EPISODE · Mar 19, 2026 · 8 MIN
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Jumat dalam pekan ke-4 Prapaskah, 20 Maret 2026
from La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy · host Media La Porta
Dibawakan oleh Markus Soge Purab dan Fidelia Bulu Niron dari Stasi Santo Petrus Waowala, Paroki Santo Bernardus Abbas Tokojaeng, di Keuskupan Larantuka, Indonesia. Kebijaksanaan 2: 1a.12-22; Mazmur tg 34: 17-18.19-20.21.23; Yohanes 7: 1-2.10.25-30.SAATNYA TUHAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Saatnya Tuhan.Tidak lama lagi, sekitar satu minggu ke depan, kita akan merayakan pekan suci.Peristiwa sengsara dan wafatnya Yesus Kristus merupakan pengalaman puncakpenderitaan-Nya. Antisipasi perayaan besar ini kita jumpai pada hari-hari menjelangnya, termasuk pada hari ini. Bentukantisipasi itu ialah aneka kesulitan sebagai perlawanan terhadap Yesus. Ancamanterhadap diri-Nya benar-benar nyata, langsung, dan pasti. Ia berada di ambangpenganiayaan. Jauh sebelum pengalaman nyata Yesus Kristus itu, kitabKebijaksanaan telah menggambarkan penganiayaan ini. Katanya: Mari, kitamencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya sertamenguji kesabaran hatinya. Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati kejiterhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan (Keb 2,19-20). Injil Yohanes yang baru saja kita dengar memperkuat gambaran saatpenganiayaan itu dengan menyebut: orang-orang Farisi berusaha menangkap Yesustetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba (Yoh7,30). Saat-Nya yang belum tiba bergantung sepenuhnya padapenyelenggaraan Allah. Hari Kamis malam dan Jumat Agung belum tiba. Kita semuadan setiap orang tunduk pada ketentuan waktu yang belum tiba ini. Semuanyaharus menghormati aspek penting seperti apa berada dalam saatnya Tuhan YesusKristus. Meski gelombang amarah, iri hati, benci, dan kekerasan tampaknya takterbendung, mereka wajib menahan dirinya saja. Biarpun gelombang itu amat kuat,Tuhan belum mengizinkan saatnya tiba. Seperti apa kita memaknai berada di ambang penganiayaanYesus Kristus? Pertama-tama kita memaknainya dengan seruan “Amin”. Kitamenerima kenyataan ini dan mengimaninya sebagai bentuk pemenuhan kehendak Bapadari pihak Yesus, dan sebagai isi iman kita. Di dalam doa “Aku Percaya” kitaungkapkan iman kita dengan menyebutkan: Yang menderita sengsara dalampemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan. Mengamini iniberarti juga kita menyanggupi ajaran dan undangan Tuhan untuk mengikuti Dia dalamsetiap saat penderitaan yang kita hadapi di dalam hidup kita. Kita memaknai ini juga dengan tak gentar supaya kita tetapmempertahankan kebenaran dan kebaikan sebagai tanda kita mengambil bagian didalam Tuhan. Biasanya godaan bagi mereka yang berada dalam situasi ambangderita dan penganiayaan ialah takut atau menyerah dan tunduk kepada pihakpenganiaya. Ini yang tidak boleh dilakukan oleh pengikut Kristus yang autentik.Di ambang tersebut kita berani berseru: kerelaan ini adalah demi Tuhan YesusKristus. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa di surga, kuatkanlah kami selalu khususnyaketika kami berada di tengah penderitaan dan penganiayaan, supaya kami tetapberpihak kepada-Mu saja. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...
Embed this episode
NOW PLAYING
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Jumat dalam pekan ke-4 Prapaskah, 20 Maret 2026
No transcript for this episode yet
Similar Episodes
No similar episodes found.
Similar Podcasts
No similar podcasts found.