EPISODE · Sep 6, 2025 · 6 MIN
7-9-2025 - Hati Yang Kaya (PST GKJ Bahasa Indonesia)
from Penuntun Saat Teduh Gereja Kristen Jakarta · host Gereja Kristen Jakarta
Nats Alkitab : Lukas 12:13-21Penulis : G.I. Swannius BongSalah satu pepatah dari bangsa Romawi yang terkenal pada masanya adalah: “Uang itu seperti air laut. Semakin banyak seseorang meminumnya, semakin ia akan kehausan.” Ini adalah gambaran tentang ketidakpuasan hati terhadap materi. Semakin kita menganggap uang atau materi sebagai sumber ketenangan dan kepuasan, semakin kita tidak akan pernah puas dengan hal itu. Bahkan, seseorang yang begitu giat mengejar materi sebagai tujuan hidupnya dapat menjadi buta secara rohani, melupakan realitas lain di luar dirinya. Ia bisa melupakan keberadaan Tuhan, panggilan Tuhan, dan fakta bahwa hidupnya terbatas di dunia ini.Dalam nas hari ini, kita menemukan kisah seseorang yang meminta Yesus menjadi pengantara untuk memperoleh warisan dari saudaranya. Sebuah tindakan yang sangat tidak wajar pada masa itu, sebab urusan pembagian warisan bukanlah tanggung jawab seorang rabi. Ada pihak pemerintahan sipil yang mengurus hal tersebut. Namun, karena ketamakan dalam hatinya, ia meminta Yesus—seorang rabi—untuk menjadi perantaranya. Selain itu, menurut aturan Yahudi, pembagian warisan sudah diatur sedemikian rupa (Ulangan 21:17). Jadi, jika masih ada yang meminta warisan lebih, artinya ia menginginkan bagian lebih besar dari yang seharusnya. Karena itu, Yesus menolak menjadi pengantara baginya. Lalu Yesus menegurnya dengan memberikan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Ada dua poin penting dari perumpamaan ini yang menjadi teguran. Pertama, ketamakan dapat membuat seseorang egois dan hanya mengejar kepentingannya sendiri. Ketamakan membuat seseorang melupakan apa pun selain mencari keuntungan pribadi. Tidak ada nilai bagi sesama, apalagi bagi misi dan pekerjaan Tuhan—semuanya hanya untuk dirinya sendiri. Kedua, ketamakan membuat seseorang buta secara rohani. Orang yang tamak hanya mengejar apa yang terlihat olehnya. Ia lupa bahwa hidupnya sementara, dan ada kehidupan setelah kematian.Yesus menutup perumpamaan-Nya dengan menunjukkan realitas sesungguhnya: orang kaya itu tidak memiliki apa pun setelah ajal menjemput. Ia tidak memiliki hidup kekal, bahkan hartanya di dunia tidak dapat ia nikmati lagi. Pesan penting bagi kita adalah bahwa hidup yang bermakna dan bijaksana adalah hidup yang kaya di hadapan Allah. Kaya di hadapan Tuhan berarti memiliki hati yang memperhatikan hal-hal yang berdampak kekal, hati yang rela memberi bagi sesama, bukan menimbun untuk diri sendiri. Fokusnya bukan hanya ke dalam diri, tetapi juga mengalir keluar kepada orang lain. Memasuki bulan misi Sinode GKJ tahun ini, mari kita sungguh-sungguh merenungkan sikap hati kita: apakah kita kaya di hadapan Tuhan sehingga rela berbagi hidup dan Injil bagi sesama? Ataukah kita hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri yang pada akhirnya berakhir menyedihkan, seperti orang kaya yang bodoh itu? Mari kita renungkan bersama.“Hati yang kaya tidak akan berfokus untuk mendapat lebih banyak tetapi hati yang merasa cukup dan dapat mengalir keluar kepada sesama”Pertanyaan untuk direnungkan:1. Seperti apa sikap hati dari orang kaya yang bodoh itu?2. Bagaimana caranya agar kita memiliki hati yang kaya di hadapan Tuhan?
Embed this episode
NOW PLAYING
7-9-2025 - Hati Yang Kaya (PST GKJ Bahasa Indonesia)
No transcript for this episode yet
Similar Episodes
No similar episodes found.