29 Maret 2024 - Kematian Sang Mesias

EPISODE · Mar 28, 2024 · 9 MIN

29 Maret 2024 - Kematian Sang Mesias

from Sinode Gereja Kristus Yesus · host Sinode Gereja Kristus Yesus

Peristiwa kematian Yesus Kristus sangat mencekam. Tiga jam sebelum Ia wafat, kegelapan meliputi seluruh wilayah tempat penyaliban. Sungguh aneh bahwa kegelapan terjadi mulai dari jam dua belas siang sampai jam tiga sore. Jelaslah bahwa kegelapan ini bukan hanya masalah gejala alam, tetapi masalah rohani. Kegelapan ini mewakili dosa yang menguasai manusia. Selama tiga jam, Yesus Kristus menanggung dosa umat manusia sehingga Allah memalingkan muka-Nya dan akhirnya Tuhan Yesus tidak tahan dan berseru dengan suara nyaring,  "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?," yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Saat menghadapi tuduhan dan siksaan, Yesus Kristus diam saja dan tidak mengeluh. Akan tetapi, saat Allah memalingkan muka-Nya—karena Yesus Kristus sedang menempati posisi manusia berdosa—Tuhan Yesus tidak bisa tetap diam. Bagi Sang Anak—yaitu Yesus Kristus—yang selalu bersama dengan Bapa di surga, ditinggalkan oleh Allah Bapa adalah hukuman yang amat berat.Perhatikan bahwa Tuhan Yesus bukan mati karena nyawa-Nya diambil, tetapi Ia mati karena menyerahkan nyawa-Nya (15:37 TB1; bandingkan dengan Yohanes 10:17-18; 19:29). Ia tidak dikalahkan oleh maut, tetapi Ia mengalahkan maut dan kemenangan-Nya dibuktikan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati! Saat Ia wafat, tabir Bait Suci terbelah dari atas sampai ke bawah (Markus 15:38). Jelas bahwa robeknya tabir Bait Suci merupakan pekerjaan Allah. Bila manusia yang merobek, tabir itu akan dirobek dari bawah ke atas, bukan sebaliknya. Robeknya tabir Bait Allah yang menutupi Ruang Mahasuci—tempat Allah berdiam—menandakan bahwa kematian Kristus meniadakan sekat antara Allah dan manusia. Saat ini, manusia dapat langsung menjalin relasi dengan Allah tanpa perlu perantaraan imam. Kristus—Imam Agung kita saat ini—telah menghubungkan manusia berdosa yang memercayai Yesus Kristus dengan Allah.Kepala pasukan yang memimpin penyaliban adalah saksi mata atas segala peristiwa yang terjadi seputar kematian Kristus. Saat menyaksikan peristiwa penyaliban yang berujung pada kematian Kristus itu, Ia berkata, "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!" (15:39 TB1). Sebagai kepala pasukan, ia pasti telah sering menyaksikan peristiwa penyaliban. Akan tetapi, peristiwa penyaliban Tuhan Yesus berbeda dengan peristiwa penyaliban yang lain. Yang membedakan adalah bahwa sikap Tuhan Yesus di kayu salib berbeda dengan sikap semua orang lain. Dia tidak mencaci maki siapa pun. Kitab-kitab Injil yang lain menjelaskan bahwa di kayu salib pun, Tuhan Yesus masih memperhatikan orang lain. Apakah kematian Kristus membawa pengaruh terhadap diri Anda? [GI Purnama]

NOW PLAYING

29 Maret 2024 - Kematian Sang Mesias

0:00 9:10

No transcript for this episode yet

We transcribe on demand. Request one and we'll notify you when it's ready — usually under 10 minutes.

URL copied to clipboard!