Mengenang Calmlet 2 mg episode artwork

EPISODE · Nov 7, 2022 · 27 MIN

Mengenang Calmlet 2 mg

from Indonesia Tanpa Stigma · host Indonesia Tanpa Stigma

Sebelum 2014, PT Sunthi Sepuri, sebuah perusahaan farmasi dalam negeri yang banyak bekerja sama dengan Wyeth – Ayerst International yang bermarkas di Amerika Serikat memproduksi alprazolam dengan jenama Calmlet. Berbeda dengan merek lain yang memproduksi obat dengan kandungan alprazolam dari 0,25 mg, 0,5 mg, hingga 1 mg, Calmlet ada yang diproduksi dengan kandungan 2 mg alprazolam. Lantaran jadi satu-satunya obat dengan kandungan alprozolam 2 mg yang beredar di Indonesia, Calmlet jadi jenama yang sangat populer ketika itu, setelah Xanax tentunya. Roy A Sparringa, Kepala Badan POM saat itu merespons pembatalan izin edar Calmlet 2 mg dengan menyatakan, efeknya berbahaya. Ia pun menambahkan, pihaknya masih memberikan izin edar Calmlet dengan kandungan 1 mg alprazolam yang dinilainya masih aman untuk dikonsumsi. Alprazolam diresepkan untuk melenturkan otot (muscle relaxant), sebagai obat penenang atau anticemas, dan antikonvulsan (mengatasi kejang). Mekanisme kerjanya adalah meningkatkan aktivitas zat kimia alami dalam tubuh yang disebut asam gamma-aminobutirat (GABA), sehingga memberikan efek menenangkan. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI pada 2013 menarik peredaran Calmlet tablet berukuran 2 mg. Kebijakan ini berbarengan dengan  penarikan obat lainnya, yakni dekstrometorphan (obat batuk) sediaan tunggal dan karisoprodol (relaksan otot) yang beken dengan jenama Somadril. Karena banyaknya jenama alprazolam di Indonesia, setidaknya 17 merek bisa dilihat di situs Badan POM RI, dan belum termasuk yang versi generik, maka tiap orang punya favoritnya sendiri. Kevin Mathovani yang turut membahas fenomena Calmlet ini misalnya, lebih suka alprazolam merek Atarax ketimbang Xanax dengan alasan tidak membuatnya amnesia. Yuk simak seperti apa obrolannya tentang Calmlet dan alprazolam secara umum bersama Patri Handoyo. Seperti biasa, subscribe, like, comment, dan share kalian sangat berharga. Disclaimer: Tayangan ini tidak dimaksudkan untuk mempromosikan konsumsi dan bisnis narkoba secara ilegal. #RumahCemara #IndonesiaTanpaStigma #SupportDontPunish

Sebelum 2014, PT Sunthi Sepuri, sebuah perusahaan farmasi dalam negeri yang banyak bekerja sama dengan Wyeth – Ayerst International yang bermarkas di Amerika Serikat memproduksi alprazolam dengan jenama Calmlet. Berbeda dengan merek lain yang memproduksi obat dengan kandungan alprazolam dari 0,25 mg, 0,5 mg, hingga 1 mg, Calmlet ada yang diproduksi dengan kandungan 2 mg alprazolam. Lantaran jadi satu-satunya obat dengan kandungan alprozolam 2 mg yang beredar di Indonesia, Calmlet jadi jenama yang sangat populer ketika itu, setelah Xanax tentunya. Roy A Sparringa, Kepala Badan POM saat itu merespons pembatalan izin edar Calmlet 2 mg dengan menyatakan, efeknya berbahaya. Ia pun menambahkan, pihaknya masih memberikan izin edar Calmlet dengan kandungan 1 mg alprazolam yang dinilainya masih aman untuk dikonsumsi. Alprazolam diresepkan untuk melenturkan otot (muscle relaxant), sebagai obat penenang atau anticemas, dan antikonvulsan (mengatasi kejang). Mekanisme kerjanya adalah meningkatkan aktivitas zat kimia alami dalam tubuh yang disebut asam gamma-aminobutirat (GABA), sehingga memberikan efek menenangkan. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI pada 2013 menarik peredaran Calmlet tablet berukuran 2 mg. Kebijakan ini berbarengan dengan  penarikan obat lainnya, yakni dekstrometorphan (obat batuk) sediaan tunggal dan karisoprodol (relaksan otot) yang beken dengan jenama Somadril. Karena banyaknya jenama alprazolam di Indonesia, setidaknya 17 merek bisa dilihat di situs Badan POM RI, dan belum termasuk yang versi generik, maka tiap orang punya favoritnya sendiri. Kevin Mathovani yang turut membahas fenomena Calmlet ini misalnya, lebih suka alprazolam merek Atarax ketimbang Xanax dengan alasan tidak membuatnya amnesia. Yuk simak seperti apa obrolannya tentang Calmlet dan alprazolam secara umum bersama Patri Handoyo. Seperti biasa, subscribe, like, comment, dan share kalian sangat berharga. Disclaimer: Tayangan ini tidak dimaksudkan untuk mempromosikan konsumsi dan bisnis narkoba secara ilegal. #RumahCemara #IndonesiaTanpaStigma #SupportDontPunish

NOW PLAYING

Mengenang Calmlet 2 mg

0:00 27:44

No transcript for this episode yet

We transcribe on demand. Request one and we'll notify you when it's ready — usually under 10 minutes.

That Hoarder: Overcome Compulsive Hoarding That Hoarder Hoarding disorder is stigmatised and people who hoard feel vast amounts of shame. This podcast began life as an audio diary, an anonymous outlet for somebody with this weird condition. That Hoarder speaks about her experiences living with compulsive hoarding, she interviews therapists, academics, researchers, children of hoarders, professional organisers and influencers, and she shares insight and tips for others with the problem. Listened to by people who hoard as well as those who love them and those who work with them, Overcome Compulsive Hoarding with That Hoarder aims to shatter the stigma, share the truth and speak openly and honestly to improve lives. Wounded Warriors of the Cross Gary Pastoral and clergy mental health is a mostly ignored area, especially by those who live their lives as pastors in the clergy. The stigma of mental health within those who serve in the shadow of the cross is something that invokes the stigma of fear. Many of those in the clergy will choose to suffer in their despair rather than reaching out for help. Sometimes those suffering choose to wait until it's too late to get the real help that they need. At Wounded Warriors of the Cross our mission is to lift the stigma and the veil of silence that encompasses clergy mental health and assist those who suffer in silence. Wounded Warriors of the Cross is here to shed the light of Christ's love into those dark places. SPADE: The Podcast Paul Anthony Henderson Jr SPADE: The Podcast stands as a beacon of hope and understanding, addressing critical mental health challenges within the African American community. SPADE (Suicide, Post-Traumatic Stress Disorder, Anxiety, Depression, and Epilepsy) seeks to shine a light on topics often stigmatized and misunderstood. Our mission is to break the silence surrounding these issues, encouraging open dialogue and fostering a culture of support and education. By providing meaningful resources and sharing powerful stories, we aim to empower individuals to confront these challenges head-on and build pathways toward healing. Mental health is a crucial but often overlooked subject in the African American community. It’s time to dismantle the barriers of shame and stigma, ensuring everyone feels safe to speak their truth and seek the help they need. This podcast is more than just a platform—it’s a movement to spark change, spread awareness, and inspire action within families, friendships, and communities. Baca Buku Audiobook Indonesia Guntur Sulaksono Berawal dari sebuah artikel yang menyatakan betapa rendahnya tingkat membaca di Indonesia. Maka saya membangun channel yang khusus menyajikan audiobook dalam bahasa Indonesia. Tujuan saya adalah agar kita semua mendapatkan kemudahan dalam hal belajar dan meningkatkan pengetahuan.Ada ratusan buku best seller yang pernah saya baca dan tersedia dalam bentuk audiobook. Anda akan menemukan buku audio dengan berbagai genre yang berbeda. Mulai dari buku-buku tentang filsafat, pengembangan diri, novel, ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan lain sebagainya.Donation link: https://saweria.co/bacabuku

Frequently Asked Questions

How long is this episode of Indonesia Tanpa Stigma?

This episode is 27 minutes long.

When was this Indonesia Tanpa Stigma episode published?

This episode was published on November 7, 2022.

What is this episode about?

Sebelum 2014, PT Sunthi Sepuri, sebuah perusahaan farmasi dalam negeri yang banyak bekerja sama dengan Wyeth – Ayerst International yang bermarkas di Amerika Serikat memproduksi alprazolam dengan jenama Calmlet. Berbeda dengan merek lain yang...

Can I download this Indonesia Tanpa Stigma episode?

Yes, you can download this episode by clicking the download button on the episode player, or subscribe to the podcast in your preferred podcast app for automatic downloads.
URL copied to clipboard!