EPISODE · Sep 11, 2025 · 6 MIN
12-9-2025 - Kaya Akan Belas Kasihan (PST GKJ Bahasa Indonesia)
from Penuntun Saat Teduh Gereja Kristen Jakarta · host Sinode Gereja Kristen Jakarta
Nats Alkitab : Lukas 10:29-37Penulis : G.I. Swannius BongAlbert Einstein pernah berkata: “Tugas kita adalah membebaskan diri dengan memperluas lingkaran belas kasih kita, untuk merangkul semua makhluk hidup dan seluruh alam semesta dalam keindahannya.” Pernyataan ini ia sampaikan dalam konteks tragedi kemanusiaan pasca Perang Dunia II. Einstein melihat betapa miskin dan sempitnya pengertian manusia akan kemanusiaan hingga perang demi perang terus terjadi dan saling menghancurkan. Demi mengejar kepentingan dan kekayaan bagi diri, suku, ras, dan bangsanya, manusia kehilangan belas kasihan terhadap sesama yang berbeda dengan dirinya. Ia mendorong setiap orang keluar dari lingkaran kasih yang terbatas hingga melewati segala batas. Baginya, kedamaian hanya mungkin tercipta ketika manusia memiliki kekayaan dalam belas kasihan kepada sesama tanpa dibatasi oleh suku, ras, atau golongan.Pandangan Einstein ini sejalan dengan pesan Yesus kepada seorang Ahli Taurat yang bertanya: “Siapakah sesamaku manusia?” (ay. 29). Yesus menjawab pertanyaan itu dengan perumpamaan tentang seorang yang dirampok dan dipukul hingga hampir mati ketika turun dari Yerusalem ke Yerikho (ay. 30). Menurut banyak penafsir, sangat mungkin orang itu adalah seorang Yahudi yang berasal dari Yerusalem dan sedang berkunjung ke Yerikho. Ketika melihatnya, imam dan orang Lewi—yang miskin belas kasihan dan hanya mementingkan diri sendiri—melewati orang itu begitu saja. Tetapi datanglah seorang Samaria, yang justru adalah musuh bangsa Yahudi. Ia tergerak oleh belas kasihan (ay. 33). Kaya dan dalamnya belas kasihan orang Samaria membuat ia mendekat, membalut luka-luka, menyiraminya dengan minyak dan anggur. Bahkan lebih dari itu, ia menaikkannya ke keledai, membawanya ke penginapan, merawatnya, dan menanggung seluruh biaya perawatan (ay. 34–35). Hati yang kaya dengan belas kasihan mendorong seseorang menolong orang lain yang berbeda dengannya, bahkan melakukannya dengan totalitas.Sesungguhnya, seseorang tidak perlu menunggu kaya materi untuk dapat menolong sesama dengan totalitas. Justru hati yang kaya akan belas kasihanlah yang menggerakkan seseorang untuk melakukannya. Karena itu, kita perlu memiliki hati yang penuh belas kasihan dan mewujudkannya dalam tindakan nyata bagi sesama. Sayangnya, banyak orang yang memiliki jabatan, nama, dan kekayaan, tetapi hatinya begitu miskin. Hatinya sendiri yang memiskinkan dirinya, sehingga semua kekayaannya hanya menjadi “barang rongsokan” yang tersimpan tanpa dapat dinikmati atau bermanfaat bagi siapa pun. Sebaliknya, jika kita kaya oleh belas kasihan—berapa pun jumlah materi dan kemampuan yang kita miliki—hidup kita akan menjadi berkat dan dirasakan oleh mereka yang membutuhkan. Kekayaan sejati inilah yang mampu meruntuhkan jurang perbedaan dan menyelamatkan sesama dengan kasih yang melampaui batas suku, ras, dan golongan.“Kekayaan hati dari orang yang penuh belas kasihan akan mengalirkan keluar kepada sesamanya: kekuatan menghancurkan benteng pemisahan, kasih yang disertai kesungguhan dan tindakan yang totalitas ”Pertanyaan untuk direnungkan:1. Apa penyebabnya seseorang sulit menyatakan kasih kepada sesamanya?2. Apa yang anda lakukan agar memiliki hati yang kaya akan belas kasihan? Apa komitmenmu setelah belajar dari renungan hari ini?
Embed this episode
NOW PLAYING
12-9-2025 - Kaya Akan Belas Kasihan (PST GKJ Bahasa Indonesia)
No transcript for this episode yet
Similar Episodes
No similar episodes found.