Halusinogen Bernama LSD episode artwork

EPISODE · Jul 17, 2021 · 42 MIN

Halusinogen Bernama LSD

from Indonesia Tanpa Stigma · host Indonesia Tanpa Stigma

Dalam sebuah penelitian untuk menemukan obat-obatan berbahan dasar jamur ergot di laboratorium milik Sandoz, Swiss, pada 1938, seorang kimiawannya yang bernama Albert Hoffman berhasil menyintesiskan lysergic acid diethylamide. Kelak Hoffman jualah yang menemukan efek psikedelik LSD saat secara tidak sengaja, sejumlah senyawa zat asam ini tertelan olehnya lima tahun kemudian.   Dari kecelakaan tersebut, LSD diteliti lebih lanjut dan dijual perusahaan farmasi Sandoz sebagai panasea (obat yang ampuh untuk semua) gangguan jiwa pada 1947. Gangguan jiwa yang diklaim bisa diatasi obat ini berkisar dari skizofrenia hingga perilaku kriminal.   Singkatan LSD berasal dari lysergsäurediethylamid, bahasa Jerman untuk lysergic acid diethylamide.    Narkoba ini sangat populer di kalangan hippies, para penentang Perang Vietnam dari generasi bunga di akhir dekade 1960-an. Di tanah air, LSD juga cukup dikenal dan dikonsumsi untuk rekreasi. Eric Arfianto, webmaster situs Rumah Cemara, mengaku kenal LSD pada pertengahan 1990-an. Ia menekankan bagi para newbie untuk memiliki pemandu saat konsumsi obat dengan nama jalanan acid atau kertas ini.   Sementara, Kevin Mathovani mengaku, saat ini LSD dengan dosis yang lebih rendah banyak dijual di internet. Namanya N-bomb. Kevin pun menyampaikan pesan untuk mengurangi risiko yang timbul dari konsumsi halusinogen ini. Seperti apa pengalaman mereka berdua saat mengonsumsi narkoba berbentuk kertas mirip perangko itu? Yul simak rekamannya!  Disclaimer: Pembahasan mengenai narkoba, dalam hal ini LSD, pada tayangan ini tidak dimaksudkan mengajak apalagi menyarankan penonton untuk mengonsumsinya.  Tayangan ini ditujukan untuk menjunjung ilmu pengetahuan dengan berdiskusi mengenai wacana pengendalian narkoba yang lebih baik.   #RumahCemara #IndonesiaTanpaStigma #SupportDontPunish #LSD #Halusinogen

Dalam sebuah penelitian untuk menemukan obat-obatan berbahan dasar jamur ergot di laboratorium milik Sandoz, Swiss, pada 1938, seorang kimiawannya yang bernama Albert Hoffman berhasil menyintesiskan lysergic acid diethylamide. Kelak Hoffman jualah yang menemukan efek psikedelik LSD saat secara tidak sengaja, sejumlah senyawa zat asam ini tertelan olehnya lima tahun kemudian.   Dari kecelakaan tersebut, LSD diteliti lebih lanjut dan dijual perusahaan farmasi Sandoz sebagai panasea (obat yang ampuh untuk semua) gangguan jiwa pada 1947. Gangguan jiwa yang diklaim bisa diatasi obat ini berkisar dari skizofrenia hingga perilaku kriminal.   Singkatan LSD berasal dari lysergsäurediethylamid, bahasa Jerman untuk lysergic acid diethylamide.    Narkoba ini sangat populer di kalangan hippies, para penentang Perang Vietnam dari generasi bunga di akhir dekade 1960-an. Di tanah air, LSD juga cukup dikenal dan dikonsumsi untuk rekreasi. Eric Arfianto, webmaster situs Rumah Cemara, mengaku kenal LSD pada pertengahan 1990-an. Ia menekankan bagi para newbie untuk memiliki pemandu saat konsumsi obat dengan nama jalanan acid atau kertas ini.   Sementara, Kevin Mathovani mengaku, saat ini LSD dengan dosis yang lebih rendah banyak dijual di internet. Namanya N-bomb. Kevin pun menyampaikan pesan untuk mengurangi risiko yang timbul dari konsumsi halusinogen ini. Seperti apa pengalaman mereka berdua saat mengonsumsi narkoba berbentuk kertas mirip perangko itu? Yul simak rekamannya!  Disclaimer: Pembahasan mengenai narkoba, dalam hal ini LSD, pada tayangan ini tidak dimaksudkan mengajak apalagi menyarankan penonton untuk mengonsumsinya.  Tayangan ini ditujukan untuk menjunjung ilmu pengetahuan dengan berdiskusi mengenai wacana pengendalian narkoba yang lebih baik.   #RumahCemara #IndonesiaTanpaStigma #SupportDontPunish #LSD #Halusinogen

NOW PLAYING

Halusinogen Bernama LSD

0:00 42:04

No transcript for this episode yet

We transcribe on demand. Request one and we'll notify you when it's ready — usually under 10 minutes.

That Hoarder: Overcome Compulsive Hoarding That Hoarder Hoarding disorder is stigmatised and people who hoard feel vast amounts of shame. This podcast began life as an audio diary, an anonymous outlet for somebody with this weird condition. That Hoarder speaks about her experiences living with compulsive hoarding, she interviews therapists, academics, researchers, children of hoarders, professional organisers and influencers, and she shares insight and tips for others with the problem. Listened to by people who hoard as well as those who love them and those who work with them, Overcome Compulsive Hoarding with That Hoarder aims to shatter the stigma, share the truth and speak openly and honestly to improve lives. Wounded Warriors of the Cross Gary Pastoral and clergy mental health is a mostly ignored area, especially by those who live their lives as pastors in the clergy. The stigma of mental health within those who serve in the shadow of the cross is something that invokes the stigma of fear. Many of those in the clergy will choose to suffer in their despair rather than reaching out for help. Sometimes those suffering choose to wait until it's too late to get the real help that they need. At Wounded Warriors of the Cross our mission is to lift the stigma and the veil of silence that encompasses clergy mental health and assist those who suffer in silence. Wounded Warriors of the Cross is here to shed the light of Christ's love into those dark places. SPADE: The Podcast Paul Anthony Henderson Jr SPADE: The Podcast stands as a beacon of hope and understanding, addressing critical mental health challenges within the African American community. SPADE (Suicide, Post-Traumatic Stress Disorder, Anxiety, Depression, and Epilepsy) seeks to shine a light on topics often stigmatized and misunderstood. Our mission is to break the silence surrounding these issues, encouraging open dialogue and fostering a culture of support and education. By providing meaningful resources and sharing powerful stories, we aim to empower individuals to confront these challenges head-on and build pathways toward healing. Mental health is a crucial but often overlooked subject in the African American community. It’s time to dismantle the barriers of shame and stigma, ensuring everyone feels safe to speak their truth and seek the help they need. This podcast is more than just a platform—it’s a movement to spark change, spread awareness, and inspire action within families, friendships, and communities. Baca Buku Audiobook Indonesia Guntur Sulaksono Berawal dari sebuah artikel yang menyatakan betapa rendahnya tingkat membaca di Indonesia. Maka saya membangun channel yang khusus menyajikan audiobook dalam bahasa Indonesia. Tujuan saya adalah agar kita semua mendapatkan kemudahan dalam hal belajar dan meningkatkan pengetahuan.Ada ratusan buku best seller yang pernah saya baca dan tersedia dalam bentuk audiobook. Anda akan menemukan buku audio dengan berbagai genre yang berbeda. Mulai dari buku-buku tentang filsafat, pengembangan diri, novel, ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan lain sebagainya.Donation link: https://saweria.co/bacabuku

Frequently Asked Questions

How long is this episode of Indonesia Tanpa Stigma?

This episode is 42 minutes long.

When was this Indonesia Tanpa Stigma episode published?

This episode was published on July 17, 2021.

What is this episode about?

Dalam sebuah penelitian untuk menemukan obat-obatan berbahan dasar jamur ergot di laboratorium milik Sandoz, Swiss, pada 1938, seorang kimiawannya yang bernama Albert Hoffman berhasil menyintesiskan lysergic acid diethylamide. Kelak Hoffman jualah...

Can I download this Indonesia Tanpa Stigma episode?

Yes, you can download this episode by clicking the download button on the episode player, or subscribe to the podcast in your preferred podcast app for automatic downloads.
URL copied to clipboard!