansi tata kemanusiaan, sehingga melahirkan subjek Aswaja yang fleksibel mendialogkan secara kreatif terhadap gejala-gejala zaman ini. Bertolak dari kompleksitas dan kebutuhan tersebut, Pesantren Kaliopak sebagai pondok pesantren yang memfokuskan pada kegiatan amaliyah dan fikriyah kebudayaan, khususnya selaku G.E.L.A.S (Gallery, Education, Library, Archives, and, Social) sengaja memberikan wadah, platform diskursus sebagai upaa membagikan perspektif dan pengalamannya dalam: "Aswaja dan Paradigma Kemanusiaan".

  28. 6

    08NP2023_A.Kandito & Lien Nafiah-Sains dan Peradaban Islam Abad Klasik

    Perlu dipahami bahwa di era emas peradaban islam, lahir tokoh-tokoh seperti al-Khawarizmi, al-Kindi, Ibnu Sina dan seterusnya. Artinya, ada masa dimana peradaban islam melahirkan tokoh tokoh dengan keahlian yang paripurna. Terbukti tokoh tokoh tadi menguasai banyak bidang, dari ilmu alam sampai tasawuf. Dalam hal inilah menjadi penting untuk membahas, bahwa dalam konteks kebudayaan apakah, islam kala itu sanggup melahirkan pemikir, filusuf, ilmuwan yang menguasai segala bidang dan disiplin keilmuan. Dengan demikian, di masa tersebut, atau kerap disebut sebagai zaman klasik Islam, segala ilmu baik tauhid, syariah, tasawuf, maupun rasional, telah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisah, atau mengikuti Jabiri, antara Irfani, Bayani, dan Burhani, menjadi satu kesatuan. Secara khusus diskusi kali ini dibersamai dari dua disiplin keilmuan sekaligus oleh Mas Argawi Kandito & mba Lien Nafiah untuk membabar lebih jauh bagaimana Sains dan Peradaban Islam Abad Klasik saling berkelindan. Checks this out!

  29. 5

    07NP2023_K. Nur Khaliq Ridwan_Genealogi Aswaja dalam Islam Klasik

    Secara khusus akan dipandu oleh mas Kyai Nur Khalik Ridwan, diskusi kali ini hendak meneroka genalogi peradaban hingga trayektori paradigma Aswaja Annahdiyah dalam khazanah Islam Klasik. Dari penelusuran ini, setidaknya tradisi kelimuan hingga konstruksi sosial-budaya bagaimanapun telah membersamai dinamika Aswaja Annahdiyah di Nusantara.

  30. 4

    06NP2023_M. Khayat-Sejakala Humanisme di Ufuk Peradaban Digital

    Sesi kelima akan menutup pembahasan mengenai budaya digital, dengan menjangkarkan kilas balik sejarah revolusi industri, kelahiran kapitalisme hingga berujung pada kolonialisme barat terhadap wilayah asia, afrika, amerika selatan dan sebagainya. Salah satu dampaknya adalah lahirnya peradaban manusia modern yang dipaksa berpijak pada ukuran peradaban barat (euro-amerika sentris). Menariknya seiring kemajuannya, masyarat di dunia mengalami krisis ekologis yang menuntut banyak perbaikan cara pengelolaan sumber daya alam hingga kebiasaan hidup. Salah satunya puncaknya, muncul kritik atas antroposen, yakni post-antroposen, yang mengajak untuk melampaui keegoisan humanisme ala rasionalitas barat yang diakui gagal menjamin keharmonisan. Tak kalah menarik, diskusi kali ini dipandu oleh: kang Mohammad Khayat, untuk mendecod & encode sejauh mana senjakala humanisme tengah meniscayai kecepatan laju peradaban (digital), check this out!

  31. 3

    05NP2023_Irsyadul Ibad-Quovadis Beragama Dengan Akun

    Malam keempat ini masih melanjutkan untuk mengurai lebih mendalam tentang ketakberhinggaan pilihan/ identitas yang turut membentuk budaya digital atau siber, (cyber). Dibersamai Kang Irsyadul Ibad secara khusus diskusi akan dibicarakan mengapa seorang manusia memiliki identitas baru di dalam dunia digital dan kemudian memiliki identitas ganda bahkan jamak hingga memuja identitas-identitas lain menjadi publik figur (sesaat maupun lama). Melalui pintu pembahasan itu, akan kita kuak mengapa internet disusul media sosial kemudian menjadi agen bagi terbentuknya big data, otak dari ai (artificial intelligence). Dengan mengurai hal-hal ini, kita akan menengara kecenderungan umum masa kini, sebagian dari pukau sekaligus pahit manusia digital.

  32. 2

    04NP2023_Dr. Waryani Fajar-Dunia (agama) Digital antara Distopia & Utopia

    Dunia digital, boleh jadi telah kita akrabi dan seolah menjadi bagian tubuh kita. Dalam sesi ini, kita menyelami lebih dalam dengan membicarakan sejarah dan historiografi budaya digital (cyber /net/metaverse culture) dan bagaimana sistem kapitalisme yang dibentuk di dalamnya. Sesi ini membahas kembali sekaligus meluaskan apa yang disinggung dalam sesi sebelumnya, dengan memahami pola-pola konstruksi dunia digital bagi manusia hari ini. Dengan memeriksa pengalaman keseharian masing-masing, sesi ini menjadi cara memahami transisi dan akusisi budaya digital. Darinya, akan diketemukan, apakah dunia digital itu sebuah utopia atau malah distopia, dan bagaimana ikhtiar menggelutinya.Malam ketiga ini akan dipandu oleh: Dr. Waryani Fajar Riyanto, untuk membaca, bagaimana ASWAJA sebagai penengah beragama di tengah Utopia dan Distopia dunia digital , check this out!

  33. 1

    03NP2023_TG Hasan Basri-Konten Agama dan Labirin Keterasingan

    Setiap dari kita akan mempertanyakan kembali, keterasingan apakah yang terjadi selama ini? Keterasingan kontemporer agaknya berkaitan erat dengan peradaban manusia terkini yang berkelindan dengan budaya digital. Oleh sebabnya menjadi penting untuk mengenali diri di tengah posisi kewargaan ganda yang pelik. Tidak dapat lagi membedakan antara yang maya dan yang korporeal. Akhirnya menjadi penting untuk mengenali posisi antara terasing, diasingkan dan mengasingkan diri. Diskusi kali ini secara khusus akan dipandu oleh TG. Hasan Basri Marwah.

  34. 0

    02NP2023_Taufik Rahzen-Spiritualitas Digital-Pengalaman Netizan Belajar Agama

    Setiap perjumpaan awal, selalu berarti menjalin keakraban. Dalam petemuan malam pertama kali inilah, kita akan melangsungkan beragam obrolan dan sharing session sekaligus brainstorming tentang pengalaman menjadi netizen, khususnya ketika mencari wawasan dan mendalami pengetahuan keagamaan islam. Dalam kesempatan ini, semua yang hadir dapat saling berbagi cerita. Misalnya ketika menonoton channel youtube hingga media sosial seperti instagram dan tik-tok. Secara khusus akan dipandu oleh Taufik Rahzen dan K.H. M. Jadul Maula

  35. -1

    01NP2023_K.H. M. Jadul Maula & Mas Kyai Awaludin GD Mualif-Aswaja & Keterasingan Manusia Kontemporer

    Kita hidup dalam dunia yang kompleks dan serba cepat saat ini. Sibuk dengan rutinitas sehari-hari, terpaku pada teknologi modern, dan terjebak dalam dinamika sosial yang cepat berubah. Namun, dalam hiruk-pikuk kehidupan kontemporer ini, seringkali kita merasa keterasingan, merasa kehilangan arah, dan merasa terputus dari nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai manusiawi yang mendasar. Dalam konteks ini, diskusi tentang ajaran Ahlussunnah Wal Jama'ah (Aswaja) sebagai salah satu bentuk Islam yang diamalkan di Indonesia, dan keterasingan manusia kontemporer menjadi perenungan yang menarik. Mari kita telaah bersama dalam refleksi ini.Aswaja adalah istilah yang merujuk kepada ajaran Islam yang berakar pada Al-Quran, Hadis Rasulullah, serta pemahaman dan praktik para sahabat dan ulama salaf. Aswaja mengedepankan prinsip toleransi, moderasi, serta pemahaman yang seimbang dan inklusif terhadap Islam dan masyarakat. Aswaja juga menekankan pentingnya menjaga ukhuwah (persaudaraan) antara sesama muslim serta menghormati keragaman budaya dan pemahaman agama di Indonesia.Diskusi tentang Aswaja mengingatkan kita untuk merenungkan kembali nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar Islam yang menjadi landasan agama kita sebagai umat muslim. Dalam era modern yang penuh distraksi dan polarisasi, refleksi tentang ajaran Aswaja dapat menjadi pedoman untuk menghadapi tantangan zaman, serta memperkuat keyakinan dan pengamalan agama kita dengan landasan yang kokoh.Namun, refleksi tentang Aswaja tidak hanya sebatas pada aspek agama, tetapi juga dapat melibatkan aspek sosial dan budaya. Keterasingan manusia kontemporer, terutama dalam konteks urbanisasi dan globalisasi, sering kali membuat kita merasa terpisah dari lingkungan sekitar, dari alam, dan dari sesama manusia. Kita terjebak dalam rutinitas sehari-hari yang sibuk, terfokus pada pencapaian materi dan popularitas sosial, dan kadang-kadang merasa terasing dari nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar.

  36. -2

    16NP2022_Kyai Jadul Maula - Islam Berkebudayaan Jalan Aktualisasi Diri

    Oleh Kyai Jadul Maula - Islam Berkebudayaan Jalan Aktualisasi Diri

  37. -3

    15NP2022_Rendra Bagus Pamungkas - Seni Peran dan Produksi Budaya

    Oleh Rendra Bagus Pamungkas - Seni Peran dan Produksi Budaya

  38. -4

    14NP2022_Ki Dalang Angga DK & Lutfi Firdaus - Wayang & Anak Muda Kontemporer

    Oleh Ki Dalang Angga DK & Lutfi Firdaus - Wayang & Anak Muda Kontemporer

  39. -5

    13NP2022_Devi Andriyanti - Pakaian dan Buaya Nusantara

    Oleh Devi Andriyanti - Pakaian dan Buaya Nusantara

  40. -6

    12NP2022_Kyai Jadul Maula - Sumbu Filosofis Kesultanan Yogyakarta

    Oleh Kyai Jadul Maula - Sumbu Filosofis Kesultanan Yogyakarta

  41. -7

    11NP2022_Inyak Ridwan Mundzir - Sirkulasi Sumber Daya Kaum Muslimin di Mingakabau

    Oleh Inyak Ridwan Mundzir - Sirkulasi Sumber Daya Kaum Muslimin di Mingakabau

  42. -8

    09NP2022_Prof. Purwo Santoso - Pemikiran Ketatanegaraan Sri Sultan HB IX & Gus Dur

    Oleh Prof. Purwo Santoso - Pemikiran Ketatanegaraan Sri Sultan HB IX & Gus Dur

  43. -9

    08NP2022_M Tomy Aditama - Medicine & Kesehatan Holistik Asia

    Oleh M Tomy Aditama - Medicine & Kesehatan Holistik Asia

  44. -10

    07NP2022_Moh. Ainul Yaqin - Islam Berkebudayaan dan Budaya Akademik Indonesia

    Oleh Moh. Ainul Yaqin - Islam Berkebudayaan dan Budaya Akademik Indonesia

  45. -11

    06NP2022_Ahmd Nashih Lutfi - Relasi Manusia & Tanah

    Oleh Ahmd Nashih Lutfi - Relasi Manusia & Tanah

  46. -12

    05NP2022_Moh. Yaser Arafat - Islam Berkebudayaan sbg Kekuatan Produksi Kebudayaan

    Mengapa Islam Berkebudayaan? Peradaban dan kebudayaan, bagaimanapun, adalah hasil karya manusia. Dalam Islam sendiri, peradaban sebelum kedatangan Islam merupakan hasil karya orang-orang yang sebelumnya telah dipandu oleh para nabi dan rasul sebelum Kanjeng Nabi Muhammad saw. Tentu di sana ada pergeseran-pergeseran dan dinamisasinya, meski kemudian tidak lantas kebudayaan dibuang begitu saja. Dengan demikian, tentu ada hal-hal yang harus diambil, dipilih, disempurnakan.

  47. -13

    04NP2022_Muh. Mustafid - Islam Berkebudayaan & Strategi Geopolitik

    Bagaimana sebuah negara mampu memiliki sikap geopilitik global dengan pijakan tradisi dan kebudayaan lokal. Model 'kerajaan' apa yang bisa kita pakai untuk menjadi landasan sikap dalam geopolitik untuk memunculkan radikalisasi gerakan sebagaimana ketika Islam Berkebudayaan bersentuhan dengan imperialisme dan kolonialisme semisal. Dari sini setidaknya (1) peran IB dalam proses pembentukan komunitas epistemik Nusantara dan entitas politiknya; (2) bagaimana IB menjadi basis ideologi, perspektif, dan kerangka gerakan yang melahirkan gelombang besar perlawanan Nusantara terhadap kolonialisme dan imperialisme; (3) bagaimana IB merumuskan konsep, bentuk, dan falsafah  Negara-bangsa dalam konstelasi perdebatan ideologi; serta (4) bagaimana IB mampu menggerakkan transformasi sosial di tengah-tengah pencarian makna keIslaman dalam konteks modernitas-globalitas  dan kebuntuan-kebuntuan berbagai teori gerakan sosial.

  48. -14

    03NP2022_Nur Kholik Ridwan - Akar Spiritual Dalam Ensiklopedia Islam Indonesia

    Akar perkembangan kebudayaan yang dirumuskan dalam Enskilopedi Islam masih menggunkan sudut padan sinkretis. Sementara pendekatan sinkretis tidak cocok untuk digunakan dalam melihat pembentukan pekerkembangan Islam. Sinkretisme melepaskan akar-akar pembentuk perkembangan Islam di Indonesia. Oleh karena itu, lahirlah generasi baru yang mengkonter hegemoni sumber-sumber di masa sebelumnya di mana tidak menyertakan akar-akar sipiritulitas dalam perkembangan islam di nusantara. 

  49. -15

    02NP2022_Irfan Afifi - Epistimologi Islam Berkebudayaan

    Budaya sebagai kata kerja mempunyai arti mengolah potensi karsa, rasa, dan cipta kita, dan hal itu memanifestasi dalam kata jawa ambudi daya. Olahan dari ketiganya menjadi produk budaya yang bersifat materi (benda), perilaku (pranata sosial) serta nilai dan sistem pengetahuan. 

  50. -16

    01NP2022_Kyai Jadul Maula - Historisitas Islam Berkebudayaan

    Islam Berkebudayaan merupakan gagasan tentang bagaimana menjalankan islam dengan menghubungkan pada situasi historis, realitas masa kini untuk merancang masa depan yang lebih baik. Islam dan budaya tidak berdiri vis a vis dan saling menafikan, sebab islam dan budaya dalam konteks ini dipahami dalam rangka mengangkat harkat kemanusiaan.

Type above to search every episode's transcript for a word or phrase. Matches are scoped to this podcast.

Searching…

We're indexing this podcast's transcripts for the first time — this can take a minute or two. We'll show results as soon as they're ready.

No matches for "" in this podcast's transcripts.

Showing of matches

No topics indexed yet for this podcast.

Loading reviews...

ABOUT THIS SHOW

Seri Diskusi Reguler Pondok Budaya Pesantren Kaliopak#Ngajidewaruci (mingguan)#Bimoseni (dwimingguan)#Ngajiposonan (tahunan)

HOSTED BY

Pondok Budaya Pesantren Kaliopak

Frequently Asked Questions

How many episodes does Pesantren Kaliopak have?

Pesantren Kaliopak currently has 50 episodes available on PodParley. New episodes are automatically indexed when they're published to the podcast feed.

What is Pesantren Kaliopak about?

Seri Diskusi Reguler Pondok Budaya Pesantren Kaliopak#Ngajidewaruci (mingguan)#Bimoseni (dwimingguan)#Ngajiposonan (tahunan)

How often does Pesantren Kaliopak release new episodes?

Pesantren Kaliopak has 50 episodes. Check the episode list to see recent publication dates and frequency.

Where can I listen to Pesantren Kaliopak?

You can listen to Pesantren Kaliopak on PodParley by clicking any episode. We provide an embedded audio player for direct listening, and you can also subscribe via your preferred podcast app using the RSS feed.

Who hosts Pesantren Kaliopak?

Pesantren Kaliopak is created and hosted by Pondok Budaya Pesantren Kaliopak.
URL copied to clipboard!