EPISODE · Aug 28, 2026 · 5 MIN
Pengharapan Ketika Segalanya Hilang - 29-8-2026 - Penuntun Saat Teduh Bahasa Indonesia
from Penuntun Saat Teduh Gereja Kristen Jakarta · host Sinode Gereja Kristen Jakarta
Nats Alkitab : Habakuk 3:17-19Penulis : Pdt. Faoziduhu LahaguBento sedih sekali ketika menyaksikan kandang sapinya kosong melompong. Ternyata sapi itu telah raib dicuri orang. Selama berbulan-bulan ia membesarkan sapi itu dengan harapan suatu saat nanti akan dijual untuk menghasilkan uang. Selama berhari-hari ia menunjukkan wajah yang murung, tidak berselera untuk makan memikirkan sapinya yang hilang. Sekalipun sudah melaporkan kepada pihak berwajib dan berusaha mencari kesana kemari, namun semuanya sia-sia. Sapi itu tidak pernah kembali. Situasi yang kurang lebih sama namun dengan reaksi yang berbeda terlihat dalam diri nabi Habakuk. Ia menyaksikan tragedi kehidupan umat Allah yang memilukan ketika bangsa itu diambang kehancuran. Kekerasan, ketidak adilan dan penyembahan berhala adalah potret kehidupan sehari-hari yang dilihat oleh Habakuk. Ditambah lagi dengan bencana yang datang berturut-turut: pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, pohon zaitun gagal berbuah, ladang tidak menghasilkan, kambing domba lenyap dan lembu tidak ada di kandang. Ini semua menggambarkan kondisi krisis yang parah. Ekonomi yang kacau, kelaparan, kehilangan mata pencaharian dan kehancuran nasional. Dengan kata lain, semua alasan manusia untuk berharap telah hilang. Namun disinilah titik baliknya. Habakuk akan bersorak-sorak, bergembira dan melompat dengan sukacita. Kenapa? Karena Allah itu adalah penyelamatnya. Ia percaya bahwa hanya di dalam Allah ada pemulihan. Alasan berikutnya adalah karena Allah itu kekuatannya. Habakuk tidak berkata bahwa ia kuat namun bagi dia, Allah yang kuat. Sehingga ia diberi kaki seperti kaki rusa yang mampu berdiri dan berjalan di tebing gunung yang curam. Inilah dasar pengharapan Habakuk di dalam krisis bangsa yang dilihat dan dialaminya. Dasar pengharapan yang sama seharusnya juga menjadi bagian dari hidup kita, ketika banyak hal berharga yang lenyap dari genggaman kita. Mungkin selama ini begitu banyak hal yang kita raih dan miliki. Namun suatu saat semua hal itu hilang tiba-tiba atau secara perlahan tergerus dari tangan kita. Kondisi-kondisi ini dapat membuat kita sedih dan kecewa. Namun jika kita kita menaruh harap kepada Allah dalam kondisi krisis kehidupan, kita akan tetap bergembira dan bersorak. Dasar dari pengharapan itu adalah Allah sendiri, bukan kemampuan dan kehebatan kita. Hari ini hal-hal apa yang membuat kita meratap, menangis dan berduka? Apakah karena kita kehilangan sesuatu yang berharga dan telah kita perjuangkan selama bertahun-tahun? Ataukah kita tetap bergembira, sekalipun banyak hal penting yang diambil dari hidup kita sebab kita selalu menaruh harap kepada-Nya? “Ketika semua alasan untuk berharap lenyap, Allah tetap menjadi alasan untuk bersukacita.”Pertanyaan untuk direnungkan:1. Jika semua yang Anda andalkan hari ini hilang, apakah Anda masih memiliki alasan untuk tetap berharap kepada Allah? Mengapa? 2. Apa yang menjadi dasar pengharapan Anda saat menghadapi kehilangan dan masa-masa sulit: keadaan yang berubah atau Allah yang tidak berubah?
Embed this episode
Ready to play
Pengharapan Ketika Segalanya Hilang - 29-8-2026 - Penuntun Saat Teduh Bahasa Indonesia
No transcript for this episode yet
Similar Episodes
No similar episodes found.