Serius, bakal ada UU pelarangan minuman beralkohol? episode artwork

EPISODE · Nov 4, 2021 · 42 MIN

Serius, bakal ada UU pelarangan minuman beralkohol?

from Indonesia Tanpa Stigma · host Indonesia Tanpa Stigma

Buntut dari kematian lima warga Tasikmalaya awal Oktober lalu, seorang teman sekampung mereka yang bekerja di sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jakarta dicokok polisi dua belas hari setelah kawanan tadi menenggak oplosan maut tersebut. Ia digelandang ke markas Polres Tasikmalaya gegara mencuri alkohol berkadar 96 persen dari tempatnya bekerja.  Alkohol untuk praktikum siswa SMK diselundupkan ke luar sekolah kemudian dipakai sebagai bahan baku minuman di kampung halaman dan menelan nyawa lima teman mereka.  Peraturan Kota (2015) maupun Kabupaten Tasikmalaya (2004) untuk mengendalikan dan mengawasi minuman beralkohol berbeda dengan misalnya di Kota Bandung yang diterbitkan 2010. Baik di Kabupaten maupun Kota Tasikmalaya, tidak dicantumkan tempat minuman beralkohol bisa diperoleh secara resmi. Sementara Kota Bandung menetapkannya, di antaranya hotel berbintang tiga ke atas, restoran dengan tanda Talam Kencana dan Selaka, pub, karaoke, kelab malam, diskotik, dan toko bebas bea (duty-free shop).  Gambaran tadi merupakan sekelumit dampak pembatasan minuman beralkohol yang dikonsumsi berbagai lapisan masyarakat Nusantara entah sejak kapan. Saat dibatasi hanya dapat dibeli di tempat-tempat mahal bahkan dilarang sama sekali, rakyat tetap akan minum bagaimanapun caranya!  Kanal Indonesia tanpa Stigma mengulas kebijakan pembatasan-pelarangan minuman beralkohol di sejumlah daerah yang berdampak pada konsumsi secara tidak aman, tanpa pengawasan otoritas kesehatan sehingga kematian tidak bisa dicegah. Dipandu Patri Handoyo, perbincangan kali ini mengundang Pingkan Audrine, peneliti Center for Indonesian Policy Studies yang banyak mengkaji kaitan kebijakan minuman beralkohol dengan fenomena oplosan yang “meminum” 970 korban nyawa sepanjang 2008-2018 secara nasional.  Mari simak percakapannya!  #RumahCemara #IndonesiaTanpaStigma #SupportDontPunish #MirasOplosan #StopOplosan #MinumanBeralkohol

Buntut dari kematian lima warga Tasikmalaya awal Oktober lalu, seorang teman sekampung mereka yang bekerja di sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jakarta dicokok polisi dua belas hari setelah kawanan tadi menenggak oplosan maut tersebut. Ia digelandang ke markas Polres Tasikmalaya gegara mencuri alkohol berkadar 96 persen dari tempatnya bekerja.  Alkohol untuk praktikum siswa SMK diselundupkan ke luar sekolah kemudian dipakai sebagai bahan baku minuman di kampung halaman dan menelan nyawa lima teman mereka.  Peraturan Kota (2015) maupun Kabupaten Tasikmalaya (2004) untuk mengendalikan dan mengawasi minuman beralkohol berbeda dengan misalnya di Kota Bandung yang diterbitkan 2010. Baik di Kabupaten maupun Kota Tasikmalaya, tidak dicantumkan tempat minuman beralkohol bisa diperoleh secara resmi. Sementara Kota Bandung menetapkannya, di antaranya hotel berbintang tiga ke atas, restoran dengan tanda Talam Kencana dan Selaka, pub, karaoke, kelab malam, diskotik, dan toko bebas bea (duty-free shop).  Gambaran tadi merupakan sekelumit dampak pembatasan minuman beralkohol yang dikonsumsi berbagai lapisan masyarakat Nusantara entah sejak kapan. Saat dibatasi hanya dapat dibeli di tempat-tempat mahal bahkan dilarang sama sekali, rakyat tetap akan minum bagaimanapun caranya!  Kanal Indonesia tanpa Stigma mengulas kebijakan pembatasan-pelarangan minuman beralkohol di sejumlah daerah yang berdampak pada konsumsi secara tidak aman, tanpa pengawasan otoritas kesehatan sehingga kematian tidak bisa dicegah. Dipandu Patri Handoyo, perbincangan kali ini mengundang Pingkan Audrine, peneliti Center for Indonesian Policy Studies yang banyak mengkaji kaitan kebijakan minuman beralkohol dengan fenomena oplosan yang “meminum” 970 korban nyawa sepanjang 2008-2018 secara nasional.  Mari simak percakapannya!  #RumahCemara #IndonesiaTanpaStigma #SupportDontPunish #MirasOplosan #StopOplosan #MinumanBeralkohol

NOW PLAYING

Serius, bakal ada UU pelarangan minuman beralkohol?

0:00 42:21

No transcript for this episode yet

We transcribe on demand. Request one and we'll notify you when it's ready — usually under 10 minutes.

That Hoarder: Overcome Compulsive Hoarding That Hoarder Hoarding disorder is stigmatised and people who hoard feel vast amounts of shame. This podcast began life as an audio diary, an anonymous outlet for somebody with this weird condition. That Hoarder speaks about her experiences living with compulsive hoarding, she interviews therapists, academics, researchers, children of hoarders, professional organisers and influencers, and she shares insight and tips for others with the problem. Listened to by people who hoard as well as those who love them and those who work with them, Overcome Compulsive Hoarding with That Hoarder aims to shatter the stigma, share the truth and speak openly and honestly to improve lives. Wounded Warriors of the Cross Gary Pastoral and clergy mental health is a mostly ignored area, especially by those who live their lives as pastors in the clergy. The stigma of mental health within those who serve in the shadow of the cross is something that invokes the stigma of fear. Many of those in the clergy will choose to suffer in their despair rather than reaching out for help. Sometimes those suffering choose to wait until it's too late to get the real help that they need. At Wounded Warriors of the Cross our mission is to lift the stigma and the veil of silence that encompasses clergy mental health and assist those who suffer in silence. Wounded Warriors of the Cross is here to shed the light of Christ's love into those dark places. SPADE: The Podcast Paul Anthony Henderson Jr SPADE: The Podcast stands as a beacon of hope and understanding, addressing critical mental health challenges within the African American community. SPADE (Suicide, Post-Traumatic Stress Disorder, Anxiety, Depression, and Epilepsy) seeks to shine a light on topics often stigmatized and misunderstood. Our mission is to break the silence surrounding these issues, encouraging open dialogue and fostering a culture of support and education. By providing meaningful resources and sharing powerful stories, we aim to empower individuals to confront these challenges head-on and build pathways toward healing. Mental health is a crucial but often overlooked subject in the African American community. It’s time to dismantle the barriers of shame and stigma, ensuring everyone feels safe to speak their truth and seek the help they need. This podcast is more than just a platform—it’s a movement to spark change, spread awareness, and inspire action within families, friendships, and communities. Baca Buku Audiobook Indonesia Guntur Sulaksono Berawal dari sebuah artikel yang menyatakan betapa rendahnya tingkat membaca di Indonesia. Maka saya membangun channel yang khusus menyajikan audiobook dalam bahasa Indonesia. Tujuan saya adalah agar kita semua mendapatkan kemudahan dalam hal belajar dan meningkatkan pengetahuan.Ada ratusan buku best seller yang pernah saya baca dan tersedia dalam bentuk audiobook. Anda akan menemukan buku audio dengan berbagai genre yang berbeda. Mulai dari buku-buku tentang filsafat, pengembangan diri, novel, ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan lain sebagainya.Donation link: https://saweria.co/bacabuku

Frequently Asked Questions

How long is this episode of Indonesia Tanpa Stigma?

This episode is 42 minutes long.

When was this Indonesia Tanpa Stigma episode published?

This episode was published on November 4, 2021.

What is this episode about?

Buntut dari kematian lima warga Tasikmalaya awal Oktober lalu, seorang teman sekampung mereka yang bekerja di sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jakarta dicokok polisi dua belas hari setelah kawanan tadi menenggak oplosan maut tersebut. Ia...

Can I download this Indonesia Tanpa Stigma episode?

Yes, you can download this episode by clicking the download button on the episode player, or subscribe to the podcast in your preferred podcast app for automatic downloads.
URL copied to clipboard!